Eka Kurniawan

Journal

The Hen Who Dreamed She Could Fly, Sun-Mi Hwang

Sejak punya anak perempuan, saya senang membaca fabel. Saya membaca Aesop. Saya juga mengarang beberapa fabel, yang saya ceritakan kepada anak perempuan saya, bahkan sejak ia belum mengerti sepatah kata pun. Satu fabel bahkan pernah saya terbitkan (di Koran Tempo, tahun lalu). Saya berharap kelak menerbitkan fabel-fabel itu, jika anak saya sudah bisa membaca. Memperoleh novel ini: The Hen Who Dreamed She Could Fly, karya penulis Korea Sun-Mi Hwang, seperti memperoleh ciuman yang tak disangka-sangka (sampai saya ingin membangunkan anak saya untuk menceritakannya ulang). Saya selalu menatap dengan penuh kecurigaan kepada bangsa Korea ini. Dua puluh tahunan lalu, mereka seperti bukan apa-apa. Di Asia Timur, mereka seperti bukan apa-apa diapit dua raksasa kebudayaan: Jepang dan Cina. Belum lagi ditambah India di selatan. Tapi perlahan-lahan mulai berubah. Orang mulai membeli Samsung dan melupakan Sony. Orang mulai menonton film Korea ketimbang Jepang, hampir bersamaan dengan mencuatnya kembali film Cina. Nama-nama sutradara seperti Park Chan-wook (trilogi film tentang dendamnya sangat saya sukai, dan tahu persis, sangat berpengaruh dalam proses kreatif saya) dan Kim Ki-duk mulai bersaing dengan sutradara top Asia, bahkan dunia. Musik? Apa yang disebut K-Pop, kini merajalela di Tokyo, Shanghai, bahkan termasuk Jakarta. Melihat semua itu, saya merasa yakin kesusastraan dan seni rupa mereka, perlahan tapi pasti, akan berdiri sejajar dengan apa yang telah dicapai oleh Jepang dan Cina. Penyebabnya sederhana: mereka memang memiliki strategi kebudayaan yang terarah dan terukur. Tak perlu datang jauh-jauh studi-banding ke Korea untuk mengetahui hal ini. Tanda-tandanya sudah jelas: beberapa waktu lalu Kyung-sook Shin memperoleh Asian Literary Prize untuk novel Please Look After Mom, dan sekarang, fabel kecil yang menyenangkan ini, saya yakin akan merebut hati pembaca di mana-mana. Fabel ini mengingatkan saya ke masa yang sedikit lampau. Adik saya, ia lulusan fakultas peternakan dari universitas yang sama dengan saya di Yogyakarta, memulai bisnis kecil beternak ayam potong. Ia menyewa sebidang tanah sedikit di luar permukiman (sebab tak boleh mendirikan kandang di tengah permukiman, tentu saja), dan setiap pagi serta petang ia pergi ke sana untuk menengok ayam-ayamnya. Saya sesekali ikut. Kadang-kadang saya berdiri memandang ayam-ayam itu dengan sedikit kekaguman dan kesedihan. Kagum karena umat manusia bisa sampai pada titik dimana mampu “menciptakan” (ya, dalam tanda petik), makhluk bernama ayam potong ini, di sisi lain, tentu sedih melihat nasib ayam-ayam tersebut. Banyak orang tak percaya teori evolusi Charles Darwin. Saya memercayainya, bukan karena teori itu logis bagi kepala saya, tapi terutama setelah melihat ayam-ayam potong tersebut. Darimana manusia belajar “menyeleksi alam” jika bukan dari alam? Dasar teori evolusi kan memang seleksi alam, dan teori luar biasa ini membantu manusia “menciptakan” ayam-ayam yang bisa dipotong dalam 40 hari, membantu manusia “menciptakan” ayam-ayam yang pekerjaannya hanya bertelur seumur hidup. Kadang-kadang saya berseloroh, suatu ketika demi efisiensi, kita mungkin “menciptakan” ayam tanpa kepala dan kaki dan bulu, untuk dipasok ke Kentucky Fried Chicken dan McDonalds. Berbeda dengan ayam-ayam yang dipelihara adik saya, ayam di fabel ini merupakan jenis ayam petelur. Ayam yang kerjanya bertelur. Ia (yang bahkan tak pernah menyentuh telurnya karena langsung menggelinding) bermimpi suatu hari ingin mengerami sendiri telurnya (bahkan impian ini pun tampak menyedihkan, sebab kita tahu, telur mereka steril). Fabel ini sedikit kejam, sebab mengingatkan kita betapa manusia merupakan makhluk tukang rampas hak-hak kehidupan makhluk lain, tapi juga merupakan kisah mengenai keberanian untuk bermimpi, tak peduli impiannya absurd untuk pengetahuan kita (tampak sederhana dari sudut pandang si ayam betina). Saya tak akan merusak rasa ingin tahu Anda yang berminat membaca novel ini dengan bercerita banyak. Yang jelas, fabel ini memberi dua hal yang sering saya temukan dalam fabel-fabel yang paling saya sukai: rasa takut dan harapan, dan seperti dongeng terbaik di mana pun, mengingatkan kita kembali bahwa rasa takut dan harapan merupakan sepasang kembar yang sebaiknya ada di sana untuk tidak membenamkan kita dalam rasa putus asa.

