Eka Kurniawan

Journal

Selera

Saya hanya ingin mengingatkan, ada lho yang namanya ilmu sastra. Sekali lagi: ilmu sastra. Banyak perguruan tinggi di negeri ini memiliki fakultas sastra. Ilmu sastra dipelajari di situ. Artinya? Seperti semua ilmu, sastra memiliki ukuran-ukuran. Memiliki epistemologi dan metodologi. Sastra bukan tahayul. Saya bukan lulusan fakultas sastra, tapi saya tahu ada ilmu sastra, dan saya menghormati sastra tak hanya sebagai seni, sebagai kerajinan, tapi juga sebagai ilmu. Sekali lagi, sastra bukan tahayul. Jadi? Jadi seperti ilmu-ilmu yang lain, sastra bisa dinilai dan dipejarai berdasarkan ukuran tertentu, berdasarkan metodologi tertentu. Tapi, masa seni diukur seperti itu? Ya, banyak sastrawan mungkin tak mempergunakan ukuran-ukuran tersebut. Sastrawan bisa menciptakan karya sastra seenak udelnya sendiri. Itu hak mereka. Dan pembaca? Pembaca memiliki selera. Ia boleh dan bisa memilih karya sastra menurut seleranya. Saya membaca novel-novel yang sebagian besar mengikuti selera saya (beberapa jelek menurut ukuran yang saya pakai, tapi tetap saya baca karena saya menyukainya). Bisakah karya sastra dilombakan? Bisa. Sangat bisa. Tapi mestinya tak bisa seenak udel (seperti kelakuan pengarang), dan mestinya tak bisa tergantung pada selera (seperti kelakuan pembaca). Itulah gunanya ada ilmu sastra. Agar sastra memiliki epistemologi. Memiliki metodologi. Memiliki ukuran-ukuran dan standar-standar. Lomba yang satu dengan lomba yang lain, sayembara yang satu dan sayembara yang lain, hasilnya bisa berbeda-beda. Bukan karena perbedaan selera, tapi tergantung metodologi dan ukuran yang dipakai. Metodologi dan ukuran ini yang harus dibuka, diberitakan kepada khalayak. Metodologi dan ukuran ini harus bisa dipertanggungjawabkan. Dan bisa diverifikasi, mestinya. Artinya, dengan metodologi dan ukuran tertentu, diulang berkali-kali pun, pemenangnya (mestinya) akan sama. Kenapa? Sebab metodologi dan ukurannya tetap. Terukur. Itulah ilmu. Saya tak mempelajari sastra di ruang kuliah, tapi saya tahu persis bahwa ada yang namanya ilmu sastra. Sejarah ilmu sastra (dan seni secara umum) bukan sejarah yang pendek. Sejak masa Yunani Kuno, Aristoteles bahkan sudah menulis Poetic. Gurunya, Plato, memiliki ukuran sendiri tentang seni (juga sastra) yang bagus itu seperti apa. Kalau kita mengikuti ukuran Plato (seni itu mimesis kehidupan), pemenangnya sudah pasti harus novel realis. Tak bisa tidak. Orang tak bisa protes jika ada yang bilang novel Italo Calvino tentang ksatria yang tubuhnya terbelah dua sebagai novel jelek, jika ukurannya Plato. Seluruh puisi Chairil Anwar bisa dianggap gagal, jika ukurannya haiku. Kebanyakan penulis tak nyaman menghadapi fakta bahwa sastra merupakan ilmu, dengan segambreng teori, dengan segunung pendekatan. Kebanyakan pembaca juga tak nyaman menghadapi fakta, bahwa sastra ada ilmunya. Tak apa. Teori-teori ini barangkali bukan untuk kebanyakan sastrawan, juga bukan untuk pembaca. Para sastrawan, menulis saja. Jika Anda tahu apa yang sedang ditulis dan kenapa menulisnya demikian, itu sangat bagus. Para pembaca, ikuti saja selera Anda. Tak ada yang memaksa. Tapi sekali Anda menilai karya sastra (sebenarnya menilai apa saja), Anda seharusnya punya ukuran. Anda harus mempertanggungjawabkan metode apa yang dipakai, sudut pandang apa yang dipakai, sehingga orang lain bisa memverifikasinya. Ini akan menghindarkan kita dari debat kusir yang tak ada ujungnya. Belajarlah berpendapat dan mempertanggungjawabkan pendapat itu, dan tak semena-mena berkata, “Kan selera gue?” Terutama mulailah memiliki argumen yang semua orang bisa memverifikasinya (mengecek dan membuktikannya sendiri). Saya misal menyebut novel The Old Man and The Sea Ernest Hemingway bagus. Kenapa? Ia berhasil mengeluarkan bagian dalam manusia melalui apa yang nampak di luar. Apa pijakan saya? Immanuel Kant tentang nomena dan fenomena. Anda bisa memverifikasinya. Anda baca Immanuel Kant, baca Hemingway, lalu bandingkan. Jika Anda menemukan penjelasan lain, Anda bisa membantahnya. Perbantahan kita akan menjadi sehat. Seperti bidang ilmu lainnya, siapa pun bisa salah. Kita akan diskusi tentang Kant dan Hemingway. Anda juga bisa menilai novel yang sama dengan pijakan yang berbeda, dan hasilnya mungkin novel itu jelek. Tak masalah. Asal kita tahu apa pijakannya. Suka tidak suka, itu soal selera. Tapi soal bagus dan jelek, anda harus punya ukuran. Belajarlah bertanggung jawab pada apa yang dikerjakan oleh otak Anda. Dan dengan cara seperti itu, kita tak dengan gampang berkata, “Soal selera kan bisa berbeda?”

