Journal

Mythologies, Roland Barthes

Kadang saya pengin nulis esai tentang fenomena-fenomena di sekitar saya. Katakanlah soal pesugihan yang membuat pelakunya harus merenovasi rumah terus-menerus, yang orang Jawa menyebutnya sebagai kandang bubrah. Atau para penjual roti keliling di pagi hari yang berebut perhatian dan pelanggan dengan lagu jingle masing-masing. Atau lembaga swadaya masyarakat yang menyebar sukarelawannya untuk mencegat orang-orang lewat di mal atau di jembatan penyeberang sambil berkata, “Boleh minta waktu sebentar, lima menit saja?”, yang ujung-ujungnya tak jauh berbeda dengan sales parfum, perumahan, atau asuransi untuk menodong isi dompet kita. Kadang pengin juga nulis tentang jalan raya di daerah saya, yang semakin macet justru di hari libur. Tapi cukup membaca buku macam Mythologies karya Roland Barthes, dan keinginan saya dengan segera rontok, serontok-rontoknya. Orang macam ini, sebagaimana esais macam Walter Benjamin atau yang lebih muda dari mereka, Umberto Eco, telah membuat aktivitas menafsir berbagai fenomena kebudayaan (populer) tampak seperti sejenis pengulangan dan tiru-tiruan belaka. Paling banter, kalaupun saya nekat melakukannya, hanya akan menjadi tiruan pemikiran kualitas kesekian, dengan omong-kosong tentang tanda dan apa yang saya pikir diwakilkan oleh tanda tersebut. Bayangkan di buku yang hanya merangkum sebagian saja esai-esainya ini, Barthes menulis dari mulai gaya rambut dan keringat orang-orang Romawi di film hingga soal liburan para penulis yang dianggapnya sebagai memproletarkan diri (liburan awalnya hak anak sekolah, kemudian hak kaum pekerja). Memang, terutama Barthes bicara tentang mitos-mitos modern di belakang berbagai hal yang bahkan tampaknya banal. Potongan rambut seorang santa, misalnya, tak hanya merefleksikan ketaatan beragama tapi juga kekuasaan gereja; sebagaimana janggut lebat mencitrakan manusia bebas (karena tak harus mengikuti norma masyarakat yang harus bercukur setiap pagi). Saya jadi membayangkan para pendeta Buddha yang plontos sebagaimana orang-orang muslim yang saleh memanjangkan jenggotnya tanpa berkumis dengan dahi yang menghitam. Barthes mungkin tak membahas hal-hal itu, sebagaimana dia tak sempat melihat orang bekerja di cafe dengan laptop bergambar apel kroak, atau berjalan bergegas di trotoar sambil memegang gelas sekali pakai bergambar putri duyung hijau, tapi apa bedanya? Dia bisa membaca semua itu dan membaurkannya dengan mitos-mitos masyarakat modern. Mitos yang pada dasarnya dari abad ke abad tetap sama tapi direproduksi terus-menerus secara berbeda. Atau mungkin kita bisa menulis esai dengan sedikit berbeda, tak hanya menafsir dan mereka-reka makna di balik benda-benda, tapi juga memberikan kritik (kalau perlu yang pedas) atasnya. Aha, Barthes sudah melakukannya. Ia tak hanya menafsir Chaplin, tapi juga mengkritiknya sebagai menyederhanakan kaum ploretar sebagai kaum miskin. Juga mengejek cara pandang majalah Elle: kalian bicara bahwa perempuan bisa melakukan apa saja, tapi jangan lupa tugas kalian adalah bunting dan bikin anak (untuk lelaki). Sial bener, bukan? Atau bagaimana selain menafsir dan membuat kritik yang tajam, juga membuat perbandingan? Ini akan mengasyikkan, di mana kita bisa menciptakan hubungan fiktif yang gila-gilaan. Katakanlah arisan sebenarnya merupakan ritus pemujaan baru, atau sepakbola sebenarnya pesta orgy. Percayalah, Barthes sudah melakukannya. Di satu esai, ia membayangkan adegan striptease sebagai eksorsisme, sementara mobil dianggap sebagai katedral di zaman modern. Dan di esai lain, ia bicara tentang kandidat politikus yang mempergunakan potret diri mereka sebagai alat kampanye, dan saya merasa betapa esai itu bahkan masih berlaku sampai sekarang, termasuk di negeri ini. Apa yang tersisa untuk penulis payah macam saya, kecuali kemudian menganggap manusia macam Barthes adalah mitos itu sendiri. Kenapa saya membacanya? Mungkin biar dianggap keren? Pembuktian diri sebagai anggota masyarakat kelas borjuis kecil (sebab kaum proletar kemungkinan besar tak membacanya sebagaimana mereka kemungkinan tak membaca Marx juga)? Entahlah, buku macam begini, meskipun mental borjuis saya bisa sedikit terhibur, tapi juga sekaligus menjengkelkan. Membuat saya jadi bertanya-tanya, memangnya apa lagi yang bisa diperbuat dengan semiotika dan segala ilmu tanda serta tafsir ini?

