Jose Saramago dan “Apa yang Terjadi, Jika …”
The Year of the Death of Ricardo Reis
Jose Saramago
“But loneliness is not living alone, loneliness is the inability to keep someone or something withing us company,” kata Jose Saramago di salah satu novelnya yang barangkali bisa dibilang terbaik, The Year of the Death of Ricardo Reis.
Ironinya, tema kesepian itu dikontraskan dengan kehadiran sosok lain dalam kehidupan Ricardo Reis: penyair terkenal Portugal bernama Fernando Pessoa. Dikisahkan, Ricardo Reis, seorang dokter sekaligus penyair, kembali ke negerinya setelah 16 tahun tinggal di Brazil. Tahunnya: 1936. Ia tiba di Lisbon, tinggal di hotel. Waktu kedatangannya boleh dikatakan berbarengan dengan kematian Fernando Pessoa. Di hotel itulah kemudian ia bertemu hantu penyair tersebut.
Baca selengkapnya …
Mengelola Draft dan Memanfaatkan Teknologi
Foto oleh: Paul Watson, Some rights reserved.
Saya bukan seorang gadget freak, meskipun saya suka dengan teknologi dan perangkat yang bisa membantu pekerjaan saya. Sebagai seorang penulis, pada dasarnya saya bisa bekerja nyaris dengan apa saja. Saya biasa mencatat dengan tangan jika diperlukan, tapi jika ada teknologi yang mempermudah, tentu saja saya akan mempergunakannya.
Sudah hampir lima tahun saya mempergunakan laptop. Sudah dua kali ganti dengan merk yang berbeda. Saya memilih sebuah laptop daripada seperangkat desktop. Alasannya sederhana: saya sering bepergian. Selain menulis, kadang-kadang saya membuat desain dengan komputer itu. Meskipun begitu, pekerjaan utama laptop saya tetaplah sebuah mesin ketik. Sebab pekerjaan utama pemiliknya adalah penulis.
- Cerpen terbaru saya, “Pengantar Tidur Panjang” bisa dibaca di Kompas edisi 1 November 2009, halaman 20. Selamat membaca.
1-11-2009 · 1 Pesan
- Pagi ini dapat kabar dari penerbit: “Cantik itu Luka” kemungkinan diterbitkan di Malaysia dalam versi (terjemahan?) Melayu. Fakta sederhana jarak kedua bahasa semakin lebar?
16-10-2009 · 2 Pesan
Pakai Batik di Hari Batik

Hari ini batik dikukuhkan sebagai “Kenangan Dunia” dari Indonesia oleh UNESCO. Karena saya enggak suka pakai kemeja, saya memakai kaus oblong batik. Istri saya, Ratih Kumala, tak kesulitan memperoleh batik dari lemarinya. She is a batik freak. Meskipun begitu, cita-cita saya untuk bisa membatik sendiri belum kesampaian. Mudah-mudahan lain hari.