6 Comments

  1. Dalam sebuah buku kritik sastra, saya melihat ada klasifikasi dua jenis kritikus: 1) kritikus yang makan bangku sekolahan (ilmuwan sastra), 2) kritikus yang juga menulis sastra (sastrawan).

    Pada beberapa esai di Horison dan Basis, saya lihat, Subagio Sastrowardoyo (sastrawan, juga kuliah sastra) misalnya cukup sering menulis esai seputar sastra secara umum, gayanya agak sebelas-dua belas seperti tulisan-tulisan di blog Mas ini; Subagio, dalam salah satu esai, membahas tentang minimnya sastrawan yang berasal dari bidang-bidang teknis, ada anekdotnya tentang insinyur teknik yang berseloroh, “Saya cuma punya satu novel di rak saya, itu pun dapat hadiah dari teman,” seolah-olah dia antisastra. Menarik membaca tulisan itu, saya jadi teringat F.X. Toole alias Jerry Boyd yang bisa menulis apik tentang profesinya sebagai petinju. Subagio pun berandai-andai supaya tidak terjadi keterpecahbelahan dalam menikmati ataupun mencipta suatu karya sastra.

    Nah, berikutnya bermunculan sastrawan yang tidak makan sekolahan sastra: Nirwan Dewanto (Fakultas Teknik), Yusi Avianto Pareanom (Fakultas Teknik), Anton Kurnia (Teknik), Romo Mangun dengan “Sastra dan Religiositas”, Romo Sindhunata, S.T. Sunardi, Anwar Holid, Damhuri Muhammad(Fakultas Filsafat/Teologi) dan banyak lagi—mereka mampu menulis esai sastra, baik untuk kritik sastra berupa esai tentang sastra maupun terhadap karya rekanan.

    Kecenderungan sekarang, jarang para sastrawan yang berani memberi kritik terhadap karya rekan-rekannya, atau kalau mereka berani, caranya bisa jadi keliru. Beberapa dari sastrawan yang diberi kritik malah cenderung antikritik. Itu wujud budaya sungkan memberi kritik dan enggan menerima kritik, tulis seorang teman.

