Bebek Hijau dan Pelajaran Mendongeng dari Bayi yang Hendak Tidur
Sekali waktu, seorang teman bertanya, apakah setelah punya bayi saya masih punya waktu untuk menulis dan mengarang cerita? Jawaban saya: masih. Bahkan saya seringkali memperoleh ide justru saat terpaksa harus menidurkan Kidung Kinanti, anak saya yang sekarang berumur 7 bulan. Sejak Kinan (begitu nama panggilan anak saya) masih umur sebulan, saya beberapa kali memperoleh kesempatan untuk menidurkannya. Terutama jika Kinan sedang rewel, dan ibunya sedang capek, pada akhirnya saya harus membopongnya. Dan Kinan hanya akan diam kalau saya (seolah-olah) bicara dengannya.
Nah, daripada saya ngobrol ngalor-ngidul tak jelas hanya agar tetap bersuara dan Kinan terbuai sampai tertidur di pundak saya, saya memutuskan untuk mengarang-ngarang cerita. Di sinilah saya kembali belajar hal mendasar dari mendongeng. Persis seperti bagaimana Syahrazad melakukannya: tugas saya adalah terus mendongeng sampai anak tertidur. Jika belum tertidur, saya harus menemukan berbagai cara agar dongeng terus berlanjut. Begitulah, sambil menidurkan anak, saya terus melatih teknik-teknik tertentu untuk mendongeng.
Saya kutipkan dongeng yang tadi malam saya dongengkan ke Kinan. Tak terlalu panjang, sebab ternyata Kinan kali ini lebih mudah dibikin tidur. Mari kita kasih judul “Bebek Hijau” saja:
Estetika Kritik Populer
Sinopsis
Novel Cantik Itu Luka berlatar pada masa pendudukan Belanda di Indonesia hingga masa setelah kemerdekaan. Novel ini bercerita tentang seorang gadis Indo-Belanda bernama Dewi Ayu. Dewi Ayu adalah seorang anak yang cerdas, memiliki rambut hitam panjang, kulit putih, dan mata biru. Saat desanya, Halimunda, dikuasai tentara Jepang, Dewi Ayu dipaksa menjadi pelacur karena kecantikannya, dan pekerjaanya sebagai pelacur berlanjut hingga akhir hayatnya.
Dari pekerjaannya tersebut, Dewi Ayu dikaruniai 3 anak perempuan yang mewarisi kecantikan ibunya yang kesemuanya tidak diketahui siapa bapaknya. Dewi Ayu beserta ketiga anaknya kerap menemui tragedi dalam kehidupan mereka yang diakibatkan kecantikan yang mereka miliki. Dikarenakan hal tersebut, pada kehamilannya yang keempat, Dewi Ayu berharap anak bungsunya terlahir buruk rupa agar tidak mengalami tragedi yang sama seperti yang dialami ibu dan kakak-kakaknya, dan doa tersebut dikabulkan Tuhan; anak bungsunya terlahir buruk rupa dan ia beri nama Cantik.Walaupun terlahir buruk rupa, kehidupan Cantik tetap dipenuhi tragedi seperti yang dialami ibu dan ketiga kakaknya. Bagi Dewi Ayu dan anak-anaknya, cantik bukanlah anugerah tapi cantik itu luka.
Baca selengkapnya …
Bacaan dan Percik Ingatan
Saya belum membaca novel Umberto Eco yang lain. Saya pernah menonton film “The Name of the Rose”, dan gara-gara film itu, saya kehilangan minat membaca novel aslinya. Meskipun begitu, barangkali didorong bacaan saya atas esai-esainya, saya tertarik membaca novel-novelnya yang lain. “The Mysterious Flame of Queen Loana” jadi korban pertama saya. Saya juga menemukan “Faucault’s Pendulum” dan “Baudolino” dari toko buku bekas, tapi setelah ini barangkali saya ingin membaca dulu “The Island of the Day Before”.
