Journal

Pedagogy of the Oppressed, Paulo Freire

“Pembebasan harus merupakan suatu kondisi permanen, dialog merupakan satu aspek berkesinambungan dari aksi pembebasan,” kata Paulo Freire dalam buku Pedagogy of the Oppressed. Buku ini seperti tersurat dari judulnya memang bicara banyak tentang pendidikan (lebih mengerucut lagi tentang pendidikan kaum tertindas), tapi saya rasa akar utamanya terletak dalam hubungan manusia dan manusia. Setiap ada lebih dari satu manusia, maka akan tercipta relasi sosial, dan relasi ini mungkin saja jatuh kepada hubungan yang timpang: yang dominan dan subdominan, yang menindas dan tertindas. Dalam konteks tersebut, saya pikir buku ini bahkan bisa dibaca luas melewati perkara-perkara pedagogi, tapi juga untuk meneropong secara kritis masalah-masalah dalam relasi antar manusia dalam berbagai bentuknya. Bahkan dalam hubungan asmara dua orang, selalu dimungkinkan hubungan tak imbang. Bagaimana menciptakan hubungan yang sehat, yang membebaskan? Seperti di kutipan awal, dialog terus-menerus merupakan jalan yang sehat untuk merawat hubungan yang saling membebaskan, yang terbebas dari kehendak untuk saling menguasai. Dialog memang merupakan inti dari pedagogi Freire, yang disebutnya sebagai “suatu fenomena manusia”, dan esensi dari dialog adalah “kata”. Agar kata bersifat autentik, agar kata sanggup mentranformasikan dunia, kata harus merupakan refleksi sekaligus aksi. Tanpa aksi, kata hanya akan menjadi verbalisme, dan tanpa refleksi kata hanya akan menjadi aktivisme. Saya ingin membayangkannya dalam konteks yang gampang: kembali ke hubungan asmara. Ya, hubungan yang sehat seharusnya saling membebaskan, melalui dialog terus-menerus. Tapi dialog jelas bukan melulu omongan, yang diejek Freire sebagai verbalisme tadi. Dialog juga harus bersifat aksi. Refleksi dan aksi untuk menciptakan (dan terus menciptakan) dunia (anggap hubungan dua manusia ini sebagai “dunia”). Kenapa? Sebab setiap masalah yang muncul memiliki peluang untuk diselesaikan dengan cara yang salah, yang akhirnya menciptakan kepuasan di satu pihak dan kekecewaan di pihak lain, dalam kondisi seperti ini, hubungan menjadi timpang. Hubungan (dunia) harus segera diciptakan kembali, melalui refleksi dan aksi, agar keadaan mendominasi dan terdominasi tidak tercipta. Betul, kan? Bahkan dalam hubungan asmara semacam ini, dua manusia terus belajar, dan pedagodi memang tak melulu perkara bangku sekolah. Pertanyaan paling pentingnya, apa itu kebebasan? Apa itu pembebasan? Bagaimana dialog (bersifat refleksi dan aksi) terus-menerus bisa menciptakan hubungan yang membebaskan? Pertama-tama, dialog hanya mungkin jika ada kepercayaan bersama. Saling percaya. Kedua, “Tak ada kebebasan tanpa otoritas.” Ini bagian paling menarik dari paparan Freire. Otoritas? Bagaimana otoritas bisa berjalan beriringan dengan kebebasan? Freire segera mengingatkan, “Tapi juga tak ada otoritas tanpa kebebasan.” Lebih jauh ia menjabarkan, “Semua kebebasan mengandung kemungkinan bahwa di bawah satu kondisi khusus (dan di tingkat eksistensial yang berbeda) ia menjelma menjadi otoritas. Kebebasan dan otoritas tak bisa dipisahkan, tapi harus dibayangkan satu sama lain berhubungan.” Otoritas yang dimaksud bukanlah penyerahan kekuasaan, tapi pendelegasian kepatuhan, yang tentu saja timbul karena saling percaya. Karena pedagogi, sekali lagi, tak melulu urusan bangku sekolah (guru dan murid), selain membayangkan hubungan asmara, bisa pula membaca buku ini sambil membayangkan hubungan keluarga (orangtua dan anak), negara (pemerintah dan warganya) atau bahkan hubungan yang mungkin lebih abstrak: penulis dan pembaca. Menarik, kan?



Standard