Journal

The Stone Raft, José Saramago

Beberapa hari lalu, saya membaca berita tentang retakan raksasa di Kenya dengan kemungkinan (berjuta tahun yang akan datang) Afrika akan terbelah menjadi dua benua. Berita itu segera mengingatkan saya atas novel José Saramago, The Stone Raft, yang meskipun terjadi di wilayah berbeda, namun menampilkan skenario yang sedikit mirip. Bagaimana jika semenanjung Iberia (di mana Spanyol dan Portugal berada) terpisah dari daratan Eropa? Dan tak perlu menunggu berjuta tahun, tapi dalam hitungan hari bahkan jam? Di tangan Saramago, ini tak hanya menjadi kisah fantastis, tapi juga menawarkan komedi manusia, drama dan ketegangan politik, sosial, tapi juga kemelut romansa. Di pusat peristiwa yang menghebohkan dunia ini, ada tiga lelaki dan dua perempuan, serta seekor anjing yang menjelajahi semenanjung, bolak-balik antara Lisbon hingga Pyrenees (pegunungan yang menjadi batas alami Spanyol dan Perancis), awalnya merupakan perjalanan pengungsian dan berakhir sebagai perjalanan absurd tanpa tujuan. Yang khas dari Saramago, dengan beragam skenario yang ajaib di novel-novelnya, ia selalalu bisa melihat komedi manusia ini dari jarak jauh (macam pandangan burung yang terbang melihat hamparan tanah yang luas) maupun dari jarak dekat (seperti kaca pembesar yang mencoba melihat detail-detail perasaan individu). Di novel ini misalnya, kita bisa melihat terlepasnya semenanjung Iberia yang mengapung-apung di lautan Atlantik, tak hanya merupakan kasus geologi (meskipun tentu saja ada banyak spekulasi geologi dari pakar hingga orang awam), tapi juga peristiwa budaya dan identitas. Apakah Spanyol dan Portugal menjadi bagian dari Eropa lagi? Hal ini diperpanas dengan Amerika, yang merasa punya beban moral kemanusiaan, yang dengan terbuka menyambut “rakit batu” ini, meskipun tak ada kejelasan mengenai peleburan penduduknya (Saramago menyindir Amerika sebagai negara dengan imigrasi paling sulit). Demikian juga ketika semenanjung ini, yang sekarang menjadi pulau mengambang, terapung-apung dan berhenti sejenak di tengah samudera, dengan kocak seorang jurnalis mengusulkan, barangkali kita perlu mengadakan perundingan lagi serupa perjanjian Tordesilla. Jika ada yang akrab dengan sejarah bagaimana dunia di luar Eropa pernah dibagi di antara Portugal dan Spanyol, seharusnya nyengir dengan lelucon tersebut. Tapi sekali lagi, Saramago tak hanya melihat fantasi ini dari sudut makro sosial-politik, yang pada titik tertentu akan sangat membosankan dan mungkin jadi esai yang berlarat-larat. Yang terpenting dalam novel ini, dan saya kira di semua novel, akan kembali tentang manusia. Bagaimana mereka menghadapi dan terdampak oleh suatu peristiwa, yang nyata di luar kuasa mereka. Ada satu episode yang menurut saya paling penting di novel ini. Seperti saya sudah singgung sebelumnya, pusat novel ini adalah tiga lelaki, dua perempuan dan seekor anjing. Awalnya sebagian dari mereka berkelana dengan mobil Deux Chevaux (saya tahu artinya dua kuda dalam bahasa Perancis, tapi harus lihat gambarnya di internet untuk tahu mobil macam apa), sebelum mobilnya rusak dan mereka meneruskan perjalanan (kini berlima ditambah anjing) dengan kereta yang ditarik dua kuda (atau “deux chevaux”, gaya humor Saramagao). Nah, dua lelaki dan dua perempuan itu kemudian menjadi pasangan. Bagaimana dengan lelaki satu lagi, yang paling tua? Ia apa boleh buat, berteman dengan si anjing. Bagaimanapun di novel ini tertulis, “Ketika seseorang tak punya siapa untuk dicinta … persahabatan merupakan hal terbaik.” Tapi itu tak cukup, kan? Sepanjang perjalanan, sementara dua pasangan memadu kasih, lelaki tua itu tampak kesepian. Kedua perempuan merasa kasihan kepadanya, apalagi cuaca mulai dingin dan tahu si lelaki tua tak punya apa pun untuk menghangatkan diri kecuali tubuh anjing. Hingga satu malam, satu perempuan menemuinya di hutan, dan Anda bisa membayangkan apa yang terjadi. Hubungan si perempuan dan pasangannya pun retak. Untuk menutupi “kesalahan dengan kesalahan”, perempuan kedua juga menemui si lelaki tua di hutan, dan terjadi apa yang terjadi juga. Hubungan kelima orang itu retak semuanya. Lelaki muda pertama memutuskan untuk berpisah, tapi salah satu perempuan mengingatkan: “Jika apa yang kami lakukan butuh penjelasan, maka kita sudah salah satu sama lain sejak hari kita bertemu.” Di sini, seperti di banyak novelnya, Saramago mengguncang tatanan moral umum, yang seringkali menjadi problematik di saat-saat kritis semacam ini. Bukan hanya sebongkah batu sebesar semenanjung yang mengapung-apung, tapi nilai-nilai, juga senantiasa mengapung, betul?



Standard

3 thoughts on “The Stone Raft, José Saramago

  1. Lele Tomas says:

    Yang selalu menarik dari Jose Saramago adalah imajinasi liar-nya yang selalu membuat cerita dengan gaya “what if?”. Bagaimana jika seluruh manusia buta? Bagaimana jika malaikat maut pensiun dan manusia tak lagi bisa mati? Bagaimana jika….?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *