Eka Kurniawan

Journal

The Call of Cthulhu and Other Weird Stories, H.P. Lovecraft

Kesusastraan dengan cara sederhana merupakan dua kutub penjelajahan terhadap yang gelap, yang tak diketahui, didorong oleh rasa ingin tahu maupun hasrat untuk menguasai. Penjelajahan pertama adalah menafsir hal-hal gelap menjadi sesuatu yang bisa dipahami, dengan menjalin simpul-simpul yang mencuat ke dunia yang lebih benderang. Ini berlaku untuk novel-novel detektif maupun fiksi sains, bahkan dalam cerpen-cerpen filosofis nan magis Borges. Penjelajahan kedua adalah menceburkan diri ke dalam kegelapan, melihat sendiri ada apa di sana, bahkan meskipun hasilnya merupakan sesuatu yang tak terjelaskan alias tetap gelap. Ini berlaku untuk kebanyakan novel-novel horor, weird, sebagian fiksi sains, dan saya kira H.P. Lovecraft berada di sana. Ia merupakan penunjuk jalan, pemandu dunia gelap, dan sialnya ia tak pernah bermaksud menjadi pemandu yang baik dalam arti membebaskan kita dari ketersesatan. H.P. Lovecraft bisa dianggap sebagai pemandu dunia gelap dan ia sendiri adalah bagian dari dunia itu, bagian dari terornya sendiri. Itulah yang paling brengsek dari penulis satu ini. Sebagian besar cerpen-cerpennya, setidaknya di kumpulan The Call of Cthulhu and Other Weird Stories ini, merupakan sejenis laporan yang dituliskan, atau diceritakan oleh penyintas dunia gelap yang sanggup melarikan diri dari teror. Itu cara terbaik untuk menggambarkan dunia Lovecraft. Paparannya yang membabi buta adalah kegandrungannya terhadap peta: ia menghadirkan apa saja untuk menggambarkan lanskap di sekeliling dunianya. Dalam cerpen yang paling mendekati mimpi buruk, “The Shadow Over Innsmouth” di mana si tokoh terjebak di satu kota aneh (dengan bus yang menuju kota itu hanya berisi tiga penumpang saking tak ada yang mau lewat di sana, dan penduduk dari daerah lain yang terpaksa bekerja di sana tak berani kelayapan di malam hari, dan makhluk-makhluk berbadan manusia dan berkepala ikan bisa lewat di depanmu), Lovecraft menggambarkan peta kota itu. Jalan-jalannya, gedung-gedungnya, taman-tamannya. Bagian mana yang terpapar sinar rembulan, bagian mana yang menguarkan aroma amis. Di cerpen “The Haunter of the Dark”, ia menggambar peta sebuah gereja tua, yang menyimpan misteri berbeda bagi pengunjung nekat yang berbeda. Sebagai pemandu, tentu ia memang harus melakukannya. Peta itu bukan untuk membuat kita mengerti hamparan lanskap di sana; tapi terutama dibuat agar kita mengerti, di sanalah teror itu akan berada dan kita sadar hanya celah-celah kecil yang bisa membuat kita terbebas dari sana. Kita memerlukan peta semacam itu sebab, dalam cerpen-cerpennya, Lovecraft selalu mengajak kita ke sebuah dunia yang kita kenali, tapi sekaligus dunia lain. Dunia lain dalam makna yang sebenarnya: kaum pendatang dari negeri antah-berantah, makhluk yang tak pernah ada dalam khasanah bumi dan penghuninya, makhluk semi dewa. Cerpen-cerpennya penuh dengan kisah dan upacara pemujaan terhadap makhluk-makhluk ini, dan menampilkan ekspresi yang bengis dari manusia: tak berdaya dan menjadi budak, jika bukan buronan. Kadang-kadang dunia asing itu muncul dalam bentuknya yang paling aneh, tidak mawujud kecuali dalam berkas cahaya seperti di cerpen “The Colour Out of Space”. Cahaya itu datang bersamaan dengan jatuhnya batu meteor ke sebuah lahan peternakan, dan sejak itu, cahaya tersebut menjadi teror “yang mengisap kehidupan”. Orang-orang di kota Arkham (kota ini selalu muncul, secara langsung atau tidak) bahkan tak berani membicarakannya lagi. Melalui kisah-kisah horor atau aneh (kadang dengan balutan fiksi sains dalam cerpen semacam “Herbert West — Reanimator”, sisi lain dari Frankenstein yang kocak sekilagus mengerikan), Lovecraft menyajikan tragedi manusia menghadapi dunia lain yang asing dan gelap. Kita mencoba bersahabat dengan kegelapan untuk terjebak di dalamnya, dan mencoba melawan hanya untuk dikalahkan. Lovecraft tak menyajikan dunia terang yang menghibur, ia pemandu kejam dunia kegelapan itu sendiri.

2 Comments

  1. Kalau saya lebih suka Laird Barron sih ketimbang Lovecraft. Dia mampu membawa horror cosmic ke level yang lebih tinggi. Sebagai lovecraftian sejati, saya kira Barron sudah sukses mengungguli gurunya itu–dalam beberapa hal.

  2. Bahkan Stephen King terinspirasi dari H.P. Lovecraft. Dalam The Call Of Cthulhu Beliau memang mampu menciptakan suasana misterius dan kegentingan bahwa ada alam besar yang tidak diketahui oleh kalangan umum yang membawa malapetaka dan seakan akan bisa bangkit lagi. Paragraf terakhir yang membawa hawa keresahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