Eka Kurniawan

Journal

Page 2 of 33

Some Prefer Nettles, Junichirō Tanizaki

Saya ingin memulai perbincangan mengenai novel ini dari satu percakapan: “… para lelaki yang terlalu tergila-gila perempuan di waktu muda umumnya menjadi kolektor benda antik ketika tua. Perabot minum teh dan lukisan menggantikan seks.”//“Tapi ayah tetap ngeseks. Dia punya O-hisa.”//“Perempuan itu salah satu benda antiknya.” Itu perbincangan antara Kaname dan istrinya, Misako dalam Some Prefer Nettles karya Junichirō Tanizaki. Percakapan itu tak semata-mata sebuah ledekan anak dan menantu kepada ayah, atau sekadar ledekan terhadap generasi tua, tapi menurut saya menggambarkan apa yang ada di novel ini secara keseluruhan. Pertama-tama, tentu mengenai hubungan pernikahan Kaname dan Misako sendiri. Mereka digambarkan sebagai pasangan yang sebenarnya nyambung dalam pikiran, selera, gaya, tapi satu sama lain tak memiliki gairah seks. Atau dengan kata lain: mereka tak saling memuja tubuh pasangannya. Pernikahan dan hubungan ranjang yang hambar, yang membawa mereka kepada keputusan untuk bercerai. Urusan perceraian ini merupakan tulang punggung keseluruhan novel. Kedua, kontras atas hubungan mereka yang hambar, adalah hubungan si lelaki tua (ayah Misako) dengan simpanannya yang muda bernama O-hisa. Mereka berbeda dalam banyak hal, tapi O-hisa yang ditempatkan laksana geisha memiliki sejenis submisivisme yang senang melakukan hal-hal yang diinginkan si lelaki tua. Belajar menyanyi, memainkan alat musik, menjamu teh, nonton pertunjukan teater boneka, bahkan menulis kaligrafi. Ketiga, ini tentang benturan “peradaban baru” dan “tradisi lama”. Pernikahan dan perceraian berhadapan dengan tradisi perempuan penghibur layaknya geisha (di novel ini juga digambarkan Misako sebagai penyuka Jazz dan banyak hal dari barat, sementara ayahnya menyukai musik tradisional). Jujur, biasanya saya tak terlalu suka dengan novel-novel ala “kartu pos”. Yang saya maksud dengan “kartu pos” adalah, novel-novel yang mengeksploitasi keindahan, keunikan, bahkan keeksotisan suatu kebudayaan atau adat-istiadat untuk menyenang-nyenangkan pembaca. Seperti kartu pos, orang yang membaca novel itu kemudian akan bilang, “ah, begini toh tradisi mereka,” seperti kita melihat kartu pos. Membaca tema seperti itu dalam bentuk kajian antropologi atau esai (seperti di buku esai Tanizaki, In Praise of Shadows tentang arsitektur Jepang, misalnya), bagi saya merupakan pilihan yang lebih baik. Tapi rupanya saya bisa menikmati novel ini, meskipun di sana-sini terselip serpihan-serpihan pandangan Tanizaki mengenai kebudayaan dan tradisi Jepang. Saya dengan tak berdaya dibawa oleh Tanizaki ke dalam percakapan mengenai teater boneka, kegelisahannya, kekagumannya, keindahannya dan bahkan reportoarnya. Di bagian lain, juga tanpa daya, Tanizaki mengajak kita mendiskusikan perbedaan-perbedaan antara teater boneka Osaka dan Awaji, daerah yang dianggap sebagai asal-muasal teater boneka Jepang. Menurut saya, rahasia kecerdikan Tanizaki (yang memang, setelah terpengaruh kebudayaan barat di masa mudanya, di puncak karirnya sebagai penulis justru kembali ke habitat kebudayaan tradisional Jepang) dalam mengolah hal ini tanpa membuatnya terasa seperti “kartu pos”, karena ia memang tak menempatkan keunikan tradisi (di sini teater boneka), sebagai pusat novelnya. Inti novel ini, sekali lagi, adalah usaha Kaname dan Misako untuk bercerai, yang diulur-ulur karena memikirkan anak, orang tua, dan kesiapan mereka sendiri. Pembahasan perceraian ini, dengan segala dramanya, seringkali berganti-ganti tempat: di gedung teater, di festival teater boneka, di pelabuhan, di rumah orang tua yang sangat rigid dengan arsitektur tradisional. Nah, pada kesempatan itulah, Tanizaki masuk dengan cerdik ke berbagai topik tradisi. Menjadikannya taut-bertautan dengan melodrama kehidupan perkawinan Kaname dan Misako. Di sinilah saya rasa, suatu tradisi lokal menjadi unik sekaligus tidak asing.

“This is an almost unbelievably fun and weird novel.” A starred review for Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash from Publishers Weekly.

“Avec une fable mémorable, sur une lignée de femmes redoutables, Eka Kurniawan signe un chef-d’œuvre.” This is a review from Livres Hebdo for Les Belles de Halimunda, French edition of Cantik Itu Luka.

Ferdydurke, Witold Gombrowicz

Sebuah novel yang sangat sensual tanpa sekali pun ada adegan seks; sebuah novel politik tanpa buih-buih khotbah tentang kekuasaan lalim dan kelas jelata yang tertindas; juga sebuah novel brutal tanpa sekali pun menumpahkan darah; dan di sisi lain ini sebuah novel filosofis tanpa rujukan garing kepada pemikiran-pemikiran filsafat; kau bisa menyebut novel ini sebagai novel apa pun dan pada saat yang sama hal itu tersembunyi di belantara komentar-komentar dan pelintiran kisah yang nyeleneh. Seperti itulah Ferdydurke karya Witold Gombrowicz. Komentator kelas dunia menyebutnya sebagai mahakarya “pascamodern”, sementara yang lain menganggapnya sebagai puncak karya “modernisme Eropa”. Nah, bahkan para komemtator pun tak bisa bersepakat apakah ini karya modern atau pascamodern. Dibuka oleh kisah seorang pemuda 30 tahun bernama Joey, yang kelewat banyak mikir dan melamun dan meracau, hingga ia melihat cermin dan menemukan dirinya yang lain. Dirinya berumur 17an tahun, dan semua petualangan setelahnya adalah kisah tentang remaja yang merasa bukan remaja, tentang orang dewasa yang harus menghadapi problem-problem a-be-geh. Jika ada yang membandingkannya dengan petualangan Alice masuk ke lubang kelinci, tentu saja tak mengherankan. Tapi Joey tak bertemu makhluk-makhluk fantastis sebagaimana terjadi di dunia Alice, meskipun teman-temannya di sekolah, guru-gurunya, keluarga yang menampungnya mondok, keluarga bibinya yang kemudian menemukannya, semua tak kalah fantastis. Petualangannya menghadapi dunia di antara yang dewasa dan a-be-geh yang tak bisa dipahami tapi memerangkapnya, bisa membuat orang memperbandingkannya juga dengan dunia Kafka. Tak berlebihan juga, meskipun dalam Gombrowitcz ini menjadi sejenis humor ketimbang teror. Oh, novel ini juga merupakan novel tentang novel, tentang seni bercerita, meskipun lagi-lagi kita tak menemukan hal terang-benderang mengenai hal itu, kecuali kau mau manyun sedikit dan menenangkan diri, kemudian manggut-manggut di beberapa bagian menyadari novel ini berkisah tentang dirinya sendiri. Apakah seni harus melayani manusia, ataukah manusia harus melayani seni? Jawab saja sendiri. Tantangan terberat membaca novel ini tentu saja memahami humornya. Sebagaimana penerjemahnya mengakui, bukan hal mudah menerjemahkan Gombrowitcz. Ia tak semata-mata menulis dalam bahasa Polandia, tapi terutama ia menulis dalam bahasa Gombrowitcz. Hanya penulis yang sudah mencapai tingkat ilmu ketujuh bisa melakukannya, dan si penerjemah harus mengupas ilmunya selapis demi selapis, agar pembaca jelata macam tutup botol Fanta bisa mengerti sekaligus tak tersesat dan dibikin gila. Kenapa saya mempergunakan metafor-metafor jelek macam begitu? Itu tidak jelek, Kawan. Grombowitcz jelas sudah melakukannya lebih dulu daripada a-be-geh-a-be-geh di media sosial, dan ia melakukannya dengan lebih baik, lebih bertubi-tubi. Ini novel yang harus dibaca banyak orang, betapa pun sulitnya, untuk menjajal apakah kita punya kepala benar-benar kepala atau sekadar “mangkuk”, dan bokong kita benar-benar bokong dan bukan sekadar alas untuk gaplokan tangan. Dan jangan tersinggung dengan kata-kata yang agak kasar tersebut. Itu tak ada apa-apanya dengan cara sang penulis menutup novelnya: “It’s the end, what a gas. And who’s read it is an ass!” Salam kepala isi mangkuk!

