Rapuh, barangkali itulah yang ingin disampaikan novel ini. Segala hal di dunia ini rapuh belaka. “Kecantikan bunga-bunga itu menyedihkan sebab mereka rapuh, dan ditakdirkan untuk mati, seperti segala sesuatu di dunia tentu saja, tapi bunga-bunga khususnya memang rapuh,” demikian komentar Jed Martin, tokoh utama The Map and the Territory ini, yang memulai karir melukisnya (ketika masih kecil) dengan menggambar bunga. Novel ini dibuka dengan usaha Jed memperbaiki mesin pemanas ruangan yang rusak, menjelang Natal yang dingin. Mesin pemanas ruangan yang rapuh, yang bisa diperbaiki hanya untuk kemudian memperlihatkan tanda-tanda kerusakan lagi. Sangat mengejutkan bahwa penulisnya, Michel Houellebecq dalam wawancara dengan The Paris Review mengatakan bahwa ia menganut (atau bagian dari keluarga) romantik. Yang artinya, ia percaya ada kebahagiaan abadi, percaya hidup bisa begitu indah. Sementara novel ini memperlihatkan situasi yang sebaliknya, murung, dan tanpa harapan. Plato pernah mengatakan bahwa karya seni itu tak lebih dari mimesis (tiruan) dari kehidupan (ya, sebagaimana ia percaya kehidupan itu sendiri mimesis dari ide). Barangkali dengan cara pandang platonis semacam itulah, kehidupan dilihat di novel ini melalui karya seni dan dari kacamata seorang seniman. Dan sebagaimana kita tahu betapa rapuhnya karya seni (secara nilai estetik maupun nilai benda), maka kita bisa membayangkan betapa rapuhnya juga kehidupan. Tapi dengan kesadaran akan segala yang rapuh inilah, dunia menjadi layak dinikmati dalam kefanaannya, sebagaimana menikmati bunga mekar yang hanya sekelebat. Dorongan untuk menikmati kefanaan ini, saya rasa menciptakan dualisme yang saling bertolak-belakang. Kesadaran akan kerapuhan barangkali akan membuat kita rendah hati, bahwa segala sesuatu tak perlu diperlakukan berlebihan. Sebab segalanya akan mati, punah. Tapi bisa juga disikapi dengan sikap rakus yang mengeksploitasi. Seperti penjaja bunga yang mencoba mengeruk untung dari riwayat singkat kehidupan bunga-bunga. Lihatlah dunia seni rupa, sebagaimana yang dipertunjukkan melalui tokoh Jed Martin ini. Karya-karya fotografinya (kemudian lukisannya), yang dicetak dengan kertas dan tinta yang pasti akan hancur dan pudar dalam beberapa waktu ke depan (demikian juga cat dan kanvas), dikapitalisasi oleh (tak hanya galeri) tapi juga perusahaan multinasional, dan dijadikan investasi oleh para orang kaya dunia. Sebab mereka sadar, jika mereka tak mengeksploitasinya sekarang, segalanya akan lenyap dalam kerapuhan. Bukankah kehidupan manusia juga serupa? Manusia tak akan hidup selamanya. Manusia tak hanya rapuh menghadapi usia, tapi juga rentan oleh penyakit. Di sela-sela itu, selama kehidupan belum hancur oleh kerapuhannya, kita mencoba mengeksploitasi kehidupan kita sendiri. Dalam hal ini, doa orang Kristen yang meminta untuk bersyukur untuk roti hari ini tampak seperti tak memadai: orang ingin rejeki yang melampaui usianya sendiri, melintasi batas-batas kerapuhannya. Bayangkan pula dengan kehidupan seksual. Kita, manusia, telah menemukan seks tak lagi dalam fungsi reproduksi. Seks berarti kesenangan, bahkan pada titik tertentu mungkin komoditas. Kita tak ingin membiarkan seks, yang singkat itu, berlalu begitu saja tanpa memperoleh “nilai lebih”. Sebab, seperti novel ini mengatakannya juga, “Seksualitas merupakan sesuatu yang rapuh: susah dimasuki dan gampang ditinggalkan.” Dua tokoh di novel ini bereaksi berbeda terhadap kerapuhan. Ayah Jed memilih pergi ke luar negeri untuk memperoleh layanan eutanasia. Membayar dokter untuk membunuh dirinya. Ia memutuskan untuk memilih sendiri akhir kerapuhan hidupnya. Jed, sang anak yang kemudian menderita kanker, memilih tak mengobati penyakitnya. Membiarkan kanker menggerogoti tubuhnya, dan hanya mengonsumsi obat pereda sakit. Ia membiarkan kehidupan yang rapuh menguasai dirinya, menghancurkannya perlahan-lahan. Ini novel distopia, dan sebagaimana sering terjadi pada novel yang bagus, sangat mengganggu.