Petualangan Nggak Oke dengan Okevision

Ini merupakan catatan seorang konsumen. Tanggal 31 Oktober lalu ada mobil tv kabel menawarkan produknya di kompleks kami. Setelah bincang-bincang sebentar dengan salesnya, saya sepakat untuk memasang Okevision. Biaya yang dibayarkan meliputi biaya pemasangan dan iuran bulan pertama. Karena sedang promosi, kami bakal dapat langganan gratis satu bulan. Jadi iuran berikutnya bayar bulan Januari. Hari itu juga Okevision dipasang.

Awalnya berjalan baik. Petugas yang memasang bilang, saluran akan terbuka semua, untuk promosi. Tapi setelah seminggu hanya akan tayang yang kami langganin. Pihak Okevision akan telepon kami untuk mengkonfirmasi sebelum aktifasi permanen. Tunggu punya tunggu, telepon tak datang-datang. Seminggu akhirnya tayangan hilang. Saya telepon costumer service CS (atau apa ya, pokoknya di Call Center) Okevision dan dijawab akan diaktifkan. Malamnya memang kemudian aktif, tapi tayangan masih terbuka semua. Jadi saya pikir masih promosi. Benar juga: seminggu kemudian, mati lagi. Hanya ada tulisan “Kartu tayang ini tidak terotorisasi”.
Baca selengkapnya …

Sampul “Cantik itu Luka” versi Malaysia

Saya baru memperoleh kiriman sampul “Cantik itu Luka” versi penerbit Malaysia (diterbitkan oleh Marshall Cavendish). Saya belum memperoleh bukunya. Saya juga belum tahu seperti apa dunia perbukuan di Malaysia. Detail lebih lengkap mengenai penerbitan “Cantik itu Luka” (dalam terjemahan bahasa Melayu, bukan dalam Bahasa Indonesia), kapan-kapan saya tambahkan di blog ini. Untuk teman-teman di Malaysia yang tertarik membaca novel ini, sila mencarinya di toko buku setempat. Selamat membaca.

Sandal Jepit

Dalam enam bulan terakhir, saya menjebolkan tiga sandal. Sebenarnya rada membingungkan. Sandal pertama yang jebol bertahan dua tahun (itu sandal kedua yang bertahan lama, yang pertama dicuri orang di muka pintu). Jadi saya pikir sandalnya baik, karena tahan lama, dan jebol karena umurnya sudah tua. Akhirnya saya beli merk dan jenis yang sama (bahkan warnanya sama). Ampun, tidak sampai dua bulan, sudah jebol tali jempolnya.

Akhirnya saya beli lagi. Masih berbaik sangka, saya beli merk yang sama, tapi beda jenis dan beda warna. Yang ini bertahan sebulan. Kali ini tali samping yang jebol. Padahal saya jarang bepergian jauh. Paling banter kedua sandal itu saya pakai jalan-jalan di mall. Bahkan kalau nyetir, saya nyeker alias mencopot sandal. Yang ketiga ini jebolnya rada bikin sebal, tepat di parkiran Plasa Senayan. Akhirnya saya berjinjit-jinjit masuk mall dan beli sandal baru. Kali ini merk lain. Eh, sandal yang jebol kedua, sebenarnya kemudian dibenerin oleh tukang sol yang kemudian lewat depan rumah. Dijahit. Tapi jebol juga lagi. Kali ini saya pikir kesalahan harus ditimpakan kepada tukang sol yang tak bekerja dengan baik.

Tapi ngomong-ngomong soal sandal, saya suka sekali memakai sandal. Terutama dari jenis yang orang bule suka menyebutnya: flip flops (untuk membedakannya dengan sandal slipper). Kita menyebutnya: sandal jepit. Saya tentu saja juga suka sepatu, terutama sepatu kets. Tapi sandal jepit tetap merupakan aksesoris kaki saya yang paling utama. Praktis, ringan. Apalagi di udara tropis seperti Indonesia, sandal jepit membuat pori-pori kaki lebih leluasa bernapas (baiklah, yang ini alasan pembenaran saja, tapi memang benar, kan?).

Baca selengkapnya …

Battle of a Mermaid

Mermaid-color

Mermaid-frame

Multi-Bakat

Seperti lembaga bisnis, seseorang (individu), juga bisa merambah bidang pekerjaan maupun kegiatan ke sana-kemari. Jika perusahaan semacam itu menyebut dirinya sebagai “konglomerasi”, maka individu bolehlah kita sebut sebagai “multi-bakat”. Bukankah pada dasarnya begitu? Seseorang yang bisa mengerjakan banyak hal, di jenis-jenis yang berbeda, kita sebut sebagai multi-bakat?

Julukan ini bisa terdengar negatif maupun positif, tentu saja. Tergantung bagaimana kita melihatnya. Kadang-kadang saya merasa bahwa orang semacam ini serakah (saya sering merasakan keserakahan semacam ini di dalam diri saya sendiri). Kadang saya berpikir bahwa sebenarnya tak ada bakat sama sekali dalam diri orang semacam ini: ia hanya mencoba berbagai hal untuk menutupi ketidakmampuan dirinya dalam segala hal itu. Hal begini ada juga di dalam diri saya, dan sering membuat saya berpikir-pikir sendiri dan ngedumel sendiri. Tapi lain kali timbul pula pikiran positif saya. Seperti dalam bisnis, konglomerasi timbul untuk efisiensi diri. Mungkin begitu pula dalam diri individu.

Baiklah, mari kita lihat dari sudut pandang positif dulu. Perusahaan sepatu yang besar, barangkali akan lebih efisien jika ia memecah dirinya dalam banyak perusahaan yang lingkup kerjanya berbeda-beda, tapi berkesinambungan. Pertama-tama, ia tentu punya perusahaan induk, yang barangkali hanya mengurus bisnis sederhana: mengelola uang dan brand. Ia kemudian mendirikan perusahaan manufaktur; biasanya ditempatkan di negara-negara berkembang agar ongkos kerja murah, demikian juga barangkali pajak.

Baca selengkapnya …

Cantik itu Luka