Eka Kurniawan

Journal

The Ballad of the Sad Café, Carson McCullers

Cerpen-cerpen di kumpulan The Ballad of the Sad Café ini kebanyakan bikin sedih (seperti judulnya). Sedih yang bikin gregetan karena keadaan tokoh-tokohnya memang memaksa ceritanya jadi sedih. Jujur saya enggak terlalu kenal Carson McCulers, kecuali novel pertamanya yang sering disebut-sebut orang, The Heart Is a Lonely Hunter. Seorang teman memberi saya kado dan isinya kumpulan cerpen dia, dan itu berarti hal baik: saya mencoba membaca penulis yang belum pernah saya jamah sebelumnya. Apalagi saya sedang ingin mencekoki kepala saya dengan banyak cerpen-cerpen bagus, menyadari asupan soal genre cerpen ini memang sangat kurang sekali. Ada aroma “selatan” dalam cerpen-cerpennya, dengan lanskap yang kering, membosankan, tapi pada saat yang sama, penuh karakter yang riuh dan hidup. Meskipun begitu, alurnya lebih terasa kontemporer, dengan potongan-potongan kisah yang nyaris menyerupai fragmen, dan kita mencoba membaca apa yang ada di sebalik kisah tersebut. Kisah pertama, “The Ballad of the Sad Café” bisa dibilang sebagai sebuah novela, menghabiskan separoh buku sendiri. Inti ceritanya bisa disederhanakan oleh satu kutipan dari tengah-tengah cerpen tersebut: “Once you have lived with another it is a great torture to have to live alone.” Ya, tentang seorang perempuan hebat (kaya, jago bisnis, dan bahkan jago tinju) yang tak berdaya menghadapi rasa ditinggalkan. Ia pernah kawin dengan seorang tukang rusuh tapi ganteng, yang cuma bertahan sepuluh hari. Si tukang rusuh kabur, jadi penjahat dan masuk penjara. Lalu datang sepupunya, orang pincang jelek, tapi si perempuan bahagia ditemaninya. Hingga si tukang rusuh kembali dan si pincang jadi penguntitnya, pengagumnya, dan berdiri di pihak si tukang rusuh itu. Ada satu hal yang tak pernah diceritakan di sini: bagaimana Miss Amelia, si perempuan ini, berpisah dengan si tukang rusuh Marvin Marcy. Tapi kemudian saya ingat, bahwa kadang dalam cerpen yang bagus seperti ini, memang ada hal-hal yang sengaja (atau tak sengaja) tidak diceritakan. Dibiarkan terbuka untuk diisi oleh imajinasi pembaca. Kita tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi di malam pertama mereka, dan malam-malam setelahnya sebelum mereka berpisah. Kita hanya tahu, mereka tak baik-baik saja. Cerpen-cerpen lain jauh lebih pendek, hanya delapan hingga dua belas halaman, dan beberapa di antaranya sangat saya sukai. “Madame Zilensky and the King of Finland” merupakan humor lempeng yang, kita tak tega untuk menertawakannya. Tentang guru musik yang karena seriusnya menghadapi musik, seperti tak menganggap hal lain di luar itu sebagai hal penting untuk dianggap serius. Bahkan ketika berbohong, ia tak sadar telah berbohong. “A Domestic Dilemma” juga humor pahit yang membuat kita ingin mem-puk-puk karakternya. Tentang keluarga “selatan” yang harus pindah ke jantung megapolitan bernama Manhattan. Si isteri mulai tak bahagia, dan jadi pemabuk. Dua anaknya jadi sering terbengkalai. Suaminya sering kesal, membencinya, tapi tak berdaya karena juga mencintainya. Sialnya, karena sebelum membaca cerpen-cerpen ini saya iseng membaca biografi McCullers, saya jadi merasa banyak cerpen-cerpen ini dipenuhi oleh pantulan kisah dirinya sendiri. Boleh kan, membanding-bandingkan karya dan penulisnya? Suka-suka saya dong sebagai pembaca. Isteri yang tak bahagia dan suami yang benci-dan-cinta mungkin dirinya (nyatanya ia bercerai dan kawin dengan suaminya beberapa kali). Termasuk banyak pembicaraan tentang musik (ada murid sekolah musik, guru musik, mantan yang memainkan piano), juga tak terlepas dari keinginan awal McCullers untuk menjadi pemusik sebelum memutuskan menjadi penulis. Soal musik ini, ada satu cerpen yang saya rasa dibangun dengan sangat indah (menyayat-nyayat hati, sih), melalui deskripsinya tentang musik dan permainan piano. Judulnya “The Sojourner”, tentang seorang lelaki yang mengunjungi mantan isterinya, dan tercabik-cabik melihat keluarga mantan isterinya hidup bahagia. Ah, kalau soal ini, siapa sih yang tahan melihat mantan bahagia?

3 Comments

  1. Selamat Sore Mas Eka,

    Saya beberapa hari ini membaca artikel-artikel Mas Eka disini dan mendapatkan banyak ilmu sebagai seorang penulis pemula. Waktu launching acara peluncuran novel O di Gramedia Central Park, saya berada di barisan kedua saat itu. Saya ingat Mas Eka sempat melihat ke arah saya karena saya menunduk sewaktu Mba Djenar Maesa Ayu mencoba duduk dengan cara yang binal (walaupun sebenarnya saya menikmatinya) hehehehe.

    Mau tanya buku non-fiksi yang paling disukai Mas Eka apa? Apakah berkaitan dengan filsafat sesuai dengan latar belakang pendidikan Mas Eka?

    Terima Kasih dan Salam,

    Leonart Maruli

    • @Leonart Maruli:
      Non-fiksi kegemaran saya biasanya buku esai, tema tentang apa saja. Ditulis tidak dengan cara kaku seperti kajian-kajian akademis, tapi tetap mendalam. Buku-buku biografi juga saya suka.

  2. Linawati Sidarto

    7 July 2016 at 5:08 pm

    Ah senang bahwa Mas Eka juga terpana oleh cerita-cerita Carson McCullers! Saya pertama membaca buku kecil ini 25 tahun yang lalu, dan tiap kali saya baca ulang saya temukan hal-hal baru – atau saya cari bagian-bagian lama yang toh menyentuh lagi setiap dibaca kembali.

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