05  July  2003

Pascakolonialitas dalam Novel Cantik itu Luka

Tetapi Kutukanku akan Terus Berjalan

Oleh: Katrin Bandel
Sumber: Meja Budaya


Foto oleh INTVGene, Some rights reserved. 

Dalam eseinya “Air Bah dalam Novel ‘Cantik itu Luka’” di Media Indonesia 2 Maret 2003, tampak jelas kebingungan Maman S. Mahayana dalam menghadapi karya Eka Kurniawan itu. “Estetika model mana yang hendak dimainkan Eka Kurniawan dalam Cantik itu Luka?” tanyanya. Novel Eka itu bukan karya realis seperti karya Pramoedya Ananta Toer misalnya, tapi juga bukan karya eksperimental gaya Iwan Simatupang atau Putu Wijaya. Jadi karya apakah Cantik Itu Luka, dan di mana posisinya dalam peta sastra Indonesia?
baca selengkapnya »

Oleh: Raudal Tanjung Banua 


Foto oleh gotplaid?, Some rights reserved. 

Membaca novel “Cantik Itu Luka” karya Eka Kurniawan (Aky Press-Jendela, 2003) kita akan bersua cinta membara di antara tokoh-tokohnya. Di tengah ”kegilaan” nilai-nilai seperti pelacuran, perselingkuhan, perang, pembanditan, dan kekuasaan, cinta menjadi sangat esensial, baik bagi ”muatan moral” - kalau memang pertanggungjawaban kepada publik pembaca masih mempertimbangkan unsur ini - maupun bagi jalan cerita secara keseluruhan.

Ya, karena cinta, sebuah ungkapan tanpa tedeng aling-aling mengalir dari kalimat Eka: ”Pelacur dibayar pakai uang, istri dibayar dengan cinta!”
baca selengkapnya »

Oleh: Bindhad Nurrohmat


Pierre Puvis De Chavannes: The Toilette, foto oleh freeparking, Some rights reserved. 

Membaca novel bagi pembaca bebas dan impresif, tak selalu, apalagi harus, mengejar kalimat pertama hingga terakhir hanya demi menggapai keutuhan yang serbapadu dari aneka unsur yang berhuni di dalam novel. Kadang justru bukan keutuhan itulah yang menyihirkan pesona dan mungkin juga justru bukan keutuhan itu yang sangat disengaja penulis sebagai incaran strategi estetika novelnya. Maka memaksakan keutuhan pada setiap novel menjadi sebentuk praktik penilaian yang tak adil dan melanggar kebebasan ekspresi estetik.

Sebaris kalimat singkat atau selarik ungkapan pendek yang bagus pada halaman kesekian dari sebuah novel sehingga menancap hebat dalam ingatan atau mendapat pencerahan dari bagian kecil cerita atau benang merah dari desain besar sebuah novel (bukan detail-detail kecil) pun sudah cukup meskipun ini tak selalu dapat ditemui pada semua novel.
baca selengkapnya »

Oleh: Nur Mursidi 


Foto oleh Gaetan Lee, Some rights reserved. 

Eka Kurniawan, tampaknya sungguh-sungguh ingin menjadi seorang sastrawan. Setelah menerbitkan kumpulan cerpen dalam antologi Corat-coret di Toilet (1999), alumnus Fakultas Filsafat UGM ini tampaknya tak mau kepalang tanggung dengan merilis sebuah novel. Meski namanya belum begitu “terdengar” dalam belantara sastra, namun novel Cantik Itu Luka ini, begitu diluncurkan ke pasaran, tak berlebihan kalau membuat kalangan sastra sempat tercengang, kagum, dan bahkan hampir tak percaya.
 
