Eka Kurniawan

Journal

The Time Regulation Institute, Ahmet Hamdi Tanpinar

Nuri Efendi, si tukang memperbaiki jam, sering membeli jam bekas dari pedagang jalanan. Setelah diperbaiki, ia akan memberikannya kepada orang miskin sambil berkata, “Setidaknya kini kau akan menjadi tuan atas waktumu.” Jam, dengan cara yang aneh, telah membagi-bagi waktu, dan dengan cara itulah manusia mencoba menaklukkannya, meskipun yang terjadi akhirnya manusia terperangkap dalam kerangkeng waktu tersebut. Persis seperti yang dikatakan Nuri Efendi yang ironinya, jika ada yang datang kepadanya untuk memperbaiki jam milik mereka, si tukang jam akan mewanti-wanti, “Jangan tanya kapan selesai.” Ia tak mau diburu-buru. Ia tak mau terkungkung waktu. Sudah lama saya curiga waktu bisa dipergunakan untuk mengontrol manusia. Kendalikan waktu, maka kita akan mengendalikan manusia. Sebabnya sederhana, sebagaimana diingatkan Nuri Efendi, bahwa manusia memang terpenjara oleh waktu. Coba bayangkan, bukankah Tuhan pun “mengendalikan” ketaatan manusia salah satunya melalui waktu? Saya tak tahu bagaimana praktek ibadah di agama lain, tapi di Islam, sebagian besar ibadah pokok terikat dengan waktu. Salat lima kali sehari, di waktu yang telah ditentukan. Jumatan seminggu sekali. Berpuasa selama sebulan, setahun sekali. Dunia sekuler pun mengendalikan manusia melalui waktu. Kantor mengendalikan karyawannya melalui jam kerja dan hari kerja. Sekolah mengendalikan murid melalui jam belajar. Bahkan ada adegan di mana seorang karyawan, di jam kerja, harus berperan menjadi diri yang lain dan baru mau bicara sebagai dirinya ketika jam kerja selesai. The Time Regulation Institute, sekilas merupakan novel gagasan tentang waktu, tapi sebenarnya jauh lebih dari itu: ini merupakan novel tentang Turki, sejarahnya, obsesinya untuk menjadi modern sekaligus sekuler, pertentangan Barat dan Timur, bahkan agama, yang dengan cemerlang digambarkan oleh Ahmet Hamdi Tanpinar melalui parabel tentang jam, waktu, tukang reparasi dan sebuah institut yang memastikan masyarakat selalu punya jam yang menunjukkan waktu dengan tepat (jika tidak, mereka akan didenda!). Novel ini bisa dibilang berisi lima hal besar: wacana mengenai waktu, birokrasi, sejarah, psikoanalisis, dan mengikat semuanya adalah kisah hidup (lebih tepat kisah kemalangan) si tokoh utama bernama Hayri Irdal. Kisah dibuka dengan nasib malang keluarga Hayri yang harus mewarisi jam bandul besar, yang sebenarnya direncanakan untuk perangkat di masjid. Tapi karena keluarganya (sejak kakek) tak juga memperoleh kekayaan yang cukup untuk membangun masjid, jam bandul itu terus-menerus diwariskan dengan beban berat berupa wasiat untuk membangun masjid jika ada uang. Nasib sial yang dibawa si jam bandul membawa Hayri dari satu nasib buruk satu ke buruk lain, hingga berakhir dengan kesuksesan mendirikan Institut Regulasi Waktu. Kisah yang pada dasarnya sederhana menjadi tidak sederhana. Melalui waktu, kita bisa melihat watak asli birokrasi (yang digambarkan melalui pendirian institut tersebut), dan melalui jam bandul kita masuk ke diskusi mengenai psikoanalisis yang lucu dan penuh ejekan. Bagian paling lucu, tentu saja bagaimana Hayri, untuk memberi legitimasi terhadap lembaganya, menciptakan tokoh rekaan bernama Ahmet Sang Waktu, sebagai seorang pelopor keahlian menciptakan jam, bahkan menulis biografinya. Jika sebelumnya saya berkenalan dengan Bohumil Hrabal melalui Milan Kundera, maka perkenalan saya dengan Ahmet Hamdi Tanpinar datang melalui penulis Turki yang lain, Orhan Pamuk, yang menyebut Tanpinar sebagai, “Tak meragukan merupakan pengarang paling cemerlang dalam kesusastraan Turki modern.” Kurang lebih sama seperti pujian Kundera untuk Hrabal dalam khasanah kesusastraan Ceko. Sayang sekali baik Hrabal maupun Tanpinar sudah keburu meninggal, jauh sebelum karya-karya mereka bisa memperoleh pembaca di luar bahasa mereka, sebagaimana yang kemudian dinikmati oleh Kundera maupun Pamuk. Tapi satu hal yang saya pelajari dari mereka, membaca karya seorang penulis yang baik selalu membawa saya kepada karya penulis baik yang lain. Itu tak pernah terjadi di karya-karya buruk. Karya-karya buruk selalu tak membawa saya ke mana-mana. Karya buruk tidak membuat saya bergumam, “Sialan, penulisnya membaca buku apa, ya?”

2 Comments

  1. sebenarnya para penulis keren seperti kang eka ini baca buku karya sastra, atau memang buku-buku diluar itu?

    • @iisnoor:
      Saya sih senang baca buku sastra. Novel, cerita pendek, puisi, esai. Sebagian besar bacaan saya itu. Tapi saya juga senang baca buku-buku filsafat dan sejarah (termasuk biografi). Jenis lain di luar itu sambil lalu saja.

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