Journal

Fear and Trembling, Søren Kierkegaard

Saya sedang selow. Demikian selow sampai saya baca buku beginian, dan dengan senang hati memberi komentar yang saya pikir sangat cerdas dan membanggakan, tajam dan menggembirakan. Siapa tahu delapan puluh tahun dari sekarang saya jadi filsuf beneran, dan bukan lagi tukang sablon, obsesi yang diwariskan ayah saya. Tapi bener, awalnya cuma mau nyari kata-kata bagus yang bisa dikutip buat disablon di kaos, tapi ya begitulah, entah kenapa ambil buku beginian. Fear and Trembling dibuka dengan pembicaraan tentang keyakinan, berhadapan dengan keragu-raguan. “Descartes, sebagaimana dia sendiri berkali menekankan, bukanlah seorang peragu dalam perkara keyakinan,” demikian buku ini di pengantarnya. (Kutipan itu tak menarik untuk disablon, percayalah). Keragu-raguan Descartes hanyalah metode, dan itu pun dipakai untuk dirinya sendiri. Ya, ya, situ yang belajar filsafat pasti tahu itu. Selepas itu kita akan bertemu dengan kisah Abraham, yang disuruh mengorbankan Isaac oleh Tuhan. Di situlah mulai muncul tentang wajah Abraham yang menakutkan, dan Isaac yang menggigil dan memohon ampun Tuhan (Abraham senang, baginya lebih baik Isaac menganggapnya sebagai monster daripada kehilangan iman kepada Tuhan). Saya masih belum menemukan kutipan yang asyik buat disablon. Tentu saja soal keyakinan ini, Abraham dan kisah pengorbanannya dipuji. “Dia yang berjuang dengan dunia menjadi hebat dengan menaklukkan dunia, dan dia yang berjuang dengan dirinya menjadi lebih hebat dengan menaklukkan dirinya, tapi dia yang berjuang dengan Tuhan menjadi yang terhebat dari semuanya.” Ini keren, nih, buat dikutip. Tapi kepanjangan enggak, sih? Saya terus membaca, berharap di bagian berikutnya Søren Kierkegaard bercerita tentang Star Wars dan bicara tentang pergumulan batin Obi-Wan Kenobi atau Darth Vader (membayangkan gambarnya bakal bagus kalau dicetak), kemudian muncul kalimat-kalimat yang asyik, sebelum sadar saya mulai ngaco soal waktu. Lupa kalau Søren Kierkegaard sudah mati sebelum kisah besar perang antar bintang itu diturunkan ke umat manusia di bumi. Tapi dia akhirnya menyerempet juga beberapa cukilan dari kisah-kisah tragedi Yunani, lumayanlah, dan saya bersua dengan obyek yang sering menarik perhatian saya: “tragic hero”, alias sosok tragis dalam karya-karya tragedi. Menurutnya, Abraham (ya, kembali ke dia, soalnya ini buku ternyata bolak-balik membahas kisah pengorbanan Abraham dari berbagai sudut) bukanlah sosok tragis. Sebab sosok tragis, seperti Agamemnon misalnya, mengasumsikan sesuatu yang partikular naik menempati sesuatu yang universal. Seorang individu, kalau boleh saya menerjemahkan dengan bahasa tukang sablon, mengorbankan dirinya untuk prinsip-prinsip, nilai-nilai, etik komunitas yang lebih luas (keluarga, bangsa, dunia). Lha, memangnya Abraham enggak seperti itu? Dia tidak mewakili prinsip-prinsip keimanan, ketertundukan umat kepada perintah Tuhan? Otak saya mulai agak berat. Maklum keseringan ngisep aroma cat plastisol yang lama-lama kayaknya bikin kepala saya jadi dodol. Tidak, dia berbeda, kata Kierkegaard. Ia melakukannya bukan untuk hal seperti itu, melainkan “untuk Tuhan, atau sama juga dengan, untuk dirinya. Ia melakukannya untuk Tuhan sebab Tuhan menuntut bukti akan keyakinannya.” Perbandingan antara sosok ini dengan sosok-sosok tragis, perbandingan antara jalan keyakinan dan jalan etik, memunculkan beberapa problem (di sini ada tiga problem). Satu yang paling menarik perhatian saya: Adakah penangguhan teologis atas etik? Atau seperti ditunjukan buku ini (artinya bukan pertanyaan yang dibikin-bikin si tukang sablon ini) dengan pertanyaan sederhana: di mana batas untuk menyebut Abraham seorang pembunuh (problem etik) dan seorang hamba yang saleh (ekspresi kepatuhan religius)? Urusan ini, biarlah para teolog dan filsuf macam Kierkrgaard mencoba menjawab dan menjelaskannya. Lagipula akhirnya ia tak jadi membunuh Isaac, kan, sebab Tuhan mengganti anaknya dengan domba. Tapi problem ini sungguh membawa saya ke pertanyaan lanjutan yang mengganggu saya. Bagaimana jika di zaman kita, ada orang yang juga merasa memperoleh perintah dari Tuhan, dan ia merasa harus mengorbankan keluarganya? Tetangganya? Saudaranya? Bangsanya? Sesama manusia lain? Bahkan meskipun itu bertentangan dengan nilai etik sesama manusia? Apakah ada jaminan Tuhan mengganti korban-korban ini dengan domba-domba pula? Baiklah, ini terlalu berat untuk otak tukang sablon, yang lebih sering salah baca daripada mengerti apa yang dibacanya. Berat. Berat banget. Saya sampai “fear and trembling”, nih. Baca buku dan problem filsafat memang berat. Bukannya memperoleh jawaban, tapi malah nambah pertanyaan baru. Mana cat plastisol? Mana?