Standard
Cool Stuff

Salah satu cara menjawab revisi UU MD3 yang baru disahkan DPR, yang berpotensi mengkriminalkan para pengkritik anggota dewan, adalah dengan terus melakukan kritik terhadap perilaku dan kebijakan mereka. Kutipan di kaos ini diambil dari cerpen Corat-coret di Toilet, yang terbit tahun 1999. Tapi kok rasanya tetap bisa dipakai, ya? Yang berminat memakai, sila mengambilnya dengan potongan harga di sini. Hanya Rp.75.000 (Rp.110.000) + ongkos kirim.

Aku Lebih Percaya Kepada Dinding Toilet

Aside
Cool Stuff

Indonesia (dan dunia) macam apa sih, yang kita inginkan? Bisakah kita (kembali) membentuknya melalui kesusastraan? Atau sudah kalah telak oleh citra yang dibangun sosial media dan berita palsu? Atau jangan-jangan kesusastraan kita sudah tercerabut dari problem-problem sosial zaman dan masyarakatnya, sehingga bahkan memimpikan dunia macam apa pun yang diinginkannya sudah tidak dilakukan lagi?

Kuliah Umum

Aside
Journal

Everything I Don’t Remember, Jonas Hassen Khemiri

Ada bagian-bagian yang begitu lucu di novel ini membuat saya tergelak atau nyengir sendiri. Misalnya ketika menceritakan si nenek yang sudah pikun dan melupakan banyak hal. Si cucu meneleponnya tapi ketika terhubung, pembicaraan mereka terganggu suara TV yang kencang sekali. Si nenek mematikan TV, dan si nenek melanjutkan pembicaraan dengan si cucu. Bukan lewat telepon, tapi lewat remot TV. Dan makin lucu mendengar komentar si cucu, “Sebenernya itu lucu kalau saja itu tak begitu tragis.” Demikian juga ketika kadang si nenek tak mengenali si cucu dan menganggapnya orang asing. Si cucu punya trik untuk mengembalikan sedikit ingatannya dan mau bersikap kooperatif. Ia memakai topi bulu tua yang pernah jadi milik kakeknya. “Tapi kamu jangan terlalu dekat dengannya, sebab kadang ia ingin menggelendot dan minta cium.” Novel ini berkisah tentang seorang penulis (narator), yang ingin melacak kembali kisah hidup Samuel terutama di hari kematiannya. Samuel adalah si cucu yang tadi diceritakan. Baiklah, melihat judulnya, Everything I Don’t Remember, novel penulis muda asal Swedia ini bisa dianggap sebagai novel tentang kenangan, tentang ingatan. Itu tak salah, meskipun tentu saja juga terlalu menyederhanakan. Seperti menerawang ke balik permukaan air yang jernih dan tenang, sebab seperti itulah novel ini ditulis, kita dibawa untuk melihat begitu banyak hal di dalamnya: tentang ras, perpindahan, penerimaan, prasangka, rasa frustasi sosial, juga rasa frustasi atas politik, dan banyak hal lainnya. “… Samuel berkata bahwa ayahnya ingin ia bernama Samuel sebab ia mulai membayangkan reaksi atasan atau induk semang jika kau memperoleh nama asing. Ayahnya tak ingin si anak mengalami problem yang sama.” Kita tahu prasangka semacam itu, di mana-mana, di berbagai negeri. Jonas Hassen Khemiri menceritakannya dengan ringan, seringkali lucu, tapi pada saat yang sama kita merasakan kepedihannya, rasa sakit yang tak terperi di dalam masyarakat yang bisa juga sama sakitnya. Karena novel ini ditulis dengan sejenis penelusuran tentang kehidupan Samuel sebelum kematiannya, maka kita akan bertemu berbagai sudut pandang (dari penjaga panti jompo tempat nenek Samuel tinggal, ibunya, temannya, pacarnya, dll). Mungkin ini akan sedikit mengingatkan kita kepada cerpen Akutagawa, “In a Bamboo Grove”, terutama di bagian si orang mati juga memaparkan versi kisahnya. Yang membedakan, cerpen Akutagawa memperlihatkan betapa sebuah peristiwa bisa dilihat atau dipersepsi dengan cara yang berbeda-beda oleh saksi yang berbeda, sementara di novel ini, berbagai variasi sudut pandang lebih merupakan kepingan-kepingan puzzle yang mencoba saling melengkapi. Pusat kisahnya sendiri terutama berpusing di antara hubungan asmara Samuel dan Leide, serta persahabatan Samuel dan Vandad (dan tentu saja sikap saling mencurigai antara Vandad dan Leide dalam “memperebutkan” Samuel). Ya, di permukaan ini tampak seperti kisah asmara yang sulit, hubungan yang rawan, dan persahabatan, tapi sekali lagi, di balik itu tak bisa dienyahkan berbagai problem politik kontemporer. Sesuatu yang sulit saya rasa dicapai, kecuali oleh penulis yang demikian lihai. Bahkan keretakan hubungan Samuel dan Leide, menurut saya, memiliki latar belakang yang sangat politis. Cara pandang mereka yang berbeda terhadap persoalan, jelas tak bisa diselamatkan sesederhana oleh apa yang namanya cinta, sebesar apa pun gejolak dan saling tarik-menarik yang diciptakan oleh perasaan itu. Cara pandang yang berbeda menghasilkan rasa ketidakpercayaan, terutama ketika kita tak mampu untuk melihat dari sisi orang lain, dan rasa tak percaya merupakan racun untuk hubungan asmara, bukan? Terapkan hal ini dalam hubungan sosial, saya rasa jawabannya mungkin sama.

