Journal

Under the Jaguar Sun, Italo Calvino

Bagaimana jika kau memiliki penciuman yang tajam, yang bisa membedakan satu aroma dari berbagai keriuhan aroma lainnya? Itulah yang terjadi pada si narator dalam cerita “The Name, The Nose”. Ia bertemu seorang perempuan dengan aroma parfum yang sangat khas, dan sebagian besar waktunya merupakan usaha mencari perempuan itu, dengan bantuan indera penciumannya, tentu. Ia keluar-masuk toko parfum, untuk mencari tahu aroma apa sebenarnya yang datang dari perempuan tersebut, demi melacaknya. Tapi berbagai parfum pernah dicobanya, tak ada yang mendekati aroma parfum si perempuan (yang barangkali sudah bercampur pula dengan aroma alami tubuhnya, pakaiannya). Kisah ini merupakan salah satu dari tiga cerita dalam buku Under the Jaguar Sun. Sebetulnya Italo Calvino merencanakan proyek yang lebih panjang untuk buku ini, yakni cerita-cerita yang berhubungan dengan panca indera. Jika kita percaya manusia memiliki lima indera, seharusnya ia menulis lima cerita. Bisa pula lebih jika Calvino berpikir tentang indera-indera lain yang (mungkin) ada. Yang jelas, hingga kematiannya, ia baru menyelesaikan tiga cerita yang kemudian menjadi buku ini. Cerita pertama, “Under the Jaguar Sun”, berhubungan dengan indera pengecap (lidah). Bisa terbayang, ini semacam cerpen kuliner. Tapi jangan bayangkan sebuah kisah perjalanan dari satu tempat ke tempat lain kemudian dipenuhi komentar tentang “wah, enak sekali”, atau “tahu tidak, di balik masakan ini terdapat sejarah panjang blah blah blah”. Tidak seperti itu. Memang narator dan istrinya dalam sebuah perjalanan ke Meksiko, dan tentu saja mereka menikmati makanan lokal (sebab menikmati makanan lokal merupakan salah satu esensi dari perjalanan, yang tak tergantikan oleh gambar atau video, tidak pula oleh restoran mewah, begitu kata naratornya). Buat saya, ada dua hal yang menarik dari cerita ini. Pertama, bagaimana reaksi suami-istri atas makanan, juga cara mereka menghadapi makanan, memperlihatkan perbedaan karakter keduanya, yang jika saya tak salah tebak: seorang intropert dan seorang ekstropert. Sebuah eksperimen strategi literer yang menarik, sih. Kedua, bicara tentang ritual kuno tentang pengorbanan manusia untuk dewa. Setelah korban dibunuh, bangkainya dimakan. Pertanyaannya, dengan bumbu apa daging manusia itu dimasak, agar bisa “tertanggungkan”? Jujur, bagian itu membuat saya merasa dalam situasi horor, padahal hanya mempertanyakan bumbu, mempertanyakan kesanggupan lidah manusia. Cerpen kedua berjudul “A King Listens”, yang tentu saja mengenai pendengaran. Kisah seorang pembisik, yang membisikkan banyak hal kepada seorang raja. Saya merasa cerpen ini terutama jangan dibaca melulu isinya, tapi “bunyinya”. Sayang saya membaca dalam terjemahan Inggris. Mungkin akan terasa lebih merdu jika bisa membacanya langsung dalam bahasa Italia. Siapa tahu? Tapi setidaknya, terjemahannya pun memberi kesan bahwa cerita ini ada lebih untuk didengar, seolah-olah kita sang raja dan sang narator adalah si pembisik. Cerpen ketiga, tentang penciuman, sudah saya sebut di pembukaan. Entah apa yang akan ditulis lagi oleh Calvino seandainya ia berumur panjang. Setidaknya ia mesti menulis tentang indera peraba dan penglihatan. Mungkin juga ia menulis “panca budi indera”: tangan, kaki, mulut, anus, dan kelamin. Juga indera utama: pikiran. Yang jelas, Calvino memang penulis yang senang dengan eksperimen semacam ini, salah seorang penulis meta-fiksi yang paling berhasil. Atau seperti buku lainnya yang tak juga selesai, Six Memos for the Next Millenium (dia cuma menulis lima), ia meminta pembaca menyelesaikan yang tersisa?



Standard

8 thoughts on “Under the Jaguar Sun, Italo Calvino

  1. Halo Mas Eka,

    Saya mau tanya, untuk menjadi seorang cerpenis atau novelis, apakah sebaiknya orang tersebut harus jadi penyair yang benar-benar penyair (menerbitkan buku kumpulan puisi) misalnya? Saya baca wawancaranya Sapardi Djoko Damono dan Budi Darma pada 1974 yang lalu di blognya Hasan Aspahani. Saya memang bukan pembaca yang terlalu giat sih, tapi setahu saya Orhan Pamuk dan Milan Kundera tak pernah saya baca puisinya tapi mereka bisa menulis novel dengan bagus, Mas…

    Siapa tahu Mas Eka bisa memberikan pencerahan, terima kasih…

    Salam,

    Leonart

    • Saya belum baca wawancara itu, tapi saya tak sependapat. Seseorang bisa menjadi novelis yg baik tanpa menjadi penyair yg bagus, demikian pula sebaliknya. Sebagaimana seorang pelari maraton kemungkinan bisa jadi pelari jarak pendek yg tak meyakinkan. Tapi baik novelis maupun penyair yang baik, saya yakin sudah lulus kemampuan teknis menulis yang baik.

  2. Adisti Mutiara Azzahra says:

    Hari yang indah, Mas Eka.

    Sebelum menjamah novel-novel hebat di negeri luar sana, saya memprioritaskan untuk menghabiskan novel-novel karya anak bangsa terlebih dahulu. Genre novel saya puitis/puisi, namun sampai sekarang saya sangat kesulitan untuk menemukan novel yang benar-benar puitis/puisi di dalam negeri.
    Barangkali Mas Eka bisa membantu saya yang mulai kehabisan akal ini. Saya terima rekomendasi dalam bentuk apapun.
    Sebelumnya, Saya ucapkan banyak kasih.

    Salam.

      • Adisti Mutiara Azzahra says:

        Ada beberapa novel yang ditulis oleh penyair/bukan, dengan bahasa/diksi sekelas puisi. Mereka tetap fokus pada alur cerita, memang. Namun yang membedakan adalah bahasanya. Jenis diksi yang biasa dipakai dalam puisi.
        Saya memiliki beberapa rekomendasi novel puitis/puisi dari teman(kebetulan beliau penulis juga), akan tetapi itu dari luar. Sedangkan saya urung jamah penulis luar sebelum mengkhatamkan yang ada di dalam. Oh ya Mas, saya sudah membaca sebagian besar novel-novel sastra milik dalam negeri. Namun tetap belum menemukan incaran saya.
        Mohon maaf sebelumnya Mas, saya begini karena dalam rencana ingin menggarap dikit-dikit novel puisi abal-abal saya. Jadi bisa dibilang, saya tengah melatih diri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.