Eka Kurniawan

Journal

Some Prefer Nettles, Junichirō Tanizaki

Saya ingin memulai perbincangan mengenai novel ini dari satu percakapan: “… para lelaki yang terlalu tergila-gila perempuan di waktu muda umumnya menjadi kolektor benda antik ketika tua. Perabot minum teh dan lukisan menggantikan seks.”//“Tapi ayah tetap ngeseks. Dia punya O-hisa.”//“Perempuan itu salah satu benda antiknya.” Itu perbincangan antara Kaname dan istrinya, Misako dalam Some Prefer Nettles karya Junichirō Tanizaki. Percakapan itu tak semata-mata sebuah ledekan anak dan menantu kepada ayah, atau sekadar ledekan terhadap generasi tua, tapi menurut saya menggambarkan apa yang ada di novel ini secara keseluruhan. Pertama-tama, tentu mengenai hubungan pernikahan Kaname dan Misako sendiri. Mereka digambarkan sebagai pasangan yang sebenarnya nyambung dalam pikiran, selera, gaya, tapi satu sama lain tak memiliki gairah seks. Atau dengan kata lain: mereka tak saling memuja tubuh pasangannya. Pernikahan dan hubungan ranjang yang hambar, yang membawa mereka kepada keputusan untuk bercerai. Urusan perceraian ini merupakan tulang punggung keseluruhan novel. Kedua, kontras atas hubungan mereka yang hambar, adalah hubungan si lelaki tua (ayah Misako) dengan simpanannya yang muda bernama O-hisa. Mereka berbeda dalam banyak hal, tapi O-hisa yang ditempatkan laksana geisha memiliki sejenis submisivisme yang senang melakukan hal-hal yang diinginkan si lelaki tua. Belajar menyanyi, memainkan alat musik, menjamu teh, nonton pertunjukan teater boneka, bahkan menulis kaligrafi. Ketiga, ini tentang benturan “peradaban baru” dan “tradisi lama”. Pernikahan dan perceraian berhadapan dengan tradisi perempuan penghibur layaknya geisha (di novel ini juga digambarkan Misako sebagai penyuka Jazz dan banyak hal dari barat, sementara ayahnya menyukai musik tradisional). Jujur, biasanya saya tak terlalu suka dengan novel-novel ala “kartu pos”. Yang saya maksud dengan “kartu pos” adalah, novel-novel yang mengeksploitasi keindahan, keunikan, bahkan keeksotisan suatu kebudayaan atau adat-istiadat untuk menyenang-nyenangkan pembaca. Seperti kartu pos, orang yang membaca novel itu kemudian akan bilang, “ah, begini toh tradisi mereka,” seperti kita melihat kartu pos. Membaca tema seperti itu dalam bentuk kajian antropologi atau esai (seperti di buku esai Tanizaki, In Praise of Shadows tentang arsitektur Jepang, misalnya), bagi saya merupakan pilihan yang lebih baik. Tapi rupanya saya bisa menikmati novel ini, meskipun di sana-sini terselip serpihan-serpihan pandangan Tanizaki mengenai kebudayaan dan tradisi Jepang. Saya dengan tak berdaya dibawa oleh Tanizaki ke dalam percakapan mengenai teater boneka, kegelisahannya, kekagumannya, keindahannya dan bahkan reportoarnya. Di bagian lain, juga tanpa daya, Tanizaki mengajak kita mendiskusikan perbedaan-perbedaan antara teater boneka Osaka dan Awaji, daerah yang dianggap sebagai asal-muasal teater boneka Jepang. Menurut saya, rahasia kecerdikan Tanizaki (yang memang, setelah terpengaruh kebudayaan barat di masa mudanya, di puncak karirnya sebagai penulis justru kembali ke habitat kebudayaan tradisional Jepang) dalam mengolah hal ini tanpa membuatnya terasa seperti “kartu pos”, karena ia memang tak menempatkan keunikan tradisi (di sini teater boneka), sebagai pusat novelnya. Inti novel ini, sekali lagi, adalah usaha Kaname dan Misako untuk bercerai, yang diulur-ulur karena memikirkan anak, orang tua, dan kesiapan mereka sendiri. Pembahasan perceraian ini, dengan segala dramanya, seringkali berganti-ganti tempat: di gedung teater, di festival teater boneka, di pelabuhan, di rumah orang tua yang sangat rigid dengan arsitektur tradisional. Nah, pada kesempatan itulah, Tanizaki masuk dengan cerdik ke berbagai topik tradisi. Menjadikannya taut-bertautan dengan melodrama kehidupan perkawinan Kaname dan Misako. Di sinilah saya rasa, suatu tradisi lokal menjadi unik sekaligus tidak asing.

3 Comments

  1. mas eka, aku baru selesai baca cannery row terjemahanmu. Kenapa memutuskan untuk menerjemahkan buku ini dibanding menerjemahkan sastra amerika lainnya seperti Moby Dick, gitu? Aku cari sepertinya buku itu belum ada terjemahannya.

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