Standard
Journal

The Genealogy of Morals, Nietzsche

“Yang paling buruk, para seniman selalu butuh satu kubu, satu dukungan, satu otoritas yang sudah terbentuk: seniman tak pernah berdikari, berdiri sendiri berlawanan dengan insting mereka yang terdalam.” Hahaha, bangke sih, komentar ini. Meskipun tak selalu harus bergantung ke orang kuat, memang ada seniman-seniman yang suka mengikat diri ke gerombolan, seperti asu, tapi kan ada juga yang “serigala penyendiri” pastinya. Kutipan awal di atas datang dari Nietzsche di buku The Genealogy of Morals. Saya yakin komentar itu sangat bisa diperdebatkan, atau bisa bikin banyak seniman (dan para pemuja mereka) uring-uringan. Mungkin benar di zaman dulu, kala seniman sering menggantungkan diri kepada para patron. Tapi sekarang? Anggap saja itu kata-kata orang gila (atau kata-kata penggemar yang sedang kesal kepada sang komposer besar Wagner). Membaca Nietzsche memang siap-siap harus rada senewen, yang gampang naik darah sebaiknya jauh-jauhlah dari tulisan dia. Saya sendiri kadang berpikir, jika dia menyarankan berfilsafat harus dengan martil (untuk menggetok beragam berhala), saya sangat ingin mempergunakan martil itu untuk menggetok kepalanya, menyuruhnya berpikir lebih jernih, jangan kepedean, dan tentu saja dengan otak dingin. Tapi memang dia sangat sebel dengan segala hal yang lemah. Kalau kamu tukang mewek, merasa diri sebagai remah rengginang di dasar kaleng Khong Guan, atau seseorang yang sering berkata “siapalah saya”, saya sarankan: jangan, jangan jual lagak begitu di depan Nietzsche. Itu berat. Hidup kau bisa habis kena martil. “Bukan dari yang terkuat bahaya datang untuk orang kuat, tapi dari yang terlemah,” katanya. Ada hal-hal yang bikin saya ingin menggigit kupingnya juga. Misalnya, tendensi dia (tidak terang-terangan, tapi begitulah saya membacanya) untuk mencampur-adukkan moral, kebudayaan atau identitas Eropa dengan kekristenan. Eh, bukankah masih banyak yang berpikir begitu, sampai sekarang? Ganti Eropa dengan Amerika, dan lihat Donald Trump. Mungkin saja orang Eropa merasa kekristenan sebagai identitas mereka, tapi sebagai filsuf seharusnya bisa dijernihkan sejernih-jernihnya. Wong saya aja sering sebel kalau mendengar orang bicara tentang “budaya timur” atau “moral ketimuran” di Indonesia, padahal yang dia maksud adalah “moral Islam”. Apa hubungannya Islam dan ketimuran? Bahkan Arab dengan Islam pun harusnya merupakan definisi yang jelas berbeda. Tendensi seperti itu lebih terdengar politis daripada memiliki landasan argumen yang dapat dipertanggungjawabkan. Meskipun begitu, tentu saja ada hal-hal yang menarik dari buku ini, terutama cara Nietzsche mencoba berspekulasi mengenai asal-usul moral (seperti judulnya, itu memang pokok utama buku ini). Menentang “para psikolog