Oleh: Melissa, kritikfeminis2005.blogdrive.com

barbie355
Foto oleh Iboy Daniel, Some rights reserved.

Cerpen “Bercinta dengan Barbie” adalah sebuah karya dari penulis bernama Eka Kurniawan yang terdapat dalam buku berjudul Gelak Sedih yang merupakan kumpulan hasil karyanya.

Judulnya yang begitu menarik, yaitu “Bercinta dengan Barbie”, begitu menggugah rasa ingin tahu ceritanya. Dari ceritanya yang sama menariknya dengan judulnya, kita bisa menemukan beberapa faktor yang mencolok mengenai hubungan antara suami dengan istri, laki-laki dan perempuan, pria dan wanita. Meskipun ide utama cerita ini kemungkinan tidak khusus mengarah pada masalah gender, tapi kita masih bisa mendapatkan gambaran tentang keresahan seorang istri, perempuan, wanita, dalam menghadapi suami, atau laki-laki dan pria, dalam melakukan hubungan sosial dengan mereka. Melalui beberapa unsur yang terdapat dalam cerpen “Bercinta dengan Barbie” ini, saya akan mencoba menganalisanya melalui sudut pandang para feminis.
baca selengkapnya »

Jorge Luis Borges

Bagian 1

“Bertahun lampau aku mencoba membebaskan diri darinya, serta melampah dari mite perkumuhan dan pinggiran kota ke permainan waktu dan ketakterhinggaan, namun permainan tersebut kini milik Borges, dan aku mesti merenungkan hal lainnya. Demikianlah hidupku merupakan suatu diri dan bayangan, sejenis fuga, serta sesuatu yang tertinggalkan - dan segalanya berakhir lenyap dariku, dan segalanya jadi terlupakan, atau hengkang ke genggaman si orang lain. Aku tak tahu siapa di antara kami tengah menulis halaman ini.”
baca selengkapnya »

Oleh: H Tanzil, bukuygkubaca.blogspot.com


Foto oleh jurek d., Some rights reserved.

Eka Kurniawan adalah penulis muda berbakat dimana novel pertamanya “Cantik Itu Luka” (2002) banyak mendapat sambutan positif dari para pengamat sastra Indonesia. Seolah ingin mengokohkan dirinya sebagai novelis, kali ini Eka Kurniawan melahirkan novel terbarunya yang berjudul “Lelaki Harimau”. Berbeda dengan Cantik Itu Luka yang mengusung gaya realisme magis, novel Lelaki Harimau ini ditulis dengan gaya realisme. Katrin Bandel seorang pengamat Sastra Indonesia dari Universitas Hamburg dalam salah satu ulasannya mengatakan “mungkin novel ini dapat dikatakan sebgai novel psikologis karena kekuatan novel ini terletak pada kekayaan dan ketepatan deskripsi pengalaman, pikiran, dan perasaan para tokoh utamanya yang membuat tingkah laku mereka menjadi meyakinkan secara psikologis.”
baca selengkapnya »


Foto oleh chaosinjune, Some rights reserved.

Lelaki tua itu sudah genap delapan puluh empat hari tak memperoleh ikan. Kita tahu itu merupakan pembukaan kisah Lelaki Tua dan Laut Ernest Hemingway. Kita juga tahu lelaki tua itu kemudian membuktikan dirinya masih nelayan yang boleh diperhitungkan. Setelah berhari-hari melaut, ia akhirnya berhasil mengalahkan seekor ikan marlin besar.

Novel itu sering dirujuk sebagai novel eksistensialis paling berhasil. Pembuktian bahwa manusia mampu mengalahkan alam. Saya tak akan memperdebatkan hal itu. “Mereka mengalahkanku, Manolin,” kata lelaki tua itu. “Mereka benar-benar mengalahkanku.” Akhir dari kisah itu sesungguhnya tak hanya bahwa si lelaki mengalahkan marlin besar.
baca selengkapnya »

”Aku menemukanmu dalam pelarian,” tulis Intan Paramaditha dalam pembukaan cerita pendek “Mak Ipah dan Bunga-Bunga”, (Sihir Perempuan, Kata Kita, 2005).


Foto oleh kevindooley, Some rights reserved.

Perhatikan dengan saksama kalimat pembuka itu. Siapa yang sedang dalam pelarian? Aku atau kamu, atau keduanya? Kalimat yang tak memberi kepastian apa pun seperti itu dengan mudah kita temukan dalam hampir setiap buku kumpulan cerpen atau novel yang datang dari para penulis generasi paling mutakhir.
baca selengkapnya »

And we caused the clouds to overshadow you, and we sent down manna and quails upon you.
The Koran 2:54


Photo by Rev Dan Catt, Some rights reserved.