Standard
Journal

You Were Never Really Here, Jonathan Ames

Apa yang kamu harapkan ketika membaca fiksi kejahatan? Buat saya, sedikit ketegangan, petualangan, mungkin juga sejenis pemenuhan impuls maskulin (perkelahian, marabahaya), rasa penasaran karena munculnya suatu kasus, permainan detail, hipotesa maupun kesimpulan, lalu semuanya diakhiri dengan sejenis orgasme ketika keseluruhan aspek menutup ke dalam akhir yang tuntas. Saya sering mengambil buku-buku jenis ini, biasanya untuk dibaca dalam sekali duduk, dan seringkali berhasil membuat saya merasa rileks, merasa mengawang-awang, sama manjurnya dengan pergi ke tempat pijat refleksi setelah rasa penat menghajar habis-habisan. Pada saat yang sama, saya bisa belajar banyak hal dari karya jenis ini: ekspresi bahasa yang cenderung langsung, deskripsi yang ekonomis, dan tentu saja penceritaan yang tak bertele-tele. Bayangkan ketika harus memperkenalkan masa lalu ayah sang tokoh, yang kasar dan sering memukul istri dan anaknya, cukup ditulis, “Joseph Sr., also a Marine, had fought in the Korean War. He went in human and came out subhuman.” Tokoh utama kisah ini, You Were Never Really Here karya Jonathan Ames, bernama Joe. Ia mantan marinir dan FBI, sebelum pensiun dan kemudian bekerja sebagai tenaga bayaran untuk berbagai operasi bawah tanah. Tak perlu dijelaskan secara gamblang, begitu mengikuti ceritanya, kita akan segera tahu, selain memiliki beban traumatik masa lalu, jagoan kita ini juga makin berumur, makin ceroboh. Di pembukaan kita dihadapkan kepada operasinya yang nyaris gagal (ia nyaris terbunuh), meskipun ia tak tahu di mana kesalahannya. Hingga kemudian ia memperoleh pekerjaan baru untuk menyelamatkan gadis kecil anak seorang senator yang diculik (secara umum diberitakan kabur atau diculik oleh pemuda kenalannya di Facebook) dan dijadikan pelacur-bocah di tempat pelacuran, di kamar khusus bernama “taman bermain”. Pekerjaan berat karena melibatkan bajingan-bajingan kelas atas yang bekerja di belakang para politikus, yang bisa menggerakkan tak hanya pembunuh bayaran, tapi juga para polisi. Benar saja, meskipun ia bisa bergerak cepat, masuk ke tempat pelacuran dengan relatif mudah setelah melumpuhkan dua penjaga, masuk ke kamar dan menyelamatkan gadis kecil itu, kemudian membawa ke hotel tempat si senator menunggu, ia malah ditunggu tiga polisi yang menodongkan senjata ke arahnya. Gagal total. Sekilas tampak sejenis formula, dan memang harus mengikuti sejenis formula untuk membuat pembaca macam saya sedikit terlena. Meskipun kita tahu si tokoh mulai payah, tak bisa beroperasi dengan bersih, tapi ia tetap diberi kemudahan. Operasinya berjalan lancar. Ia masih tampak hebat. Pukulannya tampak tetap mematikan. Pengamatannya masih jeli. Hingga di titik ketika semuanya tampak berjalan sesuai rencana, barulah ia dihadapkan kepada sesuatu yang salah. Ia harus mengurai benang kusut di mana kesalahannya. Ia mengurai satu per satu simpul, tapi setiap kali ia menemukan simpul itu, orang-orang yang menjadi penjaga simpul sudah mati dengan pelor di dahi mereka. Bahkan ibunya sendiri mati (dan ia harus mengubur ibunya ke laut, untuk meninggalkan semua jejak biologis yang mengarah kepadanya). Kemudian di sinilah perbedaannya, jebakan sesungguhnya dari yang saya kira semuanya bersih mengikuti formula. Novel pendek ini (mungkin lebih tepat disebut cerita pendek yang panjang) tidak ditutup rapat. Ia berhenti tepat di puncak, puncak yang melegakan sekaligus menjengkelkan. Menjengkelkan karena saya masih ingin terus membaca, seperti sering terjadi di fiksi kriminal yang asyik. Seperti terjadi pada layanan tukang pijat refleksi yang kelewat enak tapi waktu layanan sudah harus berakhir. Seperti bertemu sebuah ujung buntu dengan pintu tertutup rapat, tapi kita diberi kesempatan melihat celah kecil untuk melihat ke seberang pintu.

