Eka Kurniawan

Journal

Pasarmalam

Sekali waktu saya membawa Kidung Kinanti, anak perempuan saya, ke pasarmalam. Seperti biasa, dengan mudah ia tergoda untuk naik ke bianglala dan komidi putar. Ia tetap senang meskipun permainan itu, terutama bianglala, sering membuatnya terdiam penuh ketegangan. Entahlah, apa yang dipikirkan seorang anak berumur dua tahun. Ayahnya, lebih banyak melihat orang lalu-lalang, dan terutama para pekerja dan pedagang yang merupakan bagian dari rombongan pasarmalam tersebut. Pasarmalam terakhir yang kami kunjungi, berada di Lapangan Merdeka, tepat di depan rumah ibu saya di Pangandaran. Seperti adik saya bilang, semua pekerja permainan dan para pedagang (mainan, pakaian, makanan, bahkan DVD dan CD bajakan), merupakan rombongan yang berpindah dari satu lapangan ke lapangan lain, dari satu kota ke kota lain. “Orang-orang gipsi ini mencuci baju di sini,” kata adikku, yang memiliki usaha pencucian baju kiloan. Entah darimana ia memperoleh gagasan menyebut mereka sebagai gipsi. Barangkali memang benar, jika kenyataannya gaya hidup yang mereka pilih berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Saya membayangkan kepala rombongan pasarmalam ini seorang lelaki tua seperti Melquíades di novel One Hundred Years of Solitude Gabriel García Márquez. Mereka tak memamerkan es atau magnet yang bisa menarik perkakas dapur sepanjang jalan. Dari apa yang saya dengar, mereka memamerkan mumi dari letusan Gunung Merapi. Mungkin anak domba atau burung atau binatang liar yang mati mendadak tersapu awan panas. Kadang-kadang ada orang yang mau membayar untuk melihat hal-hal seperti itu. Tapi tentu saja yang paling banyak menarik perhatian adalah rumah hantu. Tempat orang membayar untuk ditakut-takuti. Mereka sengaja memamerkan suara-suara menyeramkan melalui pengeras suara, yang bagi saya terdengar seperti cuplikan dari film-film Suzanna. Suara perempuan yang tertawa melengking. Percayalah, kebanyakan dari kita tak terlalu takut mendengar suara lelaki, tapi akan terkencing-kencing mendengar suara tawa perempuan yang melengking tinggi. Ketidakadilan gender sudah ada jauh di dalam pikiran. Kembali ke pasarmalam ini, saya selalu berpikir bahwa bekerja di pasarmalam sangat cocok untuk penulis. Dulu setiap kali Holiday Circus dengan rombongan pasarmalamnya mampir di kota kami (di lapangan yang sama), saya kadang membayangkan kabur dari rumah dan mengikuti mereka. William Faulkner sekali waktu pernah bilang, tempat terbaik untuk penulis adalah rumah pelacuran. Kita bisa menemukan banyak teman, untuk ngobrol dan minum, dan seks tentu saja, di malam hari. Tapi gersang seperti gurun di siang hari, yang baik untuk membaca dan menulis, serta melamun. Saya kira keadaannya sama dengan rombongan sirkus atau pasarmalam. Selain itu, tentu saja berpergian ke banyak tempat merupakan nilai tambah untuk seorang penulis. Tapi kenyataannya saya tak pernah kabur untuk bergabung dengan rombongan sirkus ataupun pasarmalam. Saya tak punya keberanian yang memadai untuk melakukannya. Dan tiba-tiba saya juga teringat kepada satu novel Pramoedya Ananta Toer, Bukan Pasarmalam. Itu salah satu novel terbaiknya, dan salah satu novel terbaik yang disediakan oleh kesusastraan Indonesia. Kadang-kadang saya bertanya-tanya, kenapa ia memberi judul novel itu sebagai Bukan Pasarmalam. Novel itu berkisah mengenai hubungan ayah dan anak, tapi terutama tentang hidup dan mati. Tidak seperti pasarmalam, katanya, kita datang ke dunia ini satu-satu. Juga pergi satu-satu. Tetapi kenapa harus pasarmalam? Saya melihat bahwa, di luar perkara kedatangan dan kepergian (yang tentu saja tak ada yang melarang datang ke pasarmalam sendiri-sendiri, dan pulang sendiri-sendiri), hidup banyak menyerupai pasarmalam. Orang datang untuk bersenang-senang, untuk dihibur oleh sesuatu yang mereka tahu palsu, dan tentu saja memiliki harapan pulang ke rumah dengan senyum lebar, ditambah perut kenyang. Bukankah, seperti Tuhan bilang di dalam Al-Quran, seperti pasarmalam, “Kehidupan di dunia ini hanyalah senda-gurau dan main-main belaka?”

3 Comments

  1. jadi ingat tiap tahun memang selalu ada grup pasar malam yang mampir di desa-desa kecil. di kampung saya selalu ada. siang hari entah mereka tidur di mana, saya nggak pernah tahu. sore hingga menjelang pagi mereka bekerja lalu menghilang.

    jadi ingat juga kadang komidi putar ini diidentikkan dengan film2 horror di film holywood, misalnya Sillent Hill…

    Gipsy dan Pram juga gak bisa kita lupakan. :))
    Blog Eka Kurniawan produktif sekali belakangan ini….. siiiip!

  2. Saya kemarin juga baru ke pasar mnalam dan naik komidi putar. Seru sekali

Comments are closed.

© 2016 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