    Seolah-olah melegitimasi iklim sembunyi-sembunyi atau bicara-di-belakang, pertanggungjawaban dalam beberapa penghargaan dan lomba sastra tidak dibuka untuk khalayak. Saya pun mesti mafhum ada banyak faktor yang menyebabkannya: kesibukan dewan juri, anggapan bahwa penilaian tersebut tidak begitu penting, dan lainnya. Saya pernah diminta menjadi juri lomba cerpen untuk Balairungpress.com, dan karena tidak memiliki banyak waktu, parameter saya memang hanya originalitas karya dan acuan instrumentasi lainnya. Kami tidak memberi pertanggungjawaban apa pun pada para pemenang karena penilaian dilakukan secara kuantitatif: jadi, apa yang mau diumumkan? Menerjemahkan angka-angka? Lagipula, seorang juri lagi adalah salah seorang dosen UGM, beliau sibuk. Saya memenangkan yang Juara II, dan dosen tersebut tentu memenangkan yang kelak menjadi juara I. Tahun itu, cerpen yang Juara II dimuat di salah satu media nasional. Terlepas dari itu, saya sungguh senang sewaktu mendengarkan secara langsung pertanggungjawaban Ketua Juri Sayembara Novel DKJ pada Desember 2012 lalu atas novel yang saya ikutkan dalam sayembara itu. Saya rasa, dalam ajang tertentu, pertanggungjawaban itu amat penting fungsinya.

    Kembali ke pembahasan soal kritik, seandainya seorang sastrawan ingin menjadi kritikus, mereka tentu harus belajar secara otodidak juga. Seringkali hal itu bersinggungan dengan latar belakang keilmuannya. Seorang teman saya (dia sastrawan) ambil jurusan Filsafat di UGM, dan pembahasan dalam kritik-kritiknya jernih, keberpihakannya seolah-olah nol mutlak: ia bisa membahas aliran-aliran (psikoanalisis, feminisme, misalnya). Namun, kalau semuanya mesti berasal dari ilmu sastra, bagaimana kita dapat menyepakati kritik dari mereka yang tak makan sekolahan sastra semacam itu? Soalnya, dalam sastra, tidak bisa semata-mata ambil perspektif aliran-alirannya saja, dilihat dari kajian poskolonialisme, feminisme, dan lainnya, tapi juga mencakup estetikanya–entah dalam akrobat metafora, pilihan diksi, dan konvensi-konvensi penulisan yang dia pakai. Jadinya, panduan mana yang bisa dipakai untuk menilai suatu karya supaya bisa berlaku universal?

    Saya rasa, hal ini yang lantas mengerucut ke pertanyaan: jadi apa itu sastra?, apa ukurannya sebuah karya disebut karya sastra?, siapa yang boleh memberi ukuran-ukuran bagus dan tidaknya suatu karya sastra?, apakah selalu harus dengan teori-teori?, siapa yang berhak meneorikan?, apakah karena Hemingway, Tolstoy, dan Aristoteles, dan teman-temannya mencapai kaliber seperti itu maka mereka berhak memberikan teori?, apakah tukang becak tidak punya hak untuk menilai bagus dan tidaknya sebuah karya sastra dengan menanggalkan seleranya pribadi?, apakah tukang becak itu harus menggunakan pedoman teori yang ndakik-ndakiki juga?, ataukah dia memang tidak berhak untuk menilai (sama halnya dengan sastrawan non-akademik Ilmu Sastra)?

    Saya berasumsi tulisan Mas Eka ini sedikitnya dipengaruhi suatu masalah penjurian. Dengan begitu, saya juga mempertanyakan, di mana para akademisi sastra itu? Mengapa mereka tak membuat tulisan panjang untuk menanggapi masalah tersebut? Apakah dalam kurun setahun belakangan, mereka sudah membaca karya-karya sastra yang dijurikan dalam penghargaan tersebut? Kalau sudah, mana buktinya?

    Akhirul kalam, terima kasih untuk tulisan-tulisan dalam jurnal Mas Eka ini. Saya selalu menyenanginya.

    Tabik,
    Michellia

    • @Dewi Kharisma Michellia
      Hey Dewi, senang memperoleh tanggapan panjang-lebar darimu. Saya sendiri, seperti saya sudah bilang, tak memiliki pengetahuan formal mengenai sastra. Tapi karena saya memberanikan diri menulis dan menceburkan diri ke dunia itu, saya dengan sedikit nyali mencoba belajar. Pandangan-pandangan saya tentang sastra, tak terelakkan, akan banyak dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan fiksafat saya. Bisa tepat, bisa tidak. Saya akan selalu mencoba memberi argumen untuk setiap pandangan saya, argumen yang selalu terbuka untuk ditimpali, dibantah, atau diperbaiki.

