Journal

Story of the Eye, Georges Bataille

Menghadapi novel ini, batas antara pornografi dan erotika bisa sekabur batas malam dan siang di waktu senja. Jika pornografi disederhanakan sebagai karya yang ditulis dengan tujuan untuk memberi rangsangan seksual, novel ini memenuhinya, tapi menyederhanakannya di titik itu saja tentu mengabaikan hal-hal lain yang terkandung di dalamnya. Seperti kisah-kisah fantasi, novel pornografi pada sudut tertentu bisa dilihat juga sebagai perayaan atas fantasi seksualitas, tentang dunia serba kemungkinan. Georges Bataille merupakan salah satu penyokong Surealisme Prancis (meski sempat berseteru dengan André Breton), dan novel Story of the Eye (terbit pertama kali 1928), saya rasa membiaskan juga hal itu. Dalam pornografi yang umum, akar realisme biasanya sangatlah kuat karena niatnya untuk mendekatkan diri kepada kenyataan, kepada fantasi yang mungkin dilakukan. Di novel ini kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakukan masih ada di sana, tapi sekaligus ia memberi ruang kepada wilayah-wilayah gelap ketidaksadaran. Sebelum ngalor-ngidul, saya ingin gambarkan dulu ini kisah tentang apa. Seperti umumnya novel pornografi, alur ceritanya ringkas saja. Seorang anak muda, sang narator, bertemu sepupu jauhnya, Simone. Mereka berdua di sebuah vila, si narator mulai tertarik kepadanya dan, “Aku mulai menyadari ia juga berbagi rasa gelisah yang sama denganku melihatnya, dan aku semakin merasa gelisah hari itu sebab aku berharap ia tak mengenakan apa-apa di balik pakaian luarnya.” Selanjutnya, dengan berlumuran susu di tubuh Simone, mereka larut dalam fantasi seksual masing-masing, berkahir dengan, “Kami mencapai orgasme hampir di waktu bersamaan tanpa menyentuh satu sama lain.” Petualangan masturbasi pertama itu terus terjadi hingga muncul tokoh lain, Marcelle. Mereka bercinta, kadang masturbasi, bertiga. Marcelle menjadi fantasi mereka yang lain, yang tanpa kehadirannya, fantasi seksual itu terasa basi. Terbayang? Itu baru separoh jalan. Akan muncul dua tokoh lain yang penting: orang Inggris yang (saya rasa) hasrat seksualnya terdapat pada hasrat melihat aktivitas seks orang lain, dan satu sosok tragik-komik, seorang pendeta. Di antara mereka, obsesi seksual Simone merupakan hal paling menarik. Ia menyiratkan sejenis simbolisme, yang pastinya perlu ditelaah lebih jauh. Pertama, ia tergila-gila kepada telur. Ia bisa sangat terangsang dengan meletakkan telur-telur rebus (dengan atau tanpa cangkang) di antara kedua pahanya, digelindingkan, mendekati kemaluannya. Apakah ini sejenis simbol feminitas? Perempuan dan telur? Mungkin. Ketika mereka menonton pertunjukan adu banteng, Simone juga terobsesi untuk memperoleh biji kemaluan banteng yang kalah. Biasanya itu diperebutkan untuk dijadikan menu makan malam, lambang persitisius sebagai penghormatan penonton kaya untuk petarung. Tapi di tangan Simone, sepasang biji kemaluan banteng itu merupakan alat rangsangan sesksual yang lain. Seperti telur-telurnya, ia meletakkan kedua biji kemaluan banteng itu di nampan dan mendudukinya, tentu tanpa celana dalam. Obsesi terhadap sperma jantan? Atau karena bentuknya, ia juga menyimbolkan telur? Puncaknya adalah hubungan ganjil dan mengerikan antara seks dan kematian. “Kau tahu bahwa lelaki yang digantung atau dicekik-jerat akan memiliki burung yang mengacung keras sesaat setelah pernapasannya terputus, hingga mereka ejakulasi …” kata Sir Edmund, si orang Inggris kepada si pendeta. Anda bisa bayangkan apa yang mereka lakukan kepada si pendeta di hadapan Simone? Ya, membunuhnya, agar … (bayangkan saja sendiri, meskipun di novel digambarkan sangat jelas). Apakah ini pornografi atau erotika?Membaca novel ini, saya semakin yakin kedua istilah itu hanya ada untuk menegaskan sejenis hirarki. Bahwa pornografi adalah sampah, bahwa erotika itu memiliki mutu. Novel ini saya rasa memorakporandakan hirarki seperti itu.



Standard

2 thoughts on “Story of the Eye, Georges Bataille

  1. fess azmi says:

    Of the books that you have touched on in your many articles, this is one which really caught my eye as i had never heard of the title nor of the author. From the title my first impression was this was gong to be something akin to the film “The Story of O” which isn’t far off the mark. Your description of the book and its contents are very revealing, and the question of whether this is pornography or erotica is interesting. Is there really a difference? What you make up of it is very dependent on your own background and comfort zone. As the saying goes, ” One man’s meat is another man’s poison”. The brief lines you described however hint at purely acts of sexual perversion more than pornography but i guess to evaluate it one would have to read the whole book in context. Now i consider myself a fairly liberal person but would i read something like this now? Probably not. Maybe 30 year’s ago i might have as it was new, exciting and taboo but talk of metaphors of the eye and eggs would be lost on me by the very graphic images that you have presented. But then again i have never really understood the French Surrealists nor their cinematic equivalent – the French New Wave

  2. FESS ESMI says:

    numpang nabok bang, menurut antum bagaimana metodelogi pembaca dlm mereferensi realitas atas karya realis(me) dan surealis? samain sajakah? apakah surealis harus akurat juga dgn fakta ilmiah lalu divonis “buruk” jika referensinya salah/kurang akurat/mengolok2 akurat(si) spt yg gemar dilakukan ki tikus sastra terutama kaum positivime pseudosaintifik yg kaku dlm penerapan metodelagi atas nama disiplin dan kemapanan out of date ilmiah-karatan? monggo bang terangkanlah, bagaimana sebaiknya pembacaan atas realitas di dalam realitas (stranger than fiction) atau video bermain video game di dalam video permainan video game (ready player one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.