Journal

Tiga Buku Nietzsche

Tuan Nietzsche yang baik, saya tak tahu kenapa tiga naskah Tuan sampai di meja ini. Saya hanyalah editor buku masak-memasak dan kuliner, dan saya tak yakin buku Tuan ada hubungannya dengan tepung, garam dan gula. Mungkin saya salah. Sebagai tanggung jawab pekerjaan, saya tetap akan membaca karya Tuan, memberi penilaian dan terutama memutuskan apakah layak terbit atau tidak.

Twilight of the Idols (or How to Philosophie with the Hammer). Di salah satu maksim, Tuan menulis, “Apa yang tak membunuhku, akan membuatku lebih kuat.” Saya rasa tak perlu belajar filologi atau filsafat untuk menyadari hal itu, cukup duduk di meja editor buku masak-memasak, Tuan juga bisa mengerti. Sebab itulah yang saya pelajari selama menjadi editor, bahwa sejarah dunia sesederhana perkara siapa memakan apa atau apa memakan siapa, dan di balik rantai makanan kita bisa melihat perkara yang juga sederhana: siapa terbunuh dan siapa bertahan. Jika kau tak mati hari ini, kau bertahan dan lebih kuat. Kini saya mengerti kenapa naskah Tuan ini sampai di meja saya, rupanya di sinilah persinggungan kita. Ada yang menarik perhatian saya di bagian “Empat Kekeliruan Besar”, Tuan menyinggung soal resep makanan untuk hidup panjang dan bahagia, di mana Tuan menempatkannya sebagai contoh kekacauan sebab dan akibat. Bisakah Tuan membahas ini lebih panjang-lebar? Saya rasa ini penting, sebab perkara makan jauh lebih mudah bagi kebanyakan orang daripada memperdebatkan soal tetek-bengek sebab kita hidup maka kita ada yang menciptakannya, bukan? Demikian juga di bagian “memperbaiki manusia”, secara pribadi saya juga punya sejenis kejengkelan. Saya akan kembali ke urusan makanan. Saya sering dengar bahwa sebaiknya kita hanya makan anu dan anu, sebab rahang manusia diciptakan untuk makan anu. Dan sebaiknya kita tidak makan anu, sebab anu dan anu. Tak perlu kita bersandar kepada dogma-dogma agama, bahkan kaum agnostis dan ateis pun mulai rewel soal apa yang harus dimakan dan tidak, dan mereka pikir itu dalam rangka memperbaiki kemanusiaan kita? Bah. Persis seperti anggapan Tuan (semoga saya tak salah memahami), itu bukan memperbaiki kemanusiaan. Itu tak lebih dari penjinakan. Seperti norma moral, aturan makanan merupakan upaya menjinakkan manusia dari insting alamiahnya. Bisakah Tuan sependapat dengan saya? Jika iya, mungkin Tuan bisa menambah bagian ini dengan ulasan sekilas mengenai makanan. Terakhir, kabar baik untuk Tuan, kami ingin menerbitkan naskah ini. Mungkin akan lebih bagus jika kita menyertakan berbagai gambar, sebab semua buku yang keluar dari meja saya biasanya bergambar. Akan lebih mahal, tapi seperti kata Tuan, “Pengorbanan besar harus dipersembahkan di atas altar selera yang baik.”

