Eka Kurniawan

Journal

Pesan Moral

Sekali waktu saya jadi pembicara di hadapan guru-guru dan murid-murid sekolah menengah. Seorang guru bertanya, kenapa banyak karya sastra (saya yakin, maksudnya termasuk dua novel saya) “tidak mendidik”? Jawaban saya sederhana, dan saya rasa didorong emosi seorang anak muda, “Saya bukan guru, kenapa saya harus mendidik?” Tapi bertahun-tahun kemudian, saya toh masih sering jengkel oleh pertanyaan semacam itu. Banyak guru, banyak orang tua, berpikir novel semestinya mendidik dan (ah!) bermoral. Baiklah, mungkin sebenarnya saya setuju. Yang barangkali menjadi ganjalan adalah, saya (mungkin juga kebanyakan penulis) punya pikiran yang berbeda tentang “mendidik”, juga memiliki ukuran yang berbeda tentang “moral”. Setiap usaha untuk menyamaratakannya akan berakhir menjadi keadaan menjengkelkan. Lebih buruk dari itu, barangkali akan berakibat sensor dan tirani. Kenyataannya, bukan hanya guru dan orang tua berpikir demikian. Diam-diam para penulis dan kaum intelektual juga mengamininya. Lihat saja penghargaan-penghargaan sastra. Saya malas menyebutkannya satu per satu. Itu hanya akan memancing orang berkomentar, barangkali saya terkena sindrom pecundang. Lagipula saya tak suka menjelek-jelekkan penulis atau karya orang lain: karya yang memang jelek tak hanya tak layak dikomentari atau dijelek-jelekkan, sebaiknya memang tak perlu dibaca sama sekali. Itu hanya menambah-nambah kejengkelan saja. Tapi mari kita teruskan saja perbincangan ini. Lihat perhargaan-perhargaan sastra. Seberapa sering sebuah karya memperoleh penghargaan karena berbicara tentang sesuatu. Jujur saya jengkel soal ini. Bagi saya, tendensi menilai karya sastra lebih berat kepada muatannya sama mengerikannya dengan tendensi tuntutan moral. Karya ini menang karena kontekstual dengan isu kita hari ini. Pfuh! Karya ini menang karena mengajarkan bagaimana sikap seorang anak terhadap orang tua. Pfuh! Karya ini menang karena berpihak kepada orang-orang yang tertindas. Pfuh! Saya tak bilang itu tak penting. Seorang penulis harus punya sikap. Bahkan saya percaya, seorang penulis harus memiliki pilihan politik, ideologi, estetik, dan lain sebagainya. Tapi menjadikan pilihan seorang penulis sebagai lebih baik daripada pilihan penulis lain bagi saya terdengar seperti omong kosong. Menjadikan novel atau karya sastra semata-mata tunggangan pesan, hanya akan menjadikannya angkutan umum. Kejar setoran. Yang penting pesan sampai dengan selamat kepada pembaca. Dunia sastra kita akan dipenuhi penulis-penulis yang bertabiat ugal-ugalan seperti sopir angkutan umum di Jakarta. Dan mereka akan bangga dengan ini. Bangga telah menjadi penulis berpihak, tak peduli caranya menulis menyedihkan. Mungkin seperti kata Lenin (saya kutip semena-mena): “Penyakit kiri kekanak-kanakan.” Bangga telah menjejali novel dengan pesan-pesan moral, tapi lupa bagaimana menulis yang benar (belum lagi sampai tahap mengasyikan). Tapi ah, kenapa saya harus jengkel? Saya bukan guru yang harus mendidik orang bagaimana bersikap, sebagaimana tak perlu mendidik para penulis dan kaum intelektual. Mereka sudah cukup pintar untuk melihat kebodohan-kebodohan di dalam diri sendiri. Barangkali problem utamanya bukan ini, tapi kebutuhan saya untuk mengunjungi psikiater. Untuk meredakan ketegangan-ketagangan estetik, kejengkelan-kejengkelan yang tak perlu. Beberapa miligram obat pengendali mood mungkin baik buat saya, sehingga saya tak terlalu terganggu oleh apa pun yang terjadi di dunia kesusastraan. Seperti kata Roberto Bolaño, kita para penulis (yang baik, dan saya harap saya bisa menjadi bagiannya, bahkan meskipun saya penulis yang buruk, saya akan mengikuti sarannya), tak memerlukan siapa pun untuk bernyanyi bertepuk tangan atas karya-karya kita. Kenapa? Karena kita sudah dan akan melakukannya sendiri. Kita akan bernyanyi dan bertepuk tangan untuk karya-karya kita sendiri. Dan saya mesti mengingatkan diri sendiri, satu-satunya ukuran yang perlu diperhatikan adalah ukuran-ukuran yang telah ditancapkan oleh diri sendiri. Jika ingin menulis karya bermoral, tulislah. Jika ingin menulis karya tak bemoral, tulislah. Yang akan membuat saya membaca novel itu, pertama-tama bagaimana ia dituliskan. Menarik atau tidak? Mengasyikan atau tidak? Kalau sekadar ingin bilang “para bayi butuh minum ASI hingga 6 bulan” cukup tuliskan dalam satu baris kalimat, tak perlu satu novel.

