Eka Kurniawan

Journal

Page 2 of 31

“No matter how serious your theme, the work should be entertaining.”

My conversation with Shreya Ila Anasuya for Scroll.in.

I prefer to see myself as an adventurer, with all the literary traditions as my map.

My latest interview with Jaya Bhattacharji Rose for Bookwitty.

Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash (translated by Annie Tucker) is one of Readings“The most anticipated books of 2017”. My third novel will be published this year by New Directions (US), Pushkin Press (UK), Text Publishing (ANZ) and Speaking Tiger (India).

Pemberontak dan Kriminal, The Sleepwalkers (3): The Realist

“Pemberontak tak harus disamakan dengan kriminal, meskipun masyarakat seringkali menganggap pemberontak sebagai kriminal, meskipun kriminal kadang-kadang berlaku sebagai pemberontak untuk membuat tindakan-tindakannya tampak terhormat.” Kutipan ini saya ambil di bagian tengah “The Realist”, bagian pamungkas The Sleepwalkers karya Hermann Broch. Saya harus bilang, novel ini jauh lebih menjelajah (dan barangkali lebih sulit untuk ditaklukkan) daripada dua bagian sebelumnya. Tak hanya meliputi bentuk dan gayanya (yang meramu banyak hal: prosa, puisi, drama, pamflet, esai), tapi terutama penjelajahan gagasan mengenai filsafat dan kadang mengenai agama. Kisah di novel ini terjadi di tahun 1918, di tengah situasi perang, dan dibuka oleh seorang prajurit Jerman bernama Huguenau yang melarikan diri dari pasukannya alias desersir. Apakah ia seorang pembangkang? Atau tak lebih dari seorang kriminal? Novel ini jelas menghamparkan dilema tersebut, tidak dalam pemaparan untuk mencari jawaban atas pertanyaan tersebut, apalagi mencoba memberi penilaian akhir terhadap si tokoh, tapi sebagaimana saya singgung di atas, mempergunakan kisah mengenai si desersir ini sebagai titik pijak untuk diskusi panjang mengenai banyak hal. Dari sejarah pemikiran hingga runtuhnya nilai-nilai. Huguenau sendiri sosok yang menarik. Kisah pelariannya dari pasukan membersitkan pertanyaan yang bergema panjang, Untuk apa semua perang ini? Ia digambarkan sebagai sosok yang berpikir bebas, tak terikat norma-norma, cenderung sinis pada nilai-nilai lama. Ia juga bisa dibilang, egois dalam arti memikirkan dirinya bahkan sampai pada tahap licik. Dalam situasi perang yang tak menentu, meskipun akhirnya ia bisa menetap di satu kota yang relatif tenang, dengan bakat yang luar biasa dalam pergaulan dan bisnis, tanpa modal sama sekali, ia bisa mengambil alih satu perusahaan surat kabar, dengan berbual bersama walikota dan orang-orang kaya kota itu. Bahkan ketika akhirnya ia ketahuan sebagai seorang pelarian (dan tentu saja buronan!), ia bisa melepaskan diri dari jebakan nasib buruk. Sebagian karena keculasannya, sebagian tentu karena keberuntungan. Di dunia ini, tentu manusia akan selalu mengalami masa-masa sulit. Kekacauan karena perang, musibah, runtuhnya nilai-nilai, atau apa pun, bisa menciptakan kesulitan. Dalam situasi seperti itu, tentu akan timbul: bermoralkah seseorang mementingkan nasib dirinya sendiri, lebih dari nasib orang lain? Itu pertanyaan moral, tentu, juga filosofis. Dari sudut pandang Huguenau, tentu ia memikirkan dirinya sendiri (bahkan meskipun mulut manisnya akan bicara tentang nasib orang-orang yang diwakilinya dalam bisnis). Tapi peduli apa tentang moral untuk manusia macam dia? Dalam situasi kacau karena perang, misalnya, siapa yang bisa menghalangi elan untuk bertahan hidup. Ia pembangkang, di tengah suara-suara yang bergelora tentang patriotisme, tentang kebersamaan, tentang “kita” melawan “mereka”. Tapi ketika ia akhirnya menodongkan pistol dan membunuh rekan kerjanya, untuk melindungi kepentingan-kepentingannya, untuk menyelamatkan dirinya, masihkah ia sesederhana pembangkang? Pemberontak? Atau ia sudah menjadi seorang kriminal. Masyarakat seringkali tak bisa membedakan keduanya, atau mungkin memang tak perlu dibedakan? Seperti Hugeunau, menjadi pembangkang barangkali hanya untuk menutupi egoisme dirinya, elan bertahan hidupnya, atau lebih jauh, membuat tindakan-tindakan kriminalnya sebagai sesuatu yang terhormat. Yang jelas, kata Hermann Broch, “Sang pemberontak berdiri sendiri.” Sendirian saja, Sobat. Tidak rame-rame.

