Oleh: Nuruddin Asyhadie 


Foto oleh seeks2dream, Some rights reserved. 

Kehidupan sastra adalah kehidupan tiruan, denting gelas para copycat. Sejarah sastra sendiri tersaji sebagai sejarah mutasi tak bertepi. Adakah kisah lain di luar Ramayana dan Mahabaratha? Karya seagung Illiad Homerus pun lahir dan menyusu pada dua maha epos tersebut; Alenka adalah purwarupa Troya, demikian pula relasi Shinta dengan Helena, Atalas (Syiwa) dengan Atlas, pertarungan Indra vs Writa dengan pergulatan Zeus vs Typhon atau Herkules vs Kakkus. Siapa pula yang bisa menjamin bahwa Mahabaratha dan Ramayana bukan sebuah salinan dari kisah-kisah lain yang muncul sebelum 600 tahun SM?
read more »

Oleh: Nenie Muhidin, On/Off, 12/2003


Foto oleh ribena_wrath, Some rights reserved. 

Jumat, 10 Januari 2003, lepas Isya.

Pertama kali dia menyapaku dengan “Harusnya bisa”. Datar dia mengucap itu padaku sambil sedikit tersenyum. Tidak ngakak dengan gigi-gigi putih yang bersih. Itu dia ucapkan karena sebelumnya aku sempat ngomong “Mudah-mudahan kawan-kawan di Bandung bisa bekerja sama”. Ini soal rencana awak ON/OFF launching ke Bandung. Ini soal tawaran dariku untuk mungkin bisa bekerja sama dengan beberapa komunitas sastra di Bandung yang kebetulan aku kenal. Waktu itu aku ngobrol soal toko buku kecil, Tarlen dan Klab Baca.
read more »

30  November  2003

Menulis Sejarah, Membangkitkan Tokoh dari Kubur

Realisme Magis dalam Novel ‘Cantik itu Luka’

Oleh: Alex Supartono
Sumber: Kompas


Foto oleh T. Keller, Some rights reserved. 

Dengan judul Cantik Itu Luka (CIL) dan desain sampul yang tidak memadai, kesan pertama yang muncul pada novel karya Eka Kurniawan ini adalah murahan. Namun demikian, kesan ini dengan cepat akan terbantah bila melihat ketebalannya. Novel debutan ini bahkan disebut-sebut sebagai yang terpanjang yang pernah ditulis dalam bahasa Indonesia, mengalahkan Arus Balik (1995) karya Pramoedya Ananta Toer. Sedangkan dari usianya, Eka Kurniawan (1974- ) juga menggetarkan nyali para penulis kawakan yang hanya sibuk mengais karya lama untuk dijadikan antologi. Ketebalan memang tidak berbanding lurus dengan kualitas, namun kerja keras bagaimanapun juga layak mendapat penghargaan yang memadai.
read more »

Oleh: Nur Mursidi 


Foto oleh orangeacid, Some rights reserved. 

Cantik Itu Luka, demikianlah Eka Kurniawan, sang pengarang, memberi judul pada novel pertamanya yang telah diterbitkan Desember tahun lalu atas kerja sama AKY (Akademi Kebudayaan Yogyakarta) dan penerbit Jendela. Sungguh satu judul yang bisa dikata cukup melankolis dan manis. Selain itu, ditulis oleh seorang pengarang yang namanya hampir tak pernah nongol di lembaran sastra koran minggu. Tampaknya tak berlebihan kalau kehadiran Cantik Itu Luka ini kemudian sempat membuat dunia sastra mutakhir Indonesia seperti dikagetkan saja.
read more »

05  July  2003

Pascakolonialitas dalam Novel Cantik itu Luka

Tetapi Kutukanku akan Terus Berjalan

Oleh: Katrin Bandel
Sumber: Meja Budaya


Foto oleh INTVGene, Some rights reserved. 

Dalam eseinya “Air Bah dalam Novel ‘Cantik itu Luka’” di Media Indonesia 2 Maret 2003, tampak jelas kebingungan Maman S. Mahayana dalam menghadapi karya Eka Kurniawan itu. “Estetika model mana yang hendak dimainkan Eka Kurniawan dalam Cantik itu Luka?” tanyanya. Novel Eka itu bukan karya realis seperti karya Pramoedya Ananta Toer misalnya, tapi juga bukan karya eksperimental gaya Iwan Simatupang atau Putu Wijaya. Jadi karya apakah Cantik Itu Luka, dan di mana posisinya dalam peta sastra Indonesia?
read more »

Oleh: Raudal Tanjung Banua 


Foto oleh gotplaid?, Some rights reserved. 

Membaca novel “Cantik Itu Luka” karya Eka Kurniawan (Aky Press-Jendela, 2003) kita akan bersua cinta membara di antara tokoh-tokohnya. Di tengah ”kegilaan” nilai-nilai seperti pelacuran, perselingkuhan, perang, pembanditan, dan kekuasaan, cinta menjadi sangat esensial, baik bagi ”muatan moral” - kalau memang pertanggungjawaban kepada publik pembaca masih mempertimbangkan unsur ini - maupun bagi jalan cerita secara keseluruhan.

Ya, karena cinta, sebuah ungkapan tanpa tedeng aling-aling mengalir dari kalimat Eka: ”Pelacur dibayar pakai uang, istri dibayar dengan cinta!”
read more »

Oleh: Bindhad Nurrohmat


Pierre Puvis De Chavannes: The Toilette, foto oleh freeparking, Some rights reserved. 

