Proses Menulis Skripsi

Buat yang sedang kuliah dan hendak skripsi, saya hendak berbagi bagaimana saya (dulu) menulis skripsi. Awalnya tulisan ini saya tulis terpenggal-penggal di twitter, sebelum saya tulis ulang untuk blog. Mudah-mudahan bisa sedikit mencerahkan.

Baiklah, studi kasusnya, tentu saja skripsi saya sendiri karena itulah yang saya ketahui. Skripsi saya sudah diterbitkan menjadi buku Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis (diterbitkan pertama kali oleh Yayasan Aksara Indonesia, 1999; kemudian oleh Penerbit Jendela, 2002; terakhir oleh Gramedia Pustaka Utama, 2006).

Baiklah, kita mulai. Karena skripsi saya hendak membahas Pramoedya Ananta Toer, tentu saja pertama-tama saya harus membaca karya-karyanya. Waktu itu saya belum tahu karya mana yang akan saya pergunakan, yang penting saya baca semua.
Baca selengkapnya …

  • 14-07-2010 » Menemukan laman skripsi S1 karya Wiwik Hidayati, lulusan Universitas Diponegoro tentang novel Cantik itu Luka, berjudul “Pengaruh Dominasi Penjajah atas Subalter dalam Novel Cantik itu Luka karya Eka Kurniawan, Analisis Berdasarkan Pendekatan Postkolonialisme”. Skripsi bisa dibaca dan didownload di sini. »

Eclipse: Ternyata Vampir Suka Baris-berbaris

Ya, itulah yang saya peroleh setelah nonton tiga film Twilight Saga, terakhir nonton “Eclipse”. Seringkali itu vampir-vampir berdiri berjajar. Kadang berpasang-pasangan. Berpose. Seolah-olah setiap mereka nongol, ada fotografer yang hendak memotret.

Soal berpose, si manusia serigala Jacob juga suka berpose. Bedanya kalo vampir suka bergerombol berjajar, manusia serigala sukanya memamerkan dada yang berlekuk-lekuk. “Apakah kamu selalu tak sempat pakai baju?”

Kembali soal berpose, para vampir juga gemar dandan. Mereka berpakaian modis. Saya enggak tahu darimana atau sejak kapan vampir punya selera yang bagus mengenai fashion. Liat saja, mereka selalu memakai jas rapi. Bahkan meskipun mereka habis bertarung (dimana gerakan merka bahkan tak bisa ditangkap mata), pakaian mereka enggak pernah kusut. Juga tak pernah berlepot darah.
Baca selengkapnya …

Diana Rahasia Hatiku

Pertama-tama, saya lebih merasa ini sebuah konser daripada drama musikal. Kedua, hmm … pertunjukan ini mengingatkan saya (juga kamu sekalian yang sudah menonton keduanya, saya yakin) dengan film “Across the Universe”. Apalagi fakta bahwa pertunjukan ini berdasarkan lagu-lagu Koes Plus, sementara film itu berpijak pada lagu-lagu The Beatles.

Ketiga, saya kok merasa pertunjukan ini seperti pertarungan antara sutradara (Garin Nugroho), penata musik (Yockie Suryoprayogo), dan kareografer (Eko Supriyanto). Dan siapa yang menang?
Baca selengkapnya …

Cantik itu Luka