“Ngapain baca buku kalau enggak ada gambar dan percakapannya?” kurang-lebih, itu kan yang dikatakan gadis kecil itu di pembukaan Alice’s Adventures in Wonderland? Saya rasa kalau dia berumur lebih sedikit dari umurnya saat itu, pembukaan novel itu barangkali akan sedikit berubah,”Ngapain baca buku kalau enggak ada pangeran ganteng dan puteri jelitanya?” Nah bayangkan, Alice terus tumbuh dewasa dan kakaknya terus menyodorkan buku di bawah pohon. Sudah bisa dibayangkan, Alice tetap akan berkata, “Huh, ngapain baca buku kalau ceritanya sedih?” Kakaknya terus membujuk, karena menurutnya membaca buku merupakan hal yang baik, dan Alice selalu menemukan keluhan baru, “Ngapain baca buku kalau kalimatnya panjang-panjang, bikin capek?” Lama-kelamaan, cara Alice menghindar dari bujukan membaca buku tentu lebih bergaya: “Ngapain baca buku, kalau maksud si penulis bisa dikatakan dalam satu kalimat?”, atau “Ngapain baca buku kalau gaya menulisnya terlalu ringan, tak ada metafor, tanpa perenungan?”, dan lain waktu ia bisa berkata sebaliknya, “Ngapain baca buku jika isinya berputar-putar tak karuan, segala hal diperdebatkan nyaris tanpa ujung?” Dan bayangkan jika ia sudah masuk masa puber, Alice tentu akan berkata, “Ngapain baca buku jika tak ada adegan ciuman dan seksnya?” Pada akhirnya Alice akan masuk universitas, dan novel itu harus ditulis ulang sejak bagian awal, “Ngapain baca buku, jika bisa mencatat apa yang dikatakan dosen?” Sialnya, di kampus ia berteman dengan orang-orang yang keranjingan membaca buku (dan menulis), sebagaimana kakaknya di rumah. Biar kelihatan keren, tentu saja Alice bergaul dengan mereka. Ia ikut menulis puisi, lalu cerita pendek, lama-kelamaan ia menulis buku juga. Di titik ini, Lewis Caroll barangkali harus menulis kisah petualangan Alice dengan agak berbeda. “Ngapain baca buku, jika aku bisa belajar langsung dari kehidupan untuk tulisan-tulisan saya?” Ya, saat itu Alice sudah menjadi penulis yang lumayan dikenal. Jika ada kritikus yang mengatakan tulisannya terlalu ringan dengan bahasa yang biasa-biasa saja, ia akan berkata, “Ngapain baca buku yang membuatmu mengerutkan dahi, dengan bahasa yang dibuat-buat?” Tapi jika kritikus lain mengatakan bahwa karyanya terlalu berat dengan bahasa yang sulit dipahami, ia akan berkata, “Ngapain baca buku yang terlalu gampang, itu menghina isi kepala orang.” Alice tentu saja akan menikah dan beranak-pinak. Suatu sore, anaknya yang masih kecil akan datang kepadanya dan memberinya sebuah buku dan minta dibacakan. Novel tentangnya terpaksa ditulis ulang, atau ini barangkali sekuelnya yang kesekian setelah Through the Looking Glass, dan di pembukaannya Alice akan berkata kepada anak kecilnya, “Ngapaian harus dibaca, kan sudah ada gambarnya?” Saya rasa banyak tulisan, esai ringan maupun kajian akademis mengenai Alice, tapi saya selalu terkenang dengan dialog awal di novel itu. Bagi saya, Alice mengajari saya satu hal: bagi sebagian orang, mengejar kelinci putih yang bisa bicara dengan bandul jam barangkali lebih menarik daripada membaca buku, dan kita bisa menciptakan banyak alasan untuk tidak membaca.