Tiba-tiba saya memikirkan tiga orang penulis, yang saya pikir merupakan penulis-penulis besar yang telah diperlakukan dengan tak sepantasnya di negeri ini. Pertama-tama, saya akan menyebut Wiji Thukul. Di generasinya, saya pikir ia penyair paling cemerlang dan orisinal. Sajak-sajak pamflet dan protesnya seperti tinju yang menghantam-hantam, kadang-kadang seperti cubitan kekasih yang membekas lama. Di tengah tradisi puisi yang (saya suka menyebutnya) “mooi indie”, puisi-puisi Thukul seperti penyimpangan yang mengancam. Saya mendengarnya (ya, mendengar bukan membaca) pertama kali di tengah-tengah aksi jalanan mahasiswa di Yogyakarta, di pertengahan hingga akhir 90an. Puisi-puisinya hidup di tengah aksi protes dan pembangkangan, dan aksi-aksi jalanan itu juga hidup oleh puisi-puisinya. Tapi seperti kita tahu, ia hilang bersama belasan aktivis lainnya. Tak ada yang tahu apakah ia masih hidup atau sudah menghilang. Tak ada yang tahu dan tak ada yang mengaku, siapa yang membuatnya menghilang. Apa yang terjadi padanya merupakan sensor atas kesusastraan yang paling penghabisan, paling mengerikan. Jika kita merasa hari ini menikmati kebebasan yang melimpah atas nama kesenian dan kesusastraan, pikirkanlah barangkali itu semu belaka. Sejarah Wiji Thukul belum lama terjadi, dan tak pernah ada koreksi sama sekali. Jika seseorang bertanya kepada saya, siapa penulis Indonesia yang perlu diterjemahkan ke bahasa asing sehingga mereka mengenali kesusastraan kita? Saya ingin menyebut, kita perlu memperkenalkan sajak-sajak Wiji Thukul. Bukan karena ia hilang, tapi karena sajak-sajaknya memang harus dibaca. Karena saya ingin membayangkan, jika orang berpikir seperti apa kesusastraan Indonesia, mereka akan melihatnya dalam puisi-puisi itu. Sedikit mundur ke belakang, tentu saja saya akan menyebut penulis kedua: Pramoedya Ananta Toer. Saya tak akan menulis banyak tentangnya, sebab banyak hal tentang Pramoedya telah diketahui orang. Termasuk sensor kesusastraan yang juga terjadi atasnya: pembuangan ke Pulau Buru. Kita bersyukur bahwa sensor mengerikan ini tak menghentikannya dalam menulis karya-karya besar, di antaranya Arus Balik dan Tetralogi Buru, tapi bayangkan jika ia tak perlu mengalami itu semua. Jika ia tak harus kehilangan arsip-arsip penelitiannya. Jika negeri ini memberinya kesempatan untuk menulis lebih banyak lagi. Dalam hal ini saya selalu berpikir negeri ini dirasuki kebodohan. Kita selalu berhasil menghentikan (membuang, menghilangkan, dan bahkan membunuh) bakat-bakat cemerlang, sehingga yang tersisa adalah apa yang memang bisa kita sebut sebagai sisa-sisa. Saya akan berhenti bicara tentang Pramoedya, kali ini saya ingin menyebut penulis ketiga, dari generasi yang jauh lebih ke belakang lagi: Amir Hamzah. Ia dijuluki (oleh H.B. Jassin) sebagai “Raja Penyair Pujangga Baru”, dan saya pikir memang ia raja. Ia tak hanya bisa disebut sebagai salah satu peletak sastra modern Indonesia, tapi kita harus mengakui bahwa sajak-sajaknya melampaui pelabelan tersebut. Sajak-sajaknya merupakan bagian dari karya-karya terjernih dan terbaik yang pernah dihasilkan oleh anak negeri ini. Saya bahkan tak bisa membayangkan Chairil Anwar akan muncul dengan puisi-puisinya yang seperti kita kenal, tanpa ia pernah membaca Nyanyi Sunyi, karya terbaik Hamzah. Tapi apa yang terjadi pada dirinya? Ia mati terbunuh dalam satu revolusi sosial di Sumatera. Ia seorang nasionalis, ia mencita-citakan Indonesia, tapi ia dihukum pancung pada 20 maret 1946 yang kemungkinan karena ia “feodal” dan mungkin dituduh anti-revolusi. Tuduhan yang saya pikir salah kaprah dan tak bisa dipertanggungjawabkan. Menyedihkan. Negeri ini memiliki sejarah yang memilukan: ia memenggal bunga-bunga tercantiknya, bahkan jauh sebelum mekar. Jika kesusastraan kita hari ini, untuk para pengeluh yang budiman, tak pernah beranjak kemana-mana, barangkali mungkin memang ini penyebabnya. Bahwa kita sering menghentikan bakat-bakat terbesar kita. Kita tak hanya tak menyediakan tanah gembur untuk pohon-pohon tumbuh agung, tapi bahkan jika ada pohon yang bakal menjulang indah di tanah tandus pun, tanpa rasa bersalah, kita menebangnya.