Ketika Malam Rabu kemarin saya terpaksa harus melakukan perjalanan malam ke luar kota, saya sedikit cemberut. Saya pikir, saya akan kehilangan kesempatan menonton salah satu pertandingan penting Liga Champions antara Barcelona melawan AC Milan. Seperti kita tahu, di leg pertama Barcelona kalah dari AC Milan 2-0 di San Siro. Barcelona tak hanya butuh keajaiban untuk membalas kekalahan tersebut, tapi juga butuh mengembalikan kepercayaan diri mereka: di luar kekalahan tersebut, mereka beruntun kalah dari Real Madrid di Liga dan Piala Raja. Semua orang sudah meramalkan, pertandingan enam belas besar itu akan menjadi salah satu pertandingan dramatik. Kegiatan mingguan saya memang menonton siaran langsung sepakbola di televisi. Saya mengikuti Liga Inggris dan Liga Spanyol, Liga Champions, serta beberapa pertandingan dari liga lain jika sempat. Sebenarnya tak ada satu pun dari tim-tim itu yang secara tradisional saya dukung. Saya cenderung pragmatis: ingin menonton sepakbola yang asyik. Kadang saya mendukung tim yang ini, musim berikutnya mungkin mendukung tim yang itu. Hingga akhirnya saya cenderung menonton hampir semua pertandingan klub besar. Di musim ini, saya senang menonton Barcelona, Atletico Madrid, Manchester City, dan Totenham Hotspur. Jika sempat, saya menonton Real Madrid, Manchester United, Chelsea dan Arsenal. Klub tradisional yang saya dukung dalam keadaan menang atau kalah, dalam kejayaan maupun keterpurukan cuma satu: Persib Bandung. Kenapa Persib? Saya bisa mencontek jawaban Orhan Pamuk ketika ia ditanya kenapa menyukai (klub sepakbola Turki) Fenerbahçe: “Ini seperti agama. Tak ada ‘kenapa’.” (wawancara di Spiegel, menjelang Euro 2008). Meskipun begitu, saya bukan tipe suporter yang tiap akhir pekan berbondong-bondong ke stadion. Saya juga tak memakai jersey bola, dan tak pernah tertarik mengenakannya. Saya tipe penonton yang duduk sendirian di depan televisi. Sepakbola merupakan hiburan saya yang menyenangkan, di luar membaca novel atau cerita pendek serta komik yang bagus. Barangkali karena saya menyukai sepakbola diawali melalui siaran radio, saya merasa hal terpenting dari sepakbola adalah aspek dramatik, aspek imajinatif, bahkan aspek puitik. Ketika masih kecil, bersama paman-paman, saudara dan tetangga, kami berkumpul mengelilingi radio untuk mendengarkan siaran pertandingan Persib. Dengan cara seperti itu, satu-satunya cara menikmati sepakbola adalah dengan kekuatan imajinasi. Saya hanya bisa membayangkan bagaimana Yusuf Bachtiar (gelandang serang Persib di masa itu) menggiring bola, meliuk di antara para pemain lawan, dan mengirimkan bola ke penyerang. Saya membayangkan pertandingan sepakbola dengan cara yang sama saya membayangkan pertarungan antara Mantili dan Lasmini di sandiwara radio favorit saya, Saur Sepuh. Bagi saya, sepakbola merupakan “cerita”, dan keseluruhan budaya sepakbola ini sejenis sebagai wilayah kesusastraan lain. Barangkali karena melihatnya dengan cara seperti itulah, saya cenderung menonton sepakbola dalam kesendirian. Bahkan meskipun menonton beramai-ramai, saya melihatnya seperti seorang penonton di bioskop: asyik dengan pikiran dan imajinasi sendiri. Sering saya menonton pertandingan Barcelona, dan beberapa hari kemudian menontonnya kembali berulang-ulang di Youtube. Saya juga menonton pertandingan terakhir Manchester City berulang-ulang ketika mereka menjuarai Liga Inggris tahun lalu, dan membayangkannya seperti membaca novel yang menarik secara berulang-ulang. Saya melihat kembali momen-momen paling menarik dari pertandingan mereka, seperti membaca kutipan-kutipan mencengangkan dari seorang penulis. Dalam sepakbola, sebagaimana dalam novel, sebenarnya bukan kemenangan dan kekalahan yang menjadi begitu penting: tapi bagaimana kemenangan dan kekalahan itu terjadi. Dan itulah yang akan diceritakan para fans terus-menerus selama bertahun-tahun, bahkan beberapa generasi, sebagaimana novel terus-menerus dikutip. Bahkan di situasi di mana sepakbola modern demikian korup, dimana hasil pertandingan barangkali bisa diatur, dimana uang dan kontrak sponsor merupakan hal paling penting, barangkali memang yang tersisa untuk fans hanyalah aspek cerita ini. Dan menutup catatan ini, saya beruntung tiba di tempat tujuan pukul setengah tiga dinihari. Saya langsung meminta dinyalakan televisi. Pertandingan Barcelona melawan AC Milan hampir dimulai. Seperti kita tahu, itu salah satu pertandingan dramatik tahun ini dimana Barcelona balik mengalahkan AC Milan 4-0 dan melaju ke delapan besar. Di sepanjang jalan saya cuma bisa membaca novel beberapa halaman karena lampu yang mati, tapi syukurlah malam itu saya bisa terhibur oleh “novel” mengasyikan yang lain. Dibuka dengan kalimat pembuka yang mencengangkan berupa gol Lionel Messi dengan dikurung lima pemain lawan, dan ditutup oleh klimaks berupa gol Jordi Alba ketika lawan berharap membuat satu gol saja untuk menjadikan tiga gol Barcelona sebagai kesia-siaan. Kisah hebat macam apa lagi yang saya harapkan?