Eka Kurniawan

Journal

Tristram Shandy

Kebanyakan orang yang baru pertama kali membaca Tristram Shandy, saya rasa akan bergumam, “Cerita apaan sih, ini?” Ngalor-ngidul, menceritakan kejadian-kejadian kecil, karakter orang-orang, bahkan referensi-referensi terhadap pandangan-pandangan filosofis tertentu. Bagi pembaca modern (seperti saya), lebih memusingkan lagi karena referensi ini merujuk ke karya-karya yang jauh lebih tua lagi (ia mengolok-oloknya, membuat simile, alusi, atau bahkan “menjiplak”nya untuk membuat efek baru). Tapi satu baris penting di bagian 1 bab 22 saya rasa menjelaskan banyak hal (saya tak akan menerjemahkannya): “Digressions, incontestably, are the sunshine, – they are the life, the soul of reading! ” Saya rasa, Laurence Sterne salah satunya merayakan digresi, penyimpangan, dalam novel ini, sesuatu yang seringkali dihindari dalam kebanyakan novel arus-utama yang memuja keutuhan dan efisiensi. Sebenarnya kelakuan macam begini tentu saja tidak asing. Banyak penulis modern melakukannya (tentu saja terpengaruh oleh novel ini), dan kita membacanya dengan baik-baik saja. Milan Kundera melakukannya. Salman Rushdie melakukannya. Roberto Bolaño juga melakukannya. Tapi di karya-karya penulis belakangan ini, saya rasa kita menemukan penyimpangan yang halus, yang tertanggungkan. Semacam jalan-jalan tapi sesekali melipir ke dalam toko melihat barang-barang, sebelum melanjutkan perjalanan lagi. Penulis-penulis ini seolah menghadirkan teknik penyimpangan yang lebih ramah-baca, seperti masakan padang yang telah disesuaikan untuk lidah orang Jawa di rumah-rumah makan padang di Jakarta. Kontras dengan karya-karya mereka, Tristram Shandy yang terbit di abad 18 merupakan kesemrawutan, perayaan gila-gilaan atas ini, seolah tak peduli dengan ketumpulan cara baca manusia modern yang akan lahir berabad-abad kemudian (termasuk otak saya, yang mulai sering ditumpulkan oleh novel-novel “lurus”, penuh aksi dan sedikit refleksi). Novel ini bukan sejenis perjalanan, tapi seperti masuk ke museum dan kita disibukkan mendengar pemandu yang menceritakan tentang kemaluan yang tak sengaja tersunat, Paman Toby, raksasa-raksasa Rabelais, dan lainnya. Dari mana kesemrawutan ini berawal? Seperti disiratkan oleh judulnya (aslinya berbunyi The Life and Opinions of Tristram Shandy, Gentleman), ini kisah mengenai Tristram yang mencoba menceritakan dirinya sendiri. Tapi alih-alih menceritakan dirinya secara langsung, ia harus menceritakan konteks di setiap momen atau bagian dari yang ceritakannya. Konteks-konteks inilah yang membuat setiap momen akan berjalan ke sana-kemari, karena untuk mengisahkan sesuatu, ia harus menceritakan sesuatu yang lain, untuk menjelaskan sesuatu, ia harus menjelaskan hal-hal lain. Hasilnya, ini novel semacam jaring laba-laba. Novel ini seperti mengingatkan saya kembali apa yang berkali-kali disinggung Kundera, bahwa novel merupakan “seni”. Dan seperti genre seni lainnya, ia merupakan kesempatan terbuka untuk kemungkinan-kemungkinan baru. Kemungkinan-kemungkinan yang seringkali dibunuh oleh paradigma “novel seharusnya begini, begini”. Saya jadi ingat sebelum pengumuman Nobel tahun ini, salah satu juri berkata, “Kesusastraan barat telah dibunuh oleh tradisi grant dan kursus menulis kreatif.” Kursus menulis kreatif? Jangan-jangan yang ia maksud persis seperti yang saya curigai: kita perlahan-lahan menjadi robot yang kebetulan bisa menulis. Berkarya mengikuti cara-cara yang telah diformulasikan, dan tak memiliki nyali keluar dari sana. Dan untuk mengumpulkan nyali semacam ini, hanya untuk menyadari bahwa kita bisa menyimpang segila-gilanya, saya bahkan harus belajar dari sebuah novel dari masa 3 abad yang lampau. Mungkin saatnya kita menulis dengan satu sikap seperti dikatakan oleh Sterne sendiri: “I begin with writing the first sentence – and trusting Almighty God for the second.” Sebab sebagaimana pernah dikatakan Cortazar (salah seorang eksperimentalis paling gila dalam kesusastraan modern), kerja menulis novel merupakan kerja anarkis. Tapi ingat, itu bukan formula. Sekali sesuatu telah menjadi formula, itu tak layak lagi disebut anarkis.

2 Comments

  1. Dengan demikian, menulis novel dengan ‘anarkis’ (atau ‘anarkistis’) juga bukan sebuah keharusan, ya?

    • @bernard batubara
      Nggak lah. Siapa yang berani mengharuskan dan ngatur-ngatur? Hehehe. Ini hanya bagian dari kemungkinan-kemungkinan yang diberikan seni, sastra secara khusus, novel kebih khusus lagi. Setidaknya Tristram Shandy bukan jenis novel yang aku ingin menuliskannya, sangat jauh kurasa (sebagai contoh, aku enggak suka digresi), meskipun bisa kunikmati sebagai pembaca.

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