Air Bah dalam Novel “Cantik itu Luka”
Oleh: Maman S. Mahayana
Foto oleh peasap, Some rights reserved.
Sebuah amplop tak terlalu besar, tergeletak di meja kerja. Kiriman buku. Antologi cerpen, Corat-Coret di Toilet (CCDT) (2000) karya Eka Kurniawan.
Nama itu jarang dijumpa di koran minggu. Satu-dua sempat kubaca. Cerpen-cerpennya tampak masih mencari bentuk. Ada napas surealis dan coba menyamarkan beberapa tokohnya. Kadang juga agak realis, meski ia acapkali lalai menyembunyikan suara dirinya sebagai dalang. Nada komedi-satirenya cukup kuat dalam CCDT. Cerdas juga usahanya mengangkat hal kecil yang remeh-temeh menjadi problem kemanusiaan. Di sana ada dendam mendalam pada penguasa. Beberapa catatan kutulis dalam buku itu. Kupikir, meski bahasanya lincah dengan narasi mengalir, ia tetap akan berada di garis belakang deretan nama Joni Ariadinata, Agus Noor, Dorothea Rosa Herliany, Indra Tranggono, dan komunitas cerpenis Yogya lainnya.
Baca selengkapnya …
Katak dalam Matryoshka
“Sesungguhnya, setiap di antara kita para katak menciptakan tempurungnya sendiri.”

Foto oleh Jeff Belmonte, Some rights reserved.
Bahkan seandainya kita para katak terbebas dari dunia tempurung, bukankah kita akan menemukan diri di tempurung yang lain, semisal batok kelapa lain, atau sesuatu yang lebih besar yang menjadi tempurung bagi katak dan batok kelapa?
Baca selengkapnya …
Hidup untuk Berkisah

Foto oleh NTLam, Some rights reserved.
Ibu memintaku pergi bersamanya untuk menjual rumah. Ia datang pagi itu dari sebuah kota di mana keluarga kami tinggal, dan tak tahu bagaimana menemukanku. Ia bertanya pada beberapa kenalan dan diberitahu untuk mencariku ke Libreria Mundo, atau di kafe-kafe sekitar, tempat aku ke sana dua kali sehari untuk ngobrol dengan teman-teman penulis. Seseorang yang memberitahunya mewanti-wanti: “Hati-hati, sebab mereka semua tak punya otak.” Ia datang tepat pukul dua belas. Dengan langkah ringannya ia berjalan di antara meja tempat buku dipajang, berhenti di depanku memandang ke mataku dengan senyum nakal masa-masa bahagianya, dan sebelum aku bisa menanggapi ia berkata:
“Aku ibumu.”
Itulah bagian pembuka buku teranyar Gabriel Garcia Marquez, terbit dalam edisi Inggris sebagai Living to Tell the Tale yang diterjemahkan oleh penerjemah utamanya Edith Grossman (selain Gregory Rabassa yang menerjemahkan Cien anos de soledad sebagai One Hundred Years of Solitude) dari edisi Spanyol Vivir para contarla, November 2003 sepanjang hampir 500 halaman. Sejak tahun 1999, Gabito, demikian ia biasa disapa, menderita kanker limpa dan menarik diri dari kehidupan publik selepas membeli sebuah perusahaan surat kabar di negaranya, Kolombia, serta aktif dalam menjembatani negosiasi di antara pemerintah dan kaum gerilyawan yang mencarut-marut negeri tersebut dalam perang saudara berkepanjangan. Bersama isterinya, ia menyepi di Mexico City, tempat ia banyak tinggal, dan memutuskan untuk menulis memoar dalam bentuk trilogi. Living to Tell the Tale merupakan yang pertama, dan barangkali merupakan yang paling dinanti dunia sastra, berbagi bersama buku anyar peraih Nobel lainnya yang terbit hampir bersamaan, semacam Love karya Toni Morrison.
Baca selengkapnya …
Sastra Asia dan Sastra Amerika Selatan
Aku termasuk yang gelisah dengan fenomena sastra Amerika Selatan, yang mengolah pinggiran melawan pusat itu. Namun aku belum sampai pada pokok gimana seharusnya sastra Asia. Sebaliknya, aku dalam setahun ini mencari benih-benih mengapa sastra Amerika Selatan hingga sampai pada titik itu.