Inggris” (entahlah, siapa-siapa yang dimaksud), ia membantah bahwa moral sudah ada dalam diri, bahwa perkara “baik” dan “buruk” lahir semata-mata karena aspek “kegunaan” dari hal-hal (benda, perilaku, dan lain-lain). Di sini Nietzsche melihat bahwa kelahiran predikat “baik” dan “buruk” erat kaitannya dengan struktur kelas, hirarki, dan kekuasaan. Siapa yang memberi nama-nama, dialah yang berkuasa (atas yang diberi nama-nama itu). Kaum aristokrat dan berkuasa, tentulah menciptakan nilai baik dan buruk ini, untuk membedakan “kita” dan “mereka”. Membedakan kaum aristokrat berkuasa dan kaum kere barbar. Demikian juga ketika dia mencoba menelisik rasa tanggung jawab dan rasa bersalah. Dia dengan radikal melihatnya sebagai problem kelas dan kekuasaan. Bayangkan dalam konteks pinjam-meminjam, utang-piutang. Yang meminjami atau yang memberi utang, akan menuntut “tanggung jawab”. Tanggung jawab untuk bayar kembali, tentu saja. Ketika seseorang gagal menunaikan tanggung jawab, ia akan jatuh ke penyesalan, ke rasa bersalah. Sialnya, Nietzsche membawa ini ke urusan agama, dengan mengambil konteks Yahudi. Dalam soal “baik” dan “buruk”, kaum Yahudi yang diposisikan sebagai “yang lain”, melawan balik dengan konsep “baik” dan “jahat”. Kaum aristokrat yang sewenang-wenang, yang korup, kemudian menjadi “jahat”. Saya merasa Nietzsche awalnya tampak mengagungkan perlawanan ini, sebelum mengempaskannya, membantingnya: kaum Yahudi dengan kemarahannya kepada kaum aristokrat, hanya berhenti di kemarahan, dan menyerahkan “pembalasan dendam hanya milik Tuhan”. Ia menutut, seharusnya mereka marah dan melampiaskan kemarahan. Hal yang sama terjadi dalam konteks utang-piutang. Hanya kepada Tuhan kita berutang paling besar (bukan kepada para penguasa), dan karenanya memiliki tanggung jawab untuk membayar kembali, ya kepada Tuhan. Sebenarnya, bukankah itu tidak melululu Yahudi, ya? Bukankah sebagian besar agama juga begitu? Baiklah, ini rada ambigu ketika menyebut Yahudi, sebagai bangsa atau sebagai ajaran agama. Dalam konteks Nietzsche, ia mengatakannya dalam konteks bangsa Yahudi, tapi kritik dia juga merujuk ke ajaran yang dipercaya mereka. Jadi kritik Nietszche mestinya ditujukan tak hanya kepada Yahudi, tapi juga kepada bangsa lain yang mempraktekkan beragam (sebagian besar) agama, yang menurut dia, dengan menghadirkan Tuhan sebagai pemilik “pembalasan”, sebagai pemberi “utang” terbesar, menempatkan manusia pada posisi lemah. Sekali lagi, dia benci kelemahan manusia. Dalam konteks ini, memang sangat mudah bagi kita atau siapa pun untuk menyudutkan Nietzsche sebagai seorang anti-semit. Tapi gayanya yang blak-blakan, memang terasa seperti martil yang menggetok kepala, tak hanya membuatnya terbuka, tapi mungkin tercerai-berai, meleleh dan berantakan.

