Cerita-cerita di kumpulan The Cowboy Bible karya Carlos Velasquez tidak seperti cerita umumnya. Penulisnya seperti ngoceh saja, ngomong sesuka hati. Pertama ia seperti bicara tentang dirinya, Si Cowboy Bible, petarung di panggung wrestling yang terkenal suka membawa Bible dan mengutip satu dua ayat dari sana (dan tentu saja dengan kostum dan topeng yang menggelikan). Tentang kemenangan-kemenangannya, tentang para petarung lain yang terus-menerus diejeknya, tentang kota kecil di Meksiko utara tempat semua ini terjadi. Dengan bahasa yang semau gue dan penuh istilah yang diciptakannya sendiri. Di cerita berikutnya, kita akan bertemu Si Cowboy Bible lagi, tapi kali ini tidak di arena wrestling. Masih tetap sebuah pertarungan: tapi sekarang adu jago minum di satu bar legendaris di kota itu. Tokoh kita tentu saja pemenangnya, memenangi kejuaraan itu berkali-kali, hingga ia terperangkap di tengah-tengah pertarungan dua bos mafia narkotik yang ingin menguasai jalur distribusi di kota tersebut. Juga terjebak di tengah hasrat sang isteri yang jengkel dengan kebiasaan minumnya, tapi kemudian melihat celah untuk memperoleh uang gampang melalui kebiasaan minum lakinya. Perangkap disiapkan untuk menjatuhkannya, demi keuntungan orang lain. Saya selalu suka menjelajah dan menemukan buku-buku yang tak terlalu disorot lampu media, istilah kerennya obscure. Siapa Carlos Velasquez? Kecuali bahwa ia orang Meksiko kelahiran 1978 (info itu ada di bukunya), saya tak tahu apa-apa. Melihat fotonya, awalnya saya kira penulis terkemuka Indonesia, Arman Dhani. Terrnyata hanya mirip lekuk tubuhnya saja. Dan bukunya sendiri bisa dibilang tak lalu-lalang di banyak pemberitaan, bahkan di antara para pengulas buku di blog-blog yang bertebaran di seantero permukaan bumi. Penerbitnya juga tidak moncereng, dan boleh dibilang ini buku pertama yang saya baca dari penerbit tersebut (Restless Books). Maafkan saya jika suka mendramatisir kegemaran saya untuk membaca buku-buku dan penulis obscure macam begini (meskipun boleh jadi di masa depan, mereka kemudian naik ke permukaan, siapa tahu? Dunia kadang aneh, kok. Saya rasa mungkin di Meksiko sendiri doi sangat terkenal). Bagi saya, membaca dan menemukan buku dan penulis semacam ini menjadi 1) rekreasi yang murah menemukan dunia-dunia baru, cara pandang ajaib, cara bercerita yang gokil, sekaligus 2) mengolok-olok secara diam-diam kesusastraan arus utama yang gemerlap, dengan bahasa yang aduhai, plot yang utuh, karakter yang bulat, psikologi yang mendalam, yang … sebut saja semua yang sering digila-gilai para pengamat dan pengulas kesusastraan. Seperti hidup, menjadi pembaca sastra (saya kira juga berlaku sebagai penulis), harus selalu berlaku layaknya pembunuh berantai: selalu lari dari satu titik ke titik lain, hanya meninggalkan jejak dengan tujuan pengibuli polisi (jika ada polisi moral, polisi fashion, pasti ada lah polisi kesusastraan). Buku ini, setidaknya menurut saya, memberi saya gairah untuk mengikuti jejak-jejak pembunuh berantai dan siapa tahu menggiring saya menjadi pembunuh berantai lihai. Menipu polisi, apalagi menipu Sherlock Holmes kesusastraan merupakan cita-cita saya yang paling luhur. Baiklah, saya mau jujur. Perkenalan saya dengan buku ini gara-gara pertemuan dengan seorang laki-laki perlente tapi bau, yang semua orang mengenalnya sebagai Si Polisi Kesusastraan. Ia melemparkan buku ini di atas meja dan meracau, “Masa sastra kayak begini? Lihat cara dia nulis! Apa maksudnya generasi Tetra Pak? Anak ayam goreng?” Ia bermaksud mengadili si penulis buku in absentia, tapi untunglah Si Cowboy Bible muncul di pintu dan menikamnya dengan belati tanpa ampun. Jangan kuatir, polisi mati satu, bangkit seribu. Itu sudah biasa. Polisi apa pun. Saya pulang, tentu setelah mengambil buku itu, dan akhirnya punya kesempatan membacanya.