God and ghost? In many ways, they are similar, right? Except that people tend to believe that God created the world, including ghosts. We have funny words in Indonesia: ‘Tuhan’ for God and ‘Hantu’ for ghost. If you recite ‘Tuhan’ continuously, in the end, you can hear ‘Hantu’.

“Reading Suharto, Quran, Mahabharata and Ramayana”, The Indian Express

A School for Fools, Sasha Sokolov

Bagaimana jika seorang tolol mengisahkan sebuah cerita? Hasilnya kurang-lebih tentu saja A School for Fools. Si tukang cerita bahkan tak sanggup melihat dirinya siapa, kadang ragu apakah dirinya seorang narator atau seseorang yang sedang diceritakan, atau bahkan seorang pembaca. Ia juga tak bisa membedakan waktu, bingung apa bedanya hari ini, kemarin dan besok. Juga tak mengerti perbedaan beberapa hari dan beberapa tahun. Dengan semua kekacauan-berpikir seperti itu, bagaimana dia bisa diandalkan sebagai seorang pencerita? Buat Anda pembaca yang waras dan cerdas, mungkin akan frustasi mengikuti novel Sasha Sokolov ini. Persis seperti profesor fisika atau astronomi yang harus menghadapi manusia-manusia yang percaya bumi itu datar dan langit itu sejenis kubah. Frustasi, Kawan. Tapi kalau kita mau menghadapinya dengan ringan, kita bisa menertawakan mereka. Menertawakan kebodohan-kebodohan ini. Maka hasilnya kita berhadapan dengan novel penuh humor, komedi tolol yang tak hanya menertawakan kebodohan penceritanya, tapi juga mungkin menertawakan (sok) kecerdasan pembacanya. Oh, kadang-kadang ia waras, mengisahkan cerita cerdas sebagaimana barangkali yang sebagian kita harapkan. Ini muncul, misalnya, saat ia menceritakan seorang tukang kayu di tengah padang pasir. Sebuah parabel yang mengharukan, tentang betapa tak bergunanya seorang tukang kayu, tanpa paku dan kayu untuk diolah. Hingga ia akhirnya sekelompok orang datang memberinya dua palang kayu dan paku, serta seorang lelaki untuk disalibkan di sana. Ia melakukannya demi memperoleh beberapa bilah kayu dan apa pun untuk membuat keahliannya sebagai tukang kayu di tengah gurun pasir berguna. Jadi, sebenarnya ia tidak bodoh? Entahlah, yang jelas ia dimasukkan ke sekolah khusus, sekolah untuk orang-orang bodoh. Jadi jelas, ia setidaknya dianggap bodoh. Ngomong-ngomong tentang sekolah, bukankah sekolah dibuat untuk menghapus kebodohan? Untuk menjadikan si bodoh sebagai si pintar? Tapi tengok sekolah-sekolah di negeri ini, bahkan mungkin di semua tempat di dunia. Untuk masuk ke sekolah, Anda harus menghadapi test. Anak-anak yang memperoleh nilai terbaik, memperoleh kursi untuk belajar di sekolah. Artinya? Sekolah tidak mencari orang bodoh untuk dibikin pintar. Hampir semua sekolah mencari anak pintar, untuk dijejali pengetahuan. Sebagian menjadi lebih pintar, sebagian malah menjadi bodoh. Untuk orang yang bodoh sejak awal, inilah dia: sekolah khusus untuk orang bodoh. Satu di antaranya, mencoba menceritakan pengalaman hidupnya, melalui novel ini. Dengan cara bercerita yang amburadul dan berantakan. Tapi tunggu, apa itu amburadul dan berantakan? Jangan-jangan, itu cuma prasangka kita saja, yang terbiasa membaca novel atau cara bercerita yang lain daripada yang kita hadapi di novel ini? Jangan-jangan, menurut si narator ini, caranya bercerita tak kurang tertib dan adikuat dibandingkan yang seharusnya, dan jangan-jangan cara orang lain menulis, justru menurutnya amburadul dan berantakan? Siapa berhak menentukan mana yang tertib dan mana yang berantakan? Kita telah lama, dan mungkin akan terus begitu, hidup di tengah prasangka bahwa manusia lain tolol dan bodoh, atau lebih tolol dan bodoh dari kita. Jika mereka bercerita atau menulis, berbeda dari cara kita biasanya bercerita atau memperoleh cerita, kita menganggapnya sebagai narator tolol yang tak meyakinkan. Novel ini, jelas secara langsung mempertanyakan itu semua. Mempertanyakan siapa sebenarnya lebih bodoh dari siapa, dan adakah satu sistem naratif yang bisa dianggap lebih cerdas daripada yang lainnya?