      Terima kasih telah mengingatkan kita kepada Subagio Sastrowardoyo. Saya ingin melipir sedikit tentang blog ini. Jujur, saya tak terlalu yakin apakah yang saya tulis bisa disebut “esai” atau tidak. Saya lebih senang menyebutnya sebagai (dan semestinya begitu): “blog”. Saya punya gagasan kecil mengenai ini. Blog saya rasa merupakan penemuan baru dalam “genre” sastra, yang dilahirkan oleh internet. Saya tertarik terutama karena bentuknya yang berkelamin ganda. Di satu sisi, blog bisa dianggap merupakan tulisan yang personal (seperti jurnal/catatan harian), tapi di sisi lain ia juga bersifat publik (seperti esai yang diterbitkan di media massa). Karakter berkelamin ganda ini saya pikir menantang. Jadi demikianlah, saya mencoba “merayakan” bentuk ini. Saya tak tahu berhasil atau tidak, saya hanya ingin mencobanya.

      Soal budaya anti-kritik, saya tak tahu banyak sebenarnya. Mudah-mudahan kamu keliru. Beberapa tahun yang lalu, saya menulis esai berjudul “Merayakan Pembacaan” (diterbitkan di Kompas). Saya “mengkritik” beberapa teman seangkatan saya: Linda Christanty, Gunawan Maryanto, Intan Paramaditha, Puthut EA, dll, tapi sekaligus mencoba mencari cara untuk “memahami” karya mereka. Sampai sekarang hubungan saya dengan mereka baik-baik saja. Sangat baik, malah. Saya pikir, kembali ke pokok tulisan saya, argumen dan titik pijak sebaiknya disampaikan telanjang. Dengan argumen, orang juga lebih mudah untuk membantah, sekaligus untuk tidak membantah. Jika saya tak banyak mengkritik tulisan karya penulis lain, barangkali karena saya tak pernah menganggap diri saya sebagai kritikus. Jika saya terlihat “mengkritik”, barangkali lebih tepat saya sedang mencoba menguji cara membaca saya.

      Mengenai pengalamanmu menjadi juri, saya sadar betapa susahnya menjadi juri. Apalagi jika salah satu kriterianya adalah “orisinalitas”, seperti yang kamu ambil. Kenapa? Bagi saya itu kriteria paling super berat untuk ditanggung juri. Kamu harus membaca seluruh (sekali lagi: seluruh!) karya sastra yang ada, untuk membuktikan bahwa karya yang dipilih benar-benar orisinil (saya tak terlalu yakin ada cara lain untuk menguji dan membuktikannya). Kita bisa juga berasumsi, setiap karya tentu orisinil (selama itu bukan bajakan, verbatim copy), dan karena setiap karya itu orisinil, maka makin susah menentukan mana yang lebih orisinil. Sebenarnya di sinilah gagasan saya mengenai ukuran. Jika kita mau menilai sesuatu, kita tentukan dulu ukurannya. Orang biasanya menyebut: kriteria. Semakin terukur kriterianya, semakin memudahkan penilaian. Saya sadar, bahkan ini bukan hal yang mudah. Tidak mudah juga untuk saya lakukan sendiri. Saya kadang-kadang selesai membaca satu novel dan berpikir, novel ini bagus. Ketika saya ajukan pertanyaan sederhana kepada diri sendiri, “Kenapa bagus?” Saya harus berjuang, bisa berhari-hari, untuk mencoba menjelaskan “kenapa bagus” bahkan untuk diri sendiri.

