Journal

Tiga Novel Herta Müller

The Land of Green Plums. Kadang-kadang saya berpikir bahwa detail merupakan sesuatu yang menyiksa. Ada untuk menyiksa. Bahwa benda-benda, kejadian-kejadian, gerakan dan bahkan kesan-kesan yang kecil, renik, yang nyaris luput, ada dan hidup. Dan kehidupan mereka demikian menyiksa karena mereka bisa mengawasimu, menjadi saksi untuk rahasia-rahasia kecilmu, juga kehidupan pribadimu. Dengan cara seperti itulah novel ini membagi teror kepada pembacanya. Herta Müller menuliskan fragmen-fragmen, hari ke hari, kadang melompat dalam ruang dan waktu, dan terutama melalui benda-benda kecil yang secara ajaib menjadi penanda berbagai ketakutan, kecemasan, keputusasaan, hingga kecurigaan. Dalam satu fragmen perjalanan mempergunakan bus, diceritakan bahwa semua penumpang selalu menunduk. Siapa pun yang naik bus itu akan selalu menunduk. “Lantainya hilang. Kau bisa melihat jalan melalui lubang-lubang.” Saya membayangkan sesuatu yang tersirat: kau melihat jalanan yang bisa menggerusmu mampus. Melalui empat sahabat (seorang perempuan yang juga narator, dan tiga lelaki), sejak masa mereka sekolah dan tinggal di asrama, kemudian bekerja di tempat-tempat berbeda, hingga sebagian besar dipecat dan memutuskan untuk bermigrasi, mencari secercah harapan. Hidup mereka bagaikan kartu pos yang memotret setiap masa dalam hidup mereka, berisi gambar teman sekamar yang gantung diri, orang gila di alun-alun, penjahit, keluarga di kampung, daftar orang-orang yang mati karena mencoba melarikan diri, pekerja penjagalan yang diam-diam meminum darah hewan. Semua potret itu diceritakan saling-bergantian, sebab, “Jika kita tak bicara, [hidup] jadi tak tertanggungkan.” Pada saat yang sama, itu juga potret-potret yang dicatat oleh Kapten Pjele, yang terus memata-matai mereka, menginterogasi, dan mengirim ancaman. Bahkan ketika mereka berhasil keluar dari negerti itu, bayang-bayang ketakutan tak juga pudar. Mereka bisa menemukan diri melayang dari jendela tinggi dan terempas di tanah. Baca novel ini secara perlahan, sebab hal-hal terbaik, kristal-kristalnya, terdapat pada detail-detail yang menyentak, juga meneror. Teror yang akan memaksamu untuk bertahan hidup, atau seperti dalam beberapa kasus, untuk menyerah kalah.

The Appointment. Membaca Herta Müller, kau harus mencoba mengikuti iramanya, sebelum hanyut dalam aliran kisah yang seringkali mengalir sesuka hati. Saya menyadari ini dalam pembacaan novelnya yang ini, yang ketiga (sebelum memutuskan untuk maraton membaca tiga novelnya, saya pernah membaca novelnya yang lain, The Passport). Novel ini secara sederhana mengisahkan perjalanan si narator pergi naik trem untuk diinterogasi, untuk kesekian kalinya. Interogasi yang berawal dari keisengan mengirim pesan di dalam pakaian yang akan dijual ke luar negeri (ia bekerja di pabrik pakaian). Isi pesan itu merupakan sejenis lelucon bahwa ia berharap menemukan jodoh orang Italia. Ia dianggap mempermalukan negara, dan sejak itu dikenai sejenis wajib kunjungan. Tapi sepanjang jalan, di antara percakapan dengan sesama penumpang, lalat yang berdengung dan mengganggu si sopir, ingatannya maju-mundur ke banyak kejadian dan sosok. Tidak, ia tak mengatakannya dalam sejenis soliluqui, tapi seperti pembicaraan akrab dengan seseorang. Seperti umumnya pembicaraan yang ngalor-ngidul, ia bisa melipir ke sana-kemari. Ia berkisah tentang teman baiknya, yang tidur dengan ayah tirinya sendiri sebelum mengencani pejabat yang membawanya ke kematian, lalu tiba-tiba ia ingin kisah dirinya sendiri, suami pertamanya, suami keduanya. Dari sana ia berkisah tentang ayahnya, yang dipergokinya tidur dengan seorang perempuan di pangkalan bus, dan sempat membuatnya berhasrat menggantikan si perempuan dengan dirinya sendiri. Ya, kita dihadapkan kepada kehidupan yang amburadul, nyaris tanpa harapan. Jika di novel sebelumnya narator harus menghadapi keangkuhan kekuasaan, di novel ini, yang dihadapi adalah kehidupan sehari-hari yang tak karuan. Sesuatu yang dengan tepat bisa digambarkan oleh kutipan di toilet umum di pasar loak: “Hidup benar-benar penuh dengan tai. Tak ada pilihan kecuali kencing di atasnya.”