Standard
Journal

Mythologies, Roland Barthes

Kadang saya pengin nulis esai tentang fenomena-fenomena di sekitar saya. Katakanlah soal pesugihan yang membuat pelakunya harus merenovasi rumah terus-menerus, yang orang Jawa menyebutnya sebagai kandang bubrah. Atau para penjual roti keliling di pagi hari yang berebut perhatian dan pelanggan dengan lagu jingle masing-masing. Atau lembaga swadaya masyarakat yang menyebar sukarelawannya untuk mencegat orang-orang lewat di mal atau di jembatan penyeberang sambil berkata, “Boleh minta waktu sebentar, lima menit saja?”, yang ujung-ujungnya tak jauh berbeda dengan sales parfum, perumahan, atau asuransi untuk menodong isi dompet kita. Kadang pengin juga nulis tentang jalan raya di daerah saya, yang semakin macet justru di hari libur. Tapi cukup membaca buku macam Mythologies karya Roland Barthes, dan keinginan saya dengan segera rontok, serontok-rontoknya. Orang macam ini, sebagaimana esais macam Walter Benjamin atau yang lebih muda dari mereka, Umberto Eco, telah membuat aktivitas menafsir berbagai fenomena kebudayaan (populer) tampak seperti sejenis pengulangan dan tiru-tiruan belaka. Paling banter, kalaupun saya nekat melakukannya, hanya akan menjadi tiruan pemikiran kualitas kesekian, dengan omong-kosong tentang tanda dan apa yang saya pikir diwakilkan oleh tanda tersebut. Bayangkan di buku yang hanya merangkum sebagian saja esai-esainya ini, Barthes menulis dari mulai gaya rambut dan keringat orang-orang Romawi di film hingga soal liburan para penulis yang dianggapnya sebagai memproletarkan diri (liburan awalnya hak anak sekolah, kemudian hak kaum pekerja). Memang, terutama Barthes bicara tentang mitos-mitos modern di belakang berbagai hal yang bahkan tampaknya banal. Potongan rambut seorang santa, misalnya, tak hanya merefleksikan ketaatan beragama tapi juga kekuasaan gereja; sebagaimana janggut lebat mencitrakan manusia bebas (karena tak harus mengikuti norma masyarakat yang harus bercukur setiap pagi). Saya jadi membayangkan para pendeta Buddha yang plontos sebagaimana orang-orang muslim yang saleh memanjangkan jenggotnya tanpa berkumis dengan dahi yang menghitam. Barthes mungkin tak membahas hal-hal itu, sebagaimana dia tak sempat melihat orang bekerja di cafe dengan laptop bergambar apel kroak, atau berjalan bergegas di trotoar sambil memegang gelas sekali pakai bergambar putri duyung hijau, tapi apa bedanya? Dia bisa membaca semua itu dan membaurkannya dengan mitos-mitos masyarakat modern. Mitos yang pada dasarnya dari abad ke abad tetap sama tapi direproduksi terus-menerus secara berbeda. Atau mungkin kita bisa menulis esai dengan sedikit berbeda, tak hanya menafsir dan mereka-reka makna di balik benda-benda, tapi juga memberikan kritik (kalau perlu yang pedas) atasnya. Aha, Barthes sudah melakukannya. Ia tak hanya menafsir Chaplin, tapi juga mengkritiknya sebagai menyederhanakan kaum ploretar sebagai kaum miskin. Juga mengejek cara pandang majalah Elle: kalian bicara bahwa perempuan bisa melakukan apa saja, tapi jangan lupa tugas kalian adalah bunting dan bikin anak (untuk lelaki). Sial bener, bukan? Atau bagaimana selain menafsir dan membuat kritik yang tajam, juga membuat perbandingan? Ini akan mengasyikkan, di mana kita bisa menciptakan hubungan fiktif yang gila-gilaan. Katakanlah arisan sebenarnya merupakan ritus pemujaan baru, atau sepakbola sebenarnya pesta orgy. Percayalah, Barthes sudah melakukannya. Di satu esai, ia membayangkan adegan striptease sebagai eksorsisme, sementara mobil dianggap sebagai katedral di zaman modern. Dan di esai lain, ia bicara tentang kandidat politikus yang mempergunakan potret diri mereka sebagai alat kampanye, dan saya merasa betapa esai itu bahkan masih berlaku sampai sekarang, termasuk di negeri ini. Apa yang tersisa untuk penulis payah macam saya, kecuali kemudian menganggap manusia macam Barthes adalah mitos itu sendiri. Kenapa saya membacanya? Mungkin biar dianggap keren? Pembuktian diri sebagai anggota masyarakat kelas borjuis kecil (sebab kaum proletar kemungkinan besar tak membacanya sebagaimana mereka kemungkinan tak membaca Marx juga)? Entahlah, buku macam begini, meskipun mental borjuis saya bisa sedikit terhibur, tapi juga sekaligus menjengkelkan. Membuat saya jadi bertanya-tanya, memangnya apa lagi yang bisa diperbuat dengan semiotika dan segala ilmu tanda serta tafsir ini?

Standard
Cool Stuff

Salah satu cara menjawab revisi UU MD3 yang baru disahkan DPR, yang berpotensi mengkriminalkan para pengkritik anggota dewan, adalah dengan terus melakukan kritik terhadap perilaku dan kebijakan mereka. Kutipan di kaos ini diambil dari cerpen Corat-coret di Toilet, yang terbit tahun 1999. Tapi kok rasanya tetap bisa dipakai, ya? Yang berminat memakai, sila mengambilnya dengan potongan harga di sini. Hanya Rp.75.000 (Rp.110.000) + ongkos kirim.

Aku Lebih Percaya Kepada Dinding Toilet

Aside
Cool Stuff

Indonesia (dan dunia) macam apa sih, yang kita inginkan? Bisakah kita (kembali) membentuknya melalui kesusastraan? Atau sudah kalah telak oleh citra yang dibangun sosial media dan berita palsu? Atau jangan-jangan kesusastraan kita sudah tercerabut dari problem-problem sosial zaman dan masyarakatnya, sehingga bahkan memimpikan dunia macam apa pun yang diinginkannya sudah tidak dilakukan lagi?

