• 16-10-2009 · Pagi ini dapat kabar dari penerbit: “Cantik itu Luka” kemungkinan diterbitkan di Malaysia dalam versi (terjemahan?) Melayu. Fakta sederhana jarak kedua bahasa semakin lebar? (2 Pesan)

Pakai Batik di Hari Batik

Hari ini batik dikukuhkan sebagai “Kenangan Dunia” dari Indonesia oleh UNESCO. Karena saya enggak suka pakai kemeja, saya memakai kaus oblong batik. Istri saya, Ratih Kumala, tak kesulitan memperoleh batik dari lemarinya. She is a batik freak. Meskipun begitu, cita-cita saya untuk bisa membatik sendiri belum kesampaian. Mudah-mudahan lain hari.

Rengganis si Cantik dan Foto-foto dari Pangandaran

Buat yang pernah membaca novel Cantik itu Luka dan menemukan tokoh bernama Rengganis si Cantik, ini adalah asal-usul sebenarnya. Di hutan lindung Pananjung, Pangandaran, terdapat goa dan mata air Rengganis. Siapa yang membersihkan badan di sana, konon bakal awet muda. Saya memotret mata air tersebut pada kunjungan saya ke Pangandaran, tempat saya dibesarkan dan orang tua saya masih tinggal, Lebaran 2009 lalu.

Baca selengkapnya …

Woaa … Some Terrorists Attacked My Self Portrait (Too)

Acrylic and Lipstick on Canvas, 100 x 100 cm.

Sepuluh Tahun “Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis”

Akhir Agustus 1999 itu, buku pertama saya Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis keluar dari percetakan dan beredar di toko buku. Beberapa waktu sebelumnya, saya juga baru diwisuda, lulus dari Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada. Buku pertama yang memberi saya keberanian untuk menjadi seorang penulis.

Saya pernah menceritakan hal ini di tempat atau kesempatan lain: buku itu pada dasarnya sebuah skripsi untuk sarjana saya. Saya membaca novel Pramoedya pertama kali sekitar tahun 1997. Sejujurnya saat itu saya sudah menulis proposal lain untuk skripsi saya. Terpengaruh oleh science fiction, saya ingin menulis mengenai Extraterestrial. Makhluk luar angkasa. Dasar teori saya adalah evolusi Darwin. Saya tak tahu apa jadinya jika proposal itu disetujui dan saya menuliskannya. Ide itu tidak pernah teralisir, sebab tak lama kemudian saya membaca novel Bumi Manusia dan memutuskan bahwa, skripsi saya akan mengenai Pramoedya Ananta Toer.
Baca selengkapnya …

Yang Melukai Halimunda, Kerabat Macondo Itu

Oleh: Berto Tukan
Sumber: Kecoa Merah

Tentu judul di atas akan mengingatkan anda pada dua novel tebal yang sempat menarik perhatian para penikmat sastra dan buku itu. Ya benar! Macondo adalah sebuah kota imajiner dalam Seratus Tahun Kesunyian (STK) karya Gabriel Garcia Marquez dan Cantik Itu Luka bold (CIL) karya Eka Kurniawan berkisah di Halimunda. Tentu sudah sering kedua tempat ini dan kedua karya ini dibahas dalam berbagai kaca mata pembacaan. Karya sastra memang tak pernah bisa habis untuk dibahas. Lihatlah Layar Terkembang, Romeo dan Juliet, atau Madame Bovary. Apakah ketiganya sudah bosan diperbincangkan? Menurut hemat saya tidak. Kreatifitas pengarang bisa dipandang sebagai kerja tanpa sadar untuk mengungkapkan sesuatu yang tidak disadari pula. Jadi, karya sastra mengungkapkan sesuatu yang tak disadari dalam keadaan yang tak sadar (Kutha Ratna, 2008). Di sinilah peran pembacaan atas karya sastra nampak; mencari yang tak disadari sebagai hasil kerja yang tanpa sadar pula. Maka, setiap pembacaan dengan kaca mata pembacaannya masing-masing sangat mungkin mengungkapkan ketidak sadaran-ketidak sadaran yang berbeda-beda. Sama dengan hasil pembacaan saya atas STK dan CIL yang berkelindan-bersetubuh dengan hasil pembacaan saya atas hasil pembacaan-pembacaan terhadap STK dan CIL lainnya yang terkristalkan dalam tulisan ini; mencoba mengungkapkan sesuatu yang (mungkin) tak terungkap.
Baca selengkapnya …

