Eka Kurniawan

Journal

The Man In The High Castle, Philip K. Dick

Di mana letak keindahan sebuah obyek, katakanlah benda seni? Di mana terletak keistimewaannya, nilainya? Di mana letak kesejarahan dari sepucuk senjata yang telah mengarungi banyak peperangan? “Di pikiran. Bukan di pistol itu,” kata Wyndam-Matson salah satu tokoh dalam The Man In The High Castle karya Philip K. Dick. Sebenarnya novel ini berkisah tentang sebuah andai-andai: jika Perang Dunia II ternyata dimenangi oleh Jerman dan Jepang, dan Amerika harus dibagi di antara kedua negara itu. Di masa seperti itulah kemudian muncul novel yang malah menceritakan andai-andai sebaliknya: Ternyata Sekutu menang (dan dunia dibagi di antara pengaruh Amerika dan Sovyet). Lelucon-lelucon politik dan ideologinya mengasyikkan, tapi sempilan-sempilannya tentang seni yang sebenarnya tak banyak, malah menarik perhatian saya. Seperti yang sudah saya buka di atas, di sana-sini kita bisa menemukan pembicaraan tentang seni, kadang sampai tingkat yang lumayan filosofis, kadang dalam tingkat ejekan atas selera seni kaum fasis (juga kapitalistik dengan produksi massalnya). Untuk membuktikan pernyataannya, Wyndam-Matson memperlihatkan dua geretan Zippo yang serupa. Satu di antaranya ada di saku Franklin D. Roosevelt ketika ia dibunuh. Bisa diketahui yang mana? Menurutnya, tidak. Sebab tak ada “penampakan lapisan mistis” atau “aura” dari benda itu. Kita sendiri yang menciptakan “aura” tersebut. Isu ini selalu menarik perhatian saya, tentang bagaimana sebuah karya memiliki nilai tertentu, dan benda lain dianggap sampah. Dan kita tahu, nilai-nilai itu bisa berubah, tak hanya karena yang menilai berbeda, tapi juga karena ruang dan waktu yang berbeda. Maka saya kira, eksploitasi karya seni (untuk tujuan apa pun), pada dasarnya merupakan eksploitasi pikiran manusia. Bentuklah pikiran manusia, satu generasi atau satu bangsa, maka akan terbentuk pula “selera” mereka mengenai seni seperti apa yang baik dan bagus, atau sampah. Bayangkan misalnya kesusastraan Indonesia. Saya sering curiga, kita tergila-gila dengan kesusastraan yang menampilkan watak-watak pahlawan. Sosok yang mau berjuang dan bahkan berkorban untuk orang lain, untuk kebenaran, atau untuk sebuah nilai. Sosok yang bisa jadi panutan. Saya yakin pikiran ini tentu saja dibangun oleh wacana yang barangkali sejarahnya jauh ke belakang, entah di mana. Karena itulah sangat jarang, bukannya tak ada, kita menemukan watak-watak yang sebaliknya: yang brengsek, sampah, tak membela apa-apa kecuali nafsu bejatnya sendiri. Padahal saya yakin, kesusastraan tak hanya membutuhkan model ideal, tapi juga cermin untuk melihat kebusukan, kelemahan dan sisi gelap manusia. Kembali ke novel ini, ada ejekan menarik mengenai selera kaum fasis Jerman, yang diucapkan karakter yang lain: “Aku suka Verdi dan Puccini. Apa yang kita dapatkan di New York hanyalah musik Jerman yang berat dari Wagner dan Orff yang bombastis, dan setiap minggu kita harus pergi ke pertunjukan dramatik Partai Nazi Amerika yang klise di Taman Madison Square, dengan bendera-bendera, genderang, terompet dan kembang api.” Tentu saja Nazi memang menyukai tontonan macam begitu. Seperti dikatakan Walter Benjamin (izinkan melipir sedikit, dengan mengutip dari esai “The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction”), “Kaum fasis mengestetikkan kehidupan politik.” Atau jika boleh mempergunakan kata-kata sendiri, kaum fasis menciptakan aura dengan cara seperti itu, cara yang jitu untuk menggiring massa ke dalam politik, tapi pada saat yang sama membutakan mereka dari politik itu sendiri. Dibutakan oleh “aura”. (Saya bahkan yakin, kumis Hitler yang seperti itu juga memang sengaja sebagai upaya “mengestetikkan kehidupan politik”). Bayangkan orang-orang lapar, yang terpinggirkan secara sosial dan politik. Bukannya berpikir kritis, mengorganisir diri dan melawan secara politik, mereka malah silau oleh aura yang dibangun dalam kerangka “mengestetikkan kehidupan politik” ini: oleh jargon, oleh pawai-pawai (dengan sepeda motor tanpa helm?), emblem-emblem di baju seragam, bahkan oleh cara berpakaian Pemimpin Besar. Membawa pentungan, bahkan pedang, seolah sedang mempertunjukan sebuah teater. Mereka masuk ke dalam barisan, merasa bagian dari “aura” tersebut. Tak perlu jauh-jauh ke masa Perang Dunia II, gejala semacam itu bisa kita lihat hari-hari ini di mana-mana. Di sini, di barat maupun di timur. Ketergila-gilaan kepada aura ini bahkan bisa menciptakan sentimen yang absurd. Ketika si orang Jepang di novel ini mengusulkan si tokoh utama, Childan, untuk memproduksi massal (dengan cetakan) perhiasan logam (yang diciptakan oleh “artis” Amerika dengan tangan satu per satu), ia merasa tersinggung. Nasionalismenya terluka. Mental negeri jajahannya terbakar. Saya benar-benar tertawa di bagian ini, terutama karena Amerika yang kita kenal merupakan negeri yang dipenuhi “produksi massal”. Mungkin itu cara Philip K. Dick mengejek negerinya. Bagaimana melawan bias “aura” ini, yang tentu saja dikendalikan oleh sejenis otoritas (baik karena ideologi seperti kaum fasis, atau sekadar alasan komersial dari para pedagang)? Walter Benjamin punya jawabannya, alih-alih mengestetikkan politik, lebih baik “mempolitikkan seni.” Kata Benjamin, itu jawaban kaum komunis terhadap selera estetis fasisme. Hm, novel ini membawa saya ke mana-mana, ternyata.