Standard
Journal

Blood Meridian, Cormac McCarthy

Sejauh mana kegilaan manusia bisa terentang? Dan sejauh mana daya hidup manusia bisa bertahan dari kegilaannya zaman dan kegilaannya sendiri? Disebut-sebut sebagai salah satu mahakarya kesusastraan Amerika (dalam satu rangkaian bersama Moby Dick dan As I Lay Dying), novel ini merupakan fondasi sebuah bangsa dari sudutnya yang paling gila dan memualkan. Semacam pengakuan dan riwayat segala dosa yang mungkin dilakukan segerombolan manusia. Kita akan bertemu si bocah yang hanya disebut sebagai “The Kid”, yang kabur dari rumah di umur empat belas tahun. Ia sejenis Huck Finn dalam sosoknya yang brutal, melancong dari satu tempat ke tempat lain, bertahan hidup melewati berbagai perkelahian, dengan kepalan tangan, dengan tendangan kaki, leher botol, pisau belati, hingga pelor sempat juga menerjang punggungnya. Dan di satu bar, ia membunuh seorang lelaki. Tapi itu hanya bagian pembuka saja, itu hanya awal dari opera kekerasan yang harus dijalaninya. Awal yang membawanya untuk bergabung dengan pasukan pemburu Indian sepanjang perbatasan Meksiko, untuk menangkap, membunuh dan menguliti kepala mereka. Kita juga akan berjumpa sosok lain, seorang lelaki plontos bernama Holden yang lebih banyak disebut sebagai “The Judge”. Tak jelas asal-usulnya, tapi ia seorang pencatat, pembuat sketsa, tertarik kepada artefak-artefak peninggalan Indian, membaca rasi-rasi bintang, tapi sekaligus dengan dingin bisa membunuh siapa pun, menguliti kepala siapa pun, sebab setelah jadi lembaran kulit, Indian atau bukan tak ada bedanya. Mereka berdua bergabung dengan gerombolan koboi pemburu Indian yang dipimpin oleh Glanton, yang memperoleh kontrak perburuan ini dari kedua pemerintah di kedua sisi perbatasan. Blood Meridian tak hanya membeberkan dunia yang liar, penuh kekerasan, tapi juga korup dan bengis. Tentu saja ada pemerintahan, ada markas-markas tentara di sana-sini, ada hukum dan pengadilan dan penjara, juga ada kavaleri yang sesekali lewat, tapi semua itu terasa sebagai basa-basi saja. Selebihnya adalah rimba belantara manusia dan gurun pasir, di mana perkara bertahan hidup lebih penting dari segalanya, dan yang kuat, yang licik, mungkin bisa bertahan hidup. Ditulis Cormac McCarthy dengan cara episodik, kita akan berbenturan dengan berbagai kekejian ini. Jangan cuma kepala manusia dicokok botol hingga retak dan otaknya meleh, atau kepala manusia dipenggal dan kepalanya itu ditenteng-tenteng menjadi sejenis piala, atau daun telinga yang diiris dan dijadikan semacam kalung yang digantungkan di leher, bahkan bayi manusia dijinjing dari punggung kuda dan dibantingkan ke batu, terpapar di novel ini. Ya, untuk kamu yang tak tahan menghadapi gambar-gambar semacam itu, sebaiknya perkuat daya tahan mentalmu sebelum membacanya. Di antara semuanya, sosok The Judge merupakan yang paling menarik. Bagi saya, ia merupakan penjelmaan Iblis yang nyaris sempurna, yang dengan pahit barangkali mengajarkan kita bagaimana bertahan hidup di dunia yang edan: yakni ikut menjadi edan. Ia tampak seperti di atas semua nilai-nilai moral, di atas pengetahuan, bahkan di atas pengalaman. Ia seperti memahami rahasia terdalam kebrutalan hidup. Adegan yang paling mengerikan, yang menampakkan wajahnya yang paling dalam terjadi ketika ia menghampiri tiga orang penyintas yang selamat dari serbuan Indian. Ia menginginkan topi salah satu penyintas. Ia menawar. Meskipun awalnya topi itu tidak dijual, ia terus menawar. Menaikkan harga. Dolar demi dolar. Kita tahu, keinginannya harus dan akan terpenuhi. Hingga terakhir, ia menawar satu-satunya pistol di antara mereka, milik The Kid, yang kita tahu akan mengantarkan si bocah ke akhir yang tragis. The Judge menari bersama kegilaan dunia, sebab ia tak pernah tidur. Sebab, sebagaimana ia selalu berkata, ia tak pernah mati. Seperti jiwa jahat yang bertahan dari zaman ke zaman.

