“Bahkan sebuah puisi orisinal tak memiliki tafsir tunggal, membaca puisi juga berarti menerjemahkannya, kita tak akan pernah benar-benar yakin apa yang dikatakan sebuah puisi bahkan dalam bahasa kita,” demikian satu kutipan di novel Traveller of the Century, karya Andrés Neuman. Ini novel tentang puisi dan terjemahan? Ya, tapi tak hanya itu. Ini novel tentang sejarah Eropa, tentang pergulatan filsafat, tentang puisi dan terjemahan, tentang perjalanan, tentang rumah dan tentang kota dan negara asing, dan juga tentang asmara (lebih tepatnya tentang petualangan sinting bercinta dengan calon bini orang, di hari-hari menjelang pernikahannya). Kita lihat kutipan lainnya, saya ambil acak dari halaman yang jauh dari kutipan sebelumnya: “Semakin banyak persamaan mereka temukan di antara cinta dan penerjemahan, di antara memahami seseorang dan menerjemahkan sebuah teks, di antara membacakan sebuah puisi dalam bahasa yang berbeda dan meletakkan dalam kata-kata apa yang sedang dirasakan orang lain …” Saya bisa bilang ini novel yang sangat ambisius. Tak hanya dalam jumlah halaman (578 halaman), tapi juga luasnya persoalan yang dikemukakan dengan tokoh yang hanya segelintir (Hans si pejalan, dan dua kelompok teman-temannya, serta Sophie). Tahun ini segera akan berakhir. Saya sedang mencoba menengok kembali ke belakang: sudah setahun saya menulis jurnal di blog ini. Sedikit banyak saya bersetia kepada janji saya, untuk lebih banyak membaca penulis-penulis kontemporer. Istilah “penulis kontemporer” ini barangkali dilematis, tapi saya membuat acuan sederhana saja: penulis-penulis (dunia) yang lahir di tahun 50an. Kalaupun mundur, lahir tahun 40an. Jika ada yang lahir tahun 60an, tentu akan saya tengok. Jumlahnya saya kira belum terlalu banyak. Lahir 70an? Saya akan gembira sekali jika menemukan penulis dari generasi saya, dan saya memang menemukannya. Salah satunya penulis Argentina bernama Andrés Neuman (ia lahir 1977, sialan sekali!). Roberto Bolaño memujinya sebagai, “Kesusastraan abad dua puluh satu akan menjadi milik Neuman dan beberapa saudara sedarahnya.” Saya tak ingin merasa minder, tapi mengukur dimana posisi kita dalam jagat kesusastraan saya rasa bisa ambil cara gampang: bandingkan karyamu dengan karya penulis segenerasi dari tempat lain. Dan bagi saya, itu berarti membaca Traveller of the Century. Menghadapi penulis yang bahkan dua tahun lebih muda, saya merasa menghadapi seorang penulis yang ditakdirkan akan menjadi penulis besar. Saya ingin sedikit memberi bocoran mengenai novel ini, yang saya pikir merupakan salah satu kehebatannya, salah satu hal paling sulit untuk dicontek oleh penulis lain. Bisa dibilang, novel ini hampir sepenuhnya dibentuk oleh dialog. Ada dua kelompok teman-teman Hans tempat ia ngobrol. Pertama, ia ngobrol dengan kelompok si pemutar organ. Mereka bicara tentang musik, tentang menjadi terasing, tentang tinggal di rumah. Dilihat dari sudut pandang si pemutar organ yang sederhana, pembicaraan mereka biasanya bersifat naif, tanpa referensi apa pun. Kelompok ngobrol kedua, yang lebih serius dan menjadi tulang pungung novel ini, adalah kelompok kaum “intelektual” kota kecil tempat Hans singgah, yang sering berkumpul di rumah Sophie. Mereka berdebat tentang Schiller dan Goethe, tentang penyerbuan Napoleon, tentang perbedaan karakter orang Spanyol, Jerman, Prancis dan Inggris, juga tentang sastra dan politik, serta agama. Isinya tentang ngobrol doang? Ya. Akan sangat membosankan untuk pembaca yang gemar novel-novel aksi. Tapi bagi saya novel ini berhasil membuat saya tak merasa bosan, dan mengikuti baris-barisnya, dan tanpa sadar telah melampaui ratusan halaman, disebabkan hal sederhana yang merupakan resep tua para pendongeng: Neuman berhasil menahan rasa ingin tahu saya, dan terus memberi misteri-misteri baru, di tengah perdebatan serius tersebut. Bagaimana nasib percintaan Hans dan Sophie, yang “tak patut” itu? Bagaimana nasib asmara Elsa, si babu, dengan teman nonanya? Apakah Hans si pejalan akan meninggalkan kota itu? Siapa lelaki misterius yang membunuh perempuan di tengah malam? Bagaimana nasib Lisa, anak pemilik losmen, yang minta belajar menulis? Saya selalu percaya, tentang apa pun, sebuah novel bisa sangat tidak membosankan. Asal tahu caranya. Novel ini sedikit banyak mengajari saya hal itu. Bisa saya akui, ia penulis yang paling bikin saya iri sepanjang tahun ini. Masih ada beberapa hari tersisa. Masih ada beberapa novel dan penulis kontemporer yang ingin saya baca sebelum liburan akhir tahun datang (akan tanpa komputer dan buku), sebab saya punya janji lain untuk tahun depan, tahun kedua saya “belajar” sastra: lebih banyak membaca karya-karya klasik. Karya-karya dari abad sembilan belas ke belakang. Saya belum akan mengucapkan selamat tahun baru, tapi saya yakin, setahun ini saya memiliki pengalaman membaca yang menyenangkan. Dipuncaki oleh Andrés Neuman dan Traveller of the Century.