Initially Maharani had hoped to find a new recipe at the city museum, but this was what she found:

A long time ago, a Bugis fishing ship sank in a storm in the Atlantic. There was only one survivor, a young man with leather pouch filled with spices, who had been rescued by a Portuguese merchant ship. They provided him with the plainest of European food, which sent him rushing into the kitchen where he took over as undisputable master of spices. That evening the tongues of all the ship’s occupants tingled, experiencing a sensation that their ancestor had never encountered.

Among all the history books and other volumes, only one Spanish encyclopedia, published in 1892, mentioned that man’s name, despite his significance to the history that followed. He has been forgotten by history, but to him we owe thanks for sending the traders of the West our way, along with the rats smuggling themselves on the Spanish ships, which came for the direct purchase of more of the aforementioned spices. This was the beginning of the greed of Europe, and the Dutch followed with their huge company. baca selengkapnya »

Oleh: Damhuri Muhammad


Foto oleh: piccadillywilson, Some rights reserved.

Disadari atau tidak, setiap “tukang” cerita meneladani kecerdasan Syahrazad. Permaisuri pendongeng dalam kisah Seribu Satu Malam yang mesti “berjuang” menyelesaikan sepenggal kisah demi tertundanya ancaman maut satu malam lagi. Bilamana sang permaisuri itu masih ingin bertahan hidup, ia harus merangkai sepenggal kisah lagi untuk mengulur waktu kematiannya satu malam lagi.

Begitu seterusnya, hingga tak terasa ia sudah menghabiskan 1001 malam untuk merajut kisah-kisahnya. Begitu juga kesan saya setelah membaca cerpen “Dongeng Sebelum Bercinta” dalam antologi Gelak Sedih (Gramedia, Jakarta, 2005) karya Eka Kurniawan. Alamanda, perempuan yang tak berdaya menolak pernikahannya dengan lelaki sepupu sendiri, mencoba bersiasat agar suaminya tak beroleh kesempatan menjamah tubuhnya, “bercinta”layaknya hubungan suami-istri.
baca selengkapnya »


Foto oleh: jurek d., Some rights reserved.

Membaca komik Eko Nugroho, pentolan kelompok komikus Daging Tumbuh, berjudul The Konyol (Orakel, 2005), mengingatkan saya kepada sebaris kalimat dalam sebuah grafis mereka: “Jangan Ada Ganteng di Antara Kita.” Kalimat itu aneh, tapi terasa lucunya. Atmosfir seperti itulah yang saya pikir menyelimuti seluruh komik strip dalam buku tersebut.

Sedikit mengingatkan saya juga kepada kartunis Malaysia, Lat, karakter-karakter Eko memperlihatkan gambar dalam satu garis yang nyaris tanpa putus, dengan kecenderungan memanjang-manjangkan hidung dan mulut. Gambaran seperti itu memberi karakter-karakternya sejenis roman kanak-kanak yang sedang mewek, tampang yang menyebalkan sekaligus menggemaskan.
baca selengkapnya »

Oleh: Sjaiful Masri, sriti.com, 17-5-2005


Foto oleh: gari.baldi, Some rights reserved.

Ibarat buah manggis, saya mengenal Eka Kurniawan berdasarkan cerita-cerita banyak orang. Jadi, kini saatnya saya ingin menebaknya… Maman S. Mahayana ‘mengundang’ saya untuk masuk dalam pertaruhan novel Cantik itu Luka. Saya ingin merasai bagaimana rasanya ‘air bah’ yang dimaksudnya itu… Yang saya temui adalah sebuah solmisasi, tangga nada yang harmonisnya bisa dirinci. Atau tepatnya tarot yang terkocok acak yang kemudian menyimpan risalah panjang yang asyik untuk dimainkan… Saya berbeda selera dengan Maman. Tebakan saya meleset. Air bah itu hanya berpusar pada ruang kepalanya, bukan Tsunami semesta.
baca selengkapnya »

Oleh: Wannofri Samry


Foto oleh: piccadillywilson, Some rights reserved.

Novel Cantik Itu Luka (2004) karya Eka Kurniawan bercerita mengenai keluarga besar Ted Stamler, seorang Belanda yang malang-melintang bekerja sebagai pejabat di akhir masa kolonial Belanda di Halimunda. Tempat itu adalah sebuah kota yang dilukiskan pengarang sebagai tempat menarik, penuh mitos dan begitu penting di ujung masa kolonial.

Tokoh sentral dalam novel ini adalah Dewi Ayu, anak Aneu Stamler atau cucu Ted Stamler. Dewi Ayu adalah anak perkawinan luar nikah dari dua bersaudara lain ibu. Namun kedua orang tua Dewi Ayu, Henri Stamler dan Anue Stamler meninggalkan Dewi Ayu begitu saja di depan pintu rumahnya dan mereka pergi angkat kaki ke negeri Belanda. Inilah awal kisahnya.
baca selengkapnya »