Giovanni aka Ipang: Mas Eka, saya ingin membuat photo essay tentang Mas Eka, tentang kehidupan sehari-hari Mas Eka. Saya bukanlah seorang fotografer profesional, cuma seorang yang punya passion di fotografi.

Dengan sangat menyesal, saya tak bisa memenuhinya. Sebagai penulis, jika berkenan sila membaca tulisan saya yang sudah terbit. Kehidupan pribadi saya, kehidupan sehari-hari saya, sangatlah tidak penting untuk kebanyakan orang. Biarlah itu menjadi milik saya sendiri, yang saya bagi cuma dengan sedikit orang.

(dari Tanya dan Jawab)

Karakter Datar dan Karakter Bulat

Sebagai penulis yang cenderung “memungkinkan segala cara”, saya sering berpikir-pikir ketika ditawari untuk memberikan semacam bengkel kerja penulisan. Kecenderungan memungkinkan segala cara lahir dari ketidakpercayaan saya kepada otoritas apa pun dalam menulis: saya tak percaya ada aturan tunggal untuk menyampaikan gagasan dalam bentuk tertulis, sebagaimana saya tak percaya ada otoritas tunggal yang menentukan makna hasil tulisan. Saya percaya beragam kemungkinan bisa dilakukan, yang penting penulisnya nyaman. Setelah itu, pembacanya semoga juga nyaman. Kenapa semoga? Sebab tak ada yang bisa menjamin penerimaan pembaca bisa seragam. Karya paling hebat di dunia pun tak akan mungkin membuat nyaman apalagi senang semua pembaca. Lah, jika saya tak memercayai satu otoritas, satu jenis “school” (itulah kenapa disebut “school”, saya rasa!), bagaimana saya menyampaikan pelatihan menulis? Banyak teman suka mengingatkan, penulis pemula akan pusing mengikutinya (beberapa juga suka pusing mengikuti jurnal saya ini). Mereka berkeyakinan bahwa satu paradigma tertentu harus dipilih, satu jenis “aliran” (“school”) harus diterapkan. Baiklah. Paradigma saya tentu saja bersifat anarki, dan “aliran” saya sudah jelas: pergunakan segala kemungkinan yang paling cocok untuk dirimu. Buat saya sangat penting bahwa setiap penulis harus menemukan cara mereka sendiri untuk menulis; demikian pula, sangat penting bagi pembaca memiliki kemerdekaan untuk bebas membaca dengan cara mereka. Otoritas (siapa pun yang teriak-teriak “harus begini, harus begitu”) sudah saatnya istirahat di lubang kakus. Teriakan mereka tak membuktikan kepala mereka ada isinya, hanya membuktikan mereka punya bacot dan berisik (ini berlaku di sastra maupun di kehidupan politik). Kita bisa mengikuti jalan setapak yang pernah dirintis oleh pendahulu kita (kalau mau), sebagaimana kita juga boleh membuat jalan setapak baru (kalau mau), atau menimbun semua jalan setapak (juga kalau mau), atau apa pun. Mari membuat ilustrasi: selama beberapa dekade, E.M. Forster (melalui bukunya