Cerita tentang seorang puteri yang kawin dengan anjing, tak tertahankan membuat saya terseret ke novela ini. Saya akrab dengan cerita tersebut. Ya, Dayang Sumbi dan Si Tumang, anjingnya. Ayah dan ibu Sangkuriang dalam cerita rakyat Sunda. Saya bahkan mempergunakan dongeng tersebut, dengan modifikasi, di novel pertama saya. Dan kini saya menemukan seorang penulis Jepang (yang juga menulis dalam bahasa Jerman) menceritakan kisah yang sama dalam The Bridegroom Was a Dog (terbit pertama kali 1993). Saya tak tahu apakah Yoko Tawada, penulisnya, pernah mendengar dongeng Dayang Sumbi dan anjingnya atau tidak, tapi di novel tersebut ia menulis “… beberapa orang bertanya-tanya tidakkah Mitsuko Kimura telah menghabiskan waktunya di Asia Tenggara, atau bahkan sejauh Afrika …”, dan di bagian lain, ketika Mitsuko menerangkan salah satu orangtua muridnya, ia mengatakan “… tampaknya ia mengetahui segala hal menarik seperti lingkaran kehidupan buaya dan struktur rumah-rumah Indonesia …” Mitsuko Kimura adalah tokoh utama novela tersebut, seorang guru sekolah dasar yang menceritakan kisah puteri yang kawin dengan anjing kepada murid-muridnya. Gara-gara cerita tersebut (dan beragam ucapan-ucapan serta tingkah-lakunya), ia sering menjadi obyek desas-desus para ibu dari murid-muridnya. Jadi, menyinggung Asia Tenggara dan Indonesia, anggaplah Yoko Tawada pernah mendengar dongeng itu. Menarik, kan, cerita rakyat dari negeri jauh bisa memengaruhi penulis kontemporer dari negeri asing? Saya jadi ingat bertahun-tahun lalu, seseorang bertanya kepada teman saya sesama penulis, Dinar Rahayu, kira-kira begini: “Ketika banyak peneliti asing terpukau dan menulis tentang kebudayaan dan dongeng Indonesia, kenapa kamu malah menulis tentang mitologi-mitologi asing, tepatnya Skandinavia?” Saya selalu ingat jawabannya, karena saya suka sekali, “Kalau mereka menulis tentang kita, kenapa kita enggak boleh menulis tentang mereka?” Kembali ke novela ini, meskipun pendek, penuh dengan karakter-karakter yang misterius. Dan tentu saja juga menghasilkan rangkaian cerita yang misterius. Tentang orang-orang yang datang dan pergi dengan cara aneh. Pertama, tentu si guru sekolah yang diceritakan sebagai perempuan tiga puluhan yang tiba-tiba muncul dan membuka sekolah. Meskipun terasa aneh, tapi karena dia ramah, orangtua mempercayakan anak-anak mereka di bawah pengajarannya. Lalu muncul seorang lelaki yang tinggal di rumah si guru, bercinta dari waktu ke waktu, sampai ketahuan bahwa ia suami orang yang kabur sejak tiga tahun lalu. Ketika isterinya diberitahu, ia sama sekali tak terkejut dan menanggapinya biasa-biasa saja. Semuanya, semua keanehan itu, berawal dari gigitan anjing. Cerita yang ganjil, tampak seperti dongeng antah-berantah, tapi sekaligus terasa nyata terjadi di lingkungan urban, di satu sudut Tokyo. Tidak ada yang fantasi maupun magis dalam novela ini, tapi kesan ganjilnya tetap terasa. Suatu keganjilan yang barangkali akan mengingatkan kita pada kisah di novel-novel Kafka, terutama kisah mengenai K atau Joseph K. Perbedaannya, di novela ini kita tidak menemukan K atau Joseph K, sebab K atau Joseph K di novela ini tak lain adalah kita, pembaca. Kita masuk ke dunia cerita yang mengombang-ambing: kita mengerti kenapa itu terjadi, tapi pada saat yang sama, kita terus bertanya-tanya kenapa itu terjadi. Kenapa Mitsuko bisa menerima Taro di rumahnya, kenapa Taro bisa pergi dengan Toshio, kenapa anjing bisa kawin dengan seorang puteri, dan kenapa anak si puteri bisa dengan tolol menikahi ibunya?