Standard
Journal

Down the Rabbit Hole, Juan Pablo Villalobos

Agak sulit untuk mengkasifikasikan novel ini. Pulp? Ya, apalagi dengan latar cerita tentang kelompok mafia narkoba Meksiko dengan tembak-tembakan dan bunuh-bunuhan, tapi juga enggak persis seperti itu. Picaresque? Boleh juga, apalagi dengan tokoh utama (sekaligus narator) seorang anak kecil, agak nyeleneh (atau dari sudut pandang lain: jenius), tapi ya tidak persis seperti novel sejenis lainnya. Nonsense? Judulnya mengingatkan kita kepada Alice’s Adventures in Wonderland memang, dan seperti novel klasik tersebut, novel ini bisa juga dilihat sebagai komentar nonsens anak kecil atas dunia orang dewasa, tapi ya tetap saja beda. Tak ada dunia ajaib, juga tak ada makhluk-makhluk ajaib. Mungkin memang novel ini tak membutuhkan label apa pun, atau label apa pun bisa saja diterapkan kepadanya. Tak ada bedanya. Novel ini bisa dinikmati dengan atau tanpa label-label itu: kocak, penuh sindiran, terus-menerus memancing rasa ingin tahu, sekaligus brutal. Baiklah, untuk memberi gambaran yang lebih jelas, Down the Rabbit Hole karya Juan Pablo Villalobos (penulis ini pernah datang ke Indonesia sekitar setahun lalu) berkisah tentang seorang bocah yang kebetulan anak gembong narkoba. Meskipun hidup di lingkungan yang penuh kekerasan, ayahnya tak pernah berbuat kasar kepadanya (tak pernah memukul atau menampar), bahkan cenderung memanjakannya (mungkin karena ia sudah tak punya ibu). Sebagai anak tunggal gembong narkoba yang kaya raya (punya berjuta-juta uang dalam bentuk peso, dolar, maupun euro), hidupnya menyenangkan sekaligus tak menyenangkan. Ia tak bisa pergi sekolah, tapi tentu punya guru pribadi. Ketika ingin mengunjungi kebun binatang, ia tak bisa pergi ke sana, sebagai gantinya binatang-binatang didatangkan ke halaman rumahnya. Apa pun yang diinginkannya, bisa dikabulkan, ia hanya tinggal menuliskan daftar keinginannya. Termasuk ketika ia menginginkan kuda nil kerdil yang harus didatangkan dari Liberia di Afrika. Bagian yang terakhir, bisa dibilang merupakan jantung kisah novel ini: tentang anak gembong narkoba yang ingin memelihara kuda nil kerdil yang nyaris punah. Bagi yang akrab dengan novel-novel dari Amerika Selatan, tentu akan sedikit terbengong-bengong dengan kisah dan gaya novel ini. Ia seperti sebuah geliat baru dari sejarah kesusastraan nun jauh di sana, sebuah percobaan, barangkali sebuah upaya perusakan sejarah. Saya suka istilah “perusakan sejarah” ini, yang saya karang-karang sendiri. Maksudnya, sebagai upaya menggembosi kemapanan sejarah kesusastraan Amerika Selatan, dengan memberinya tak hanya terobosan, tapi juga sindiran dan olok-olok kebesarannya (alih-alih merayakan eksotisme setempat, novel ini merayakan budaya populer macam film samurai Jepang; alih-alih penuh komentar politik pascakolonial, si bocah dan gurunya lebih banyak bicara tentang kegilaan orang Perancis memenggal kepala raja mereka). Villalobos tentu saja tak sendirian, dan selalu menyenangkan melihat upaya-upaya semacam ini. Baiklah, sejarah mungkin tak pernah benar-benar dihancurkan. Yang ada tak lebih dari yang tercatat dan tak tercatat, atau seseorang mencatat cara-cara baru melihat dunia sementara yang lain mencatat ketololan-ketololan. Apa bedanya? Bajingan maupun santa, si jenius maupun si tolol dalam kesusastraan bisa sama tercatat dan bisa sama dilupakan. Apakah Villalobos dan rekan-rekan segenerasinya merupakan bajingan atau santa dalam kesusastraan Amerika Selatan, tak usahlah dipedulikan. Ia bisa bajingan, bisa pula santa. Satu hal, ia memberi kita sesuatu yang menyenangkan. Mungkin kelokan kecil yang menyenangkan (kelokan yang mengganggu di ujung jalan raya nan megah). Sebuah setapak yang siapa tahu, dalam perjalanan waktu, menjadi pembuka bagi jalan baru yang lebih lebar dan agung (dan kelak seseorang merasa perlu menghancurkan kembali jalan ini).

