Pentingkah membaca riwayat hidup penulis? Orang bisa berdebat soal ini, tapi bagi saya, tulisan tentang apa pun asal ditulis dengan baik layak untuk dibaca. Jika kita bisa menikmati riwayat hidup seorang jenderal atau pemilik pabrik jamu, kenapa kita tak bisa menikmati riwayat hidup seorang penulis? Bahkan tanpa harus mengenal karya-karyanya sekali pun. Sayang sekali “biografi” sebagai sebuah genre sastra merupakan barang yang langka di Indonesia. Coba tengok, apakah sudah ada biografi otoritatif mengenai Pramoedya Ananta Toer? Saya yakin sampai lima tahun ke depan atau lebih, belum ada. Jangan sebut penulis-penulis lainnya. Oh, memang akhir-akhir ini ada banyak “biografi” di pasaran, tapi saya tak yakin saya minat membacanya. Kebanyakan dari pseudo-biografi ini isinya tak lebih dari omongan si tokohnya, sedikit mirip memoar tapi ditulis orang lain. Begini. Bagi saya, biografi yang baik pertama-tama harus menempatkan apa pun yang dikatakan si tokoh sebagai sumber sekunder, atau bahkan sumber kesekian. Sumber yang kebenarannya paling layak diragukan. Bukan lagi rahasia, tokoh apa pun cenderung bias bicara tentang dirinya. Yang kecil bisa dibesar-besarkan, yang memalukan bisa disembunyikan. Apa pun yang keluar dari si tokoh, hanya bisa dipegang jika bisa diverifikasi ke sumber lain. Ini yang jarang saya dapatkan di buku-buku pseudo-biografi. Saya memikirkan ini sambil membaca buku berjudul Written Lives karya Javier Marías. Buku yang menyenangkan, yang saya rasa memberi cakrawala tambahan mengenai genre biografi. Berisi riwayat hidup 20 penulis (plus dua tulisan tambahan mengenai beberapa penulis), yang disusun sedemikian rupa sehingga seolah-olah menjadi cerita tersendiri, meskipun Marías meyakinkan kita bahwa tak ada apa pun di tulisannya yang dikarang-karang, dan semua yang ada di sana bisa dilacak sumbernya di tempat lain. Tentu saja ini bukan “biografi” yang ideal, dan sang penulis juga tidak bermaksud seperti itu, melainkan lebih menyerupai potret. Ya, potret: sekelumit bagian hidup seorang penulis, seringkali dalam bentuk close-up. Dengan mengacu sumber-sumber tertulis, ia “menciptakan” sosok-sosok para penulis ini dalam sudut pandang dia, dan hasilnya merupakan potret-potret penuh ironi dan kelucuan. Sebut misalnya potret mengenai Mishima dalam “Yukio Mishima in Death”. Ada bagian di mana pada tahun 1967 terdengar rumor bahwa seorang penulis Jepang akan memperoleh Nobel. Mishima, yang terkenal sangat narsis dan percaya diri, yang saat itu sedang berpergian, memutuskan pulang dan mengaturnya agar saat mendarat persis beberapa saat setelah pengumuman Nobel. Bahkan ia sudah menyewa ruangan VIP, mungkin untuk konferensi pers. Ketika pesawat mendarat, ia keluar dengan senyum mengembang. Ya, tentu saja tak ada wartawan atau fans yang menunggu dan mengelu-elukannya, sebab tahun itu yang memperoleh Nobel adalah penulis Guatemala (Miguel Ángel Asturias). Dari tulisan yang lain, “William Faulkner on Horseback” saya baru tahu bahwa Faulkner, salah satu penulis yang terkenal melarat (As I Lay Dying ditulis selama enam minggu di waktu istirahat saat ia harus kerja malam memasukkan batu-bara ke tungku), ternyata punya hasrat belanja yang agak tak terkendali untuk: pakaian mahal dan kuda! (Ehm, saya akan mengingat dia jika saya tak bisa menahan diri membeli t-shirt mahal). Sekali lagi ini bukan buku biografi seperti yang saya idealkan, dan lebih menyerupai potret. Tapi bahkan melalui potret-potret seperti ini, kita tahu ada hal-hal yang tak mungkin keluar dari mulut si tokoh. Senorak-noraknya Mishima, dia pasti berkilah soal menyewa ruang VIP di hari pengumuman Nobel. Meskipun mengaku gemar membeli kuda mahal, Faulkner diam-diam saja soal kecenderungan membeli baju mahal. Begitu pula James Joyce saya rasa (di tulisan “James Joyce in His Poses”), tak bakal terus-terang mengaku ia depresi selama dua tahun terakhir hidupnya, karena novel Finnegans Wake tak memperoleh sambutan meriah sebagaimana diharapkannya. Masih perlukah membaca riwayat hidup para penulis? Menurut saya perlu. Bagaimanapun mereka manusia yang pernah hidup dan cerita tentang mereka barangkali berguna untuk hidup kita. Terutama jika itu ditulis dengan baik, dan tidak berisi bualan-bualan membesar-besarkan diri si tokoh.