Eka Kurniawan

Journal

Tsukuru yang Tidak Berwarna

Tak terasa sudah lebih dari setahun saya tak membaca novel Haruki Murakami. Dibandingkan 1Q84, saya lebih menikmati novelnya yang baru, Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage. Novel itu mengingatkan saya kepada novel-novel terbaiknya (menurut saya), novel-novel yang pendek. Seperti biasa, judul novel merujuk pada sebuah lagu/komposisi, yang di novel itu sering dimainkan dengan piano oleh salah satu tokohnya. Bisa dibilang novelnya tak seabsurd di novel-novel tebalnya, terutama yang paling garing 1Q84, kecuali kisah tentang kota kucing. Kisah tentang Tsukuru lebih realis, meskipun tentu saja kita akan menemukan hal-hal magis di beberapa tempat (misal tentang mimpi Tsukuru, atau kisah tentang ayah temannya bertemu dengan orang yang tahu kapan akan mati). Sambil mengingat novel-novelnya yang lain, saya rasa hal terbaik dari Murakami adalah, ia bisa menjadikan hal-hal sepele, atau hal-hal umum yang kita temui sehari-hari, menjadi sesuatu yang penuh-tafsir. Perhatikan di novel ini: ia bisa membawa kita membicarakan tentang makna stasiun kereta, tentang makna orang-orang Jepang yang berjejalan masuk ke MRT, bahkan tentang apa artinya memakai mobil Lexus. (Di novel-novelnya yang lain, kita bahkan bisa diajak untuk setidaknya berpikir apa maknanya memasak spagheti sendirian, apa artinya mencari kucing hilang, dan lain-lain). Tentu saja kaum pengamat budaya populer sudah biasa melakukan hal ini, dan Murakami saya kira salah satu penulis yang memang sangat sadar tentang budaya populer ini. Ada satu hal lain yang saya baru menyadarinya: tokoh-tokoh Murakami umumnya masih muda. Jika bukan lajang, biasanya baru menikah atau menikah dan tidak punya anak. Ini sedikit mengingatkan saya pada tokoh-tokoh Knut Hamsun. Apalagi tokoh-tokoh kedua penulis ini biasanya juga bisa dikatakan terasing di masyarakat. Tentu dengan sedikit perbedaan: tokoh-tokoh Hamsun biasanya memang aneh, secara sadar membuat jarak dari masyarakat. Sementara itu tokoh-tokoh Murakami menjadi aneh karena terpental dari masyarakat. Di novel ini, misalnya, Tsukuru yang awalnya biasa-biasa saja (anak sekolah, dengan teman-teman dan cita-cita), harus terpental dari masyarakat karena tiba-tiba keempat teman dekatnya memutuskan “tak mau ditelepon dan berbicara dengannya lagi.” Masyarakat (dalam hal ini keempat temannya), menendang dan mengasingkannya. Membandingkan tokoh-tokoh Murakami dengan Hamsun saya kira bisa menjadi tinjauan lebih jauh yang menarik, terutama karena kedua penulis memiliki akar pengaruh yang sama: Dostoyevsky. Apalagi ketiganya memiliki kecenderungan untuk masuk ke kejiwaan tokoh-tokohnya secara mendalam. Meskipun begitu, saya melihat ada juga perbedaan Murakami dari Dostoyevsky. Di karya-karya Dostoyevsky, dengan tokoh-tokoh yang “terasing” dari masyarakat (yang paling terkesan oleh saya selalu Prince Mishkin di The Idiot), tokoh-tokoh itu ada di sana untuk mengolok-olok sistem masyarakat (moral, politik, budaya). Dalam novel-novel Murakami, termasuk novel Tsukuru ini, justru sebaliknya: Murakami lebih senang mengolok-olok individu melalui kaca mata “sistem masyarakat”. Kita menertawakan Tsukuru yang dibuat hancur oleh “persahabatan”, misalnya. Atau bagaimana sistem industri, kapitalis, melalui sistem kereta Tokyo, menertawakan kaum pekerja yang pulang-pergi rumah-tempat kerja dengan luyu. Tentu saja telaah lebih mendalam mengenai tokoh-tokoh mereka perlu dilakukan, tapi setidaknya itulah yang terlintas oleh saya (anggap saja ini sebagai spekulasi). Kembali ke Murakami dan bagaimana ia menafsir hal-hal keseharian, tentu saja pada dasarnya apa yang dilakukan Murakami dilakukan banyak penulis lain. Setiap novel pada dasarnya, selain bicara tentang tokoh dan peristiwa, juga bicara mengenai benda-benda dan momen-momen. Di novel-novel Kawabata, selain menemukan tokoh-tokoh yang diliputi hasrat seksual, kita juga menemukan benda-benda dan momen-momen: motif burung bangau di kain, upacara minum teh, dan lain-lain. Benda-benda dan momen-momen itu merupakan wilayah tafsir di mana kita bisa masuk ke kejiawaan tokoh (atau bahkan masyarakat, generasi, peradaban). Murakami melakukannya juga tapi dengan benda-benda dan momen-momen yang awalnya tampak tak seksi karena terlalu biasa (karena sifatnya yang barangkali global): lagu pop, Google, Facebook, atau bahkan kaus bergambar band rock. Meskipun begitu, membayangkan Murakami melulu dengan benda-benda dan momen-momen keseharian itu saya rasa mengalihkan kualitas sesungguhnya dari karya-karyanya: kisah mengenai watak-watak. Dan novel ini sebagaimana novelnya yang lain, tetap saja bicara tentang manusia dan wataknya (dan bagaimana watak ini memengaruhi kisah hidupnya). Terutama di novel ini, melebihi novel-novelnya yang lain, ia memperlihatkan salah satu tokoh yang barangkali desain wataknya paling menonjol: Tsukuru yang tidak berwarna.

1 Comment

  1. Hai, Mas Eka, saya juga baru selesai membaca novel ini. Novel ini lebih jelas ujungnya ketimbang novel Murakami yang saya baca sebelumnya, yaitu Sputnik Sweetheart. Miris rasanya membaca kisah Tsukuru yang dicampakkan bertahun-tahun.

    Tadinya saya penasaran dengan 1Q84, tapi berhubung Mas Eka bilang itu buku paling garing dari Murakami, saya jadi berpikir dua kali untuk membacanya. Hahaha.

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