“Whether or not a political fable is intended, the squelch of blood and the crack of breaking bones tends to muffle any deeper message.” Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash review from Financial Times.

“Despite Vengeance Is Mine’s consistent bloodshed, it’s a very funny book.” And this one is from Los Angeles Review of Books.

Karena kemungkinannya kecil menerbitkan kembali Cantik Itu Luka dengan sampul edisi pertama ini (masih bisa dicari di pasar buku bekas), dalam rangka 15 tahun sejak pertama kali diterbitkan, mending saya bikin kaos ini. Yang berminat sila meluncur ke tokopedia.

Akhirnya keempat versi Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash (Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas) dari penerbit dan wilayah berbeda berada di meja saya. Dari kiri ke kanan: Australia (Text Publishing), Amerika (New Directions), India (Speaking Tiger), dan Inggris (Pushkin Press). Isinya sama, diterjemahkan oleh Annie Tucker, hanya beda sampul dan ukuran, dan tentu saja wilayah distribusi.

Sila baca ulasan saya di Mojok.co tentang novel Six Balax, super spy pribumi yang semoga “still going strong menumpas kriminalitas yang menjamur di negeri yang kemerdekaannya sering-sering encok ini.”

Juga ada ulasan Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash di koran Australia, The Saturday Paper.

The Lottery and Other Stories, Shirley Jackson

“The Intoxicated”. Kisah komikal tentang seorang lelaki parobaya yang jengkel harus mendengarkan seorang gadis enam belas tahun nyerocos tentang masa depan dunia yang berantakan dengan penuh sok tahu. Mungkin ia jengkel bukan karena gagasan si anak gadis, tapi jengkel kepada dirinya karena terintimidasi oleh si gadis muda. Di dunia di mana kaum lelaki merasa lebih superior daripada perempuan, dan orang tua merasa lebih hebat dari orang muda, menemukan seorang gadis muda duduk di meja makan dan bicara dengan penuh percaya diri, memang mengintimidasi. Sampai-sampai si lelaki menyuruh si anak gadis untuk membeli saja majalah film (daripada mikirin masa depan dunia). Saya sering melihat lelaki yang terintimidasi oleh perempuan dengan cara seperti ini, sebagaimana orang tua oleh anak muda. Dan itu menyedihkan. Atau menurut Shirley Jackson, menggelikan. “The Daemon Lover”. Kisah kocak yang lain, tentang seorang gadis yang dipermainkan lelaki pemberi-harapan-palsu. Shirley Jackson memang pengamat yang jitu, dengan dingin memblejeti sisi menggelikan maupun menyedihkan dari manusia, perempuan maupun lelaki. Di hari pernikahannya si gadis mencari-cari calon suaminya yang menghilang. Dia bertanya ke sana-sini, dan pada saat itu pula kita melihat aneka warna manusia, sekilas demi sekilas, tapi seperti di cerpen-cerpen lainnya, membentuk juga watak konyol (dan bengis) masyarakat. “Like Mother Used to Make”. Seperti kamu memelihara seekor kucing, dan kucing itu kemudian menjadi raja di rumahmu sementara kamu menjadi budak. Pesan moral: jangan kelewat baik, orang-orang akan merampokmu. “Trial by Combat”. Cerpen-cerpen karikaturalnya, terus-terang, mengingatkan saya kepada O. Henry. Tentu saja dengan warna yang lebih urban, olok-olokan kejam kepada tokoh-tokohnya, terutama kepada kelemahan jiwa mereka. Tentang seseorang yang jengkel karena kehilangan barang-barang sepele, dan ketika menemukan siapa pencurinya … baca saja ceritanya. “The Villager”. Shirley Jackson merupakan biang yang sering membuat tokoh-tokohnya tiba-tiba menjadi aktor dalam situasi kikuk dan aneh. Tidak, mereka tidak mendadak berubah karakter. Mereka