Kuliah Umum

Aside
Journal

Everything I Don’t Remember, Jonas Hassen Khemiri

Ada bagian-bagian yang begitu lucu di novel ini membuat saya tergelak atau nyengir sendiri. Misalnya ketika menceritakan si nenek yang sudah pikun dan melupakan banyak hal. Si cucu meneleponnya tapi ketika terhubung, pembicaraan mereka terganggu suara TV yang kencang sekali. Si nenek mematikan TV, dan si nenek melanjutkan pembicaraan dengan si cucu. Bukan lewat telepon, tapi lewat remot TV. Dan makin lucu mendengar komentar si cucu, “Sebenernya itu lucu kalau saja itu tak begitu tragis.” Demikian juga ketika kadang si nenek tak mengenali si cucu dan menganggapnya orang asing. Si cucu punya trik untuk mengembalikan sedikit ingatannya dan mau bersikap kooperatif. Ia memakai topi bulu tua yang pernah jadi milik kakeknya. “Tapi kamu jangan terlalu dekat dengannya, sebab kadang ia ingin menggelendot dan minta cium.” Novel ini berkisah tentang seorang penulis (narator), yang ingin melacak kembali kisah hidup Samuel terutama di hari kematiannya. Samuel adalah si cucu yang tadi diceritakan. Baiklah, melihat judulnya, Everything I Don’t Remember, novel penulis muda asal Swedia ini bisa dianggap sebagai novel tentang kenangan, tentang ingatan. Itu tak salah, meskipun tentu saja juga terlalu menyederhanakan. Seperti menerawang ke balik permukaan air yang jernih dan tenang, sebab seperti itulah novel ini ditulis, kita dibawa untuk melihat begitu banyak hal di dalamnya: tentang ras, perpindahan, penerimaan, prasangka, rasa frustasi sosial, juga rasa frustasi atas politik, dan banyak hal lainnya. “… Samuel berkata bahwa ayahnya ingin ia bernama Samuel sebab ia mulai membayangkan reaksi atasan atau induk semang jika kau memperoleh nama asing. Ayahnya tak ingin si anak mengalami problem yang sama.” Kita tahu prasangka semacam itu, di mana-mana, di berbagai negeri. Jonas Hassen Khemiri menceritakannya dengan ringan, seringkali lucu, tapi pada saat yang sama kita merasakan kepedihannya, rasa sakit yang tak terperi di dalam masyarakat yang bisa juga sama sakitnya. Karena novel ini ditulis dengan sejenis penelusuran tentang kehidupan Samuel sebelum kematiannya, maka kita akan bertemu berbagai sudut pandang (dari penjaga panti jompo tempat nenek Samuel tinggal, ibunya, temannya, pacarnya, dll). Mungkin ini akan sedikit mengingatkan kita kepada cerpen Akutagawa, “In a Bamboo Grove”, terutama di bagian si orang mati juga memaparkan versi kisahnya. Yang membedakan, cerpen Akutagawa memperlihatkan betapa sebuah peristiwa bisa dilihat atau dipersepsi dengan cara yang berbeda-beda oleh saksi yang berbeda, sementara di novel ini, berbagai variasi sudut pandang lebih merupakan kepingan-kepingan puzzle yang mencoba saling melengkapi. Pusat kisahnya sendiri terutama berpusing di antara hubungan asmara Samuel dan Leide, serta persahabatan Samuel dan Vandad (dan tentu saja sikap saling mencurigai antara Vandad dan Leide dalam “memperebutkan” Samuel). Ya, di permukaan ini tampak seperti kisah asmara yang sulit, hubungan yang rawan, dan persahabatan, tapi sekali lagi, di balik itu tak bisa dienyahkan berbagai problem politik kontemporer. Sesuatu yang sulit saya rasa dicapai, kecuali oleh penulis yang demikian lihai. Bahkan keretakan hubungan Samuel dan Leide, menurut saya, memiliki latar belakang yang sangat politis. Cara pandang mereka yang berbeda terhadap persoalan, jelas tak bisa diselamatkan sesederhana oleh apa yang namanya cinta, sebesar apa pun gejolak dan saling tarik-menarik yang diciptakan oleh perasaan itu. Cara pandang yang berbeda menghasilkan rasa ketidakpercayaan, terutama ketika kita tak mampu untuk melihat dari sisi orang lain, dan rasa tak percaya merupakan racun untuk hubungan asmara, bukan? Terapkan hal ini dalam hubungan sosial, saya rasa jawabannya mungkin sama.

Standard
Journal

You Were Never Really Here, Jonathan Ames

Apa yang kamu harapkan ketika membaca fiksi kejahatan? Buat saya, sedikit ketegangan, petualangan, mungkin juga sejenis pemenuhan impuls maskulin (perkelahian, marabahaya), rasa penasaran karena munculnya suatu kasus, permainan detail, hipotesa maupun kesimpulan, lalu semuanya diakhiri dengan sejenis orgasme ketika keseluruhan aspek menutup ke dalam akhir yang tuntas. Saya sering mengambil buku-buku jenis ini, biasanya untuk dibaca dalam sekali duduk, dan seringkali berhasil membuat saya merasa rileks, merasa mengawang-awang, sama manjurnya dengan pergi ke tempat pijat refleksi setelah rasa penat menghajar habis-habisan. Pada saat yang sama, saya bisa belajar banyak hal dari karya jenis ini: ekspresi bahasa yang cenderung langsung, deskripsi yang ekonomis, dan tentu saja penceritaan yang tak bertele-tele. Bayangkan ketika harus memperkenalkan masa lalu ayah sang tokoh, yang kasar dan sering memukul istri dan anaknya, cukup ditulis, “Joseph Sr., also a Marine, had fought in the Korean War. He went in human and came out subhuman.” Tokoh utama kisah ini, You Were Never Really Here karya Jonathan Ames, bernama Joe. Ia mantan marinir dan FBI, sebelum pensiun dan kemudian bekerja sebagai tenaga bayaran untuk berbagai operasi bawah tanah. Tak perlu dijelaskan secara gamblang, begitu mengikuti ceritanya, kita akan segera tahu, selain memiliki beban traumatik masa lalu, jagoan kita ini juga makin berumur, makin ceroboh. Di pembukaan kita dihadapkan kepada operasinya yang nyaris gagal (ia nyaris terbunuh), meskipun ia tak tahu di mana kesalahannya. Hingga kemudian ia memperoleh pekerjaan baru untuk menyelamatkan gadis kecil anak seorang senator yang diculik (secara umum diberitakan kabur atau diculik oleh pemuda kenalannya di Facebook) dan dijadikan pelacur-bocah di tempat pelacuran, di kamar khusus bernama “taman bermain”. Pekerjaan berat karena melibatkan bajingan-bajingan kelas atas yang bekerja di belakang para politikus, yang bisa menggerakkan tak hanya pembunuh bayaran, tapi juga para polisi. Benar saja, meskipun ia bisa bergerak cepat, masuk ke tempat pelacuran dengan relatif mudah setelah melumpuhkan dua penjaga, masuk ke kamar dan menyelamatkan gadis kecil itu, kemudian membawa ke hotel tempat si senator menunggu, ia malah ditunggu tiga polisi yang menodongkan senjata ke arahnya. Gagal total. Sekilas tampak sejenis formula, dan memang harus mengikuti sejenis formula untuk membuat pembaca macam saya sedikit terlena. Meskipun kita tahu si tokoh mulai payah, tak bisa beroperasi dengan bersih, tapi ia tetap diberi kemudahan. Operasinya berjalan lancar. Ia masih tampak hebat. Pukulannya tampak tetap mematikan. Pengamatannya masih jeli. Hingga di titik ketika semuanya tampak berjalan sesuai rencana, barulah ia dihadapkan kepada sesuatu yang salah. Ia harus mengurai benang kusut di mana kesalahannya. Ia mengurai satu per satu simpul, tapi setiap kali ia menemukan simpul itu, orang-orang yang menjadi penjaga simpul sudah mati dengan pelor di dahi mereka. Bahkan ibunya sendiri mati (dan ia harus mengubur ibunya ke laut, untuk meninggalkan semua jejak biologis yang mengarah kepadanya). Kemudian di sinilah perbedaannya, jebakan sesungguhnya dari yang saya kira semuanya bersih mengikuti formula. Novel pendek ini (mungkin lebih tepat disebut cerita pendek yang panjang) tidak ditutup rapat. Ia berhenti tepat di puncak, puncak yang melegakan sekaligus menjengkelkan. Menjengkelkan karena saya masih ingin terus membaca, seperti sering terjadi di fiksi kriminal yang asyik. Seperti terjadi pada layanan tukang pijat refleksi yang kelewat enak tapi waktu layanan sudah harus berakhir. Seperti bertemu sebuah ujung buntu dengan pintu tertutup rapat, tapi kita diberi kesempatan melihat celah kecil untuk melihat ke seberang pintu.

Standard
Journal

Blood Meridian, Cormac McCarthy

Sejauh mana kegilaan manusia bisa terentang? Dan sejauh mana daya hidup manusia bisa bertahan dari kegilaannya zaman dan kegilaannya sendiri? Disebut-sebut sebagai salah satu mahakarya kesusastraan Amerika (dalam satu rangkaian bersama Moby Dick dan As I Lay Dying), novel ini merupakan fondasi sebuah bangsa dari sudutnya yang paling gila dan memualkan. Semacam pengakuan dan riwayat segala dosa yang mungkin dilakukan segerombolan manusia. Kita akan bertemu si bocah yang hanya disebut sebagai “The Kid”, yang kabur dari rumah di umur empat belas tahun. Ia sejenis Huck Finn dalam sosoknya yang brutal, melancong dari satu tempat ke tempat lain, bertahan hidup melewati berbagai perkelahian, dengan kepalan tangan, dengan tendangan kaki, leher botol, pisau belati, hingga pelor sempat juga menerjang punggungnya. Dan di satu bar, ia membunuh seorang lelaki. Tapi itu hanya bagian pembuka saja, itu hanya awal dari opera kekerasan yang harus dijalaninya. Awal yang membawanya untuk bergabung dengan pasukan pemburu Indian sepanjang perbatasan Meksiko, untuk menangkap, membunuh dan menguliti kepala mereka. Kita juga akan berjumpa sosok lain, seorang lelaki plontos bernama Holden yang lebih banyak disebut sebagai “The Judge”. Tak jelas asal-usulnya, tapi ia seorang pencatat, pembuat sketsa, tertarik kepada artefak-artefak peninggalan Indian, membaca rasi-rasi bintang, tapi sekaligus dengan dingin bisa membunuh siapa pun, menguliti kepala siapa pun, sebab setelah jadi lembaran kulit, Indian atau bukan tak ada bedanya. Mereka berdua bergabung dengan gerombolan koboi pemburu Indian yang dipimpin oleh Glanton, yang memperoleh kontrak perburuan ini dari kedua pemerintah di kedua sisi perbatasan. Blood Meridian tak hanya membeberkan dunia yang liar, penuh kekerasan, tapi juga korup dan bengis. Tentu saja ada pemerintahan, ada markas-markas tentara di sana-sini, ada hukum dan pengadilan dan penjara, juga ada kavaleri yang sesekali lewat, tapi semua itu terasa sebagai basa-basi saja. Selebihnya adalah rimba belantara manusia dan gurun pasir, di mana perkara bertahan hidup lebih penting dari segalanya, dan yang kuat, yang licik, mungkin bisa bertahan hidup. Ditulis Cormac McCarthy dengan cara episodik, kita akan berbenturan dengan berbagai kekejian ini. Jangan cuma kepala manusia dicokok botol hingga retak dan otaknya meleh, atau kepala manusia dipenggal dan kepalanya itu ditenteng-tenteng menjadi sejenis piala, atau daun telinga yang diiris dan dijadikan semacam kalung yang digantungkan di leher, bahkan bayi manusia dijinjing dari punggung kuda dan dibantingkan ke batu, terpapar di novel ini. Ya, untuk kamu yang tak tahan menghadapi gambar-gambar semacam itu, sebaiknya perkuat daya tahan mentalmu sebelum membacanya. Di antara semuanya, sosok The Judge merupakan yang paling menarik. Bagi saya, ia merupakan penjelmaan Iblis yang nyaris sempurna, yang dengan pahit barangkali mengajarkan kita bagaimana bertahan hidup di dunia yang edan: yakni ikut menjadi edan. Ia tampak seperti di atas semua nilai-nilai moral, di atas pengetahuan, bahkan di atas pengalaman. Ia seperti memahami rahasia terdalam kebrutalan hidup. Adegan yang paling mengerikan, yang menampakkan wajahnya yang paling dalam terjadi ketika ia menghampiri tiga orang penyintas yang selamat dari serbuan Indian. Ia menginginkan topi salah satu penyintas. Ia menawar. Meskipun awalnya topi itu tidak dijual, ia terus menawar. Menaikkan harga. Dolar demi dolar. Kita tahu, keinginannya harus dan akan terpenuhi. Hingga terakhir, ia menawar satu-satunya pistol di antara mereka, milik The Kid, yang kita tahu akan mengantarkan si bocah ke akhir yang tragis. The Judge menari bersama kegilaan dunia, sebab ia tak pernah tidur. Sebab, sebagaimana ia selalu berkata, ia tak pernah mati. Seperti jiwa jahat yang bertahan dari zaman ke zaman.

Standard
Journal

Down the Rabbit Hole, Juan Pablo Villalobos

Agak sulit untuk mengkasifikasikan novel ini. Pulp? Ya, apalagi dengan latar cerita tentang kelompok mafia narkoba Meksiko dengan tembak-tembakan dan bunuh-bunuhan, tapi juga enggak persis seperti itu. Picaresque? Boleh juga, apalagi dengan tokoh utama (sekaligus narator) seorang anak kecil, agak nyeleneh (atau dari sudut pandang lain: jenius), tapi ya tidak persis seperti novel sejenis lainnya. Nonsense? Judulnya mengingatkan kita kepada Alice’s Adventures in Wonderland memang, dan seperti novel klasik tersebut, novel ini bisa juga dilihat sebagai komentar nonsens anak kecil atas dunia orang dewasa, tapi ya tetap saja beda. Tak ada dunia ajaib, juga tak ada makhluk-makhluk ajaib. Mungkin memang novel ini tak membutuhkan label apa pun, atau label apa pun bisa saja diterapkan kepadanya. Tak ada bedanya. Novel ini bisa dinikmati dengan atau tanpa label-label itu: kocak, penuh sindiran, terus-menerus memancing rasa ingin tahu, sekaligus brutal. Baiklah, untuk memberi gambaran yang lebih jelas, Down the Rabbit Hole karya Juan Pablo Villalobos (penulis ini pernah datang ke Indonesia sekitar setahun lalu) berkisah tentang seorang bocah yang kebetulan anak gembong narkoba. Meskipun hidup di lingkungan yang penuh kekerasan, ayahnya tak pernah berbuat kasar kepadanya (tak pernah memukul atau menampar), bahkan cenderung memanjakannya (mungkin karena ia sudah tak punya ibu). Sebagai anak tunggal gembong narkoba yang kaya raya (punya berjuta-juta uang dalam bentuk peso, dolar, maupun euro), hidupnya menyenangkan sekaligus tak menyenangkan. Ia tak bisa pergi sekolah, tapi tentu punya guru pribadi. Ketika ingin mengunjungi kebun binatang, ia tak bisa pergi ke sana, sebagai gantinya binatang-binatang didatangkan ke halaman rumahnya. Apa pun yang diinginkannya, bisa dikabulkan, ia hanya tinggal menuliskan daftar keinginannya. Termasuk ketika ia menginginkan kuda nil kerdil yang harus didatangkan dari Liberia di Afrika. Bagian yang terakhir, bisa dibilang merupakan jantung kisah novel ini: tentang anak gembong narkoba yang ingin memelihara kuda nil kerdil yang nyaris punah. Bagi yang akrab dengan novel-novel dari Amerika Selatan, tentu akan sedikit terbengong-bengong dengan kisah dan gaya novel ini. Ia seperti sebuah geliat baru dari sejarah kesusastraan nun jauh di sana, sebuah percobaan, barangkali sebuah upaya perusakan sejarah. Saya suka istilah “perusakan sejarah” ini, yang saya karang-karang sendiri. Maksudnya, sebagai upaya menggembosi kemapanan sejarah kesusastraan Amerika Selatan, dengan memberinya tak hanya terobosan, tapi juga sindiran dan olok-olok kebesarannya (alih-alih merayakan eksotisme setempat, novel ini merayakan budaya populer macam film samurai Jepang; alih-alih penuh komentar politik pascakolonial, si bocah dan gurunya lebih banyak bicara tentang kegilaan orang Perancis memenggal kepala raja mereka). Villalobos tentu saja tak sendirian, dan selalu menyenangkan melihat upaya-upaya semacam ini. Baiklah, sejarah mungkin tak pernah benar-benar dihancurkan. Yang ada tak lebih dari yang tercatat dan tak tercatat, atau seseorang mencatat cara-cara baru melihat dunia sementara yang lain mencatat ketololan-ketololan. Apa bedanya? Bajingan maupun santa, si jenius maupun si tolol dalam kesusastraan bisa sama tercatat dan bisa sama dilupakan. Apakah Villalobos dan rekan-rekan segenerasinya merupakan bajingan atau santa dalam kesusastraan Amerika Selatan, tak usahlah dipedulikan. Ia bisa bajingan, bisa pula santa. Satu hal, ia memberi kita sesuatu yang menyenangkan. Mungkin kelokan kecil yang menyenangkan (kelokan yang mengganggu di ujung jalan raya nan megah). Sebuah setapak yang siapa tahu, dalam perjalanan waktu, menjadi pembuka bagi jalan baru yang lebih lebar dan agung (dan kelak seseorang merasa perlu menghancurkan kembali jalan ini).

Standard