Standard
Journal

Playing in the Dark, Toni Morrison

Bagaimana keberadaan dan persona yang-bukan-putih dan Afrikanisme dikonstruksi — diciptakan — dalam kehidupan dan kesusastraan Amerika? Tanpa bermaksud untuk mengklasifikasikan karya-karya yang rasis atau tidak rasis, apalagi menyudutkan penulisnya (seorang penulis secara pribadi tak berhubungan dengan tindakan karakter fiktifnya, meskipun ia bertanggung jawab atas mereka — begitu katanya) yang merupakan wilayah kritik lain, dengan jernih Toni Morrison melakukan pelacakan dalam monograf pendek ini. Selalu menarik menemukan seorang penulis fiksi juga menulis telaah tentang kesusastraan, terutama pada tema-tema yang merupakan pusat perhatiannya, seperti kebudayaan dan orang-orang kulit hitam Amerika bagi penulis ini. Tak hanya dalam esai-esai pendek, tapi terutama dalam satu buku utuh. Jelas Toni Morrison, sebagai perempuan kulit hitam, tampak sebagai antitesis bagi sejarah kesusastraan Amerika (yang begitu jelas sebagai sejarah kesusastraan lelaki-putih), dan dengan sadar ia menempatkan dirinya di sana, dengan kesadaran akan bias tersebut, dengan kemungkinan meromantisir yang-hitam daripada mengutuknya; atau mengaburkan yang-putih daripada membuatnya jelas. Playing in the Dark — Whiteness and the Literary Imagination awalnya merupakan bahan ceramah kuliahnya tentang sejarah peradaban Amerika yang kemudian disunting kembali menjadi monograf. Ia membukanya dengan sejenis sindiran betapa sejarah kesusastraan Amerika tak hanya mengabaikan narasi-narasi orang kulit hitam, tapi bahkan juga mengabaikan karya-karya orang kulit putih yang membicarakan orang atau kebudayaan orang kulit hitam. Sebagai contoh, karya-karya terakhir Faulkner yang banyak bicara tentang ras dan kelas, dianggap kritikus sebagai karya-karya minor. Saya rasa tinjauannya bisa dipergunakan untuk membaca kasus-kasus lain yang melibatkan kelompok-kelompok yang-tak-terepresentasikan di wilayah-wilayah geografi atau kebudayaan lainnya, dan bagi saya, itu sangat jelas terbayang bahkan ketika sambil membacanya. Toni Morrison menunjukkan, misalnya, lebih daripada pengabaian di dalam kesusastraan, bahkan ketika sebuah karya bicara tentang orang kulit hitam, kemungkinan besar karya itu ditujukan bukan buat mereka. Uncle Tom’s Cabin tidak ditujukan untuk pembaca seperti “Uncle Tom”, misalnya. (Apakah kesusastraan yang mencoba membela “yang tak bersuara” ditujukan untuk dibaca oleh orang-orang “yang tak bersuara” ini?, misal lain). Seperti umumnya buku yang baik dan telaah yang jernih, tanpa harus memaksanya, buku ini membawa saya ke mana-mana. Membuat saya bertanya-tanya bagaimana rasialisme bisa muncul — tak hanya sebagai sterotif tentang ras. Ia menunjukkan bahwa kadang perkara rasial ini dipergunakan penulis sebagai “strategi lingusitik” (yang buat saya, boleh jadi merupakan wujud kemalasan). Misal, dengan mengatakan seseorang sebagai “negro”, tak hanya itu merujuk kepada warna kulit, tapi juga stereotif kelas ekonomi. (Saya jadi ingat kampanye rasial selama pemilu gubernur Jakarta tahun lalu, di mana “Cina” juga berarti stereotif yang meliputi: kaya, asing, kafir, dan menjadikan label itu tak hanya sebagai warna kulit atau kesukuan belaka, tapi merupakan label umum yang menghilangkan persona individu). Tak cuma itu, ia juga menunjukkan (dengan cukup provokatif), “yang-hitam” tak hanya wujud kecurigaan tentang “yang liyan”, tapi juga merupakan strategi linguistik yang lain untuk mengekspresikan fetish, hasrat seksual maupun ketakutan erotis. Itu hanya sebagian dari hipotesis di buku ini. Pertanyaan yang sangat menggelitik, yang tentu saja saya sadar memiliki konteks yang berbeda dengan apa yang terjadi di kesusastraan Amerika dan hubungannya dengan narasi kulit-hitam, apakah argumen-argumen ini bisa diterapkan (atau diperbandingkan) dalam situasi yang lain? Tak hanya mengenai rasialisme di Indonesia, misalnya, tapi juga dalam problem-problem ketidakterwakilan gender, kelas, maupun keyakinan dalam kesusastraan kita.

