Foto oleh gari.baldi, Some rights reserved.

Initially written a thesis for his philosophy degree in Universitas Gadjah Mada, Eka, evidently deferential to Pramoedya but at the same time also critically sensible, offers a comprehensive basic text on (as the title suggests) Pramoedya Ananta Toer and (his role in) the growth of Socialistic Realism in relation to the global movement as well as local figures/parties. Covering general as well as specific historical facts with lucid clarity, the book assumes little familiarity with Indonesian history and is accessible to general readers.

Born in Blora on February 6, 1925, he was the first child of Pak Mastoer, a political activist (in PNI) and a HIS (and later IBO) teacher. His mother, Oemi Saidah, was a daughter of a village (Rembang) chief’s mistress, who was to be the well-known inspiration for Gadis Pantai. Pram didn’t stand out in his early schooling, his writing and intellectual activities became more visible once he left for Jakarta, compiling meticulous research, documentation and translation on history, philosophy and literature (which became instrumental sources and elements for his writings).
baca selengkapnya »

Khatulistiwa Literature Award lagi! Kebanyakan minum lagi! Istriku kembali nyebur kolam di Apartemen Senayan. Zen Hae sempat ngilang dicari istrinya, ternyata buang air di toilet (ah, sebenarnya saya jagoin dia menang tahun ini!). Kumpul-kumpul dengan para penulis seperti tahun-tahun sebelumnya. Yang beda, tahun ini agak molor. Biasanya November atau Desember: sekarang Januari! Tak apalah …
 
Dan pemenangnya: Acep Zamzam Noor (Menjadi Penyair Lagi…, Pustaka Azan) untuk kategori puisi. Saya pertama kali kenal karyanya waktu masih di Yogya lewat buku puisi pertamanya, Di Atas Umbria (diterbitkan IndonesiaTera). Terus waktu sering nongkrong di Aksara Indonesia, Acep juga nerbitin buku di sana. Judulnya Dongeng Dari Negeri Sembako. Ternyata dia nerbitin dua (atau tiga?) buku lagi, tapi saya tak begitu mengikuti, sampai bertemu dengan Menjadi Penyair Lagi… ini.
baca selengkapnya »



Foto oleh: pasotraspaso, Some rights reserved.

Pernah baca Haruki Murakami? Salah satu cerpen saja! Uh, dia sekarang ini mungkin pengarang hebat yang masih hidup dan masih rajin menerbitkan buku. Tidak sembarang buku, tapi buku yang asyik. Tahun lalu saya baca bukunya yang paling baru After Dark. Kejadiannya cuma semalam (ini sih biasa), tentang orang yang tidur nggak bangun-bangun (nah, yang ini gayanya Murakami, kira-kira kayak menyeret kisah al-kahfi si manusia gua yang tidur lama itu, ke setting modern; di Jepang pula!).
 
Seperti biasa pembaca yang malas, saya membaca Haruki Murakami awalnya hanya cerpen-cerpennya. Lumayan pendek untuk dibaca sambil makan donat, meskipun nggak bisa dibilang lebih pendek dari cerpen kebanyakan di Indonesia (yang sejujurnya cuma sepanjang satu jengkal setengah agar bisa dimuat di koran dan dapat honor 300rb sampai 1,5 juta tergantung korannya).
baca selengkapnya »


Grafis oleh Derrick T, Some rights reserved.

Pembukaan

Sastra bersama ilmu filsafat merupakan mother of science. Sebagai ibu dari ilmu pengetahuan, di masa lampau sastra adalah milik kolektif rakyat. Rakyat mengkreasinya, memproduksinya dan dinikmati bersama-sama. Maka tak heran, karya-karya sastra lama tak memiliki pengarangnya yang jelas dan hanya dituliskan N.N. Hal ini berbeda dengan sekarang, di mana sastra terkesan sedikit jauh dengan masyarakat kebanyakan.

Dalam perjalanannya, sastra (baca karya sastra) mengalami banyak perubahan dan perkembangannya, sehingga kita mengenal banyak sekali aliran dan jenis karya sastra. Untuk sekadar contoh, fiksi sains, fiksi detektif, fiksi sejarah dan masih banyak lagi, mewarnai dunia sastra. Ini merupakan konsekuensi dari semakin kompleksnya kehidupan manusia dari hari ke hari. Maka, sastra yang dipercayai sebagai sebuah bentuk refleksi sastrawan terhadap kehidupan pun ikut menjadi kompleks, sekompleks kehidupan yang menjadi sumur inspirasi utamanya.
baca selengkapnya »


Foto oleh Mayr, Some rights reserved.

Salam Hormat.
Kebetulan sahaja, saya mula jatuh cinta kepada gaya penulisan Eka Kurniawan. Makanya, saya ingin sahaja tahu perkembangan terkininya dengan menembusi jaringan maya. Bagaimana saya boleh terserempak dengan laman sriti.com, pun juga suatu kebetulan. Tetapi, alam ini sebegitu cantik dan berseni, bukan diciptakan secara kebetulan. Tuhan telah mengatur dengan secanggih-canggihnya kehidupan di atas muka bumi buat manusia (yang berfikir). Tidak seperti yang disangka oleh saintis barat. Dunia ini bukan bola kimia yang terapung. Maka itu, mimpi pun terasa indah.
baca selengkapnya »

18  December  2007

Bi wa Kizu and the Image of Cultural Globalization in Contemporary Japan

A Case Study of an Indonesian Novel Translation

Oleh: Indah S. Pratidina
Sumber: ispdina.blogspot.com


Photo by ahisgett, Some rights reserved.

