“Lebih baik tidur dengan kanibal waras daripada dengan orang kristen mabok,” kata Ishmael di novel Moby-Dick. Itu merupakan humor gaya Herman Melville yang saya suka. Tentu saja orang kanibal yang dimaksud di novel itu adalah Queequeg, anak raja dari Pulau Kokovoko. Pulau fiktif ini hanya disebut berada di barat-selatan (dari Amerika), yang tentu saja berarti Pasifik selatan. Bisa berarti itu di antara pulau-pulau di tengah Pasifik, atau kalau terus ke barat-selatan, itu bisa pula sampai ke wilayah kita di Asia Tenggara. Novel ini, meskipun berpusat di pelabuhan dan kapal penangkap paus, memang penuh warna (ras, budaya, agama), yang tentu saja merupakan gambaran alami dari kehidupan laut/pelayaran. Bahkan kebiasaan Queequeg yang menyembah berhala bernama Yojo dengan cara puasa dan diam selama seharian penuh, dibandingkan atau disebut Melville dengan sebutan seolah Ramadan (yang tentu saja tak ada hubungannya). Humornya yang lain diperlihatkan ketika Ishmael mengusulkan kepada pemilik kapal Pequod agar merekrut Queequeg. Si pemilik kapal tak mau menerima penyembah berhala (dan kanibal), kecuali dia sudah masuk kristen. “Apakah dia sudah menghadiri komuni gereja kristen?” tanya si pemilik kapal. Dengan enteng, Ishmael menjawab, “Dia anggota Gereja Jemaat Pertama.” Tentu saja yang dia maksud adalah bahwa seluruh umat manusia merupakan anggota Gereja Jemaat Pertama, sejak lahir. Persis seperti jawaban kawan saya setiap kali ditanya, kok kamu enggak pernah ke masjid? Jawaban dia bakalan, “Seluruh permukaan bumi adalah masjid.” Queequeg toh akhirnya diterima di kapal karena keahliannya menombak paus, bahkan memperoleh bayaran yang lebih gede (1/90 dari keuntungan kapal) daripada Ishmael (1/300), meskipun si pemilik kapal yang saleh tetap saja kuatir dengan si “anak kegelapan” ini. Saya tak akan bicara lebih banyak mengenai Queequeg, tapi jika dalam hidup ini saya cuma diperbolehkan menyimpan atau membaca satu novel dari khasanah kesusastraan Amerika, saya akan menyimpan atau membaca Moby-Dick. Bukan hanya karena humornya yang boleh dibilang kasar, tapi juga alusi-alusi biblikal-nya yang membuat novel ini sangat kaya, dan tentu saja pertarungan manusia-paus yang menempatkan novel ini menjadi salah satu karya klasik yang sangat penting. Lebih dari itu, jangan pula dilupakan kehadiran Queequeg. Ishmael dan Kapten Ahab, saya rasa akan terasa hambar tanpa si pemakan manusia yang asyik dan enteng ini. Selamat tinggal 2014. Selamat datang 2015.