Herry Anggoro Djatmiko: Bung Eka, sebenarnya apakah kritik sastra itu penting atau tidak penting?

Jika kamu suka menonton sepakbola sekaligus senang mendengar atau membaca ulasan-ulasan tentangnya (statistik pertandingan, taktik bermain, dll), seharusnya kamu menganggap “kritik” sebagai sesuatu yang penting. Jika kamu hanya suka menonton sepakbola tanpa mau tahu komentar apa pun tentang olahraga itu, sebab bagimu sepakbola adalah soal menikmati (atau) bermain sepakbola saja, boleh jadi kamu akan menganggap “kritik” sebagai sesuatu yang tidak penting. Saya rasa itu juga berlaku untuk sastra dan kritik sastra. Ini bukan lagi perkara penting atau tidak penting, tapi bahwa kritik itu sudah pasti ada. Suka tidak suka, penting tidak penting, kita tak mungkin mengenyahkan kritik sastra dari kehidupan kesusastraan. Bahkan meskipun kebanyakan orang yakin bahwa kritik sastra ada setelah karya sastra, bagi saya keduanya merupakan sesuatu yang inheren. Kritik sastra memang timbul karena ada karya sastra, tapi kemunculannya merupakan sesuatu yang “tak terelakkan”. Sesuatu yang akan ada karena yang lain ada. Kritik sastra menjadi sejenis “teror” bagi para pembaca umum, para pembaca yang tidak berkecimpung di dunia akademis maupun penulisan, saya rasa karena memang sifat umum kritik sastra yang secara alamiah tidak ditujukan untuk pembaca umum (meskipun ada yang mencobanya). Bahkan saya selalu merasa, sifat alamiah kritik sastra merupakan sesuatu yang personal, meskipun kemudian ilmu pengetahuan dan tradisi akademis membuatnya menjadi “obyektif”. Personal dalam arti, jika ada seratus orang membaca novel yang sama, maka semestinya ada seratus kritik sastra yang dihasilkan. Kritik itu bisa dituliskan, bisa pula hanya bersarang di pikiran pembaca. Tanggapan seorang pembaca atas sebuah karya merupakan cikal-bakal tradisi kritik sastra, dan sekali lagi, itu sesuatu yang tak terelakkan. Tapi tentu saja kritik sastra tak semata-mata tanggapan. Pertama-tama, standarnya, itu kemudian dituliskan. Setidaknya, dibuat untuk diketahui oleh orang lain (bisa pula dikatakan). Dan apa bentuk paling primitif dari tanggapan tertulis ini? Salah satunya: marginalia. Coretan-coretan pembaca yang ditulis di antara baris kalimat, atau di ruang kosong di samping blok teks (yang disebut “margin”), atau dalam bentuk yang modern, dalam kertas kecil Post-it yang ditempel di satu halaman buku. Apa yang bisa ditulis di marginalia? Apa saja boleh. Belum lama saya melihat foto buku Lives karya Plutarch milik Mark Twain. Di sana ada coretan sang pemilik. Di tulisan “Translated from Greek by …”, Twain menyisipkan frasa dengan tulisan tangannya menjadi “Translated from Greek into rotten English by …” Tradisi menulis marginalia masih berlaku sampai sekarang. Karena sifatnya yang personal dan tidak baku, pembaca lain seringkali tak mengerti maksudnya. Kadang kita hanya menemukan sebuah kalimat yang diberi stabilo kuning, dan hanya si pelaku yang tahu apa maksudnya kalimat itu distabilo. Atau kita cuma menemukan ekspresi singkat, “Kampret!”, atau “Enggak gitu juga kali”, atau “Mia seharusnya membaca halaman ini”, dan lagi-lagi hanya si pelaku yang mengerti maksudnya. Tradisi kritik sastra yang baku, yang akademis, mencoba mengikis hal yang terlalu personal ini, sehingga tanggapan apa pun terhadap sebuah karya bisa dimengerti oleh orang lain. Dengan kata lain, ada pertanggungjawaban keilmuan di sana. Dalam kasus Mark Twain, jika ia mengembangkan marginalia-nya menjadi kritik sastra, ia akan menjelaskan kenapa terjemahan buku itu bahasa Inggrisnya busuk. Apakah hal-hal seperti itu berguna? Dalam sepakbola, saya yakin kemajuan teknik bermain, teknik pemulihan fisik, bahkan rancangan bola, serta industri secara keseluruhan, sedikit banyak berutang kepada para kritikus sepakbola. Para kritikus ini menonton banyak pertandingan, melihat detail-detail, dan membuat kesimpulan-kesimpulan serta teori-teori. Para pelatih dan pemain bisa menerapkannya, sekaligus mengujinya. Hal itu juga bisa berlaku di kritik sastra. Yang membedakan kritik sastra dan kritik-kritik di bidang lain (kritik film, kritik senirupa, kritik kebijakan) adalah fakta sederhana: kritik sastra diungkapkan dengan alat yang sama dengan karya sastra yang dikritiknya, yakni bahasa. Dengan kata lain, kritik sastra bisa dianggap sebagai karya sastra itu sendiri. Dalam soal ini, hubungan unik antara kritik sastra dan karya sastra yang terhubung oleh bahasa, saya rasa hanya bisa ditandingi oleh filsafat. Dalam filsafat, semua karya filsafat sudah jelas merupakan kritik filsafat, dan begitu sebaliknya. Satu dan tak terpisahkan. Kembali soal penting tidak penting, pertanyaan serupa bisa diajukan kepada karya sastra genre lainnya (novel, puisi, esai, cerpen, dll): penting tidak sih keberadaan novel? Saya pribadi suka membaca karya kritik sastra, terutama jika ditulis dengan baik, menyenangkan, membuka gagasan baru, dan “mengganggu” pikiran saya. Seperti jenis karya sastra yang lain, saya tidak suka kritik sastra yang ditulis terutama dengan cara membosankan. Kalau kritik sastra sekadar dipahami sebagai “Analisis Unsur Instrinsik Novel …” memang sih membosankan. Sangat membosankan.