semata-mata memerankan seseorang lain dalam situasi yang aneh. Katakanlah di cerpen ini, seseorang datang ke sebuah apartemen kosong untuk melihat perabot yang akan dijual. Mendadak muncul calon pembeli lain, dan si orang pertama, dalam kekikukkan yang aneh, menemukan dirinya berpura-pura menjadi tuan rumah pemilik perabot. Tentu saja di bagian seperti itulah kisah-kisah ini demikian kocak, sekaligus menguak bagian terdalam dari jiwa-jiwa yang rawan, seperti orang-orang desa yang terserak di kota besar macam New York ini. “My Life with R.H. Macy”. Satir gokil tentang karyawan Macy (ini nama jaringan toko). Bagi tempat kerjanya, ia hanya dikenal dengan kode: 13-3138. Tiba-tiba saya membayangkan sebuah novel tanpa nama-nama, kecuali deretan angka seperti itu. Bisa mampus mengingatnya dan untunglah ini cuma cerita super pendek.

“The Witch”. Pernah ngelarang anak untuk ngobrol dengan orang asing? Pernah juga menyuruh anak untuk bersikap ramah kepada orang lain? Bagaimana kalau anak bersikap ramah dengan seorang penyihir? Shirley Jackson selalu berhasil membuat kita gelisah dengan kelakuan tokoh-tokohnya. Mereka senang saling menyiksa satu sama lain. Kalau tak mau menderita, mendingan kita tertawa di atas penderitaan mereka. “The Renegade”. Anjing. Ini memang tentang anjing. Gara-gara anjing mengigit ayam peliharaan, hidup menjadi anjing. Urusan sepele, di tangan Jackson menjadi drama satu babak yang anjing. Kita harus belajar perkara ini dari Jackson: menciptakan arus tenang di permukaan untuk menyembunyikan arus kencang di kedalaman. Anjing. “After You, My Dear Alphonso.” Saya dibikin nyengir oleh rasa terluka Nyonya Wilson, yang menawari seorang anak negro baju-baju bekas anaknya. Si anak negro menolaknya karena punya baju banyak di rumah. Terluka. Benar-benar terluka sampai si nyonya ngomong, “Banyak anak sepertimu, Boyd, yang akan sangat berterima kasih untuk pakaian yang diberikan seseorang dengan sangat baik kepada mereka.” Ledekan perih untuk rasialisme. Seolah anak negro selalu harus jadi tempat orang berderma. “Charles”. Ketika anakmu untuk pertama kali masuk ke taman kanak-kanak, kamu berpikir tahapan baru dalam hidupmu berubah. Juga anakmu. Kamu bangga anakmu tumbuh. Yang kamu tidak sadar, barangkali anakmu tumbuh menjadi sesuatu yang tak kamu duga. Kembali Shirley Jackson menikammu dengan telikungan cerita ala sopir bajaj Jakarta. Kamu harus selalu berpegangan erat jika tak mau terpelanting. “Afternoon in Linen”. Sama seperti cerpen sebelumnya, ini tentang kelakuan anak-anak. Kali ini seorang gadis kecil yang jago main piano dan bikin puisi. Setidaknya itulah yang dikatakan si nenek. Ia tak pernah tahu, si anak punya pendapat sendiri mengenai dirinya sendiri, dan tak ada yang bisa mencegahnya. Kadang-kadang orangtua memang perlu dipermalukan di muka umum. Setidaknya begitulah menurut Shirley Jackson. “Flower Garden”. Kesongongan orang tua, masyarakat, dan rasialisme (atau dengan kata lain: kesongonan kulit putih), merupakan tema yang berkali-kali muncul di cerita-ceritanya. Ia selalu menemukan sudut paling menarik untuk diceritakan. Bayangkan seorang janda beranak satu pindah ke satu kota. Lalu untuk mengurus kebun bunganya, ia memperkerjakan seorang negro duda yang kalau bekerja bertelanjang dada. Bayangkan apa yang dipikirkan lingkungannya yang puritan dan penuh prasangka itu. “Dorothy and My Grandmother and the Sailors.” Kembali Shirley Jackson mengolok-olok praduga masyarakat. Kali ini tentang para pelaut yang dibayangkan bejat dan suka mengganggu anak-anak gadis.

Setelah separoh dari cerpen-cerpennya saya baca, saya mulai merasa Shirley Jackson merupakan penulis yang kejam. Bahkan cenderung brutal. Brutal mengolok-olok, kejam memblejeti topeng-topeng karakternya. Ia seperti pyton pembunuh, yang dengan dingin membelit dengan cerita-ceritanya. Perlahan, tapi makin lama makin kencang, hingga membuat orang terengah-engah menggapai oksigen. Demikian perlahan, cerita-ceritanya sekilas tampak seperti rekaman percakapan, atau lebih tepatnya gosip ibu-ibu (dan bapak-bapak) di lingkungan rumah, dan ketika sampai di ujung cerita, kita baru sadar telah tercengkeram dengan hebat. “Colloquy.” Percakapan aneh antara dokter (yang pasti jengkel dan tak sabar) dengan pasennya. Apa sih kegilaan? “Elizabeth”. Saya paling tak suka membaca kisah tentang para penulis, atau lingkungan mereka (meskipun ada beberapa perkecualian). Cerpen ini bercerita tentang seorang agen sastra, tapi tak banyak bicara soal pekerjaan itu. Justru ia bicara tentang hal yang bisa terjadi di mana pun, di kantor mana pun: perasaan cemburu. Selalu menarik mengamati bagaimana seseorang dibakar api cemburu dan pada saat yang sama menampik perasaan tersebut. Hingga akhirnya terbakar sendiri oleh api tersebut. “A Fine Old Firm.” Sekali lagi percakapan para perempuan. Di luar perkara arus tenang di permukaan dan arus deras yang mengalir di kedalaman, percakapan-percakapan di cerita-cerita Shirley Jackson juga memancarkan kilau yang berpencaran ke mana-mana, barangkali dipantulkan oleh riak-riak dalam percakapan tersebut. Dua ibu yang baru pertama kali bertemu, membicarakan dua anak lelaki mereka yang bersahabat dan sedang membela negara di tempat jauh. Tampak sederhana tapi riaknya menyenangkan untuk dinikmati. “The Dummy.” Dua nyonya masuk ke restoran dan meledak dalam kejengkelan. Sekali lagi, Shirley Jackson memang garang dan brutal. “Seven Types of Ambiguity.” Sepasang lelaki-perempuan tua masuk ke toko buku ingin membeli beberapa koleksi buku. Pokoknya buku yang keren, macam Dickens. Aku suka Dickens waktu kecil. Pokoknya yang kayak Dickens. Saya tak tahu apakah Shirley Jackson sedang menertawakan orang-orang snob yang sok melek sastra, yang saya tahu, ia kemudian menghadirkan bocah kecil yang sering datang ke toko itu untuk numpang baca (tapi tak mampu beli). Kadang-kadang memang perlu seseorang memberi tahu apa artinya senang membaca, dan bukan sekadar gaya-gayaan suka membaca. “Come Dance with Me in Ireland.” Kembali ke isu prasangka. Kali ini korbannya seorang penjual asongan yang pingsan di depan rumah. Ia kelaparan atau mabok? Antara menolong orang kelaparan dan melarang membawa masuk lelaki asing ke rumah, mana yang lebih penting?

Cerpen-cerpen Shirley Jackson bukan jenis cerita yang penuh drama. Sekilas ia tampak seperti sketsa, bahkan pada cerita-ceritanya yang panjang sekalipun. Ia membiarkan orang-orangnya bicara satu sama lain. Kadang-kadang ia mengeluarkan isi hati mereka, pikiran mereka. Ia akan membuka ceritanya dengan kejadian-kejadian yang sangat biasa: tokohnya bangun tidur, atau bertemu seseorang dan bicara, atau sedang memasak dan mendengar anaknya bicara dengan seseorang. Ia bahkan sering tak terlalu peduli, setidaknya tidak berlebihan, kepada lanskap. Ia menjelaskan sekilas tentang rumah, apartemen, jalanan kota, atau kantor. Sekilas saja. Yang terpenting dalam cerpen-cerpennya selalu manusia dan apa yang mereka bicarakan. “Of Course”. Setiap bertemu sekelompok orang dan sebagian di antara mereka adalah perempuan berjilbab, saya selalu bingung harus memutuskan sesuatu dalam sepersekian detik: apakah perlu bersalaman atau tidak? Soalnya kadang ada yang mau salaman, dan ada yang tidak (saya sendiri senang bersalaman dengan orang). Kalau di antaranya ada yang bilang, “Maaf saya tak bersalaman dengan yang bukan muhrim”, saya kira saya akan tersenyum dan berkata, “Tentu saja.” Of course. Sial, cerpen ini bahkan bisa diterapkan untuk banyak situasi, bahkan di tempat dengan peradaban dan kerumitan sosial yang jauh berbeda. “Pillar of Salt”. Problem manusia modern, bahkan sejak masa Shirley Jackson, ternyata tetap sama: bagaimana mengelola waktu. Bahkan banyak di antara kita tak tahu bagaimana caranya bersenang-senang di waktu liburan. Tahu-tahu kita sudah menghabiskan beberapa hari dan tak merasa telah menikmati hidup. Waktu dan tempat tak hanya merupakan dua perkara kosmologis, tapi juga bisa menjadi pembunuh yang keji. “Men With Their Big Shoes”. Pernah merasa pembantu rumah tanggamu berkuasa melebihi dirimu di rumah? Tidak persis seperti itu, memang. Juga tak persis seperti kucing peliharaan yang menindas tuannya. Tapi perasaan memiliki kuasa penuh atas orang lain mungkin hanya perkara untuk menutupi bahwa kita tak memiliki kuasa apa-apa sebenarnya. Cerpen-cerpen Shirley Jackson, terutama di cerpen ini, seperti puncak dari sejenis filsafat. Filsafat kejengkelan dan prasangka diri yang berlebihan. “The Tooth”. Ini komedi yang gila-gilaan tentang seorang perempuan yang harus melakukan perjalanan mempergunakan bus malam ke New York karena sakit gigi. Jangan tertawa. Sakit gigi sama sekali tak lucu. Saya pernah mengalaminya. Beberapa kali. Dan ini tidak lucu. Cuma Shirley Jackson yang membuatnya terasa lucu, sebab dia memang sadis dan kurang ajar. “Got A Letter from Jimmy”. Seperti pelampiasan dendam kaum perempuan terhadap kaum lelaki. Jangan pikir lelaki juga tak cengeng dan kalau sudah bertengkar, sering membuatnya berlarut-larut. “The Lottery”. Sering disebut-sebut sebagai cerpen terbaiknya. Ketika dimuat pertama kali di The New Yorker, cerpen ini memperoleh tanggapan (surat-surat berdatangan ke meja redaksi) paling banyak dalam sejarah mereka, sebagian besar terkejut oleh kebrutalan cerpen ini (tak hanya surat berisi makian, tapi juga bahkan banyak yang memutuskan berhenti berlangganan majalah itu). Sekali lagi, Shirley Jackson memang brutal, dan cerpen ini memang puncaknya. Segala hal yang saya sebut-sebut di cerpen-cerpen sebelumnya, nyaris bisa ditemukan di cerpen ini. Ketenangan yang menggoda, percakapan-percakapan sepele yang seolah tanpa juntrungan, tokoh-tokoh yang berseliweran, lanskap yang sekilas-sekilas saja. Kejadiannya hanya sekitar dua jam, di suatu hari bertanggal 27 Juni, hari di mana kota itu (sebagaimana kota-kota lain) mengadakan undian. Semua orang datang bergegas agar tak kehilangan momen penting tersebut. Anak-anak datang lebih dulu, penuh kegembiraan. Orangtua mereka datang kemudian. Sekilas tampak seperti acara kota sebagaimana biasa, hingga kau tahu, bahwa ini tidak biasa. Ini bukan sesuatu yang kau inginkan terjadi di kotamu. Kau tak akan merasa bahwa cerpen ini merupakan cerpen horor, tapi ia lebih meneror dari kebanyakan cerpen horor yang pernah kau baca.

Kita Semua Medioker dengan Cara Sendiri

Belakangan beberapa teman penulis ikutan marah dengan fenomena ustadz karbitan. Ustadz yang menurut mereka enggak punya riwayat pendidikan panjang dalam soal agama, enggak jelas sanad keilmuannya, tapi dengan mudah berkhotbah bahkan di layar televisi nasional. Hasilnya tentu saja kegaduhan dan pendapat-pendapat yang tak jelas dasarnya. Hal yang sama juga terjadi ketika orang tak punya latar pendidikan dan kepakaran dalam soal sejarah atau antropologi, tiba-tiba bicara tentang agama yang dianut Majapahit, atau tentang siapa yang membangun Borobudur. Sebagian jengkel, marah, meskipun ada juga yang menanggapinya sebagai sejenis lelucon. Jujur saja, kadang saya pengin juga bertanya, kok elo enggak marah dan jengkel dan tersinggung, kalau melihat fenomena yang sama di kesusastraan atau kesenian? Banyak kok yang enggak jelas riwayat keilmuannya, tapi koar-koar seolah paling tahu tentang kesusastraan, tapi jadi juri misalnya, tapi jadi pemegang meja editor misalnya (dan lulusan filsafat sok-sokan nulis novel)? Kadang memang mudah marah untuk hal-hal lain, dan mudah memaafkan jika itu terjadi di lingkungan sendiri. Permisif, kata orang. Kita marah untuk fenomena di bidang ilmu agama atau sejarah, menuntut mereka untuk menegakkan kompetensi, memberlakukan ilmu-ilmu terebut dengan standar yang ketat; tapi abai untuk menuntut hal yang sama di bidang sendiri. Kenapa? Mungkin karena berpendapat, semua orang boleh bersastra dan semua orang boleh membicarakan hal itu. Ini fenomena yang sama dengan kebiasaan kita, kaum penulis dan seniman, yang garang mengkritik praktek-praktek kekuasaan. Kita benci kekuasaan yang korup, benci raja yang tak mau turun dari singgasana. Tapi pernahkah terpikir bahwa kita sendiri adalah “raja-raja kecil” dalam kesusastraan yang tak mau turun dari singgasana? Yang memiliki kekuasaan sedikit kemudian menyalahgunakan kekuasaan tersebut? Sederhana saja: jika di koran ada 52 minggu setahun, berapa banyak yang mau turun dari “singgasana” dengan tak menulis cerpen di sana, untuk memberi tempat pada tunas baru (ya saya tahu, pertanyaan ini menjengkelkan)? Tentu saja kritik seperti itu ada, tapi biasanya dari gembel jelata. Raja jarang mengkritik raja, apalagi mengkritik dirinya sendiri. Baiklah, kembali kepada kompetensi. Produk bawaan dari zaman modern. Rohnya masih gentayangan tentu saja sampai sekarang. Sebagian orang masih berharap hanya ustadz atau santri yang boleh bicara tentang ilmu agama. Sebagian masih berharap profesor atau peneliti yang melakukan kajian dengan standar ilmiah bicara tentang sejarah. Profesor fisika yang menerangkan apakah bumi itu bulat atau datar, dan bagaimana posisi planet-planet. Kita marah karena kuatir, tradisi keilmuan yang telah dibangun berabad-abad bisa runtuh oleh ocehan-ocehan tak jelas dari gerombolan medioker ini. Tapi sekali lagi, elo enggak marah jika hal itu terjadi di kesusastraan atau kesenian? Itu