Ketika pertama kali memutuskan pindah ke Jakarta (dari Yogya) tahun 2003, saya cuma berbekal beberapa potong pakaian yang bisa saya jejalkan ke tas punggung saya, serta dua novel dan satu buku tulis (yang kemudian saya pakai untuk menulis Lelaki Harimau). Salah satu novel itu berjudul The Idiot, karya Fyodor Dostoyevsky, novel pertama dia yang saya baca. Alasan saya membawa buku itu sebenarnya sederhana saja: bukunya tebal, sehingga saya tak perlu kuatir kehabisan bacaan di minggu-minggu pertama di ibukota. Bahkan sejak itu, meskipun gaya naratifnya senantiasa lurus dan dalam banyak hal berirama lambat, novel-novel Dostoyevsky selalu memberi rasa yang campur-aduk. Saya merasakan itu kembali di hari-hari ini ketika membaca The Double, yang sebenarnya saya baca sambil lalu: sebelum atau sejenak setelah tidur, duduk di kakus, di jeda setengah main siaran langsung sepakbola, sambil makan, sebelum akhirnya saya selesaikan sambil minum kopi di café. Dua bab pertama membawa saya ke dunia Gogolian (Gogolesque?): St. Petersburg dan sosok seorang pegawai yang tampak menyedihkan (tidak semiskin tokoh dalam “The Overcoat” Gogol, tapi kita tak bisa menahan diri untuk tak bersimpati kepada keduanya dengan cara yang sama). Murung dan cenderung depresif. Tapi berikutnya kita menemukan sesuatu yang Kafkaesque (tentu saja ketika novel ini terbit, 1846, belum ada Kafka): di bawah hujan badai, Golyadkin si tokoh utama, bertemu dengan seseorang yang sosok-perawakannya persis seperti dia, bahkan juga nama panggilan maupun nama lengkapnya! (Saya sampai bergumam menirukan gaya narasi Kafka: “Sesuatu yang aneh pasti telah terjadi, Mr Golyadkin bertemu dengan seorang bernama Mr Golyadkin.”) Misterius dan pada saat yang sama mengancam. Keadaan Golyadkin sendiri sebagai bujang dan pegawai menengah, dan simpati kita kepadanya, sejak awal berkali-kali bisa membuat kita ikut marah. Ia ditolak mengikuti pesta dansa, sementara teman-teman kantornya berkumpul di sana penuh kegembiraan. Ia tak cuma introvert, tapi juga berkomunikasi dengan buruk, istilah anak sekarang: tidak gaul. Ia selalu tak mampu mengutarakan maksudnya dengan baik, kepada atasan maupun bawahan. Ini membuatnya seringkali menjadi obyek olok-olok dan tertawaan, dan ujung-ujungnya membuat dia tersingkir dari pergaulan. Dan ketika ia mencoba mengubah dirinya, para birokrat itu dengan kejam menolaknya. Meskipun begitu, di sisi lain, novel ini juga komikal. Tanpa mencoba melucu, banyak hal bisa membuat kita tertawa, meskipun dengan getir. Beberapa kali si Mr Golyadkin yang baru (sering disebut junior, atau bayangkan saja sebagai Mr Golyadkin palsu) mengerjainya. Ketika si tokoh asli makan di restoran, diam-diam si palsu juga makan. Kasir restoran menganggap mereka orang yang sama, dan si asli harus membayar lebih (dengan kebingungan, karena ia merasa makan sedikit). Tapi yang paling lucu adalah ketika ia menyuruh pelayannya untuk pergi ke kantornya, menanyakan alamat Mr Golyadkin, dan mengantarkan surat untuknya. Bahkan meskipun kita bisa menebak si pelayan akhirnya balik ke rumah tuannya, si Mr Golyadkin yang asli, tak bisa tidak saya tertawa. Dan seperti kata pepatah, dari kemalangan akan membawa ke kemalangan yang lain. Sekali bikin kekacauan, akan bertemu dengan keadaan yang lebih kacau. Itulah yang terjadi pada tokoh kita ini. Itu bagian paling menyedihkan. Ia merasa ada yang salah dengan hidupnya, terutama setelah kemunculan si kembarannya itu. Tapi tak ada orang yang tahu masalahnya, atau tak ada yang mau tahu. Dan jika ia mencoba bicara dengan siapa pun, mereka tak mau mendengar, atau lebih menyedihkan: ia tak mampu menjelaskan apa masalahnya. Seperti saya bilang, novel ini benar-benar mengaduk-aduk perasaan. Sedih, lucu, penasaran, tapi akhir dari semua itu adalah: horor. Saya tak tahu bagaimana para kritikus melihat novel ini, tapi saya melihat di novel ini seorang manusia gagal mempertahankan dirinya sebagai manusia individu, maupun sebagai manusia secara sosial. Dan bagian horornya adalah: ia tak tahu kenapa itu terjadi pada dirinya, tapi ia melihat itu terjadi pada dirinya, merasakannya, perlahan demi perlahan.