Japan’s role in globalizing Asia has been widely recognized. Ever since the 1990’s, Japan has been exporting waves of it’s cultural products such as anime or animated films, television dramas, music, manga or comics, novels, and so on. These spreads of cultural products across the borders of Asia have sprung new hope for Japan’s relationship with other Asian countries. Through the consumption of Japan’s cultural products, it can promote cultural dialogue, and hopefully Japan can overcome its unfortunate history with the rest of Asia, especially regarding to the World War II.
 
However, globalization not only demands an integration of cultural diversity in the global community. It also reflects peoples’ (nations’) needs to develop a strong self or cultural identity (ies). In this light, one can see that Japan is not only an exporter of media. Rather, Japan has also been receiving various media from other Asian countries; such as Korea with its television dramas.
baca selengkapnya »


Foto oleh ahisgett, Some rights reserved.

Kapan seseorang merasa telah menjadi seorang penulis? Bagi saya, itu ketika saya melihat apa yang saya tulis sudah dicetak. Jujur saja, saya barangkali termasuk pengidap grafomania, itu istilah Milan Kundera untuk mengatakan, orang yang senang mencetak apa pun yang ditulisnya. Tentu saja saya tidak mencetak apa pun yang saya tulis. Tapi, ya, saya senang jika apa yang saya tulis sudah dicetak. Mungkin penulis lain juga melakukannya: jika tulisan saya muncul di koran, saya suka memandanginya beberapa lama. Kadang tidak untuk membacanya, tapi hanya untuk melihatnya secara visual. Melihat tata-letaknya, melihat jenis hurufnya, kualitas cetaknya. Melihat bagaimana apa yang sudah saya tulis (termasuk nama saya) muncul di permukaan kertas. Entahlah, mungkin ada hubungannya juga dengan latar belakang saya sebagai desainer grafis (sekarang partikelir).
 
Tapi pengalaman melihat buku sendiri di toko buku, memberi efek yang sedikit berbeda. Bagi saya, sering menjadi semacam kerawanan. Ya, saya masih melihatnya sebagai sebuah efek visual. Buku saya dipajang di rak tertentu, berdampingan dengan buku lain. Saat itulah kerawanan pertama kadang-kadang muncul: mengapa sampul bukunya begitu, atau mengapa harus dijejer di samping buku dengan sampul seperti itu. Lain kali merasa sebal dengan posisi buku yang miring, hanya memperlihatkan punggung buku. Belum lagi memikirkan pertanyaan-pertanyaan sederhana, kenapa hanya ada tiga kopi buku di situ? Dimana yang lain, apakah disembunyikan di gudang? Atau sudah laku? Atau toko buku hanya memesan tiga kopi.
baca selengkapnya »

08  October  2007

Festival Penulis Tanpa Penulis

Ubud Writers & Readers Festival 2007

Dalam buku esai terbarunya, The Curtain, Milan Kundera menyinggung perihal sastra dunia (atau dalam istilah Goethe, Die Weltliteratur) dengan mengatakan: “Tidak, percayalah, tak akan ada yang mengenal Kafka saat ini—tak seorang pun—jika ia tetap menjadi seorang Ceko.”


Foto oleh Ratih Kumala

Konteks pernyataannya tersebut adalah meski Franz Kafka seorang Yahudi dan menulis serta tinggal di Ceko, pada kenyataannya Kafka dikenal sebagai penulis Jerman. Menurut Kundera, hanya karena menulis dalam bahasa Jerman dan kemudian diperkenalkan sebagai penulis Jerman, Kafka bisa kita kenal sekarang ini.
baca selengkapnya »

Oleh: Titon Rahmawan, langitkubiru.blogspot.com


Foto oleh venkane, Some rights reserved.

Bagi saya, “Cantik Itu Luka” karya Eka Kurniawan adalah merupakan sebuah terobosan literer di dalam khazanah sastra Indonesia. Cukup lama saya merasa tak mendapatkan kepuasan optimum setiap kali selesai membaca sejumlah novel-novel karya penulis asli Indonesia, yaitu semenjak terakhir kali saya membaca “Olenka” karya Budi Darma. Dan baru kali ini saya memperoleh kembali kenikmatan itu, setelah saya menyelesaikan pembacaan saya yang kedua kalinya atas “Cantik Itu Luka.”
baca selengkapnya »

Melalui kajian puisi dan cerpen Asrul Sani yang nisbiah jarang jumlahnya dibandingkan dengan esainya, terlihat bahwa cerpen-cerpen Asrul adalah cerpen ide, puisi-puisinya sarat dengan beban ide.

poetry3-355
Foto oleh J. Salmoral, Some rights reserved.

Dalam sepucuk esainya mengenai puisi Angkatan 45, atau dengan ungkapannya disebut sebagai generasi saya sendiri, Asrul Sani menulis: “Kita harus sampai pada puisi ’gigantis’ yang menyeluruh—sebagai imbangan dari robekan-robekan sepintas lalu yang diberikan emosi—yang mempunyai sumber pada serba manusia, serba hidup yang tak terbatas pada dunia. Dalam puisi ini emosi hanya pendorong ’perasaan’ yang dialami penyair untuk dirasakan penikmat.”
baca selengkapnya »