Bagaimana tidak? Novel Cantik Itu Luka dengan tebal 517 halaman bisa dikatakan telah mencatat rekor baru dalam sejarah perjalanan novel Indonesia sebagai novel paling tebal yang dihasilkan sebagai karya perdana. Selain itu, lewat novel ini pengarang juga telah melakukan inovasi baru berkaitan dengan model estetika serta gaya penceritaan sebagai satu bentuk pemberontakan atas mainstream umum. Meski tak dipungkiri masih tampak kuatnya pengaruh dari realisme sosialis yang dikembangkan Pramoedya –sosok yang dikagumi dan sempat diangkat pengarang untuk sebuah skripsinya; Realisme Sosialis Pramoedya Ananta Toer, Suatu Tinjauan Filsafat Seni.
baca selengkapnya »

Quote: Horison, Maret 2003 - 19 March 2003 »
Inilah sebuah novel berkelas dunia! Membaca novel karya pengarang Indonesia kelahiran 1975 dan alumnus Filsafat UGM ini, kita akan merasakan kenikmatan yang sama dengan nikmatnya membaca novel-novel kanon dalam kesusastraan Eropa dan Amerika Latin. Kecakapan Eka mengisahkan kejatuhan sebuah keluarga incest dengan titik pusat pengisahan pada tokoh Dewi Ayu (lahir dari ayah Belanda dan ibu Nyai) dalam gaya berkisah yang dengan enteng mencampuradukkan realisme dan surealisme, mengawinkan kepercayaan-kepercayaan lokal dengan silogisme filsafat yang membobol semua tabu, dan memberikan hormat yang sama pada realitas sejarah dan mitos, merupakan pencapaian luar biasa mengingat novel ini merupakan novel pertamanya. Di akhir masa kolonial sebuah Suratan yang aneh memaksa Dewi Ayu, seorang perempuan elok, memasuki kehidupan yang tak pernah dia bayangkan: menjadi pelacur. Kehidupan sebagai pelacur terus dijalaninya sampai ia memiliki tiga anak gadis yang cantik. Ketika ia mengandung anaknya keempat ia berharap anaknya buruk rupa. Itulah yang terjadi. Si buruk rupa itu ia beri nama si Cantik. Sebagaimana layaknya novel-novel kuat, tokoh-tokoh dalam novel ini perkembangan karakter dan fase hidupnya dikawal dengan teliti dari awal hingga akhir sehingga kemungkinan terjadinya desepsi dan akronisme peluangnya tertutup sama sekali.
(HORISON, edisi Maret 2003) (Baca Komentar: 0)
Oleh: Muhidin M. Dahlan 


Foto oleh Pσrcelαΐηgΐrl°, Some rights reserved. 

Dewi Ayu, si pelacur cantik di era kulit kuning mata sipit, terluka oleh lahirnya tiga anak haram yang cantik-cantik. Kecantikannya dan juga kecantikan tiga orang anaknya telah membawa malapetaka bagi generasinya. Karena itu, ia mengutuknya. Ia berdoa –tepatnya memaksa yang ada di langit sana– agar anak keempat yang ada dalam rahimnya buruk rupa. Dan doa itu terkabulkan. Wajah bayi itu buruk rupa. Ironisnya –atau penuh kebanggaan– Dewi Ayu memberinya nama Cantik.
 
Tetapi, Cantik Itu kini dilukai, bukan oleh kecantikan tiga dara, melainkan oleh sebuah artikel Maman S Mahayana di MIM (2/03/2003) yang bertitel: “Air Bah ‘Cantik Itu Luka’”. Ia dilukai karena tidak manut terhadap hukum sejarah (formal), inovasi yang hanya sekadar berbeda, tak memiliki landasan estetika yang kukuh karena itu jatuh pada kubangan main-main yang ngawur.
baca selengkapnya »

Oleh: Maman S. Mahayana 


Foto oleh peasap, Some rights reserved. 

Sebuah amplop tak terlalu besar, tergeletak di meja kerja. Kiriman buku. Antologi cerpen, Corat-Coret di Toilet (CCDT) (2000) karya Eka Kurniawan.
 