Aspects of the Novel) menjadi sejenis otoritas dalam membangun karakter. Menurutnya, karakter yang baik di dalam novel haruslah bulat (dengan begitu, karakter yang datar berarti buruk, atau setidaknya kelas dua). Kenapa begitu? Tentu karena karakter yang bulat konon dekat dengan kehidupan. Juga memiliki aspek-aspek mengejutkan (yang dibutuhkan oleh drama. Drama, saudara-saudara!), karena karakter bisa terlihat dari berbagai sudut. Beberapa ditampilkan, beberapa yang lain tersembunyi, atau samar-samar, sebelum muncul di belakang. Karakter yang bulat juga memungkinkan mereka berkembang, berubah, mengikuti alur cerita atau problem-problem yang dihadapinya. Sekali lagi, seperti dalam kehidupan manusia. Pertanyaannya: benarkah itu seperti kehidupan? Semua orang juga tahu novel, tulisan, teks, tak pernah bisa menggambarkan kehidupan ini dengan sempurna. Itu kan hanya ilusi kaum realis ortodoks saja. Coba kita lihat argumen ini dari sisi sebaliknya, mengenai karakter yang datar. Benarkah karakter yang datar tidak menarik? Karakter datar biasanya dikritik karena ia hanya memperlihatkan bentuk yang mudah dikenali, tetap begitu dari awal sampai akhir. Komik. Seperti kartun. Nah, itu! Apa salahnya seperti komik, dan kartun? Banyak karakter seperti itu dalam kesusastraan (yang adiluhung sekalipun), dan tetap menarik. Don Quixote? Dia tak ada bedanya dengan Donal Bebek, sayangku! Dijungkir-balikkan seperti apa pun, Don Quixote akan tetap seperti itu, dan bagi saya tetap menarik. Pangeran Myshkin dalam The Idiot Dostoyevsky juga mendekati datar. Kita belum bicara tentang karakter-karakter minor. Yang tolol adalah menilai Don Quixote seperti kamu menilai Mrs. Dalloway atau Madame Bovary (meskipun tak dilarang, tapi saya tetap akan menganggapnya tolol). Dalam hal ini, Cervantes mungkin akan bilang, “Ngentot dulu lah, biar otak seger dikit!” Itu hanya satu contoh bahwa sejenis otoritas yang telah lama berkuasa memang perlu dipertanyakan dan ditantang (Poetic Aristoteles, juga). Lantas, jika saya tak memercayai satu jenis pilihan tertentu, apa yang bisa saya sampaikan di bengkel kerja penulisan? Jawabannya sederhana: memberi pilihan-pilihan itu, kemungkinan-kemungkinan itu. Anda tak perlu mengikuti jalan setapak yang ada (termasuk setapak yang saya lampahi); juga boleh mengubur setapak yang ada (termasuk mengubur gagasan saya tentang menulis ini). Tapi penting untuk memilih sesuatu dan merasa nyaman dengan itu, dan jika ada yang menganggap pilihanmu salah, punya nyali untuk mengacungkan jari tengahmu (kalau perlu, berilah sedikit orgasme). Pelajaran menulis, pada akhirnya merupakan pelajaran berpolitik.

