Eka Kurniawan

Journal

The Haunting of Hill House, Shirley Jackson

Membaca tiga buku dari penulis yang sama, saya tahu mulai keranjingan. Rasanya saya sanggup menghabiskan liburan hanya berteman buku-bukunya, bahkan meskipun yang dimaksud liburan adalah tak melakukan apa pun dari Januari hingga Desember kecuali membaca buku. Shirley Jackson mengambil elemen-elemen horor gothic: kastil tua, udara dingin yang merayap, makhluk-makhluk gentayangan yang tak tampak, dan tentu saja karakter-karakter yang tak berdaya, disertai kebrutalan yang kadang dibawakan dengan bahasa yang tanpa tedeng aling-aling. Itu semua sanggup membuat saya menahan napas berkali-kali, sambil mengantisipasi kejadian-kejadian yang akan datang, seolah saya ikut terjebak di dalam kastil tua yang remang tersebut. Pada saat yang sama, saya pikir ia berhasil melepaskan diri dari berbagai klise kisah-kisah horor gothic. Kita tak pernah benar-benar bertemu hantu, meskipun ia ada di sana. Setidaknya tidak di ketiga buku ini, termasuk yang terakhir saya baca, The Haunting of Hill House. Tapi bukan berarti tidak ada yang menakutkan. Kastil ini sendiri, Hill House, merupakan sosok angker dengan ruang-ruang, pintu-pintu, jendela-jendela, beranda, tangga, bahkan bukit dan halamannya, menyimpan kengerian. Dan ketika ia dengan sengaja mempergunakan beberapa adegan yang sangat akrab di berbagai literatur horor, ia tetap sanggup membuat bulu kuduk kita berdiri. Kita akan bertemu gedoran-gedoran pintu sementara si tokoh ketakutan di dalam kamar. Awalnya ketukan, kemudian gedoran, lama-kelamaan sesuatu itu tampak hendak mendobrak pintu, hingga pintu bergetar nyaris copot dari engsel-engselnya. Lain waktu si tokoh sedang berjalan di bukit diikuti dua temannya. Ia bicara dengan mereka, mendengar langkah kaki mereka. Tapi lama-kelamaan ia merasa bicara sendiri, meskipun kedua temannya terdengar terus mengikutinya. Ketika ia menoleh, kedua temannya tak ada di belakangnya, tapi ia masih mendengar langkah kaki di sekitarnya. Shirley Jackson, seperti para master kisah-kisah horor, tak pernah kesulitan untuk membuatmu ketakutan, sambil sesekali menutup buku untuk mengumpulkan sedikit nyali melanjutkannya lagi. Tapi pokok soalnya, di novel ini (sebagaimana di novel sebelumnya), ia tak melulu meramu kisah menakutkan. Dalam kisah-kisah horornya ini, hantu (meskipun ia ada di sana) bukanlah segalanya. Ia tak peduli apakah hantu ini ada di sana karena arwah yang gentayangan, karena kutukan masa lampau, atau apa pun. Yang terpenting adalah manusia-manusia yang harus berhadapan dengan hantu-hantu ini. Lebih dari mengenai Hill House dan sejarahnya yang mengerikan, novel ini berkisah tentang Eleanor, Theodora, si doktor yang melakukan penelitian tentang hal-hal supranatural, Luke, serta istri si dokter dan temannya, ditambah si juru masak. Permainan ketujuh karakter di novel ini merupakan anugerah tersendiri. Persilangan di antara mereka, seolah tanpa usaha yang berarti, menjadi sejenis humor yang menyenangkan dan melimpah, yang memberi sisi lain dari ruang-ruang menakutkan di rumah tempat mereka tinggal. Dan di antara mereka, Eleanor tentu saja memiliki tempat yang sangat khusus. Kecuali di bagian yang sangat awal, hampir keseluruhan novel ini mengikuti cara pandang dan pikirannya. Dan jika saya harus membandingkan dengan novelnya yang lain, We Have Always Lived in the Castle, saya bisa mengatakan bahwa, keterasingan, kesendirian, dan terutama keadaan dicampakkan oleh dunia seringkali merupakan horor yang lebih brutal daripada apa yang bisa dilakukan oleh hantu-hantu. Eleanor jelas tak hanya harus menghadapi hantu-hantu di Hill House, tapi juga dunia nyata di luar rumah itu. Terutama, ia tak hanya mendengar suara-suara aneh penghuni Hill House, ia juga harus mendengar suara-suara yang datang dari dalam kepalanya sendiri.



1 Comment

  1. Ulasan2nya selalu menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