Inilah yang kemudian baru kuperoleh: William Faulkner. Aku tengah mencoba membacanya, namun putus asa setengah mati. Aku tak bisa mengerti The Sound and the Fury, dan tak bisa melewati satu bab pun Absalom, Absalom. Tapi kupikir, untuk memahami sastra Amerika Selatan, sangatlah perlu memahami penulis besar Amerika ini. Seperti kita tahu, pengaruhnya sangat luar biasa pada Borges dan Marquez.
Baca selengkapnya …
Realisme Sosialis a-la Pramoedya
Oleh: Nur MursidiSumber: guebisa.com

Foto oleh endolith, Some rights reserved.
Siapa tak kenal dengan Pramoedya Ananta Toer? Seperti dikemukakan A Teeuw ia adalah sastrawan, penulis cerita dan pengarang prosa Indonesia nomer wahid dan tanpa saingan dalam abad ke-20. Selain itu, ia adalah satu-satunya sastrawan Indonesia yang pernah dicalonkan untuk mendapatkan hadiah Nobel di bidang sastra. Ungkapan A, Teeuw dan pencalonan terhadap dirinya itu, sebenarnya tidaklah berlebihan.
Karena karya-karya yang lahir dari pena sastrawan kelahiran Blora, 6 Februari 1925 itu memang mampu membuat pembaca terpukau dan berdecak kagum. Hampir setiap karyanya, setidaknya bisa kita dilihat adanya nuansa kemanusiaan yang cukup kental dan itu diusung Pramoedya dengan piawai sehingga pembaca bisa-bisa akan menangis tatkala membacanya.
Baca selengkapnya …
Quo Vadis Kritik Sastra?
Krisis sastra, ya? Untuk kesekian kali kita selalu mendiskusikan sesuatu yang nggak nyambung. yang satu menganggak sastra kita mengalami krisis karena toh dari dulu sampai sekarang tak muncul pembaharuan macam apa pun, kalau pun ada hanya segelintir orang. sementara yang lain menganggap tak ada krisis karena puisi dan cerpen dan novel terus diproduksi. apakah diskusi semacam itu akan nyambung? kedua pihak berdiri berdasarkan patokan yang berbeda, seumur hidup kupikir nggak bakal ketemu.
Jadi, bagaimana jika kita akhiri diskusi semacam itu, dan mengajukan pertanyaan yang lebih maju: apakah sastra kita sudah bermutu atau tidak? untuk menyamakan persepsi, baiklah kita ambil patokan sastra dunia (idealnya memang begitu, kan?) sebagai ukuran. sejauh mana sastra kita diterima publik sastra dunia? dalam hal ini kita seharusnya tak ngomongin soal karya-karya yang sekedar diterjemahkan (beberapa karya diterjemahkan sekedar merupakan proyek mercu suar saja, kan?), tapi juga melihat bagaimana tanggapan pasar terhadap karya tersebut. mana karya kita yang direview oleh media sastra internasional, dicetak ulang, sold out, sebagaimana karya-karya penulis Amerika Latin, penulis India, bahkan penulis Afrika?
Baca selengkapnya …
Gruppe 47 dan Grass
Salah satu yang menjadi inspirasi dibuatnya situs Bumi Manusia adalah kelompok sastrawan yang menamakan dirinya Gruppe 47 di mana Gunter Grass pernah menjadi anggotanya.
Selain sebagai novelis, Grass merupakan seorang penyair, penulis naskah drama, pematung dan desainer grafis (gambar si kecil Oscar sedang membawa genderang kaleng yang berwarna hitam-merah di cover The Tin Drum, kalau nggak salah, dia sendiri yang buat).
Baca selengkapnya …
Sastra Internet
Adakah sastra internet? Sebagaimana sejarah telah membuktikan, setiap penemuan media baru, revolusi besar-besaran muncul dalam proses kreatif sastra. Saat ditemukannya kertas, lalu mesin cetak dan teknologi penjilidan buku, tradisi sastra lisan bergeser ke sastra tulis. Meskipun pada awalnya kertas dipandang tak lebih dari alat pendokumentasian sastra tulis yang selama ini diceritakan dari mulut ke mulur, namun penemuan bari juga dimunculkan oleh tradisi sastra tulis: novel yang berkembang sejalan dengan penemuan buku dan cerita pendek lebih berkembang dengan munculnya penemuan terbitan berkala.
