Eka Kurniawan

Journal

Sonora dan Impala

Saya menonton film 2 Guns karena yang main Mark Wahlberg dan Danzel Washington, tapi yang kemudian saya ingat adalah lokasi cerita, sebuah tempat di perbatasan Meksiko-Amerika bernama Sonora, dan mobil yang dipakai oleh para bajingan narkoba: Impala. Sambil nyengir saya berpikir, si penulis skenario (atau dari penulis novel grafisnya), mungkin membaca The Savage Detectives Roberto Bolaño. Sonora dan Impala, itu juga salah satu yang saya ingat dari novel tersebut. Beberapa waktu sebelumnya, saya menonton film lain, tentang gerombolan tukang sulap yang mempergunakan keahlian mereka untuk merampok bank (Now You See Me). Di salah satu adegan, salah satu tukang sulap tiduran di sofa sambil membaca novel tebal. Yah, The Savage Detectives, tentu saja. Saya pikir, keren amat tukang sulap jalanan ini bacaannya novel semacam itu. Apa pun, Roberto Bolaño tampaknya sudah menyerbu Hollywood, dengan satu atau lain cara. Tiba-tiba Sonora menjadi seksi, dan mobil Impala yang sudah tua itu seliweran di jalan. Pagi ini saya terbangun dan menemukan beberapa buku bergeletakkan di samping saya, berbagi ranjang. Di antaranya buku Bolaño, saya masih punya dua yang belum saya baca. Buku-buku tipis yang seharusnya saya selesaikan dalam satu atau dua hari. Di sekitar mereka ada buku-buku lain, empat novel karya César Aira. Saya pernah membaca satu novel Aira, yang berjudul How I Became a Nun, novel sinting betokoh aku yang di akhir cerita si tokoh mati (mati untuk menceritakan kisah ini?), novel sinting yang dengan seenaknya mengaburkan kelamin si tokoh aku (saya tetap tak terlalu yakin ia lelaki atau perempuan, meskipun sampulnya bergambar anak perempuan), dan novel sinting yang menceritakan bagaimana seseorang menjadi suster, tapi di akhir cerita tak pernah diceritakan sedikit pun kapan ia menjadi suster (kan mati?). Manusia Argentina ini sudah jelas harus dibaca, itulah kenapa saya meletakkan buku-bukunya di ranjang. Di mana lagi tempat paling intim selain ranjang? Seperti Bolaño, saya yakin tak lama lagi ia akan menjadi bagian dari kebudayaan Hollywood. Seseorang di film akan muncul menenteng atau membaca salah satu novelnya. Mungkin The Hare, mungkin Ghosts, atau The Literary Conference. Yang mana pun, asal membuat tokoh di film terlihat keren, tak peduli ia mahasiswa sastra atau sekadar bajingan atau polisi korup yang membaca sambil makan donat. Yah, kira-kira seperti Love in the Time of Cholera Márquez nongol di film Serendipity, begitu lah. Saya tak nyinyir soal ini. Sebaliknya saya senang. Saya senang duduk di kegelapan bioskop dan melihat sesosok karakter, sosok fiktif, berbagi bacaan dengan saya. Meskipun mereka tak menceritakan apa pun tentang buku yang mereka pegang, mengetahui seseorang (betapa pun fiktifnya) berbagai bacaan dengan kita, serasa kita tengah berbincang mengenainya. Ini seperti kita menonton film dan tokohnya mampir ke tempat yang sama pernah kita kunjungi. Meskipun kita tak berada di sana bersamaan, tapi tiba-tiba kita merasa tidak sendirian. Jauh lebih luas: kita tak merasa sendirian di dunia ini. Mungkin ini agak berlebihan. Tapi ketika saya membaca The Savage Detectives (haruskah saya rekomendasikan? Itu salah satu novel terbaik di dunia ini, novel terbaik di pergantian milenium ini), saya tak tahu apa-apa tentang Sonora (gurun pasir ini muncul di beberapa novel Bolaño lainnya, yang saya ingat di mahakaryanya yang lain, 2666), juga tak pernah melihat mobil Impala. Tentu saja banyak hal yang belum pernah saya ketahui atau lihat. Saya senang bisa mengenal Sonora dan Impala, melalui sebuah novel. Tentu saja akan aneh jika setelah membaca novel itu, saya pergi menemui seorang teman dan bilang, “Eh, ada lho tempat bernama Sonora, dan ada mobil bernama Impala.” Untuk hal-hal demikian, percayalah, saya lebih sering diam saja. Saya bisa bercerita atau berpendapat tentang novel itu, tentang teknik menulis pengarangnya, tapi kecil kemungkinan nyelutuk tentang Sonora dan Impala. Saya lebih sering diam, menyimpannya untuk diri sendiri. Tapi hal itu bisa berubah: satu malam, saya berada di bioskop dan filmnya mengajak saya ke Sonora dan memperlihatkan kepada saya seperti apa mobil Impala. Tiba-tiba saya merasa punya teman. Saya merasa tidak sendirian. Saya merasa bertemu seseorang yang membicarakan hal yang sebelumnya saya simpan untuk diri sendiri. Saya pikir, itulah salah satu hal hebat yang saya ketahui dari berbagi bacaan. Apa pun yang kita baca. Bahwa, sekali lagi, kita tak sendirian.

1 Comment

  1. AKHIRNYA SEMALAM SAYA MERASAKAN YANG ANDA RASAKAN!!
    Saat tokoh Adriana (Eva Celia) membaca CANTIK ITU LUKA di sebuah kafe sambil makan kerak telor dan mendengarkan piano yang dimainkan Indra Lesmana. Saya yang tadinya sepanjang film resah, letih dan gelisah akhirnya makgregah histeris :)

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