Obituari untuk Bapak

Hari ini, ayah saya meninggal. Guru-guru saya sering memanggilnya Pak Sanusi. Tetangga lebih terbiasa memanggilnya Pak Uci. Ia lahir empat belas hari setelah Proklamasi Kemerdekaan. Meninggal 23 Juli 2009. 63 tahun menjelang 64. Ia pasti suka sekali, sebab itu juga umur Rasulullah ketika meninggal.

Sebelum sakit, ia pengkhotbah Jumat di sebuah masjid. Kadang-kadang ia menuliskan khotbahnya di sebuah majalah berbahasa Sunda. Dulu ia menyewakan komik dan novel silat. Ia pernah menjadi guru Bahasa Inggris. Ia membuat t-shirt. Ia membuat batik. Tentu saja ia juga mahir menjahit. Ia pernah pula bertani jamur. Jamur merang dan jamur kuping.

Tentu kenangan saya atasnya jauh melebihi apa yang saya tulis di sini. Tapi barangkali suatu hari saya menulis lebih banyak. Ijinkan saya meminta maaf kepada siapa pun yang mengenalnya, jika ada kesalahannya sewaktu hidup. Dan terima kasih untuk yang telah menyampaikan belasungkawa serta doa untuknya. Ia meninggalkan seorang istri, tiga anak lelaki, tiga anak perempuan, dan seorang cucu perempuan. Selamat jalan.

A Short History of Tractors in Ukrainian


Ketika saya membaca bagian awal novel ini, sekonyong saya merasa suka. Pertama-tama adalah alasan personal. Persis sebagaimana pembukaan novel itu: Sekitar dua tahun lalu, nenek saya meninggal. Kakek saya, yang tinggal sendirian di desa, memutuskan untuk menikah lagi. Calon istri barunya seorang janda yang jauh lebih muda daripada kakek.

Bisa dibayangkan, ibu saya, anaknya yang paling tua, merupakan yang paling sewot. Jika tidak salah, ia masih marah saat Kakek menjelang meniggal. Tentu saja adik-adik ibu saya yang lain juga ngedumel. Hanya ada satu orang paman saya yang tampaknya merestui pernikahan ini, dengan alasan yang mencoba masuk akal: kakek sudah tua, butuh seseorang yang akan mengurus.
Baca selengkapnya …

The Unbearable Lightness of Being: Politik itu Kitsch


Estetika di mana kotoran (tai) diabaikan dan dianggap tak ada merupakan estetika kitsch, kata Milan Kundera di bagian akhir novel The Unbearable Lightness of Being. Jika saya tak salah ingat, berkali-kali ia membicarakan hal yang sama di novel yang lain. Mungkin di The Joke atau di Life is Elsewhere. Yang jelas, gagasan (atau kemuakan) atas kitsch barangkali merupakan salah satu yang penting dalam novel-novelnya.

Dan tentu saja kitsch yang paling tak disukainya adalah kitsch gaya estetika Komunis Rusia. Sudah menjadi rahasia umum, Kundera membenci hampir segala hal mengenai Rusia. Bahkan tak jarang ia menolak wawancara jika diketahuinya wartawan tertentu berasal dari Rusia. Sebagaimana umum diketahui, ia harus meninggalkan negerinya (Ceko) tak lama setelah negeri itu diinvasi tentara Rusia, dan tinggal di Paris sampai hari ini. Tema mengenai invasi itu, bahkan sudah muncul sejak novel pertamanya, The Joke.
Baca selengkapnya …