      Apa itu sastra dan bukan sastra? Saya melihat dalam khasanah kita, “sastra” ini memiliki beberapa pengertian. Paling tidak, ia merujuk gagasan umum tentang teks (literature, kalam, tanda), dan bisa juga sebagai genre (literary fiction, untuk membedakan dengan crime fiction, fantasy fiction, dll), bisa juga merujuk kepada kualitas (literary). Bagian yang terakhir itu, literary, atau sastrawi, saya rasa kita membutuhkan kaum akademis untuk mempelajarinya. Sebagai penulis, saya lebih senang melihat sastra sebagai genre. Saya pernah menulis soal itu di blog ini, bisa dicari. Jika keberatan terhadap cara pandang saya atas kesusastraan ini, saya selalu terbuka untuk diskusi dan perbantahan. Bagi saya, jauh lebih baik berani mengajukan pendapat dan salah, daripada tak pernah salah karena tak berani mengajukan pendapat.

      Siapa bisa membuat teori? Bagi saya jelas: siapa pun. Orang-orang yang belajar sastra secara formal, kaum akademisi, bagi saya, memiliki kewajiban moral lebih soal ini (hey, ngapain mereka belajar sastra jika tidak untuk bicara sastra?), seperti dokter memiliki kewajiban moral lebih untuk mengobati orang sakit. Tapi sekali lagi, siapa pun bisa mengajukan pandangannya tentang sastra. Ia bisa dipengarhui oleh latar belakangnya: tukang becak. petinju, ahli nukir. Ia juga bisa mempelajari sendiri pengetahuan tentang bahasa (metafor, diksi, dll). Tentu dengan catatan: argumen. Saya bayangkan seorang penjaga kebun binatang menilai, atau mengkritik Animal Farm atau fabel Aesop, dengan landasan pengetahuannya tentang binatang. Fair. Ukurannya jelas. Titik pijaknya jelas. Ia tak perlu membangun teori yang (istilahmu) ndakik-ndakik (saya pikir teori atau kritik yang ndakik-ndakik dan sederhana hanyalah masalah keterampilan berbahasa, ini juga sesuatu yang mestinya perlu dipelajari). Sama seperti sastrawan juga berhak bicara (dan berteori) tentang bidang lain: politik (bagaimanapun ia warga negara), mesin (mungkin ia punya mobil), aerodinamika (mungkin ia sering bepergian pakai pesawat). Saya tidak berasumsi ada penilaian yang bersifat universal. Itu lebih absurd lagi. Penilaian sudah pasti parsial, tapi ekali lagi, yang penting argumen. Pengetahuan yang kokoh selalu diikuti argumen-argumen yang meyakinkan, sekaligus selalu berendah hati bahwa pengetahuan apa pun, selalu siap untuk dirubuhkan.

      Dimana kaum akademisi sastra? Pertanyaan ini biar mereka yang jawab. Bagi saya, karena kita telah memutuskan untuk menceburkan diri ke kolam kesusastraan, kita sedikit banyak memiliki tanggung jawab moral untuk membuatnya sehat dan bermartabat. Bagaimana dengan penulis yang hanya peduli menulis? Itu perkara mereka. Kita harus menghormati pilihan-pilihan individu, selama ia tidak berbuat kriminal dan tak menjadikan selera individu sebagai kepentingan publik. Apakah orang yang tidak mau berargumen untuk pendapatnya bisa dikatakan bodoh? Entahlah. Urusan pintar dan bodoh, mari kita serahkan saja kepada wali kelas dan kepala sekolah masing-masing.

      Tabik juga.

  2. Saya masih bingung mengenai sastra. Kalau secara harfiah, sastra (atau literature dalam bahasa Inggris) dapat diartikan sebagai pedoman atau tulisan yang mengandung instruksi. Berarti dengan mengacu pada definisi ini, anggapan saya adalah apapun tulisan, baik yang bersifat fiksi maupun realita, digolongkan sebagai sastra.

    Yang ingin saya tanyakan adalah, apakah sekarang ini sastra sering dibatasi hanya pada tulisan yang mengandung keindahan atau sifatnya artistik dari? Apakah jurnal-jurnal sains, kompilasi sejarah, manuskrip hingga filsafat itu sendiri tidak dapat dikatakan sebagai sastra? Terima kasih.

    • @Fadli
      Kamu bisa cek komentar saya untuk Dewi di atas tentang sastra dalam makna sebagai literature (umum), literary fiction (genre) atau literary (sastrawi).