Membaca novel bagi pembaca bebas dan impresif, tak selalu, apalagi harus, mengejar kalimat pertama hingga terakhir hanya demi menggapai keutuhan yang serbapadu dari aneka unsur yang berhuni di dalam novel. Kadang justru bukan keutuhan itulah yang menyihirkan pesona dan mungkin juga justru bukan keutuhan itu yang sangat disengaja penulis sebagai incaran strategi estetika novelnya. Maka memaksakan keutuhan pada setiap novel menjadi sebentuk praktik penilaian yang tak adil dan melanggar kebebasan ekspresi estetik.

Sebaris kalimat singkat atau selarik ungkapan pendek yang bagus pada halaman kesekian dari sebuah novel sehingga menancap hebat dalam ingatan atau mendapat pencerahan dari bagian kecil cerita atau benang merah dari desain besar sebuah novel (bukan detail-detail kecil) pun sudah cukup meskipun ini tak selalu dapat ditemui pada semua novel.
read more »

Oleh: Nur Mursidi 


Foto oleh Gaetan Lee, Some rights reserved. 

Eka Kurniawan, tampaknya sungguh-sungguh ingin menjadi seorang sastrawan. Setelah menerbitkan kumpulan cerpen dalam antologi Corat-coret di Toilet (1999), alumnus Fakultas Filsafat UGM ini tampaknya tak mau kepalang tanggung dengan merilis sebuah novel. Meski namanya belum begitu “terdengar” dalam belantara sastra, namun novel Cantik Itu Luka ini, begitu diluncurkan ke pasaran, tak berlebihan kalau membuat kalangan sastra sempat tercengang, kagum, dan bahkan hampir tak percaya.
 
Bagaimana tidak? Novel Cantik Itu Luka dengan tebal 517 halaman bisa dikatakan telah mencatat rekor baru dalam sejarah perjalanan novel Indonesia sebagai novel paling tebal yang dihasilkan sebagai karya perdana. Selain itu, lewat novel ini pengarang juga telah melakukan inovasi baru berkaitan dengan model estetika serta gaya penceritaan sebagai satu bentuk pemberontakan atas mainstream umum. Meski tak dipungkiri masih tampak kuatnya pengaruh dari realisme sosialis yang dikembangkan Pramoedya –sosok yang dikagumi dan sempat diangkat pengarang untuk sebuah skripsinya; Realisme Sosialis Pramoedya Ananta Toer, Suatu Tinjauan Filsafat Seni.
read more »

Quote: Horison, Maret 2003 - 19 March 2003 »
Inilah sebuah novel berkelas dunia! Membaca novel karya pengarang Indonesia kelahiran 1975 dan alumnus Filsafat UGM ini, kita akan merasakan kenikmatan yang sama dengan nikmatnya membaca novel-novel kanon dalam kesusastraan Eropa dan Amerika Latin. Kecakapan Eka mengisahkan kejatuhan sebuah keluarga incest dengan titik pusat pengisahan pada tokoh Dewi Ayu (lahir dari ayah Belanda dan ibu Nyai) dalam gaya berkisah yang dengan enteng mencampuradukkan realisme dan surealisme, mengawinkan kepercayaan-kepercayaan lokal dengan silogisme filsafat yang membobol semua tabu, dan memberikan hormat yang sama pada realitas sejarah dan mitos, merupakan pencapaian luar biasa mengingat novel ini merupakan novel pertamanya. Di akhir masa kolonial sebuah Suratan yang aneh memaksa Dewi Ayu, seorang perempuan elok, memasuki kehidupan yang tak pernah dia bayangkan: menjadi pelacur. Kehidupan sebagai pelacur terus dijalaninya sampai ia memiliki tiga anak gadis yang cantik. Ketika ia mengandung anaknya keempat ia berharap anaknya buruk rupa. Itulah yang terjadi. Si buruk rupa itu ia beri nama si Cantik. Sebagaimana layaknya novel-novel kuat, tokoh-tokoh dalam novel ini perkembangan karakter dan fase hidupnya dikawal dengan teliti dari awal hingga akhir sehingga kemungkinan terjadinya desepsi dan akronisme peluangnya tertutup sama sekali.
(HORISON, edisi Maret 2003) (Read Comments: 0)
Oleh: Muhidin M. Dahlan 


Foto oleh Pσrcelαΐηgΐrl°, Some rights reserved. 

Dewi Ayu, si pelacur cantik di era kulit kuning mata sipit, terluka oleh lahirnya tiga anak haram yang cantik-cantik. Kecantikannya dan juga kecantikan tiga orang anaknya telah membawa malapetaka bagi generasinya. Karena itu, ia mengutuknya. Ia berdoa –tepatnya memaksa yang ada di langit sana– agar anak keempat yang ada dalam rahimnya buruk rupa. Dan doa itu terkabulkan. Wajah bayi itu buruk rupa. Ironisnya –atau penuh kebanggaan– Dewi Ayu memberinya nama Cantik.
 
Tetapi, Cantik Itu kini dilukai, bukan oleh kecantikan tiga dara, melainkan oleh sebuah artikel Maman S Mahayana di MIM (2/03/2003) yang bertitel: “Air Bah ‘Cantik Itu Luka’”. Ia dilukai karena tidak manut terhadap hukum sejarah (formal), inovasi yang hanya sekadar berbeda, tak memiliki landasan estetika yang kukuh karena itu jatuh pada kubangan main-main yang ngawur.
read more »