Eka Kurniawan

Journal

Tips Bahagia untuk Penulis

Saya punya cara untuk hidup lebih bahagia. Buka Goodreads, lihat buku-buku karya penulis hebat (sebut saja Orhan Pamuk, Mo Yan atau Herta Müller, yang kalibernya sekalian Nobel Kesusastraan), dan baca ulasan yang memberi buku mereka cuma satu bintang. My Name is Red disebut “membosankan”, “dibuat untuk menyenang-nyenangkan penulisnya, bukan pembacanya”, “saya kesulitan dengan kualitas rendah buku ini”, dan “apa yang disebut misteri pembunuhan itu sangat dangkal sebab kita tak benar-benar tahu siapa pembunuh dan korbannya”. Bagaimana dengan Red Sorghum? “Saya enggak lihat novel ini indah maupun menggugah”, “tak ada otensitas dalam usahanya menggambarkan kengerian perang”, “karakter-karakternya tak punya simpati terhadap kehidupan manusia”. Dan The Land of Green Plums? “Halusinasi pikiran sakit”, “Gaya puitisnya menjauhkanku dari karakter”, “kenapa sastra bikin kita mual?”, “plot dan karakternya jauh dari menyenangkan”. Bahkan One Hundred Years of Solitude aja ada yang nyebut (tentu dengan memberinya satu bintang saja) “cuma kumpulan anekdot” dan “gaya berceritanya datar”. Membahagiakan membaca ulasan-ulasan semacam itu, kan? Saya tak tahu siapa-siapa saja mereka yang memberi komentar-komentar tersebut, yang jelas saya bahagia membayangkan orang menjadikan kanon-kanon kesusastraan global tersebut sebagai barang tak berguna. Orang-orang ini mulai mempertanyakan, kenapa sih seleraku berbeda dengan ahli-ahli sastra ini? Apakah otakku bermasalah? Hahaha. Saya sendiri tak tahu jawabannya. Mungkin otak ahli sastra memang bermasalah. Mungkin otak si pembaca yang tumpul. Kadang-kadang saya sendiri bertanya-tanya, ya ampun, kayaknya novel semacam ini mungkin memang bukan seleranya. Kenapa dia maksa membaca? Terpengaruh ulasan yang hips di jurnal sastra? Terpengaruh penghargaan yang diperoleh penulisnya? Ujung-ujungnya geli melihat emosi yang meledak-ledak, barangkali karena kesal kenapa dunia memuja War and Peace sedangkan dia menganggap buku itu buruk minta ampun? Novel itu disebut “kering dan membosankan”, “berapa banyak pohon ditumbangkan untuk mencetak sampah ini?” dan “buku ini menghancurkan mitos populer bahwa jika buku itu tua dan dari Rusia, pasti bagus”. Pembaca-pembaca yang memberi satu bintang dan sedikit ngomel-ngomel ini barangkali merasa tertipu dengan reputasi buku-buku tersebut, dan siapa pun yang tertipu di depan mata, kita senang menertawakannya, dan tawa seringkali membawa kita kebahagiaan. Persis seperti acara-acara gags dan jebakan di televisi, yang menjebak dan menipu seseorang lewat kamera tersembunyi. Si korban tampak menderita, dan kita tertawa ngakak melihat penderitaannya. Hidup ini kalau cuma mencari bahagia sederhana, kan? Lihat saja penderitaan orang lain, dan kita setidaknya bisa senyum. Melihat penderitaan seorang pembaca menghadapi buku yang tidak disukainya saya rasa tidak mencederai siapa pun, juga tidak mempermalukan siapa pun. Kita bisa tertawa sendiri, dan pembaca itu juga menderita sendiri. Kita hanya mengintip penderitaannya. Baiklah. Saya ingin sedikit menambah dosis kebahagiaan saya. Apa yang dikatakan pembaca satu bintang untuk William Shakespeare, pujangga agung itu? Romeo and Juliet adalah “Cerita yang bodoh”, “kedua remaja ini baru kenal 3 hari, enggak perlu seheboh ini, lah”, dan “medioker seutuhnya”. Hahaha. Lebok tah! (Subtitle: makan tuh sastra!)

11 Comments

  1. Saya pernah menulis mengenai perbedaan penerimaan seseorang dengan orang yang lain terkait bacaan, Mas.

    Bagaimana menyamakan penerimaan logika seseorang dengan yang lain? Menurut saya, jawabannya terletak pada kesamaan latar belakang pengetahuan penulis dan pembaca.

    http://celoteh-ainini.blogspot.co.id/2015/11/membaca-cerita-di-luar-logika-kita.html

  2. wah kalau begitu saya mau coba tips-nya. buka Goodreads, liat buku-buku yang ditulis oleh Eka Kurniawan, lalu cari komentar yang memberikan cuma satu bintang. hmm kira-kira apa ya isi komentarnya hehe

  3. Saya pernah baca ulasan satu bintang tentang “How to Kill A Mockingbird.” Dan pembacanya jujur sekali saat dia memberi tahu bahwa dia tak menyelesaikan satu bab dari buku tersebut. Hehehe..

  4. Saya ga suka Twilight. Tapi sebisa mungkin diam2 saja, takut dibully penggemarnya. Hehe

  5. Saya juga agak bingung dengan sastra, mereka seperti punya dunia sendiri dan aturan sendiri.

  6. Maaf berkomentar di luar konteks. Boleh kah membaca pandangan Mas Eka perihal karya karya Andrea Hirata?

  7. bagi penulis sejati, semua tulisan adalah karya abadi…tidak ada penulis baik dan tidak baik,karena dari tulisan itu terlihat sisi kehidupan sang penulis. penulis tekenal belum tentu nomor satu, kebetulan saja tulisannya dibutuhkan banyak orang,,,
    salam kenal dan salam hormat.

  8. Ilham Magribi

    3 March 2016 at 5:37 am

    Saya jadi teringat pidato jenaka Seno Gumira Ajidarma di launching IDWriters.
    http://www.alineatv.com/2015/02/susastra-kawan-paimo-oleh-seno-gumira-ajidarma/

  9. Pride and Prejudice-nya Jane Austen pun bikin saya mengantuk… Maaf ya Bu Austen :)

  10. Saya punya teman, sebut saja namanya Batakov. Ketika membaca Seratus Tahun Kesunyian, dia bilang gini: “Ceritanya dasyat. Aku terpesona. Hahaha…”. Lalu ketika membaca Les Miserabbles, dia berkata: “Hebat bah, penuh kejutan. Hahaha…”. Dan ketika membaca Inferno dia bilang: “Gila, diaduk-aduk otakku. Hahaha…”. Ketika aca Azab dan Sengsara, ia mendesis, “Ceritanya sedih banget ya. Hahaha…..”

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