Ini novel yang hanya 92 halaman. Ada yang bilang, novel setipis itu disebut novela, atau novelet, atau cerita pendek panjang. Saya lebih senang menyebutnya novel saja. Sebab bagi saya novel tak merujuk kepada berapa halaman dan berapa tebal buku. Novel tidak merujuk kepada kuantitas jumlah huruf dan kata. Bagi saya, novel merujuk ke sebuah gagasan. Jika filsafat merupakan gagasan yang dibangun melalui argumen dan spekulasi, novel merupakan gagasan yang dibangun melalui perangkat-perangkat kisah. Novel bisa pendek, sebagaimana traktat filsafat bisa pendek; juga bisa ribuan halaman, sebagaimana terjadi pada naskah filsafat. Maka The Old Man and the Sea Ernest Hemingway adalah novel. The Metamorphosis Franz Kafka adalah novel. The Passport Herta Müller adalah novel. Orang bisa saja menyebutnya cerita pendek, sebab cerita pendek lebih mengacu ke ukuran. Cerita yang pendek. Bisa juga novela atau novelet. Terserah. Ini novel pendek. Hanya 92 halaman. Tapi saya membacanya lebih lama daripada buku lain yang jauh lebih tebal. Lebih lama dari buku 300 halaman. Kecepatan membaca saya tiba-tiba menurun, seperti menemukan tanjakan. Awalnya saya mengira novel ini begitu tak menariknya, sehingga saya tak bisa membacanya dengan cepat. Tapi setelah 20, 30, kemudian 60 halaman, novel ini tentu saja menarik. Hanya saja, sesuatu membuat saya harus membacanya pelan. Belakangan saya sadar apa yang membuat saya membaca pelan: deskripsi. Telah lama saya menyadari bahwa deskripsi membuat kecepatan membaca menurun. Membuat irama cerita melambat. Belajar dari banyak penulis, saya sering memakai deskripsi untuk mengatur irama cerita. Di tengah-tengah irama cerita yang bergerak cepat, kita bisa membuatnya melambat dengan menyisipkan deskripsi. Banyak cara untuk memperlambat irama cerita, tapi deskripsi hampir selalu berhasil melakukannya. Maka cerita yang dipenuhi deskripsi, akan terasa lambat. Peristiwa menjadi tak bergerak. Konflik tak terjadi. Novel ini penuh dengan deskripsi. Bahkan sejak kalimat pertama. Ada mawar di sekitar monumen peringatan perang. Mawar-mawar membentuk belukar. Begitu rimbun hingga menyingkirkan rerumputan. Bunganya putih, bergulung erat serupa kertas. Mereka bergemerisik. Fajar menyingsing. Segera datang pagi. Untunglah novel ini dibangun melalui fragmen-fragmen pendek. Satu-dua halaman. Paling banter empat halaman. Satu fragmen kadang hanya menceritakan adegan kecil. Seperti ketika Rudi membawa Amalie ke kebun, membuka bajunya, dan mengisap puting buah dadanya. Atau tentang pohon apel yang memakan buahnya sendiri. Capek memang karena terlalu banyak deskripsi. Hujan turun. Rantai sepeda berputar. Air menciprat ke kaki Windisch (ini tokoh utama di novel ini). Burung hantu terbang memutari pohon apel. Seperti film yang kameranya bergerak lamban hanya untuk memperlihatkan lanskap di sekelilingnya. Tapi untunglah novel ini dibangun melalui fragmen-fragmen pendek. Untunglah novel ini hanya 92 halaman. Ini kisah tentang sebuah keluarga Jerman yang hendak keluar dari Rumania, dan membutuhkan paspor. Ini kisah tentang usaha seorang kepala keluarga menyogok sana-sini untuk memperoleh dokumen yang diperlukannya, kisah tentang keluarga yang ternak dan harta mereka diambil oleh pemerintah yang korup. Kisah tentang paspor yang barangkali harus ditukar dengan tubuh seorang gadis. Tapi novel ini juga dibangun oleh fragmen-fragmen kecil, yang menceritakan kisah-kisah kecil. Satu-dua halaman. Paling banter empat halaman. Kadang tentang dahlia putih. Lain kali berkisah tentang mesin jahit. Atau rumah ibadah. Ayam jago yang buta. Jam di dinding. Itu membuat novel ini menjadi kaya. Pendek, tapi kaya. Lambat, tapi membuat kita menikmati kisah-kisah kecil yang berserakan di sepanjang perjalanan ceritanya. 92 halaman saja, tapi menyimpan ratusan kisah.