Standard
Journal

First Snow on Fuji, Yasunari Kawabata

Seperti kebanyakan pengarang ingusan, saya pernah berupaya untuk bisa menulis seperti Kawabata. Tentu saja gagal total, dan setelahnya tak punya nyali untuk melakukannya lagi, yang belakangan rada disyukuri sebab saya tak perlu menjadi dirinya. Kesan yang paling kuat setiap membaca karya-karyanya adalah keterpesonaannya kepada benda-benda, alamiah maupun ciptaan, dan membawa benda-benda itu sebagai pesan bagi perasaan-perasaan yang tak terkatakan. Saya membaca First Snow on Fuji dengan sejenis ketidaksengajaan. Tanpa sesuatu yang harus dilakukan menjelang akhir tahun, sementara sesekali hujan datang, saya melihat deretan buku-buku Kawabata di rak dan berpikir apakah perlu membaca ulang satu atau dua novelnya. Hingga saya sadar ada satu buku terselip di sana dan saya belum pernah membacanya. Buku bekas dalam kondisi yang sangat baik, saya lupa dari mana memperolehnya, yang jelas di dalamnya tertera cap bahwa itu bukan lagi milik satu perpustakaan, di sebuah kota di New Jersey. Ketika saya membukanya, saya baru sadar itu kumpulan cerita, dan ketika mulai membaca beberapa cerpennya, saya juga sadar hal-hal terbaik yang saya sukai dari Kawabata ada di cerita-cerita ini. Dalam cerpen pertama “This Country, That Country” ia berhasil membuat saya terus-menerus membayangkan leher jenjang Takako. Dan melalui leher jenjangnya, yang menjadi penanda sensualitasnya, kita dibawa ke perasaan-perasaannya, dan hubungan yang rumit di antara dirinya, suaminya, tetangga mereka, juga lelaki muda yang menjadi simpanannya. Di cerpen kedua, ia (atau lebih tepat: tokohnya) terobsesi dengan deretan pohon ginkgo di pinggir jalan, yang daunnya rontok separoh ke bawah (dan menurutnya aneh) di awal musim gugur. Di cerpen ketiga, ia berkisah tentang seorang aktor yang adalah seorang lelaki, lalu untuk menghindari wajib ikut perang berubah menjadi perempuan, belakangan kembali menjadi lelaki (dengan spesialis memerankan tokoh perempuan). Ia memadupadankan kisah si aktor ini dengan tempat permandian di mana ia bertemu, yang menghadap laut, dan bercerita tentang keindahan senja dan gumuk pasir, di mana horison antara langit dan air tampak gelap. Tanpa terhalangi, saya memikirkan horison itu sebagai titik antara menjadi lelaki dan perempuan di diri si aktor, yang mungkin juga gelap. Cerpen “Raindrops” tentu saja suara tetesan hujan di sini menjadi penting, untuk kontras dengan hidup yang kering. Selepas itu ada cerpen yang menceritakan tentang batu-batu nisan, nyaris menyerupai ensiklopedia, tapi tak ayal memberi pertanyaan yang sangat mengganggu, benarkah orang mati membutuhkan penanda? Orang hidup mungkin membutuhkannya sebagai pengingat, tapi untuk apa bagi si mati? Baiklah, kembali ke usaha saya meniru Kawabata di masa lampau. Kegagalan itu demikian nyata buat saya karena perkara satu hal: saya tak bisa meyakinkan orang bahwa ada tokoh yang bisa terobsesi dengan benda-benda dan imaji-imaji seperti Kawabata melakukannya, hingga pertanyaan ini muncul: apakah orang Jepang memang seperti itu, atau Kawabata yang demikian hebat membuatnya tampak alamiah? Bahwa orang bisa membicarakan salju pertama yang muncul di puncak Gunung Fuji, sambil duduk di kursi kereta, dan sambil mengaduk-aduk perasaan hati mereka? Mungkin memang bisa. Saya pernah membaca penulis Jepang lainnya, Hikaru