Ia seorang pengamat yang tekun, tak terbantahkan. Tapi terutama ia pemotret yang jeli. Selepas itu, inilah yang bisa membuatmu sedikit menahan napas, ia bisa menjejerkan potongan-potongan gambar yang dihasilkannya dengan gambar-gambar lain, untuk menciptakan sejenis horor. Barangkali akan sulit untuk menyebut tulisan-tulisan pendek di The Posthumous Papers of A Living Author Robert Musil sebagai apa. Boleh disebut esai. Boleh disebut cerita mini. Bahkan mungkin puisi. Atau sekadar deskripsi pengamatannya atas sesuatu. Tapi siapa yang peduli dengan kotak-kotak semacam itu? Di sebuah kebun binatang di Italia, ia menggambarkan sebuah “pulau monyet” di mana tiga keluarga monyet berada. Satu kelompok tinggal di sebatang pohon mati, hanya tiang dan cabang yang menonjok langit. Mereka bagai pengintai, pengamat dan penjaga yang terus mengawasi seluruh koloni kecil itu. Kelompok lain tinggal di sejenis kandang tepat di bawah pohon, disebut sebagai istana. Mereka tampak seperti raja, ratu dan sang pangeran. Kelompok terbesar, monyet-monyet kecil, tinggal di selokan semen yang lebar, yang mengelilingi pulau itu sekaligus memisahkan pulau monyet dengan pengunjung kebun binatang. Sekilas pemandangan itu seperti pemandangan umumnya di semua kebun binatang. Tapi di tangan Musil, itu menjadi horor mengenai masyarakat dengan hirarki yang tegas, masyarakat dengan jurang-jurang di antara satu lapisan dan lapisan lainnya. Pulau monyet kecil ini memperlihatkan sejenis dunia Orwellian, dan Musil hanya perlu menuliskannya dalam lima paragraf saja. Lima paragraf yang penuh gaya, dan teror. Di tulisan berjudul “Flypaper”, kita bertemu jenis horor yang lain. Sebenarnya ia hanya menceritakan tentang seekor (atau beberapa ekor) lalat/serangga yang terjebak kertas-serangga (kertas berperekat untuk menangkap serangga). Saya rasa itu pemandangan biasa, kita sering menangkap lalat dengan cara itu. Tapi Musil mengajak kita melihat lalat yang terjebak ini lebih dekat, dengan kaca pembesar jika mungkin. Dari jarak yang sangat dekat itulah kita bisa melihat bagaimana kaki-kaki mereka, atau sayap mereka, terjebak di perekat. Bagaimana dalam keterkejutan yang singkat, mereka mencoba memberontak. Tapi pemberontakan mereka hanya membuat kaki atau sayap mereka terperangkap lebih dalam. Mereka menyadari kekeliruannya. Mereka mencoba mengumpulkan tenaga, mencoba lebih cerdik, dan dengan segenap kekuatan mereka mencoba membebaskan diri. Percuma. Mereka sudah terlampau rekat ke kematian. Mereka mulai kehilangan tenaga, dan harapan. Di titik inilah, dengan kaca pembesar, kita melihat makhluk-makhluk yang akhirnya menyerah kepada kematian. “Seperti pemanjat tebing karena rasa sakit di jarinya dengan penuh kesadaran melepaskan cengkeramannya,” tulis Musil, mencoba menjejerkan potret kecil tersebut. “Seperti orang tersesat di salju memutuskan berbaring seperti anak kecil.” Teror itu belum selesai. Pamungkasnya adalah ketika lalat itu akhirnya terdiam, seperti tidur, tapi jika kita melihat semakin dekat lagi, kita tahu masih ada yang bergerak. Seperti mata manusia yang terbuka-terpejam di tubuh yang mati. Tak heran jika manusia ini disebut sebagai salah satu penulis stylis terbesar. Prosa-prosanya tak pernah terasa berlebihan, tidak juga terasa kurang. Ia hanya perlu menangkap suatu lanskap, satu kejadian kecil, menuliskannya dengan penuh gaya, dan tiba-tiba potongan prosa itu bicara tentang ketakutan yang mendalam.