Foto oleh: stevecadman, Some rights reserved.

Di sebuah minimarket di pinggiran Mojave Desert, sambil minum soda kaleng seharga satu dolar yang saya beli dari mesin, saya memperhatikan perempuan tua di belakang konter. Ia membungkusi barang-barang yang dibeli pelanggan, mengembalikan uang kembalian, dan bersenda gurau dengan pengunjung. Tiba-tiba saya bertanya kepada diri sendiri tentang “roh” Amerika.

Dimanakah terletak “roh” Amerika? Jika saya boleh berpendapat, salah satunya akan saya sebut Mojave Desert. Itu merupakan padang batu yang membentang dari negara bagian California hingga Nevada, lalu menyambung pula menuju Arizona. Sebagian daerahnya juga terdapat di Utah. Saya tak bisa menyebutnya padang rumput, meski di sana ada belukar tumbuh; tidak pula padang pasir, meski di sana tentu terhampar pasir, di atas batu-batu masif sebesar gunung. Di sini pula kita akan menemukan satu daerah bernama Death Valley atau Lembah Kematian.
baca selengkapnya »


Foto oleh Montana Raven, Some rights reserved.

“Raja yang memerintah di kerajaan Pajajaran (Pasundan) yang beribukota di Pakuan adalah Sri Baduga Maharaja yang disebut juga Ratu Dewata. Ratu Dewata memunyai seorang puteri yang terkenal sekali karena kecantikannya. Puteri ini bernama Diah Pitaloka Citraresmi …” Begitulah gaya khas Asmaraman S Kho Ping Hoo memberi latar sejarah dalam kisah fiksinya, Satria Gunung Kidul.

Sudah menjadi kecenderungan novel silat untuk mendasari kisahnya pada kurun peristiwa sejarah tertentu. Nagasasra Sabuk Inten SH Mintaraja dan Senopati Pamungkas Arswendo Atmowiloto mengambil latar Mataram. Tutur Tinular S Tidjah berbayang puncak kejayaan Singasari.
baca selengkapnya »

23  November  2006


Foto oleh venkane, Some rights reserved.

Sepuluh tahun lalu, dalam cerita pendek berjudul “Sleeping Beauty and the Airplane”, Gabriel Garcia Marquez membayangkan naratornya sebagai seorang feodal Jepang yang keranjingan melihat perempuan cantik sedang tidur. Seketika saya menyadari rujukan yang dimaksudnya adalah tokoh-tokoh dalam kebanyakan novel Yasunari Kawabata. Dan melihat gaya lirisisme di cerita pendek itu, serta cara pandang atas tubuh perempuan, saya juga mulai merasa ia terobsesi kepada gaya neosensualisme penulis besar Jepang tersebut. Puncak obsesinya, saya pikir bisa dilihat di novel terbarunya, Memories of My Melancholy Whores.

Obsesi itu mungkin sudah terasa sejak Love in the Time of Cholera, meski di sana ia masih memperlihatkan kecenderungan dari masa sebelumnya. Di novel-novel awalnya, kita tahu absurditas, magisme, perayaan kebanalan, labirin alurnya, ungkapan-ungkapan hiperboliknya, merupakan obsesinya terhadap dua raksasa lain: William Faulkner dan Franz Kafka. Memang ada pelacur kecil dan perayaan atas tubuh perempuan dalam Innocent Erendira, tapi lebih mudah membayangkan Erendira sebagai salah satu tokoh Faulkner daripada sebagai geisha dalam novel Kawabata.
baca selengkapnya »


Foto oleh ThunderChild5, Some rights reserved.

Sudah jamak diketahui, sebagian besar pengagum karya-karya Pramoedya Ananta Toer adalah kalangan anak-anak muda penggila sastra. Tapi kekaguman itu belum disertai kajian kritis dan berimbang terhadap sosok kepengarangannya yang masih tampak bermuka dua itu. Belakangan ini, para pembaca setia itu nyaris tergelincir pada kekaguman yang berlebihan. Kecenderungan ini telah mendedahkan terminologi baru yang disebut Pramisme. Ini cukup berbahaya. Pram bisa saja berubah jadi ‘berhala’ yang selalu dipuja, tanpa cela.

Di sinilah pentingnya kajian komprehensif yang dilakukan sastrawan muda, Eka Kurniawan, lewat bukunya Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis. Buku ini dapat dianggap sebagai yang pertama membincang Pram dari sudut pandang anak muda. Eka hendak meluruskan kesimpangsiuran pemahaman terhadap realisme sosialis sebagai pijakan estetik kepengarangan Pram.
baca selengkapnya »


Foto oleh: john_a_ward, Some rights reserved.

Tugas pertama seorang penulis, menurut saya, kurang lebih mirip dengan juru masak, yakni: tidak membuat tulisan yang tidak enak dibaca. Menulis apa pun, baik sekadar surat pembaca maupun traktat filsafat, sebaiknya memang enak dibaca. Percuma bukan, menulis ratusan halaman jika orang hanya betah membaca satu-dua paragraf? Percuma bukan, memasak berloyang-loyang jika orang hanya tahan makan satu suap?