juga terjadi, dan mungkin lebih sering. Atau karena sering banget, sampai kebanyakan tidak sadar dan lupa untuk marah dan jengkel? Mungkin. Saya juga pernah marah, juga pernah jengkel. Mungkin karena saya menganggap kesusastraan sama pentingnya dengan ilmu sejarah, ilmu agama, antropologi atau fisika. Atau bahkan lebih penting. Tapi itu kemarin dulu, sih. Sekarang sudah enggak jengkel lagi. Sudah selow. Pascamodernisme sudah mengajari kita, bukan? Bahwa iklan obat kuat bisa sama pentingnya dengan tetralogi buru Pramoedya, dari aspek semiotik, sejarah maupun estetik? Bahwa segala sesuatu, termasuk kebenaran, adalah konstruksi pemaknaan yang relatif (tergantung siapa yang ngomong, di mana, di zaman apa, konteksnya apa). Dan berlaku sebaliknya, dong: mau gembel atau profesor, raja maupun jelata, boleh dong ngomong politik, sejarah, agama, atau sastra? Orang boleh merasa risi dengan fenomena kaum medioker bicara gaduh di sana-sini seolah-olah ahli, tapi pikirkanlah: kita semua medioker kok, dengan cara sendiri-sendiri. Satu-satunya hal yang perlu dilakukan, saya rasa, adalah kejujuran untuk mengungkapkan kekurangan di bidang-bidang ini (yang kita geluti atau tidak), semacam disclaimer, tanpa mengurangi hak-hak siapa pun untuk memiliki gagasan dan pendapat. Sejarah ilmu (juga filsafat, sastra, seni, dll), kenyataannya juga dipenuhi oleh gagasan-gagasan konyol dan tolol, dan dengan itulah peradaban berjalan. Saya sendiri percaya bumi itu datar. Datar sedatar-datarnya, tapi massa membuat ruang dan waktu melengkung. Datar seperti permukaan bola. Saya memang tak percaya surga tempat pesta seks (kalau mau, bisa melakukannya di dunia). Tapi seperti Borges, saya percaya di surga ada perpustakaan yang sangat komplet di mana saya bisa membaca semua buku yang ada (jangan tanya saya apa dalilnya, saya enggak tahu). Kalau mau jengkel, setidaknya jengkellah pada hal-hal yang lebih dekat dulu, siapa tahu itu membuat peradaban maju lebih cepat. Ambil segelas bir (atau kopi), duduk manis, dan nikmati hidup. Terakhir, jangan tersinggung dengan tulisan ini. Sesama medioker mbok jangan gampang tersinggung.

Disclaimer: penulis tak pernah belajar sastra secara formal, hanya gandrung baca dan tidak seberapa banyak. Kemudian sok-sokan menulis empat novel dan beberapa kumpulan cerita. Secara formal belajar filsafat, itu pun lulus dengan nilai pas-pasan

“… habitually drives his narra­tives between the extreme poles of the crass and the sublime, the tragic and the comedic, the surreal and the real.” – South China Morning Post, “Eka Kurniawan’s brutal novel on Indonesian masculinity is not for the faint-hearted”

“It’s funny, enraging, and touching.” – Village Voice, “NYC’s Best Independent Booksellers Share Their Picks For Summer Reading”

“I believe the phrase is ‘page-turner.’” – Words Without Borders, “The Watchlist: July 2017”

« Older posts Newer posts »

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