  3. Trims untuk tulisan2 ini. Hanya sedikit komentar saja (yang tak penting2 amat, sebenarnya. Sebab komentar saya ini hanya ingin menambahkan informasi, bukan membahas salah satu dari sejumlah butir penting tulisan2 di atas ini) atas komentar Dewi Kharisma Michellia: Romo Mangun juga seorang lulusan teknik (arsitektur), dan dia seorang arsitek yang mumpuni. Bangunan yang dia rancang dan wujudkan di Kali Code, Yogyakarta, lebih 25 tahun silam, meraih penghargaan arsitektur bergengsi, Anugerah Agha Khan. Namun saat kita membaca novel2nya, memang lebih banyak pemikiran filsafat yang muncul, kadang2 bahkan agak rumit dicerna (misalnya saja dalam “Ikan2 Hiu, Ido, Homa”). Di novelnya yang lain, yaitu “Burung2 Manyar” (yang menurut hemat saya adalah yang terkuat di antara seluruh jejeran karyanya, dan sampai sekarang masih membekas kuat dalam benak saya. Dulu saat daya ingat saya masih cukup baik, saya bahkan hafal luar kepala dua lembar terakhir dari novel tersebut. Sekarang ingatan saya banyak yang tergerus; oleh usia), juga tak tampak bahwa dia memiliki latar belakang arsitektur. Meskipun kelihatan bahwa dia adalah seorang pengamat, peneliti dan pencatat yang baik, seperti yang tampak dari uraiannya mengenai perilaku burung2 manyar, yang menjadi topik disertasi Larasati alias Atik (tokoh utama di novel tersebut).

    Kalau Nirwan, sesekali memunculkan latar belakangnya sebagai seorang lulusan Teknik Geologi. Beberapa sajaknya, misalnya, berisi sejumlah istilah yang diambilnya dari khasanah nama2 bebatuan. Salah satu sajaknya bahkan berjudul Lapis Lazuli (nama jenis bebatuanyang cukup berharga, berwarna biru tua).

    Trims dan salam,
    Arya

  4. Mengenai kriteria dalam mengkritik sebuah karya sastra, saya teringat perbedabatan lawas–yang saya sendiri cuma bisa mendengarnya dan membaca secara tidak langsung–tentang kritik F. Rahardi terhadap Ahmad Tohari. Khususnya terhadap novel Ronggeng Dukuh Paruh, terutama bagaimana Pak Tohari menggambarkan alam dengan pelbagai imajinasi yang dibangun. Seingat saya, F. Rahardi dengan background keilmuan di peternakan (saat itu pemred Trubus) tentunya tidak terlepas dari dunia yang ia geluti.

    Nah, saya sepakat dengan Michel, bahwa penjurian apapun jenisnya memang harus menyebtukan proses, kriteria dan ragam alasan lainnya sebagai bentuk tanggung jawab intelektual.

    Saya kira, jika terus digaungkan apa itu ‘sastra’ dan ‘bukan sastra’ pertanyaanya, kita akan kembali lagi ke jaman lawas, padahal sudah saatnya, seperti yang Mas Eka pernah bilang di blog ini, kita bisa lebih dari ‘waris’ kebudayaan dunia. Maka, sudah tentu, memberikan ragam pada dunia. Bukan dikasih sebagaimana waris. Begitulah kira-kira sebuah karya sastra yang baik itu menemukan dirinya sendiri di dunia.

    Soal akademisi sastra, saya juga dapat cerita, bahwa seorang akademisi yang bahkan sudah terkenal dan berpengaruh di sebuah majalah prestisius, ternyata ia tidak membaca lagi karya sastra kontemporer. Ia disibukkan dengan pelbagai proyek akademik dan tidak ada waktu lagi untuk memperbaharui bacaan. Dan seperti kata mas Eka, pengetahuan memang harus dirubuhkan jika ada yang mampu meruntuhkan, dan pengetahuan miliknya kalah. Orang model begini atau akademisi model begini semoga tidak banyak (tidak etis kiranya jika saya sebut nama).

    Tapi hal ini bisa menunjukkan wajah negara terhadap sastra–jika masih percaya negara. Begitu.

    @DedikPriyanto

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