Eka Kurniawan

Journal

Philosophy in the Boudoir, Marquis de Sade

Apakah Marquis de Sade bisa dianggap sebagai anak haram Pencerahan? Setidaknya, selepas membaca novel Philosophy in the Boudoir, saya membayangkan sang penulis karya-karya pornografi ini sebagai salah satu tukang ledek paling menggigit atas Pencerahan. Pencerahan mengembalikan “akal budi” ke dalam pusat, tapi Sade melangkah lebih jauh: ia meledek sekaligus mengambil alih akal budi untuk meyakinkan kita bahwa tak ada yang lebih penting di dunia ini selain kenikmatan diri, dan jika kita memerlukan filsafat, maka itu filsafat kenikmatan atau filsafat kesenangan. Sebab akal budi, dan alam, (menurutnya) mengajarkan kita akan hal itu. Jujur saja, bahkan bagi pembaca kontemporer macam saya, gagasan-gagasan abad ke-18nya (masih dipertanyakan apakah semua gagasan di novel ini sungguh-sungguh seperti dimaksudkan Sade sebagai pribadi atau sebatas gagasan tokoh-tokoh di dalam novel) masih mencengangkan. Dan bikin merinding. Tiba-tiba saya merasa begitu konservatif. Meskipun ia terobsesi untuk menjadi orang terkenal, Sade tak pernah berharap dikenal sebagai seorang penulis karya-karya pornografi. Obsesinya adalah menjadi dramawan, penulis naskah-naskah drama terkenal (ia melakukannya, dan karya-karya itu nyaris tak ada yang dikenal). Karya-karya pornografinya diterbitkan secara anonim, selain untuk menghindari hukum, juga karena ia memang ogah dikenal sebagai tukang menulis karya pornografi. Ia menulis karya-karya pornografi ini, terutama karena didorong rasa marah terhadap moralitas korup kaum ningrat di zamannya, dan terutama kemarahan kepada ibu mertuanya. Rasa marah, dan kejujuranlah, yang pada akhirnya membuat ia dikenal melalui karya-karya pornografi ini. Ironinya, melalui karya-karya semacam inilah justru ia dikenal (dan dari namanya, Sade, kita mengenal kata “sadis”; sebagaimana kita mengenal kata “masokis” dari nama penulis Austria, Leopold von Sacher-Masoch; dan gabungan nama keduanya menghasilkan istilah “sado-masokis”). Dan filsafat macam apakah yang ada di novel ini? Dengan gaya meledeknya, novel ini dibuka dengan catatan: “Dialog yang ditujukan sebagai pendidikan untuk perempuan muda” dan “semoga setiap ibu menganjurkan anak perempuan mereka membaca buku ini.” Novel ini memang sepenuhnya berisi dialog Socratesian dalam enam bagian (seperti bisa kita temukan di karya-karya Plato), yang semakin meyakinkan saya bahwa ini memang ledekan terhadap filsafat kaum moralis. Dialog pertama dibuka antara Madame de Saint-Ange, sang tuan rumah dan adiknya, Chavalier de Mirvel. Sang adik hendak memperkenalkan seorang tutor kesenangan bernama Dolmancé, untuk mengajari seorang gadis perawan bernama Eugénie. Demikianlah mereka bertiga mengajari Eugénie, hal-hal praktis, teoritis bahkan filosofis mengenai kenikmatan tubuh, sekaligus mempraktekkannya, hingga si gadis diperawani. Termasuk akhirnya memanggil seorang pelayan untuk menyempurnakan praktek mereka, karena memiliki kemaluan yang super besar. “Alam senang membantu kita meraih kenikmatan hanya melalui penderitaan,” demikian kata Madame de Saint-Ange, di dialog ketiga, seolah-olah semacam pembuka bagi apa yang akan kita temukan di sepanjang novel ini. Ya, bagaimanapun ini novel porno, penuh adegan (dalam bentuk dialog, sekali lagi) seks, yang seringkali brutal, tapi dengan sejumlah argumen-argumen filosofis (dengan gaya Pencerahan yang menyandarkan diri kepada akal budi) serta referensi-referensi sejarah. Dialog terakhir merupakan bagian yang paling mengerikan, ketika ibu Eugénie yang moralis dan takut anaknya berada dalam pengaruh buruk kelompok ini datang ke rumah itu. Saya tak akan menceritakan bagian itu, tapi jelas itu merupakan puncak sempurna bagi “filsafat” ala Sade di novel ini. Jujur, saya tak pernah membayangkan bahwa novel porno bisa dibangun dengan cara seperti ini, dengan gaya menulis dan argumen-argumen panjang yang sangat serius (termasuk ada pamflet sepanjang 45 halaman berjudul “Orang Prancis, Beberapa Usaha Lagi Jika Anda Berharap Menjadi Kaum Republikan”, yang merangkum sebagian besar gagasan filosofis novel ini). Pembaca dengan mudah diombang-ambing antara dibikin terangsang (ala novel porno) dan dibikin tercenung (seperti membaca traktat filsafat). Jika Sade tak berharap dirinya dikenal sebagai penulis karya-karya pornografi ini, saya rasa ia telah salah sejak awal: ia menulis selain dengan penuh kemarahan dan kreativitas, juga melakukannya dengan serius dan intelek. Dan itulah yang membuat novel ini terus bertahan hingga hari ini, terus diterjemahkan, terus diterbitkan, dan memperoleh pembaca-pembaca baru. Seperti sebagian besar karya klasik, ada sesuatu yang terus dibawanya untuk generasi-generasi yang berbeda-beda. Saya yakin, bahkan kaum puritan pun, membaca novel ini akan segera sadar: novel ini bukan semata-mata karya pornografi. Ini novel gagasan, tak peduli kita bisa menerima gagasan novel ini atau tidak.

2 Comments

  1. Mas Eka, kata “sadis” dalam bahasa inggris emang apa, ya?
    Emang kata “sadis” dalam bahasa indonesia langsung diturunkan dari nama Sade?
    atau ada akar kata dari bahasa lain?

    thanks pencerahannya

    *kayaknya novel ini gak bakal pernah diterjemhin ke bahasa kita nih. Hhh…..

    • @hume:
      Dalam bahasa Inggris: sadist. Varian lain: sadistic, sadism. Dalam bahasa Prancis (Sade orang Prancis): sadique, sadisme. Masokis dalam bahasa Inggris: masochist, masochism. “Sadis” dalam bahasa Indonesia saya tak yakin diturunkan langsung dari nama Sade, kemungkinan besar melalui bahasa Inggris.

      Terjemahan bahasa Indonesia? Siapa tahu? Berdoa saja semoga suatu hari kita bisa melihat berbagai buku terbit dalam bahasa kita, dengan aman dan damai :)

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