Adalah Tolstoy yang mengatakan dalam pembukaan Anna Karenina (salah satu pembukaan terbaik, meskipun dibuka dengan pernyataan narator dan bukan melalui adegan), bahwa derita manusia selalu khas melebihi kebahagiaan mereka. Saya teringat dengan paragraf tersebut ketika membaca “derita-derita” Etgar Keret dalam esai-esai ringkas (sketsa? memoar? potret?) yang secara ironi justru diberinya judul The Seven Good Years. Dan seperti di cerpen-cerpennya yang pendek dan penuh olok-olok, demikian pula esai-esai ini. Dibuka dengan tulisan mengenai kelahiran anaknya di rumah sakit, bersamaan dengan berdatangan korban serangan teroris ke sana. Seorang wartawan mengenali Keret sebagai penulis dan mengira ia salah satu korban serangan, dengan antusias bertanya, “Dimana kamu saat itu terjadi?” (Saya jadi ingat kebiasaan wartawan di sini yang bertanya langsung kepada korban sebuah peristiwa, “Bagaimana perasaanmu?”) Ketika Keret berkata ia bukan korban seerangan, tapi sedang menunggu isteri melahirkan, si wartawan kecewa. Menurutnya, keterangan korban selalu membosankan (ia sudah tujuh kali meliput serangan teroris di rumah sakit tersebut), dan berharap kalau penulis yang mengalaminya, mungkin komentarnya akan terdengar orisinal dan memiliki visi. Di akhir tulisan, anaknya kemudian lahir. Dengan penuh ledekan kepada diri sendiri yang khas dalam banyak tulisannya, Keret tak hanya berharap bahwa Timur Tengah di masa anaknya tumbuh akan penuh kedamaian, tapi juga, setidaknya jika ada bulan biru, ada yang bisa mengomentarinya secara orisinal dan dengan sedikit visi. Esai-esai pendek ini seluruhnya berisi penggalan peristiwa sehari-hari yang dialaminya. Sebagai seorang Yahudi, warga Israel, seorang ayah, dan tentu saja seorang penulis. Ada bagian di mana ia menceritakan perjalanan ke Ubud, Bali, dan duduk di restoran Indus ngobrol dengan seorang lelaki Swiss. Saya rasa itu terjadi saat Etgar Keret diundang ke Ubud Writers and Readers Festival. Ia menceritakan betapa susahnya memperoleh visa (ia harus menunggu di Bangkok, dan direktur festival harus bicara langsung dengan orang imigrasi). Juga soal ayahnya yang melarang dan ketakutan ketika tahu ia akan ke Indonesia. “Itu negeri mayoritas Muslim, anti-Israel, dan anti-Semit,” kurang-lebih begitu kata ayahnya. Si ayah tetap ketakutan meskipun Etgar bilang, mayoritas orang Bali menurut Wikipedia beragama Hindu. “Kita tak butuh suara mayoritas untuk meletakkan pelor di kepalamu.” Tentu saja ia akhirnya tetap datang, dan bertemu orang-orang yang melihatnya dengan tatapan aneh, tapi tersenyum. Humornya sangat melimpah, dan terutama caranya mengejek diri sendiri, termasuk ejekan terhadap dirinya sebagai Yahudi paranoid. Ada bagian-bagian di mana, ke mana pun ia pergi, ia merasa ketakutan bertemu para pembenci Yahudi. Di Tel Aviv, seperti semua warga Israel, mereka terus diliputi ketakutan diserang negara-negara di sekeliling mereka, yang semuanya “musuh”. Pergi ke Jerman, ia didera ketakutan bertemu neo-Nazi. Hingga satu hari di restoran, ia mendengar orang Jerman mabok dan ngoceh di dalam bahasa Jerman yang tak dimengertinya, tapi ia merasa mengerti dan yakin si orang mabok sedang menghinanya. Ia berdiri dan menantang si orang mabok. Padahal kemudian ia tahu, si orang mabok sama sekali tidak sedang menghujatnya, melainkan sedang mengomel karena mobilnya terhalang mobil lain di tempat parkir. Saya selalu percaya, penulis yang baik, dan pada dasarnya manusia-manusia yang besar hatinya, selalu punya ruang untuk mengejek diri sendiri. Humornya merupakan kritik terus-menerus terhadap diri. Seperti siapa pun, ia memiliki sifat rentannya sendiri. Kadang ia marah, kesal, membenci sesuatu, tapi pada akhirnya, ia bisa melihat di bagian mana hal tertentu bisa ditertawakan. Buku ini layak untuk disebut bacaan favorit saya tahun ini.