Kenapa novel muncul ketika ada teknologi buku? Karena, sebelum ditemukannya kertas dan mesin cetak dan penjilidan buku, sastra diceritakan secara lisan. Untuk memudahkan mengingat, cerita biasanya pendek sehingga mudah diceritakan ulang. Dalam tradisi dongeng yang panjang, selalu ada dua kemungkinan: cerita panjang itu ternyata merupakan cerita berbingkai di mana ada lusinan atau puluhan cerita pendek-pendek di dalamnya (misalnya Kisah Seribu Satu Malam), atau cerita panjang itu dibuat dalam bentuk lirik sehingga lebih mudah dihapal (misalnya Mahabarata dan Ramayana).
Kini internet nyaris diperlakukan sama dengan kemundulan kertas di zaman dahulu: para sastrawan baru melihatnya sebagai pemindahan medium dari kertas ke web. Baru sebagai tempat pendokumentasian yang lebih terjamin daripada kertas. Tapi apakah cuma itu? Bukankah media baru ini (internet) mempunyai banyak kelebihan-kelebihan (dan juga batasan- batasan), sehingg seharusnya menawarkan bentuk sastra baru? Namun pertanyaannya, sastra seperti apa yang bisa muncul sejiwa dengan media ini (sebagaimana novel sejiwa dengan buku dan cerita pendek sejiwa dengan terbitan berkala dan lirik sejiwa dengan tradisi lisan?). Kami tunggu komentar Anda semua …
Merayakan Kembali Kekuatan Dongeng
Oleh: Kurniawan
Foto oleh skippy13, Some rights reserved.
Kekuatan dari sebuah cerita pendek (cerpen) adalah kemampuannya untuk melukiskan seringkas mungkin sebuah peristiwa secara padu dalam ruang sempit yang tersedia. Cerpen-cerpen Eka Kurniawan yang dikumpulkan dalam buku Corat-coret di Toilet ini nampak mampu memanfaatkan ruang yang terbatas tersebut. Meski, dalam beberapa cerpennya, Eka masih belum cukup hemat dalam menyusun kalimat dan membangun cerita.
Misalnya, dalam “Kisah dari Seorang Kawan” yang berbentuk cerita berbingkai. Bingkainya adalah kisah percakapan beberapa aktivis mahasiswa tentang orangtua masing-masing. Inti cerpen ini adalah kisah seorang mahasiswa tentang ayahnya yang pedagang beras kecil tapi dipenjara karena membunuh seorang pedagang besar yang berhasil menguasai pasar beras dan merebut pelanggan-pelanggan para pedagang kecil itu.
Baca selengkapnya …
Ideologi Koran Sastra dan Pramoedya
Oleh: Mulyadi J. Amalik
Foto oleh *Free-Secret-Life*, Some rights reserved.
Perdebatan ideologi antara kubu Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) dengan kubu Manifes Kebudayaan (Manikebu) tidak bisa dilepaskan dari peran koran atau majalah sastra. Dalam konteks ini, tentu saja koran/majalah pada masa itu (1960-an) yang bersifat partisan terhadap ideologi atau partai tertentu secara tegas.
Pramoedya Ananta Toer adalah pengelola halaman sastra koran Bintang Timur – rubrik Lentera – yang merupakan ujung panah kubu Lekra, di mana koran tersebut merupakan koran partisan PKI. Di rubrik Lekra itulah, Pram dan kawan-kawannya mempromosikan kredo sastra realisme sosialis. Kelompok Manifes yang diporoskan pada HB Jassin dan Wiratmo Soekito, mengelola majalah Sastra, menganut humanisme universal dan bersikap non-partisan terhadap partai-partai yang ada. Soal pratisan dan non-partisan inilah yang kemudian menjadi titik debat berikutnya berkaitan dengan pers dan sastra perlawanan. Intinya, kubu Lekra menuntut kejelasan ideologi yang memihak rakyat, sedangkan kubu Manifes menganggap, “Setiap sektor kebudayaan tidak lebih penting dari sektor yang lain, dan karenanya harus berjuang bersama-sama untuk kebudayaan itu sesuai dengan kodratnya.”
Baca selengkapnya …