Eka Kurniawan

Journal

Perempuan yang Suka Uring-uringan, Barangkali Akan Menderita oleh Amarahnya Sendiri

Membaca tentang Elena Greco, di novel My Briliant Friend karya Elena Ferrante, saya pikir bisa disimpulkan sebagai “perempuan yang suka uring-uringan, barangkali akan menderita oleh amarahnya sendiri”. Meskipun buku ini (pertama dari empat seri) sudah lalu-lalang di banyak ulasan, dan semua ulasan memuji buku ini (lebih tepatnya, memuji keempat buku di seri itu), saya baru membacanya belakangan. Itu pun setelah mendengar Maggie Tiojakin dan Annie Tucker merekomendasikannya, dengan sedikit membujuk. Hah, bukankah kita sering membaca buku karena orang-orang yang kita percaya seleranya membaca buku tersebut? Akhirnya saya membacanya, dan tidak menyesal melakukannya. Novel ini di satu sisi sangat brutal, di sisi lain terasa puitis. Di satu sisi seperti air yang mengalir tenang, menceritakan kisah-kisah keseharian, di lain sisi memperlihatkan jurang-jurang psikologis yang sangat dalam, dan tentu saja konflik sosial yang ruwet. Kebencian, kecemburuan, harga diri, balas dendam, hasrat, ambisi, cinta, ketidakberdayaan, sebut semua jenis perasaan manusia, barangkali akan kita temukan semuanya di sini. Di antara semuanya, hubungan tarik-ulur dua gadis kecil, Elena dan Lila, merupakan yang paling penting. Mereka bersahabat sejak kecil, dan di novel ini, cerita berhenti ketika mereka berumur enam belas tahun (meskipun prolog-nya dibuka ketika mereka sudah dewasa, telah memiliki anak yang tumbuh remaja). Terutama, novel ini bercerita tentang perkembangan perasaan (naik-turun) Elena terhadap sahabatnya, Lila. Bisa disederhanakan bahwa Elena selalu cemburu dengan apa pun yang diraih Lila. Di matanya, Lila selalu berprestasi di sekolah, bahkan seolah tanpa usaha. Nilai-nilainya selalu paling baik, sementara dirinya, untuk mendekati nilai-nilai yang dimiliki Lila, harus kerja-keras belajar siang dan malam. Ia cemburu, kagum, tapi juga sayang kepadanya. Situasi menjadi sangat pelik ketika Elena akhirnya memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya (sekolah menengah?), sementara Lila tidak. Elena, untuk pertama kali merasa memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan melebihi apa yang dimiliki Lila: sekolah. Di sana ia belajar bahasa Yunani. Sialnya, meskipun tidak sekolah, Lila bisa pergi ke perpustakaan dan bejalar sendiri bahasa Yunani, dan terbukti bisa lebih pintar dari Elena. Siapa yang tidak gondok. Apalagi kemudian ia ketahui, Lila merupakan peminjam buku paling banyak di perpustakaan, mengalahkan dirinya. Begitulah, Elena tumbuh menjadi gadis yang terus uring-uringan. Tak pernah puas dengan apa yang diperolehnya, sebab ia selalu melihat apa yang diraih Lila. Di titik ini saya jadi teringat seorang teman. Perempuan. Ia seorang yang pintar, cantik, lulusan perguruan tingga ternama, dan memilih karir yang diminatinya sendiri. Tapi sebagaimana kebanyakan orang, ia harus berjuang meniti karir. Berjuang untuk sekadar menutup tagihan bulanan, membayar biaya sekolah anak, dan mencicil rumah dan mobil. Pada saat yang sama, ia punya teman yang dalam banyak hal tak bisa dibandingkan dengannya. Tidak cantik (setidaknya menurut ukuran dia), tidak pintar (dan tidak kuliah), berasal dari keluarga yang pas-pasan. Tapi ia berhasil memikat hati seorang ekspatriat tua, yang kaya-raya. Hidupnya berlimpah harta, travel ke sana-sini, menenteng tas bermerk. Teman saya sudah pasti cemburu gila-gilaan, uring-uringan, “Gue sekolah tinggi, cantik, pintar, tapi kenapa harus banting tulang untuk sekadar hidup layak, sementara dia jelek, bodoh, tapi bisa begitu glamour?” Apa boleh buat, begitulah hidup. Begitulah jika hidup hanya berpatokan kepada apa yang diraih orang lain. Sebagaimana yang dialami Elena dan Lila. Mari kita lihat dari sudut pandang Lila. Dia angkuh (tetangga menganggapnya “bad girl”), sementara Elena dianggap baik. Tapi saya rasa, keangkuhan Lila tidak datang dari perasaan bahwa ia merupakan yang terbaik, terpintar atau tercantik. Tidak. Keangkuhannya datang dari perasaan nyaman atas dirinya sendiri. Lila tahu apa yang diinginkannya, dan mengukur hidupnya semata-mata dari apakah ia bisa mencapai keinginannya atau tidak. Sementara Elena tidak: Elena tak yakin apa yang diinginkannya, dan mengukur hidupnya dari keberhasilan orang (Lila). Hidupnya diombang-ambing rasa cemburu, tak berdaya, dan frustasi. Begitulah pada akhirnya, Elena menjadi si anak baik yang uring-uringan sendiri, sementara Lila menjelma gadis angkuh, percaya pada dirinya sendiri. Ironinya muncul justru ketika Lila berkata kepada Elena, “You are my briliant friend.”

PS: Terlepas dari judulnya, karena novel ini memang bercerita tentang dua perempuan, saya rasa ini juga berlaku untuk laki-laki.



3 Comments

    • @rakhmadpermana:
      Saya baca barusan. Banyak hal saya sepakat: (1) Menulis dalam bahasa Indonesia, pertama-tama tentu untuk orang Indonesia (khusus untuk saya, seringkali lebih spesifik: untuk teman-teman saya). (2) Prestasi memang sebaiknya diukur dengan ukuran akademik yang terukur. Kalau sempat baca jurnal saya “Prestasi”, yang berisi tentang lelucon soal prestasi. (3) Saya juga sepakat bahwa salah satu problem dunia literasi kita adalah pembacaan. Tak banyak pembaca kita, dibandingkan populasi penduduk. Saya berkali-kali menulis di jurnal ini, kita memerlukan perpustakaan yang menjangkau seluruh negeri. (sila baca: “Pak Jokowi, Usul dong!”).

  1. Halo, Mas Eka (dan para pembaca blog),

    Maf mau sharing sedikit karena ulasan cerita ini, My Briliant Friend, agak mengingatkan saya pada pengalaman sendiri. Di sini saya yang jadi perempuan uring-uringan. Waktu kuliah, ada satu teman perempuan yang ‘karena keadaan’ terpaksa menjadi teman dekatku. Diam-diam saya tidak terlalu menyukainya. Saya berpendapat dia punya kepribadian palsu, pamer, sok tahu, semena-mena, suka mendominasi orang, dan lain-lain. Lebih dari itu, kami tidak punya kesamaan apapun.

    Suatu kali, kampus hendak mengirimnya ke Jakarta bersama mahasiswa lain untuk melakukan semacam studi penelitian di satu kantor hukum. Satu hari sebelum dia berangkat, dia menghabiskan waktu lama di kos saya. Ketika dia sudah mau pulang, tiba-tiba dia berbalik lagi ke depan pintu kamar saya dan berkata (dengan bahasa daerah kami), “Aku bakal merindukan kamu nanti. Kamu sudah kuanggap lebih dari teman, kamu sudah kuanggap saudara.” :'(

Comments are closed.

© 2017 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