7 Comments

  1. Tentang karya yang bermoral ini, saya jadi ingat beberapa tahun yang lalu. Bolehlah saya numpang curcol sedikit. Saya terbitkan indie sebuah buku kumpulan cerpen. Judul bukunya Lajang Jalang, diambil dari salah satu judul cerpen di dalamnya. Saya pun mulai “jualan”. Beberapa teman blogger pun ikut “jualan” dengan bantu mereview bukunya. Saat itu saya memang sedang giat blogging di Kompasiana. Tak lama berselang, saya mulai narsis dgn googling tentang buku itu. Tak disangka, saya ketemu sebuah postingan blog yang menuliskan tentang buku itu. Setahu saya penulisnya juga seorang blogger Kompasiana. Intinya, ia menulis tentang “kemunduran” saya sebagai perempuan Minang, Islam, dan berjilbab menulis sebuah buku berbau seks. Membandingkan saya dengan tokoh2 perempuan Minang yang berjaya dulu seperti Rohana Kudus, dll. Dan mencap saya mencoba meraih popularitas lewat cerita seks.

    Karena saya terbit indie, saya tahu siapa saja yang beli buku itu. Dan dia tidak membelinya. Bagaimana bisa dia membacanya, dan malah ikut “ngomongin” buku itu. Saat itu, saya jengkel. Sangat jengkel! Tapi, ya sudahlah. Akhirnya saya memang menghentikan penjualan buku itu. Walaupun saya sudah menyisipkan “pesan moral” yang “mereka” inginkan, belum tentu mereka siap menerimanya. Apalagi dituliskan oleh perempuan Minang, Islam, berjilbab. Sejak itu, saya tidak lagi menulis cerita “selangkangan”. Bukan karena dicecar, tapi memang sudah nggak asik lagi, dan “wawasan” saya tentang “selangkangan” toh ternyata juga tak banyak, sudah diceritakan semua dalam satu buku itu.

    Jika ditanya apakah pesan moral selalu saya sisipkan setiap menulis cerita. Saya tidak tahu. Saya hanya tahu, saya sedang menulis cerita. Kalau yang baca bisa menemukan pesan moral, ya bagus. Toh, walaupun penulis sendiri tak tahu pesan moral apa yang ia sampaikan, menurut saya setiap cerita selalu memberi kesimpulan tersendiri buat pembacanya. Saya percaya, selalu ada nilai pelajaran dari setiap cerita. Mungkin itu yang disebuat pesan moral. Dan mungkin bisa dibilang, cerita yang tidak disengaja untuk memberi pesan moral, malah bisa “mengajarkan pesan moral” yang lebih dalam bagi pembacanya.

    Entahlah. Mungkin lain kali, penulis bisa menuliskan “pesan sponsor” dalam ceritanya. Biar bisa kaya raya! Hahaha…

  2. jimbozthesandoz

    30 August 2013 at 10:44 am

    apakah novel Laskar Pelangi termasuk dalam novel yang memiliki muatan moral?

    • @jimbozthesandoz
      Saya tidak tahu, saya belum pernah membacanya. Tapi saya rasa, setiap karya telanjang atau tidak membawa muatan moral tertentu. Yang saya sering pertanyakan adalah: 1) kecenderungan untuk menyamaratakan ukuran moral, 2) terutama ini sangat mengganggu: menilai sastra dengan ukuran moral. Untuk point 2, bayangkan jika sepakbola diukur bukan dari berapa gol yang kamu masukkan, tapi seberapa bermoral pemainnya, seberapa berkomitmen pemain bola membela orang tertindas? Absurd, kan? saya rasa sastra bisa diletakkan dalam kerangka perbandingan dg sepakbola seperti di atas.

  3. kayaknya anak-anak itu justru harus diajari: nulis cerita yang bagus saja dulu, urusan pesan moral, bisa belakangan..

  4. bermoral melalui bacaan….?mungkin merupakan salah satu cara,tapi bagi saya…puting ibu-ibu mereka sudah cukup untuk mengajarkan itu.

  5. jimbozthesandoz

    2 September 2013 at 8:51 am

    Itulah sebabnya saya menyukai buku lewis carroll, alice’s adventures in wonderland & through the lookiing glass karena tidak hanya buku itu ditulis secara mengasyikkan tapi juga karena meskipun ditulis untuk anak2 tidak ngotot untuk menyampaikan moral yang bertujuan untuk memperbaiki akhlak anak. Tidak heran dalam buku tersebut ia menulis: everything’s got a moral, only if you can find it.

  6. Thank goodness for this post.
    Terutama bagian tepuk tangan dan bernyanyi. Prek dengan komentar orang. Yang penting nulis dan have fun.

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