© China Film Group
Hmm, saya bukan penggemar berat John Woo, tapi saya gandrung dengan “Sam Kok”. Sebelumnya saya sudah nonton versi lain, Three Kingdom karya sutradara Daniel Lee. Sekarang John Woo datang dengan judul Red Cliff. Saya baru saja pulang menonton yang terakhir itu di Plaza Semanggi.
Baiklah, saya tidak bermaksud memperbincangkan (apalagi membuat kritik mendalam) mengenai film itu. Kalau sudah menyangkut film wuxia (cerita silat), saya cenderung enggak obyektif. Pokoknya suka, hehe. Apalagi Red Cliff belum selesai. Yang saya tonton hanyalah bagian pertama. Bagian keduanya mungkin baru nongol Januari tahun depan. Ya, film ini berdurasi 4 jam, karena itu dipecah dua. Tapi versi dua film ini konon hanya diputar di Asia. Di luar Asia, mereka hanya dapat versi satu film berdurasi 2,5 jam. Lantas apa yang mau saya omongin? Entahlah, tiba-tiba setelah lihat film itu, kepikir kenapa kita enggak bikin film silat yang asyik, ya?
baca selengkapnya »

Foto oleh: Hryckowian, Some rights reserved.
Seperti jutaan penggemar Guns N’ Roses, sudah empat belas tahun (14 tahun!) saya menunggu album baru mereka, yang konon akan diberi judul Chinese Democracy. Saya tak peduli album itu akan diberi nama apa, saya hanya berharap album itu segera berada di rak toko.
Dan seperti kebanyakan penggemar Guns N’ Roses, saya selalu antusias menyambut lagu-lagu mereka yang bocor di internet. Beberapa merupakan rekaman yang diambil dari pertunjukan. Beberapa lagi merupakan versi demo, terpenggal-penggal. Tapi belum lama ini beredar sembilan lagu baru mereka di internet, yang konon merupakan versi master studio. Dengan sedikit gerilya di internet, saya memperoleh lagu-lagu itu dan harus saya akui, beberapa versi lagu-lagu itu sudah pernah saya dengar sebelumnya. Tapi emang ada beberapa lagu yang sudah jauh lebih bersih dan lengkap dari versi demo, serta satu lagu yang tidak diketahui judulnya.
baca selengkapnya »
He has been compared to the late Indonesian man of letters, Pramoedya Ananta Toer, but Eka Kurniawan is averse to that confining, imposing description of “literary figure.” Best known for his sometimes brutal portrayal of ordinary lives, he speaks with Maggie Tiojakin about the roads yet traveled.
Like many aspiring writers who need to pay the bills, Eka Kurniawan started out as a journalist. The 33-year-old native of Tasikmalaya, West Java, then submitted a few short stories to Kompas daily’s respected literary page, and they were accepted.
“People always asked me how it happened that I had my stories published in Kompas,” says the Gadjah Mada University graduate. “But there’s really no magic to it. I sent [the stories] out to the editorial department, even though I didn’t know anybody there.”
Gradually, his journalistic days of meeting deadlines came to an end.
baca selengkapnya »
Komentar Terbaru