Okuizumi di novel The Stones Cry Out. Seperti terlihat dari judulnya, itu tentang orang yang tergila-gila kepada batu, dan dari batu itulah memancar tak hanya aspek geologis, tapi juga sejarah dan psikologi. Dan bukankah kita bisa menemukan satu tokoh yang terobsesi dengan daun telinga di novel Haruki Murakami, dan ia membuatnya tak semata-mata daun telinga, tapi imaji tentang sensualitas atau entah apa lagi? Ryūnosuke Akutagawa jarang melakukan ini (ia lebih mendekati seorang realis), tapi kecenderungan memanfaatkan imaji alam dan benda-benda juga bisa ditemukan di Jun’ichirō Tanizaki. Pokok soalnya, imaji-imaji ini di tangan mereka, terutama Kawabata, tak berakhir menjadi deskripsi tentang sesuatu, atau kesan narator (atau tokohnya) tentang itu, tapi juga menjadi perkakas untuk menguar perasaan-perasaan dan hubungan rumit yang diciptakannya. Di cerpen yang menjadi judul cerita, perdebatan apakah salju di puncak Fuji merupakan salju pertama atau bukan, jelas merupakan pembukaan untuk hubungan yang membingungkan antara Utako dan Jirō. Mereka jatuh cinta di masa perang, hingga Utako hamil di luar nikah. Keluarga dan perang memisahkan mereka, dan anak itu kemudian mati. Delapan tahun kemudian mereka tak sengaja bertemu di stasiun. Kita kemudian tahu Utako baru saja bercerai, dan pernikahannya merupakan neraka. Ia tampak menderita dan kurus. Jirō mengajaknya untuk pergi ke tempat permandian, alias kencan. Mereka mandi bareng. Tidur berdampingan. Mereka bicara dan tampak bahagia. Tapi bagaimana hubungan dan masa depan mereka, sebab pada saat yang sama, jelas Jirō juga telah terikat pernikahan. Kebahagiaan itu jelas seperti salju di puncak Fuji, tapi makna kebahagiaan itu mungkin mereka sendiri tak tahu apa sebenarnya. Ada satu cerpen yang menurut saya sangat menarik, berjudul “Silence”, di mana kebisuan, kematian, dan hantu menjadi imaji-imaji yang berkaitan. Kisahnya sendiri bahkan memiliki kisah lain di dalamnya: tentang seorang penulis muda yang gila dan dilarang memiliki apa pun kecuali kertas-kertas kosong. Si pemuda gila akhirnya menulis di kertas kosong dan setiap ibunya berkunjung meminta sang ibu membaca cerita yang ditulisnya. Si ibu terpaksa ngarang-ngarang karena kertas itu kosong, tapi si anak mendengarkan seolah yang diceritakan ibunya memang apa yang ditulisnya. Kisah itu berasal dari novel seorang penulis, yang di cerpen ini telah lumpuh dan bisu. Seperti kertas kosong di tangan ibu si penulis gila, apakah kebisuan juga pada dasarnya memiliki suara? Dan bagaimana dengan kematian? Di dua cerpen lainnya kita bertemu kembali dengan daun telinga, dan bagi yang pernah membaca cerpen “The Izu Dancer”, barangkali akan terkenang cerpen tersebut ketika membaca cerpen terakhir “Yumiura”, tentang kunjungan seorang perempuan umur lima puluhan tahun ke kediaman seorang penulis terkenal dan tanpa tedeng aling-aling berkata, “Kuharap kau tidak lupa.” Tidak lupa bahwa mereka pernah bertemu, bahwa sang pengarang ketika muda pernah datang ke kamar si perempuan dan tentu saja tidur dengannya, bahwa si pemuda bahkan melamarnya, tapi ditolak karena si perempuan muda sudah tunangan. Kini si perempuan datang kembali, penuh penderitaan. Menderita karena pernah menolak lamaran si penulis. Cerpen itu, saya rasa merupakan sisi kocak dari Kawabata. Humor kecil yang entah kenapa, terasa pedih.

Standard