Sementara judul-judul itu masih dalam rencana baca, mari kita ngobrol soal “The Mysterious Flame of Queen Loana”. Sejujurnya, kesan awal pembukaan cerita novel ini agak mengingatkan saya pada sinetron: seorang lelaki tua terbangun dari koma, dan ia lupa ingatan. Lupa siapa istrinya, siapa anak-anaknya, teman-temannya, bahkan tak ingat namanya! Tapi tak ada hal baru di bawah langit, yang unik tentu saja bagaimana penulis mengolah bahan yang basi seperti itu menjadi menarik. Dengan latar belakang sebagai profesor semiotika, Umberto Eco tahu betul bagaimana bermain-main dengan ceritanya. Si lelaki tua, Yambo, memang hilang ingatan. Tapi ada satu bagian yang dia tak lupa: apa-apa yang pernah dibacanya. Demikianlah ia mencoba menyibak tabir masa lalunya, siapa dirinya, dengan cara berkelana melalui buku-buku yang pernah dibacanya, dengan harapan memercikan “mysterious flame” di ingatannya. Petualangan membaca buku-buku masa kecil dan masa remajanya inilah, yang membuat novel ini tak sekadar cerita, tapi sekaligus menjadi sejenis kajian atas roman-roman dan komik-komik populer sebagai penanda zaman.Baca selengkapnya …
Nilai Politik Saya
Saya baru mengikuti Pancasila Interaktif, sebuah aplikasi yang bisa menentukan posisi nilai politik kita dengan cepat di situs Budiman Sudjatmiko. Aplikasi ini pada dasarnya berupa kuis, dimana kita menentukan sikap kita atas beberapa pilihan dalam satu dan beberapa isu/masalah. Dan setelah mengisi kuis tersebut, inilah hasil “Nilai Politik” saya terlihat dalam bagan:
Di gambar pertama, rupanya saya termasuk penganut “progresif etis”. Di bagan kedua, sebagai interpretasi alternatif, saya berada di irisan “nasionalisme radikal” dan “sosialisme demokrat”. Hmmm. Dan apakah itu “progresif etis”? Ini penjelasan dari Spektika.com, pengembang aplikasi tersebut: Baca selengkapnya …
Tak Ada Yang Gila di Kota Ini
Baca dan download versi PDF cerpen ini di Scribd!
Liburan hampir tiba. Tiga orang petugas naik ke atas pick-up dan berkeliling kota, mencari orang-orang gila.
Sekitar lima tahun lalu terjadi insiden yang agak memalukan kota itu. Berawal dari segerombolan anak sekolah yang melancong dan tinggal di losmen murah, tak jauh dari muara. Itu musim liburan yang hiruk-pikuk. Mereka beruntung memperoleh losmen tersebut, meskipun keadaannya agak berantakan dan jorok, dengan beberapa kakus yang mampet dan air keruh. Gerombolan anak sekolah itu, semuanya delapan bocah lelaki, berharap menemukan kencan-musim-liburan, jauh dari orang tua. Sial bagi mereka, gadis-gadis yang bercelana pendek dengan senyum riang di bibir pantai, jika tak dijaga sedemikian rupa oleh ibu dan ayah mereka, sebagian besar digiring oleh pacar-pacar mereka.
Hingga salah satu dari mereka keluar dengan gagasan mencari tempat pelacuran. Mereka belum pernah melakukan itu, dan membayangkan akan memiliki cerita hebat untuk teman-teman mereka di sekolah, tak satu pun menolak gagasan ini. Menyewa empat sepeda, dan bekeliling kota, mereka bertanya kepada anak-anak setempat yang nongkrong di perempatan jalan, dimana tempat pelacuran. Anak-anak sekolah ini tak tahu, pelacur terakhir di kota itu telah diarak dan babak-belur satu bulan sebelumnya oleh gerombolan orang-orang saleh.
“Kalau masih ada satu yang tersisa,” kata anak-anak setempat yang bergerombol tersebut, “Itu untuk kami. Maaf.”