We Have Always Lived in the Castle, Shirley Jackson

Kamu kirim pesan pendek ke gebetan dan lama tidak dibalas? Kamu gelisah? Saya yakin banyak yang pernah mengalami kejadian seperti itu. Tak hanya gelisah, tapi pikiranmu mulai mereka-reka cerita, sebagian cerita menakutkan, dan pada akhirnya urusan pesan pendek jadi sejenis horor dalam hidupmu. Kamu merasa diabaikan. Saya sering melihat bahwa tema-tema novel (atau film) horor seringkali berurusan dengan “yang lain”, sesuatu yang berbeda, yang tidak akrab, dan akhirnya menimbulkan rasa takut. Tentu saja hantu menjadi sosok paling mudah sebagai perwakilan “yang lain” ini. Tapi di novel We Have Always Lived in the Castle, Shirley Jackson si penulis Amerika yang sangat unik ini, memperlihatkan sisi lain dari rasa takut (setidaknya itulah yang saya rasakan ketika membaca novel ini) lewat sebuah pertanyaan yang provokatif: bagimana jika kamu yang dipaksa menjadi “yang lain”? Jika kamu “diabaikan”? Dicerabut dan bahkan dianggap dalam situasi yang khusus, “tidak ada”? Dengan kata lain, menakutkan tak lagi masalah kamu melihat sosok hantu (yang kamu tak kenali, yang kamu anggap berbeda dari dirimu), tapi bisa juga merupakan perasaan si hantu itu sendiri (yang merasa dianggap berbeda, dianggap yang lain, dianggap tak dikenali). Novel ini tidak bercerita tentang hantu, tapi tentang pengabaian. Tentang perasaan dipaksa menjadi berbeda, tentang tidak menjadi bagian dari masyarakat yang lebih luas. Novel ini kisah mengenai dua bersaudari, Constance dan adiknya, Mary Katherine (yang sering dipanggil Merricat oleh kakaknya), serta paman mereka yang sudah tua dan tampaknya pikun, Julian Blackwood. Mereka merupakan tiga orang yang tersisa dari keluarga besar Blackwood, yang beberapa tahun sebelumnya mati dalam “pembunuhan massal” di meja makan oleh racun arsenik di dalam gula. Tiga orang selamat merupakan mereka yang tak makan gula tersebut. Constance merupakan tersangka pembunuhan keluarganya itu, dan di pengadilan ia memang mengakuinya, meskipun kita tahu kisah sebenarnya lebih rumit dari itu dan tak tampak seterang-benderang yang dipercaya orang. Mereka jelas bukan hantu, tapi penduduk desa di sekitar rumah mereka (rumah besar yang disebut kastil) jelas telah menjadikan mereka hantu. Mendorong mereka menjauh dari kehidupan sosial (dan akhirnya membuat mereka juga menarik diri), hingga kehidupan ketiganya terkungkung di dalam kastil itu saja. Tentu Merricat dua kali seminggu harus pergi ke desa, untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari dan meminjam dan mengembalikan buku ke perpustakaan. Itu satu-satunya hubungan keluarga itu dengan dunia, dan itu pun harus dihadapi Merricat dengan penuh horor. Penolakan terjadi di setiap sudut jalan, di dalam toko, bahkan di meja kedai kopi langganannya. Ketika membaca novel ini, saya tak hanya “melihat” peristiwa-peristiwa yang terpapar di halaman-halaman buku. Buku ini membawa saya ke banyak hal. Dari hal seseorang yang barangkali merasa pesan pendeknya diabaikan oleh gebetannya, hingga hal-hal yang jauh lebih serius: tentang kaum minoritas yang diabaikan oleh mayoritas, tentang ruang yang tak lagi (atau tak pernah) menjadi milik bersama, tentang perasaan tercerabut. Ketika saya memutuskan menulis jurnal di blog ini di akhir tahun 2012, sejujurnya saya tak tahu persis apa yang akan saya lakukan. Satu-satunya yang terpikir, saya hanya akan berkomentar tentang buku-buku yang saya baca. Saya punya sejenis program sepanjang empat tahun untuk menjelajah berbagai tradisi kesusastraan. Tak terasa saya punya ketabahan untuk melakukannya, dan tanpa terasa kini menjelang akhir tahun 2016. Saya belajar banyak hal dari membaca, menemukan cara membaca yang berbeda dari satu novel ke novel lain, dan berkali-kali merasa dihantam palu keras, seperti ketika saya kelar membaca novel ini. Saya belum tahu apa yang akan saya lakukan dengan blog atau jurnal ini di tahun depan, tapi pengalaman empat tahun membuat saya semakin yakin, tak ada pilihan lain bagi seorang penulis kecuali terus membaca apa yang telah ditulis orang lain, terutama para pendahulunya.

My essay about sending my daughter to school, for The Guardian: The most loaded question in Jakarta: ‘What school would you like to go to?’

« Older posts Newer posts »

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