7 Comments

  1. Kalau cerita yang tokoh-tokohnya adalah neanderthal, atau flo, apakah itu termasuk fabel juga?

    • @Anon:
      Fabel secara umum cerita/dongeng tentang sesuatu yg bukan manusia (binatang, tumbuhan, peri, jin, benda-benda) tapi diberi ciri-ciri manusia (perilaku, psikologi, dll). Nah, saya tak tahu neanderthal itu sudah masuk manusia atau bukan? :)

  2. Saudara Eka, Dalkey Archive baru saja menerbitkan siri buku-buku dari Korea. Ada beberapa novel yang menarik dalam siri itu.

    Sudah baca Karl Ove Knausgaard “My Struggle”? Sangat luar biasa. Novel pilihan saya pada tahun ini.

    • @Wan Nor Azriq:
      Saya belum membaca Karl Ove, tapi berniat membacanya. Sementara ini saya sedang senang membaca satu penulis Norwegia lainnya: Per Petterson.

  3. Mas Eka salam kenal. :)
    Saya Ahmad Wayang, salah satu relawan Rumah Dunia (RD) sekaligus Pj acara RD. Saya salah satu pembaca karya-karya Mas Eka, sering juga mengikuti jurnal ini. Tulisan-tulisan Mas Eka keren! Gimana ya biar bisa nulis sebagus ini? Ajarin dong Mas… :)
    Oh ya, kalau ada waktu luang, kapan-kapan mampir ke Rumah Dunia dong Mas, sekalian bagi-bagi motivasi menulis. :)

    Nuhun

    • @ahmad wayang:
      Salam kenal juga. Terima kasih sudah mampir. Saya selalu percaya motivator terbaik untuk para penulis bukanlah orang-orang yang bicara tentang menulis, tapi karya-karya terbaik yang kita baca. Itulah kenapa saya membuat blog ini: agar saya terus membaca dan setiap hari saya memperoleh motivasi baru. Syukur-syukur memberi motivasi juga untuk pengunjung laman ini :)

      Emailmu sudah kusimpan. Salam untuk teman-teman RD.

  4. Merinding bacanya, karena memang sedang berpikir mencurigai Korea. Merindingnya karena ternyata dunia “sastra serius” juga merupakan salah satu dari “strategi kebudayaan yang terarah” itu! Karena selama ini hanya berpikir mereka fokus di film dan teknologi saja.

    anyway, saat Aliyah saya diajari hadits tentang “Kauf dan Raja'” yang artinya, ketakutan dan harapan.

    NICE POST! :”)

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