The Antichrist (An Attempted Criticism of Christianity). Sejujurnya saya ragu menerbitkan naskah ini, sebab penerbit tempat saya kerja penuh dengan ketakutan jika menyangkut buku-buku tentang agama, apalagi mengkritik agama. Akan tetapi, begitu saya membaca beberapa halaman, hati saya terasa bergetar dan dipenuhi semangat yang meluap-luap. Apa yang baik? Segala yang menambah rasa berkuasa, Hasrat Berkuasa. Apa yang buruk? Semua yang muncul dari kelemahan. Apa itu kebahagiaan? Rasa bahwa kuasa bertambah. Tuan, bukankah salah satunya itu ada hubungannya dengan makanan? Tanpa makan kita lemah. Kita berkuasa, dan sesuatu bisa kita makan? Saya akan senang jika kita bisa bertemu setelah ini dan mendiskusikan perkara tersebut. Kita juga bisa menyinggung perkara makanan ketika Tuan menulis, “Kekristenan dibangun di atas dendam orang sakit, instingnya ditujukan melawan yang sehat” dan agama ini merupakan agama “kasih(an)”. Kita tak akan makan apa-apa, bukan, dan kemudian menjadi lemah, jika larut dalam sikap serba kasihan? Saya rasa ini berlaku tak hanya untuk kekristenan, tapi barangkali semua agama (meskipun Tuan tampaknya menaruh hormat terhadap Budhisme). Tapi sekali lagi, bisakah kita menghubungkan hal itu dengan makanan? Saya rasa kritik atas kekristenan tidaklah lengkap tanpa bicara makanan. Kuliner merupakan sesuatu yang menyatu dalam tradisi kekristenan, bukan? Perjamuan terakhir? Roti dan anggur sebagai tubuh dan darah Yesus? Maafkan jika saya terlalu sok tahu, dan terlalu bersemangat, tapi saya yakin itu akan seru. Sekali lagi, saya sejujurnya kuatir menerbitkan naskah ini, tapi setelah membacanya, saya rasa kita perlu mengusahakannya agar terbit. Naskah ini terlalu berharga untuk lenyap dari peradaban. Usul saya, bagaimana jika kita ganti judulnya agar tak terlalu mencolok? Ya, saya bisa membayangkan Tuan akan keberatan. Usul kedua, bagaimana kalau kita meminta endorsmen dari seorang kristen yang saleh dengan pikiran terbuka? Katakanlah seorang Kardinal? Kalimat seperti “Buku yang harus dibaca oleh setiap orang Kristen” dari Beliau pasti tak hanya membuat bukunya laris, tapi melindungi penerbit saya dari masalah yang mungkin muncul. Dan tentu saja saya usul harus ada gambarnya juga.

Ecce Homo (How One Becomes What One Is). Bah, buku apa ini? Tuan bertanya kenapa Tuan demikian bijak? Kenapa Tuan demikian cerdik? Dan kenapa Tuan menulis buku-buku yang begitu hebat? Meskipun benar Tuan bijak dan cerdik, dan buku-buku Tuan hebat, sebaiknya Tuan tak perlu mengatakannya sendiri. Saya selalu menyarankan kepada penulis-penulis saya untuk tidak menulis otobiografi. Kalaupun kisah hidup dan pemikirannya ingin dituliskan, biarlah orang lain yang menulis. Jangan lakukan sendiri, dan pendapat saya juga ditujukan untuk Tuan. Memang ada bagian yang menarik ketika Tuan bicara soal kuliner Jerman, dan kebiasaan-kebiasaan diet Tuan (tidak minum alkohol), dan pendapat Tuan bahwa “kopi membuat seseorang muram” dan “teh hanya bermanfaat di pagi hari”, saya tetap menyarankan untuk tak menulis diri sendiri. Dan tentu saja tidak menulis ulasan atas buku sendiri, seperti Tuan lakukan. Lihat, bagaimana Tuan bilang tentang karya sendiri sebagai “sebuah pengecualian di antara buku-buku lain: tak ada karya yang lebih kaya secara substansi, lebih mandiri, lebih mengganggu — lebih durjana.” Tidak. Saya tak akan menerbitkan buku ini. Bahkan meskipun Tuan akan menyertakan gambar dan beragam resep masakan dan ulasan beragam kuliner, saya tak akan menerbitkannya. Meskipun begitu, saya ucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan Tuan kepada penerbit kami, dan terutama kepada saya untuk membacanya. Sekali lagi kami tak akan menerbitkan buku macam begini. Tidak. Sekali lagi, tidak.



Standard

2 thoughts on “Tiga Buku Nietzsche

  1. Naufal says:

    Dia harus diterbitkan. Saya yakin, atau kira-kira yakin, bahwa debatnya di dalam surga bersama Wagner yang tertulis dalam drama Bernard Shaw akan bertambah gila jika nanti mas Eka nyusul, dan debat bersama mereka, karena tahu bahwa bukunya ini tak diterbitkan di Indonesia.

  2. pancanita manalu says:

    Pendapat saya, silahkan saja diterbitkan, toh itu hny opini saja.. Saya sudah belajar ttg Nietzsche dan pemikirannya sejak masih kuliah dulu.. tapi tidak menggoyahkan iman saya sebagai Kristiani. :)

Comments are closed.