The Hunger Angel. Membaca beberapa novel sekaligus dari seorang penulis yang sama memberimu kesempatan tak hanya cerita dan karakter, tapi juga gaya dan irama sang penulis. Seperti seorang pendengar dongeng yang tak hanya terpukau oleh kisah, tapi oleh suara dan nada sang pendongeng. Pada saat yang sama, di waktu tertentu, mungkin memberi sejenis kekagokan. Di novel ini, beberapa kali saya merasa agak kagok, membalik beberapa halaman untuk meyakinkan saya bahwa naratornya memang seorang lelaki, bukan seorang perempuan seperti di dua novel sebelumnya. Novel ini memang agak berbeda dengan dua novel lain di atas. Di dua novel lain, selain narator perempuan, novel terjadi di Rumania dalam kungkungan kediktatoran dengan mata-mata dan interogasinya; di novel ini, kita di ajak ke camp kerja paksa di Rusia. Menurut catatan si penulis, kisahnya berdasarkan apa yang dituturkan seorang kawannya yang memang pernah ditahan di camp tersebut. Tapi kekagokan itu memberi saya semacam pertanyaan yang menantang: apakah benar-benar ada yang namanya suara perempuan dan suara lelaki? Suara feminin dan suara maskulin? Apakah pilihan kata, frasa, dan cara pandang terhadap dunia memberi kita (pembaca) perasaan seperti itu? Ataukah hal itu tak lebih dari stereotif tertentu, bahwa baik lelaki maupun perempuan, pada dasarnya bisa mengekspresikan sesuatu dengan cara yang sama? Bukankah kata-kata (atau frasa, atau susunan tatabahasa) tertentu bersifat feminin atau maskulin tak lebih dari konstruksi saja? Terlepas dari pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik tersebut, kualitas-kualitas yang bisa kita dapatkan dari novel-novel sebelumnya, tetap bisa ditemukan di sini. Benda-benda kecil (uang 10 rubel, selendang, koper dari kotak gramofon, kentang, kutu), di tangan Herta Müller bisa menjadi banyak hal. Demikian juga si malaikat lapar, yang seringkali lebih kejam, lebih sinis, tapi sekaligus bisa menjadi teman yang intim, yang memberimu jalan untuk tetap bertahan hidup.



Standard

4 thoughts on “Tiga Novel Herta Müller

  1. Krisna says:

    Ini mungkin sedikit berlebihan, tp saya telah mengikuti tulisan-tulisan Mas Eka sejak pertama kali (bisa jadi kedua kali) membaca buku Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi. Tulisan2 Mas Eka mengubah saya dari orang yang tidak mnyukai bacaan novel sama sekali menjadi ketagihan membaca novel jenis apapun. Hahaha.
    Saya penasaran apakah Mas Eka punya penulis idola? Semoga terjawab.

  2. koedrat says:

    Yang dicari oleh penulis novel itu apa sih mas?apakah ia berusaha menjadi nabi dan membuat dirinya terkenal dengan formula dan terobosannya. Atau ia hanya menulis untuk kesenangan dan berceloteh tentang arti kehidupan yang belum tentu punya pengertian.

    • @koedrat
      Saya tak tahu apa yang dicari novelis lain. Buat saya pribadi, saya ingin mencari jawaban untuk banyak pertanyaan. Seperti ilmu pengetahuan, inti seni dan sastra adalah rasa ingin tahu, kemudian mencoba menjawab. Kenapa dunia ini ada? Kenapa ada manusia yang jahat kepada manusia lain? Kenapa kita lapar? Ada apa di balik bintang-bintang? Atau sesederhana, apa yang terjadi jika …? Dll, dll. Ilmuwan menjawabnya dengan berbagai penelitian ilmiah. Filsuf mencoba menjawabnya dengan spekulasi logika. Novelis menjawabnya dengan spekulasi bercerita. Apakah jawaban mereka hanya kesenangan/celoteh yang belum tentu punya pengertian? Mungkin saja. Mungkin saja semua jawaban itu tak ada artinya. Tapi siapa yang bisa menghalangi rasa ingin tahu manusia? Agama, moral, bahkan moncong senjata, dalam sejarahnya tak berhasil membendung rasa ingin tahu ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *