
Foto oleh NTLam, Some rights reserved.
Ibu memintaku pergi bersamanya untuk menjual rumah. Ia datang pagi itu dari sebuah kota di mana keluarga kami tinggal, dan tak tahu bagaimana menemukanku. Ia bertanya pada beberapa kenalan dan diberitahu untuk mencariku ke Libreria Mundo, atau di kafe-kafe sekitar, tempat aku ke sana dua kali sehari untuk ngobrol dengan teman-teman penulis. Seseorang yang memberitahunya mewanti-wanti: “Hati-hati, sebab mereka semua tak punya otak.” Ia datang tepat pukul dua belas. Dengan langkah ringannya ia berjalan di antara meja tempat buku dipajang, berhenti di depanku memandang ke mataku dengan senyum nakal masa-masa bahagianya, dan sebelum aku bisa menanggapi ia berkata:
“Aku ibumu.”
Itulah bagian pembuka buku teranyar Gabriel Garcia Marquez, terbit dalam edisi Inggris sebagai Living to Tell the Tale yang diterjemahkan oleh penerjemah utamanya Edith Grossman (selain Gregory Rabassa yang menerjemahkan Cien anos de soledad sebagai One Hundred Years of Solitude) dari edisi Spanyol Vivir para contarla, November 2003 sepanjang hampir 500 halaman. Sejak tahun 1999, Gabito, demikian ia biasa disapa, menderita kanker limpa dan menarik diri dari kehidupan publik selepas membeli sebuah perusahaan surat kabar di negaranya, Kolombia, serta aktif dalam menjembatani negosiasi di antara pemerintah dan kaum gerilyawan yang mencarut-marut negeri tersebut dalam perang saudara berkepanjangan. Bersama isterinya, ia menyepi di Mexico City, tempat ia banyak tinggal, dan memutuskan untuk menulis memoar dalam bentuk trilogi. Living to Tell the Tale merupakan yang pertama, dan barangkali merupakan yang paling dinanti dunia sastra, berbagi bersama buku anyar peraih Nobel lainnya yang terbit hampir bersamaan, semacam Love karya Toni Morrison.
baca selengkapnya »
Komentar Terbaru