Saya sadar, terus-terusan membaca karya klasik nan tua, meskipun saya menikmatinya, lama-kelamaan juga membosankan. Karya-karya itu, demikian tuanya, kadang-kadang tak ada hubungan apa-apa lagi dengan kehidupan kita sekarang. Tapi tentu saja, banyak di antara karya-karya itu masih asyik dinikmati. Dan jika mau mencari-cari pelajaran moral, mereka mengajarkan banyak hal. Hal paling waras, tentu saja menyelingi bacaan klasik tersebut dengan karya-karya baru. Karya-karya penulis yang masih hidup, beberapa di antaranya bahkan seumuran dengan saya. Buku pertama, The Guest Cat karya Takashi Hiraide, yang memang saya incar bahkan sejak buku itu masih “rencana terbit”. Pertama, saya selalu penasaran dengan penulis Jepang. Kedua, ini tentang kucing. Saya selalu senang membaca novel bagus tentang manusia dan binatang. Komentar saya? Manusia memiliki banyak bahasa untuk menjelaskan hubungan mereka dengan binatang: memelihara, melindungi, bahkan memiliki, atau kadang sekadar berteman. Lihat sepasang tokoh utama di novel ini: awalnya mereka menyebut Chibi (si kucing tetangga) sebagai “tamu”. Tapi di akhir cerita, kita tahu, Chibi bukan lagi sebagai tamu. Meskipun bagi Chibi, yang tak mengenali teriroti manusia (kecuali teritori binatangnya), gagasan tentang tamu atau tuan rumah itu sudah jelas pasti absurd (dan kontrasnya semakin menarik dengan kerumitan status si pemilik rumah, yang menyewa dan harus berpindah rumah). Menarik bahwa novel ini, selain menceritakan hubungan mereka dengan Chibi yang berubah bersama waktu, juga mencoba menjelaskan perilaku mereka (kucing, manusia dan kucing-manusia) dalam bentuk sejenis esai ringan yang terselip di sana-sini. Takashi Hiraide aslinya seorang penyair. Saya belum membaca puisinya, tapi yakin ia penyair yang hebat, sebab hanya penyair yang bagus bisa menulis novel seperti ini. Novel berikutnya adalah Talking to Ourselves, karya Andrés Neuman. Saya pernah membaca novel Neuman sebelumnya, Traveller of the Century, yang saya anggap sebagai novel terbaik yang saya baca tahun lalu. Kali ini ia muncul dengan novel yang lebih sederhana, lebih tipis, dengan hanya tiga tokoh yang berbicara bergantian dengan cara seperti Faulkner dalam As I Lay Dying. Seperti novel sebelumnya, ini novel gagasan. Neuman (ia lebih muda dari saya, lahir 1977), saya kira merupakan master dalam novel mengenai gagasan. Kelebihannya adalah, ia mampu meramu novel tentang gagasan dengan banalitas secara kontras, sehingga novel itu tak melulu merupakan perdebatan mengenai gagasan-gagasan (dalam hal ini, ia mengadu dan mempertemukan banyak gagasan penulis mengenai rasa sakit, dari Virginia Wolf hingga Roberto Bolaño, dari Kenzaburō Ōe hingga Javier Marías), tapi juga mengenai usia tua dan tubuh yang memburuk serta dorongan seksual yang malah membara. Meskipun tipis, seperti pendahulunya, saya beranggapan novel ini hanya diperuntukan untuk pembaca yang sabar. Novel ini diterbitkan oleh Pushkin Press, satu penerbit Inggris yang sedang merajalela dengan terjemahan-terjemahan sastra kelas satu dari berbagai tempat. Buku berikutnya berjudul The Whispering Muse, karya Sjón. Siapa Sjón? Jika melacak di internet, ia lebih banyak dihubung-hubungkan dengan Björk, karena ia banyak menulis lirik lagu untuk penyanyi tersebut. Tapi sebenarnya ia, selain penyair, juga novelis ngetop di negaranya, Islandia. Novel ini berkisah tentang Valdimar Haraldsson, seorang penulis jurnal (ya, jurnal dalam pengertian jurnal ilmiah, tapi isinya ia tulis sendiri di setiap edisi) mengenai “ikan dan kebudayaan”. Intinya, itu jurnal mengenai pengaruh konsumsi ikan atas superioritas ras Nordic. Gara-gara jurnalnya ini, ia direkomendasikan seorang temannya untuk mengikuti pelayaran kapal dagang milik ayah si teman. Di kapal, ia bertemu seorang pendongeng. Sepanjang novel, selain menceritakan pengalaman berlayarnya, perjalanan itu juga menjadi bingkai bagi dongeng-dongeng yang didengarnya di atas kapal. Sekilas, juga mengingatkan pada tujuh petualangan ajaib Sinbad sang pelaut. Dengan kata lain, ini dongeng versi modern (settingnya selepas Perang Dunia). Dan tentu saja si penulis juga memberi kontribusi di kapal itu: memberi ceramah mengenai ikan dan kebudayaan. Intinya, menurut si tokoh, kehidupan manusia berasal dari laut. Dan secara biologi, termasuk susunan gigi manusia, dirancang untuk mengkonsumsi nutrisi dari laut. Secara pribadi, karena saya suka seafood, saya setuju. Saya jadi ingat, sewaktu kecil ibu saya selalu berkata, makan ikan agar pintar. Sampai sekarang, jika disuruh memilih dari berbagai macam makanan, saya akan menengok ke ikan. Tapi pertanyaan seriusnya, di negara kepulauan yang dikepung laut ini, benarkah laut atau ikan menjadi sumber pengaruh kebudayaan kita yang terbesar. Anehnya, saya sangsi. Indonesia merupakan negara yang dikepung laut tapi tak banyak memberi kontribusi terhadap kebudayaan ikan. Lihat saja menu makan kita. Berapa banyak variasi jenis makanan kita yang berasal dari ikan atau laut? Ikan hanya digoreng dan dibakar, atau dipepes. Menyedihkan, bukan? Saya rasa novel ini bisa dibaca sebagai ejekan untuk kita. Itu jika Anda sudi mengejek diri sendiri.