Journal

The Genealogy of Morals, Nietzsche

“Yang paling buruk, para seniman selalu butuh satu kubu, satu dukungan, satu otoritas yang sudah terbentuk: seniman tak pernah berdikari, berdiri sendiri berlawanan dengan insting mereka yang terdalam.” Hahaha, bangke sih, komentar ini. Meskipun tak selalu harus bergantung ke orang kuat, memang ada seniman-seniman yang suka mengikat diri ke gerombolan, seperti asu, tapi kan ada juga yang “serigala penyendiri” pastinya. Kutipan awal di atas datang dari Nietzsche di buku The Genealogy of Morals. Saya yakin komentar itu sangat bisa diperdebatkan, atau bisa bikin banyak seniman (dan para pemuja mereka) uring-uringan. Mungkin benar di zaman dulu, kala seniman sering menggantungkan diri kepada para patron. Tapi sekarang? Anggap saja itu kata-kata orang gila (atau kata-kata penggemar yang sedang kesal kepada sang komposer besar Wagner). Membaca Nietzsche memang siap-siap harus rada senewen, yang gampang naik darah sebaiknya jauh-jauhlah dari tulisan dia. Saya sendiri kadang berpikir, jika dia menyarankan berfilsafat harus dengan martil (untuk menggetok beragam berhala), saya sangat ingin mempergunakan martil itu untuk menggetok kepalanya, menyuruhnya berpikir lebih jernih, jangan kepedean, dan tentu saja dengan otak dingin. Tapi memang dia sangat sebel dengan segala hal yang lemah. Kalau kamu tukang mewek, merasa diri sebagai remah rengginang di dasar kaleng Khong Guan, atau seseorang yang sering berkata “siapalah saya”, saya sarankan: jangan, jangan jual lagak begitu di depan Nietzsche. Itu berat. Hidup kau bisa habis kena martil. “Bukan dari yang terkuat bahaya datang untuk orang kuat, tapi dari yang terlemah,” katanya. Ada hal-hal yang bikin saya ingin menggigit kupingnya juga. Misalnya, tendensi dia (tidak terang-terangan, tapi begitulah saya membacanya) untuk mencampur-adukkan moral, kebudayaan atau identitas Eropa dengan kekristenan. Eh, bukankah masih banyak yang berpikir begitu, sampai sekarang? Ganti Eropa dengan Amerika, dan lihat Donald Trump. Mungkin saja orang Eropa merasa kekristenan sebagai identitas mereka, tapi sebagai filsuf seharusnya bisa dijernihkan sejernih-jernihnya. Wong saya aja sering sebel kalau mendengar orang bicara tentang “budaya timur” atau “moral ketimuran” di Indonesia, padahal yang dia maksud adalah “moral Islam”. Apa hubungannya Islam dan ketimuran? Bahkan Arab dengan Islam pun harusnya merupakan definisi yang jelas berbeda. Tendensi seperti itu lebih terdengar politis daripada memiliki landasan argumen yang dapat dipertanggungjawabkan. Meskipun begitu, tentu saja ada hal-hal yang menarik dari buku ini, terutama cara Nietzsche mencoba berspekulasi mengenai asal-usul moral (seperti judulnya, itu memang pokok utama buku ini). Menentang “para psikolog Inggris” (entahlah, siapa-siapa yang dimaksud), ia membantah bahwa moral sudah ada dalam diri, bahwa perkara “baik” dan “buruk” lahir semata-mata karena aspek “kegunaan” dari hal-hal (benda, perilaku, dan lain-lain). Di sini Nietzsche melihat bahwa kelahiran predikat “baik” dan “buruk” erat kaitannya dengan struktur kelas, hirarki, dan kekuasaan. Siapa yang memberi nama-nama, dialah yang berkuasa (atas yang diberi nama-nama itu). Kaum aristokrat dan berkuasa, tentulah menciptakan nilai baik dan buruk ini, untuk membedakan “kita” dan “mereka”. Membedakan kaum aristokrat berkuasa dan kaum kere barbar. Demikian juga ketika dia mencoba menelisik rasa tanggung jawab dan rasa bersalah. Dia dengan radikal melihatnya sebagai problem kelas dan kekuasaan. Bayangkan dalam konteks pinjam-meminjam, utang-piutang. Yang meminjami atau yang memberi utang, akan menuntut “tanggung jawab”. Tanggung jawab untuk bayar kembali, tentu saja. Ketika seseorang gagal menunaikan tanggung jawab, ia akan jatuh ke penyesalan, ke rasa bersalah. Sialnya, Nietzsche membawa ini ke urusan agama, dengan mengambil konteks Yahudi. Dalam soal “baik” dan “buruk”, kaum Yahudi yang diposisikan sebagai “yang lain”, melawan balik dengan konsep “baik” dan “jahat”. Kaum aristokrat yang sewenang-wenang, yang korup, kemudian menjadi “jahat”. Saya merasa Nietzsche awalnya tampak mengagungkan perlawanan ini, sebelum mengempaskannya, membantingnya: kaum Yahudi dengan kemarahannya kepada kaum aristokrat, hanya berhenti di kemarahan, dan menyerahkan “pembalasan dendam hanya milik Tuhan”. Ia menutut, seharusnya mereka marah dan melampiaskan kemarahan. Hal yang sama terjadi dalam konteks utang-piutang. Hanya kepada Tuhan kita berutang paling besar (bukan kepada para penguasa), dan karenanya memiliki tanggung jawab untuk membayar kembali, ya kepada Tuhan. Sebenarnya, bukankah itu tidak melululu Yahudi, ya? Bukankah sebagian besar agama juga begitu? Baiklah, ini rada ambigu ketika menyebut Yahudi, sebagai bangsa atau sebagai ajaran agama. Dalam konteks Nietzsche, ia mengatakannya dalam konteks bangsa Yahudi, tapi kritik dia juga merujuk ke ajaran yang dipercaya mereka. Jadi kritik Nietszche mestinya ditujukan tak hanya kepada Yahudi, tapi juga kepada bangsa lain yang mempraktekkan beragam (sebagian besar) agama, yang menurut dia, dengan menghadirkan Tuhan sebagai pemilik “pembalasan”, sebagai pemberi “utang” terbesar, menempatkan manusia pada posisi lemah. Sekali lagi, dia benci kelemahan manusia. Dalam konteks ini, memang sangat mudah bagi kita atau siapa pun untuk menyudutkan Nietzsche sebagai seorang anti-semit. Tapi gayanya yang blak-blakan, memang terasa seperti martil yang menggetok kepala, tak hanya membuatnya terbuka, tapi mungkin tercerai-berai, meleleh dan berantakan.



Standard

5 thoughts on “The Genealogy of Morals, Nietzsche

  1. Fatoni says:

    Hahaha barangkali dengan begitu Nietzsche berfilsafat mas. Mau tanya mas Eka pernah baca karya karya dari Afrika, seperti Nadine Gordimer? Terima kasih mas. Sehat dan berkarya selalu.

    • Fatoni: Saya pernah baca satu kumcer Gordimer. Kapan2 saya tulis deh di blog. Beberapa penulis Afrika juga pernah, tapi memang tak banyak. Apalagi kalau menimbang Gordimer, Mia Couto, dll, yang “putih” tapi tinggal di Afrika, kadang dipertanyakan ke-afrika-an mereka.

  2. Henri says:

    Saya tidak terlalu mengerti pada bagian “Dalam soal “baik” dan “buruk”, kaum Yahudi yang diposisikan sebagai “yang lain”, melawan balik dengan konsep “baik” dan “jahat”. Kaum aristokrat yang sewenang-wenang, yang korup, kemudian menjadi “jahat”.”

    Bisa dijelaskan lagi mas?

    • @Henri: bayangkan saja begini. Yang berkuasa merasa diri mereka “baik”, sementara yang dikuasai “buruk”. Nah, si kaum tertindas membalas, kalian (yang berkuasa) itu “jahat”, (jadi yang “baik” adalah kami). Tentu saja Nietszche menjelaskannya panjang-lebar (satu esai khusus, termasuk membedah etimologinya) soal dialektika “good” dan “bad” menjadi “good” dan “evil” ini.

Comments are closed.