Obituari untuk Bapak

Hari ini, ayah saya meninggal. Guru-guru saya sering memanggilnya Pak Sanusi. Tetangga lebih terbiasa memanggilnya Pak Uci. Ia lahir empat belas hari setelah Proklamasi Kemerdekaan. Meninggal 23 Juli 2009. 63 tahun menjelang 64. Ia pasti suka sekali, sebab itu juga umur Rasulullah ketika meninggal.

Sebelum sakit, ia pengkhotbah Jumat di sebuah masjid. Kadang-kadang ia menuliskan khotbahnya di sebuah majalah berbahasa Sunda. Dulu ia menyewakan komik dan novel silat. Ia pernah menjadi guru Bahasa Inggris. Ia membuat t-shirt. Ia membuat batik. Tentu saja ia juga mahir menjahit. Ia pernah pula bertani jamur. Jamur merang dan jamur kuping.

Tentu kenangan saya atasnya jauh melebihi apa yang saya tulis di sini. Tapi barangkali suatu hari saya menulis lebih banyak. Ijinkan saya meminta maaf kepada siapa pun yang mengenalnya, jika ada kesalahannya sewaktu hidup. Dan terima kasih untuk yang telah menyampaikan belasungkawa serta doa untuknya. Ia meninggalkan seorang istri, tiga anak lelaki, tiga anak perempuan, dan seorang cucu perempuan. Selamat jalan.

A Short History of Tractors in Ukrainian

A Short History of Tractors in Ukrainian
Marina Lewycka

Ketika saya membaca bagian awal novel ini, sekonyong saya merasa suka. Pertama-tama adalah alasan personal. Persis sebagaimana pembukaan novel itu: Sekitar dua tahun lalu, nenek saya meninggal. Kakek saya, yang tinggal sendirian di desa, memutuskan untuk menikah lagi. Calon istri barunya seorang janda yang jauh lebih muda daripada kakek.

Bisa dibayangkan, ibu saya, anaknya yang paling tua, merupakan yang paling sewot. Jika tidak salah, ia masih marah saat Kakek menjelang meniggal. Tentu saja adik-adik ibu saya yang lain juga ngedumel. Hanya ada satu orang paman saya yang tampaknya merestui pernikahan ini, dengan alasan yang mencoba masuk akal: kakek sudah tua, butuh seseorang yang akan mengurus.
Baca selengkapnya …

Politik itu Kitsch

The Unbearable Lightness of Being
Milan Kundera

Estetika di mana kotoran (tai) diabaikan dan dianggap tak ada merupakan estetika kitsch, kata Milan Kundera di bagian akhir novel The Unbearable Lightness of Being. Jika saya tak salah ingat, berkali-kali ia membicarakan hal yang sama di novel yang lain. Mungkin di The Joke atau di Life is Elsewhere. Yang jelas, gagasan (atau kemuakan) atas kitsch barangkali merupakan salah satu yang penting dalam novel-novelnya.

Dan tentu saja kitsch yang paling tak disukainya adalah kitsch gaya estetika Komunis Rusia. Sudah menjadi rahasia umum, Kundera membenci hampir segala hal mengenai Rusia. Bahkan tak jarang ia menolak wawancara jika diketahuinya wartawan tertentu berasal dari Rusia. Sebagaimana umum diketahui, ia harus meninggalkan negerinya (Ceko) tak lama setelah negeri itu diinvasi tentara Rusia, dan tinggal di Paris sampai hari ini. Tema mengenai invasi itu, bahkan sudah muncul sejak novel pertamanya, The Joke.
Baca selengkapnya …

Desain Sampul “Menanti Sekarini”


Desain sampul untuk buku kumpulan cerpen Vivi Diani Savitri, Menanti Sekarini. Sempat terputus karena harddisk jebol, saya mengerjakannya kembali dari awal. Di bawah ini beberapa draft sebelum versi final:
Baca selengkapnya …

“Kronik Betawi”, Novel Baru Ratih Kumala

Kronik Betawi
Ratih Kumala
Gramedia Pustaka Utama, 2009

Novel terbaru karya istriku, Ratih Kumala, berjudul Kronik Betawi. Ya, benar, ini tentang masyarakat Betawi di Jakarta. Berbeda dengan kedua novel sebelumnya, gaya bahasanya lebih ringan dan, tentu saja lucu. Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, mulai beredar 4 Juni 2009. Selamat membeli dan membaca.

Buat yang malas atau enggak sempat ke toko-buku, bisa pesan di sini seharga Rp. 40.000 (sama dengan harga di toko). Ongkos kirim gratis untuk wilayah Indonesia. Silakan tinggalkan komentar untuk pemesanan buku.

Foto Lama

Masa KKN di Imogiri, Yogya. Saya di bagian depan kanan, masih gondrong.

Baca selengkapnya …

Cantik itu Luka