Journal

Playing in the Dark, Toni Morrison

Bagaimana keberadaan dan persona yang-bukan-putih dan Afrikanisme dikonstruksi — diciptakan — dalam kehidupan dan kesusastraan Amerika? Tanpa bermaksud untuk mengklasifikasikan karya-karya yang rasis atau tidak rasis, apalagi menyudutkan penulisnya (seorang penulis secara pribadi tak berhubungan dengan tindakan karakter fiktifnya, meskipun ia bertanggung jawab atas mereka — begitu katanya) yang merupakan wilayah kritik lain, dengan jernih Toni Morrison melakukan pelacakan dalam monograf pendek ini. Selalu menarik menemukan seorang penulis fiksi juga menulis telaah tentang kesusastraan, terutama pada tema-tema yang merupakan pusat perhatiannya, seperti kebudayaan dan orang-orang kulit hitam Amerika bagi penulis ini. Tak hanya dalam esai-esai pendek, tapi terutama dalam satu buku utuh. Jelas Toni Morrison, sebagai perempuan kulit hitam, tampak sebagai antitesis bagi sejarah kesusastraan Amerika (yang begitu jelas sebagai sejarah kesusastraan lelaki-putih), dan dengan sadar ia menempatkan dirinya di sana, dengan kesadaran akan bias tersebut, dengan kemungkinan meromantisir yang-hitam daripada mengutuknya; atau mengaburkan yang-putih daripada membuatnya jelas. Playing in the Dark — Whiteness and the Literary Imagination awalnya merupakan bahan ceramah kuliahnya tentang sejarah peradaban Amerika yang kemudian disunting kembali menjadi monograf. Ia membukanya dengan sejenis sindiran betapa sejarah kesusastraan Amerika tak hanya mengabaikan narasi-narasi orang kulit hitam, tapi bahkan juga mengabaikan karya-karya orang kulit putih yang membicarakan orang atau kebudayaan orang kulit hitam. Sebagai contoh, karya-karya terakhir Faulkner yang banyak bicara tentang ras dan kelas, dianggap kritikus sebagai karya-karya minor. Saya rasa tinjauannya bisa dipergunakan untuk membaca kasus-kasus lain yang melibatkan kelompok-kelompok yang-tak-terepresentasikan di wilayah-wilayah geografi atau kebudayaan lainnya, dan bagi saya, itu sangat jelas terbayang bahkan ketika sambil membacanya. Toni Morrison menunjukkan, misalnya, lebih daripada pengabaian di dalam kesusastraan, bahkan ketika sebuah karya bicara tentang orang kulit hitam, kemungkinan besar karya itu ditujukan bukan buat mereka. Uncle Tom’s Cabin tidak ditujukan untuk pembaca seperti “Uncle Tom”, misalnya. (Apakah kesusastraan yang mencoba membela “yang tak bersuara” ditujukan untuk dibaca oleh orang-orang “yang tak bersuara” ini?, misal lain). Seperti umumnya buku yang baik dan telaah yang jernih, tanpa harus memaksanya, buku ini membawa saya ke mana-mana. Membuat saya bertanya-tanya bagaimana rasialisme bisa muncul — tak hanya sebagai sterotif tentang ras. Ia menunjukkan bahwa kadang perkara rasial ini dipergunakan penulis sebagai “strategi lingusitik” (yang buat saya, boleh jadi merupakan wujud kemalasan). Misal, dengan mengatakan seseorang sebagai “negro”, tak hanya itu merujuk kepada warna kulit, tapi juga stereotif kelas ekonomi. (Saya jadi ingat kampanye rasial selama pemilu gubernur Jakarta tahun lalu, di mana “Cina” juga berarti stereotif yang meliputi: kaya, asing, kafir, dan menjadikan label itu tak hanya sebagai warna kulit atau kesukuan belaka, tapi merupakan label umum yang menghilangkan persona individu). Tak cuma itu, ia juga menunjukkan (dengan cukup provokatif), “yang-hitam” tak hanya wujud kecurigaan tentang “yang liyan”, tapi juga merupakan strategi linguistik yang lain untuk mengekspresikan fetish, hasrat seksual maupun ketakutan erotis. Itu hanya sebagian dari hipotesis di buku ini. Pertanyaan yang sangat menggelitik, yang tentu saja saya sadar memiliki konteks yang berbeda dengan apa yang terjadi di kesusastraan Amerika dan hubungannya dengan narasi kulit-hitam, apakah argumen-argumen ini bisa diterapkan (atau diperbandingkan) dalam situasi yang lain? Tak hanya mengenai rasialisme di Indonesia, misalnya, tapi juga dalam problem-problem ketidakterwakilan gender, kelas, maupun keyakinan dalam kesusastraan kita.

Standard

2 thoughts on “Playing in the Dark, Toni Morrison

  1. Mas eka semoga suatu saat bisa berbagi bagaimana cara menulis biar pikirannya bisa ngalir terus.. hehehe
    Ditunggu di Surabaya mas

  2. SANTO PAUL says:

    Template barunya bagus, tapi ukuran font-nya kegedean kang, jadi harus di-zoom out supaya enak dibaca

Comments are closed.