Nama itu jarang dijumpa di koran minggu. Satu-dua sempat kubaca. Cerpen-cerpennya tampak masih mencari bentuk. Ada napas surealis dan coba menyamarkan beberapa tokohnya. Kadang juga agak realis, meski ia acapkali lalai menyembunyikan suara dirinya sebagai dalang. Nada komedi-satirenya cukup kuat dalam CCDT. Cerdas juga usahanya mengangkat hal kecil yang remeh-temeh menjadi problem kemanusiaan. Di sana ada dendam mendalam pada penguasa. Beberapa catatan kutulis dalam buku itu. Kupikir, meski bahasanya lincah dengan narasi mengalir, ia tetap akan berada di garis belakang deretan nama Joni Ariadinata, Agus Noor, Dorothea Rosa Herliany, Indra Tranggono, dan komunitas cerpenis Yogya lainnya.
baca selengkapnya »

“Sesungguhnya, setiap di antara kita para katak menciptakan tempurungnya sendiri.”


Foto oleh Jeff Belmonte, Some rights reserved. 

Bahkan seandainya kita para katak terbebas dari dunia tempurung, bukankah kita akan menemukan diri di tempurung yang lain, semisal batok kelapa lain, atau sesuatu yang lebih besar yang menjadi tempurung bagi katak dan batok kelapa?
baca selengkapnya »


Foto oleh NTLam, Some rights reserved.
 

Ibu memintaku pergi bersamanya untuk menjual rumah. Ia datang pagi itu dari sebuah kota di mana keluarga kami tinggal, dan tak tahu bagaimana menemukanku. Ia bertanya pada beberapa kenalan dan diberitahu untuk mencariku ke Libreria Mundo, atau di kafe-kafe sekitar, tempat aku ke sana dua kali sehari untuk ngobrol dengan teman-teman penulis. Seseorang yang memberitahunya mewanti-wanti: “Hati-hati, sebab mereka semua tak punya otak.” Ia datang tepat pukul dua belas. Dengan langkah ringannya ia berjalan di antara meja tempat buku dipajang, berhenti di depanku memandang ke mataku dengan senyum nakal masa-masa bahagianya, dan sebelum aku bisa menanggapi ia berkata:

“Aku ibumu.”

Itulah bagian pembuka buku teranyar Gabriel Garcia Marquez, terbit dalam edisi Inggris sebagai Living to Tell the Tale yang diterjemahkan oleh penerjemah utamanya Edith Grossman (selain Gregory Rabassa yang menerjemahkan Cien anos de soledad sebagai One Hundred Years of Solitude) dari edisi Spanyol Vivir para contarla, November 2003 sepanjang hampir 500 halaman. Sejak tahun 1999, Gabito, demikian ia biasa disapa, menderita kanker limpa dan menarik diri dari kehidupan publik selepas membeli sebuah perusahaan surat kabar di negaranya, Kolombia, serta aktif dalam menjembatani negosiasi di antara pemerintah dan kaum gerilyawan yang mencarut-marut negeri tersebut dalam perang saudara berkepanjangan. Bersama isterinya, ia menyepi di Mexico City, tempat ia banyak tinggal, dan memutuskan untuk menulis memoar dalam bentuk trilogi. Living to Tell the Tale merupakan yang pertama, dan barangkali merupakan yang paling dinanti dunia sastra, berbagi bersama buku anyar peraih Nobel lainnya yang terbit hampir bersamaan, semacam Love karya Toni Morrison.
baca selengkapnya »

Oleh: Nur Mursidi, guebisa.com


Foto oleh endolith, Some rights reserved.
 

Siapa tak kenal dengan Pramoedya Ananta Toer? Seperti dikemukakan A Teeuw ia adalah sastrawan, penulis cerita dan pengarang prosa Indonesia nomer wahid dan tanpa saingan dalam abad ke-20. Selain itu, ia adalah satu-satunya sastrawan Indonesia yang pernah dicalonkan untuk mendapatkan hadiah Nobel di bidang sastra. Ungkapan A, Teeuw dan pencalonan terhadap dirinya itu, sebenarnya tidaklah berlebihan.

Karena karya-karya yang lahir dari pena sastrawan kelahiran Blora, 6 Februari 1925 itu memang mampu membuat pembaca terpukau dan berdecak kagum. Hampir setiap karyanya, setidaknya bisa kita dilihat adanya nuansa kemanusiaan yang cukup kental dan itu diusung Pramoedya dengan piawai sehingga pembaca bisa-bisa akan menangis tatkala membacanya.
baca selengkapnya »