Dalam proses kreatif saya sebagai penulis, saya belajar banyak dari para juru masak (dan bukan kebetulan jika saya pernah menulis sebuah cerita pendek mengenai juru masak terkenal abad kesembilan belas, berjudul “Kutukan Dapur”, dalam Cinta tak Ada Mati). Seperti para juru masak, saya selalu berusaha memperoleh bahan-bahan terbaik (segar dan bergizi) untuk setiap tulisan.
baca selengkapnya »

"Koper" Karya Richard Oh - 30 August 2006 »
Untuk kali pertama, saya main film (Koper, 2006, karya Richard Oh -- saya bermain sebagai Bapak Guru!). Jadi jangan heran kalau nama saya ada di Internet Movie Database yang terkenal itu, hehehe. Sebenarnya saya main hanya tiga scene, meski pengambilan gambarnya membutuhkan waktu dua malam yang melelahkan. Tidak pantas, lah, saya disebut kameo. Yang bener: figuran. Apa pun, itu pengalaman yang mengasyikan. Richard sebagai sutradara tampaknya puas dengan akting saya. Sebenarnya tak ada maksud saya main film. Waktu itu sebenarnya saya sedang melihat Richard dan kru-nya berlatih. Tiba-tiba, ia menodong saya untuk memerankan Bapak Guru, karena pemeran yang awalnya direncanakan tidak datang. Sekadar membantu, waktu itu saya terima (karena pikir saya, cuma menggantikan pas latihan dialog). Eh, malah kemudian disuruh main beneran di depan kamera. Sayang di video trailer ini, tak ada bagian saya. Mudah-mudahan, suatu hari saya bisa menampilkan klip di blog ini pas bagian saya main di film tersebut. Atau kalau penasaran, nonton saja filmnya. Hehehe. (Baca Komentar: 1)


Foto oleh ThunderChild5, Some rights reserved.

Sebagai salah seorang sastrawan Indonesia, menurut Umar Kayam, Pramoedya Ananta Toer merupakan seorang figur transisional. Umurnya di sekitar angka yang sama dengan kebanyakan sastrawan Angkatan 45, tetapi latar belakang pendidikan (di mana ia tidak termasuk yang bersekolah pada sekolah menengah Belanda) dan latar belakang budaya Jawa-nya yang begitu kuat, membuatnya berbeda dengan anggota lain kelompok tersebut.

Cerita-cerita yang ia tulis tidak menampakkan tradisi jenaka dan sarkastik sebagaimana Idrus, Balfas, atau Asrul Sani, melainkan justru lurus, serius, dan dengan gaya naratif dramatis. Bahasanya pendek dan penuh sugesti, seperti narasi yang biasa dibawakan seorang dalang pada pertunjukan wayang.
baca selengkapnya »

Oleh: Goenawan Mohamad


Foto oleh ThunderChild5, Some rights reserved.

Di tahun 2006 ini Pramoedya Ananta Toer meninggal dan kita mewarisi sebuah ikon dan sejumlah karya. Yang belum banyak diingat ialah bahwa ia juga meninggalkan sebuah gagasan tentang sastra yang sebenarnya kontroversial.

Di tahun 1963, ia menyusun satu risalah tentang “Realisme Sosialis”, doktrin yang bagi Pramoedya dapat dan semestinya diterapkan sebagai dasar praktek sastra dan kritiknya. Meskipun dalam wawancaranya dengan Tempo 4 Mei 1999 ia mengatakan, “Saya tak pernah membela realisme sosialis”, risalah yang kemudian diterbitkan dalam bentuk buku dengan judul Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia itu adalah advokasi yang bersemangat untuk doktrin itu.
baca selengkapnya »


Foto oleh: Star Dust, Some rights reserved.

“Mengapa orang-orang ini tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati? Aku ingin dunia ini seperti pasarmalam.” Demikian tulis Pramoedya dalam novelnya yang paling mengesankan, Bukan Pasarmalam. Ada daya hidup dalam tekanan kalimat seperti itu, namun sekaligus rasa tak berdaya. Demikian pula kesan ketika mendengar namanya, terutama dua hari terakhir ketika stasiun televisi menayangkan sang Maestro berbaring di ranjang Rumah Sakit St. Carolus dalam keadaan koma.
baca selengkapnya »

opium355
Foto oleh Dany3D, Some rights reserved.

But who are they (this whole class of opium eaters)? Reader, I am sorry to say, a very numerous class indeed … I do not readily believe that any man, having once tasted the divine luxuries of opium, will afterward descend to the gross and mortal enjoyments of alcohol. I take it for granted: that those eat now, who never ate before … and those who always ate, now eat more.
Thomas de Quincey, Confessions of an English Opium Eater

Her eyes were dreary, with her very curved eyelashes. And if she spoken, we could hear that melodious voice of her. Once in a while her lips would give us smile, making our heart intoxicated, going up to the seventh sky. The more I loved her, the more she loved me too. Then I would touch her fingers and we hold our both hands for so long. Everyday was like that, until she had to leave this cruel world. Alone and languish.

This is not a tale nor a roman. No, my sensible reader, these notes not mean by the writer as that. I wrote this as a warning for anyone that were willing to see for a while, on what things had happen to me. Maybe one of them will be useful to be pick on its goodness. baca selengkapnya »