8 Comments

  1. Sepakat. Novel ini memang keren, Kang Eka. Beberapa kali menang penghargaan dan nominasi. Tapi menurutku masih di bawah karya-karyanya yang lain: Ubik; Do Androids Dream of Electric Sheep; A Scanner Darkly.

    Dunia dystopia ala Dick selalu mengguncang. One of my favourite authors! Kalo gak salah beliau penulis favorit Bolano juga ya, Kang?

    Sayang, eksistensinya–sebagaimana penulis-penulis Sci-Fi–agak kurang diakui. Oiya, beliau juga sempet bikin novel ‘mainstream’ (non Sci-Fi), sebagai upaya agar bisa menembus pasar: Confessions of A Crap Artist. Di situ gaya ceritanya agak mirip Portnoy. Mantep.

  2. wah boleh juga nih novel kang Eka, tetapi yang bikin saya terhibur adalah ternyata Kang EKa juga jualan baju kaos oblong tentang bukunya, nah itu bikin saya penasaran, apa kang Eka ada niat bikin band indie?

    • @zaki
      Soal kaos oblong, idenya memang dari merchandise musik. Saya senang (lihat maupun pakai) kaos bergambar sampul album. Asyik kan kalau ada kaos bertema sampul buku (ada sih, tapi jarang). Bikin band indi? Saya enggak bakat musik :-)

  3. Kang Eka, kita sepakat nih, yang namanya estetika dibentuk oleh pandangan mayoritas masyarakat (tanpa disadari oleh sebagian besar anggota masyarakat itu sendiri) Pertanyaannya, lalu bagaimana membuat sebuah karya yang baik? Pernyataan pertama kan secara tidak langsung mau mengatakan, bahwa semua karya adalah baik.

  4. “Karena itulah sangat jarang, bukannya tak ada, kita menemukan watak-watak yang sebaliknya: yang brengsek, sampah, tak membela apa-apa kecuali nafsu bejatnya sendiri.”

    Kang Eka, apa karya sastra Indonesia yang menampilkan watak-watak semacam ini, yang jadi kegemaran Kang Eka?

    Saya dulu membaca Tortilla Flat (penerbit Sumbu, Yogya. Mungkinkah penerjemahnya Kang Eka?) Saya suka cerita-cerita semacam itu. Tokoh-tokoh ngawur.

    • @Imam
      Tidak selau. Tapi sudut pandang yang berbeda2 saya rasa membuat pikiran kita akan jauh lebih kaya. Mengenai novel Steinbeck, saya menerjemahkan “Cannery Row”. Kebetulan akan diterbitkan kembali oleh Bentang.

      • Ah ya, saya keliru. “Tortilla Flat” terjemahannya diterbitkan Pustaka Jaya. “Cannery Row” yang Sumbu.

  5. Bung sudah melihat adaptasi novel ini di serial TV yang dibuat Amazon Prime?

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