Eka Kurniawan

Journal

Papa Hemingway

Akhir-akhir ini seringkali saya bertemu orang yang bertanya, “Sekarang sedang menulis novel apa?” Ketika saya jawab, tidak sedang menulis novel apa-apa, dan belum ada niat melakukannya, mereka memandang tak percaya. Bahkan ada yang langsung bilang, “Kamu bohong.” Memangnya berapa banyak novel harus dihasilkan seorang penulis? Sepuluh novel dalam sepuluh tahun? Seratusan novel dalam hidupnya? Saat ini saya belum berniat menulis novel apa pun lagi, itu benar. Jika masih tak percaya, cobalah membaca biografi atau memoar para penulis. Anda akan tahu, penulis tak selamanya selalu menulis, mereka juga hidup dengan hal-hal lain di luar urusan pekerjaannya, seperti juga manusia lainnya. Tentu saja sebagian kisah hidup mereka membosankan, sebagian lagi menyenangkan.

***

25 Januari 1954, dunia digemparkan dengan satu kabar: Ernest Hemingway meninggal dalam satu kecelakaan pesawat di belantara Uganda. Koran-koran menurunkan berita tentang itu, juga obituari, tentu saja. Tapi kemudian ia muncul dari tengah hutan, dengan setandan pisang dan sebotol gin. Ia selamat dari kecelakaan tersebut. Ini bukan fiksi. Ini kisah yang benar-benar terjadi atas pengarang agung tersebut, dan itu belum selesai. Pesawat penyelamat, de Havilland Rapide, datang menjemputnya. Untuk menerbangkannya dari pinggiran hutan ke Kenya, tempat ia tinggal sementara, hanya untuk mengalami nasib apes yang sama: Pesawat penyelamat itu kembali jatuh, juga terbakar. Kali ini ia benar-benar nyaris mati, tak hanya oleh benturan, tapi juga oleh api. Seperti kita tahu, ia juga selamat dari kecelakaan kedua tersebut. Saya membaca peristiwa itu dari sebuah buku berjudul Hemingway in Love karya A.E. Hotchner. Hostchner telah bersahabat dengan Papa (begitu Hotchner menyebutnya, sebagaimana banyak orang), meskipun Hostchner bisa dibilang jauh lebih muda. Persahabatan yang bermula dari hubungan seorang jurnalis muda dan pengarang besar. Dua kecelakaan pesawat beruntun itu sekilas saja memperlihatkan kehidupan macam apa yang digemari sang pengarang, di luar bayangan orang tentang penulis yang duduk berjam-jam menghadapi mesin tik (Hemingway menyukai mesin tik Corona, yang disebutnya sebagai “psikiater”nya). Legenda hidupnya penuh dengan segala yang macho (juga terlihat dari novel-novelnya): selain terbang dengan pesawat, ia juga gemar dengan matador, berlatih tinju, safari, dan tentu saja memancing di laut lepas. Tapi buku ini terutama mengisahkan hubungan pribadinya dengan isteri pertama dan kedua, di awal-awal karirnya, ketika ia masih menggelandang di jalanan dan bar kota Paris bersama rekan-rekannya sesama “generasi yang hilang”, sebutan umum generasi yang harus mengalami masa dua perang. Hubungan yang memperlihatkan dunia Hemingway yang sama sekali berbeda dari yang dikenal orang, dunia di dalam dirinya, yang rapuh, yang tercabik-cabik. Isteri pertamanya, Hadley, digambarkan Hemingway (sebagaimana ia katakan kepada Scott Fitzgerald) sebagai perempuan sederhana, bergaya lama, menerima, datar, dan baik. Cinta mereka tumbuh terutama karena kegemaran yang sama: bertualang. Berkali-kali Hemingway bercerita betapa hidupnya bahagia bersama Hadley, apalagi ada satu anak di antara mereka. Bumby. Kemudian datang perempuan lincah dari keluarga sangat kaya bernama Pauline, yang sudah dicurigai Scott sejak awal saat mengingatkan Hemingway dengan kata-kata kurang-lebih: “Perempuan ini datang untuk mencari suami. Dia tak cuma mau jadi simpananmu, dia mau kau mengawininya.” Pauline merupakan kontras: gaya, chick, agresif, dan non-tradisional. Di ranjang, mereka juga kontras: Hadley submisif, Pauline agresif. Scott, sahabat serta mentor Hemingway, tak menyerah ketika rumah-tangganya diambang kehancuran dan bertanya kepada Hemingway, apa yang kau cari dari Pauline? Dengan sinisme, Scott menjawab sendiri pertanyaan itu: “Kau ingin hidup seperti hidupku. Kau ingin meja langganan di Ritz, vila di d’Antibes, safari tingkat tinggi. Kau bosan dengan kemiskinan. Kemiskinan melindas dan menghancurkanmu.” Dengan kata lain: Pauline, dengan uang yang melimpah, memberi Hemingway hidup yang diinginkannya. Kita tahu tahun-tahun terakhir hidupnya (lama setelah itu, tentu), merupakan kehidupan tragis dari penulis ini. Ia menderita depresi, masuk rumah sakit dalam perawatan psikiater. Saya kira, yang menghancurkan hidupnya bukanlah semata-mata kisah cintanya, serta pernikahan-pernikahannya yang berantakan (setelah cerai dengan Hadley, ia menikahi Pauline, kemudian bercerai dan menikahi Martha. Bercerai lagi dan menikahi Mary, yang terakhir); juga bukan sekadar peristiwa kecelakaan pesawat yang dua kali itu, yang memang meninggalkan trauma mendalam, yang setelah itu Hotchner menganggap Papa tampak semakin tua; atau gangguan-gangguan dari FBI dan agen pajak IRS (jika semua paranoia dia atas mereka benar). Ada satu peristiwa yang sangat penting, setidaknya bagi saya saat membaca buku Hotchner ini, di masa penantian seratus hari. Itu waktu ketika Hemingway dan Hadley pisah rumah, Hadley memberi waktu seratus hari untuk memutuskan terus bersamanya atau memilih Pauline. Hemingway berkali-kali datang ke apartemen Hadley untuk bertemu Bumby. Lelaki berbadan besar ini, yang meliput perang, gemar bertinju, jatuh dari pesawat, sepanjang jalan menangis. Ketika anaknya bertanya kenapa ia menangis, ia bilang tangan kanannya terluka. Si kecil Bumby membalutnya, “Je t’aime, Papa,” kata si bocah. Bumby hanya bicara Prancis. “La vie est beau avec Papa.” Saya rasa hidupnya tak lagi sama setelah itu. Anak itu yang membuat segala yang rapuh di dirinya keluar, yang membuatnya melangkah meninggalkan si bocah dengan lelehan airmata di pipi. Sejak itu ia mencari sesuatu yang kosong di dalam dirinya, dan luka kecil di tangan kanan itu barangkali sekadar metafora untuk luka dalam yang tak kunjung sembuh. Saya rasa bukan kebetulan bahwa sebagian besar orang yang dikenalnya, kemudian sering memanggilnya “Papa”.

8 Comments

  1. Menarik sekali mengulas Hemingway ini, Mas. Saya jadi tertarik ingin pula membaca buku “Hemingway in Love karya A.E. Hotchner”, agar mengenal Hemingway lebih jauh lagi. Apakah ada buku terjemahnya, ya?

  2. Hotchner ini yg ngasih judul A Moveable Feast kalau ga salah ya
    Ada niat bikin memoar atau novel autobiografis ga kang? Semacam memoar punya Papa itu atau Never Any End to Paris.

  3. Mas Eka kembali menulis tulisan yang serius :D

  4. JIMBOZTHESANDOZ

    24 October 2016 at 11:00 am

    Hemingway ngga ingin orang2 bikin buku biografi tentang dirinya. Dia bilang kalo ada yang mau bikin buku biografi tentang dirinya lebih baik ditulis setelah dia meninggal saja. Dan langkah ini diikuti oleh J. D. Salinger.

  5. Mas Eka yang Manis, bagaimana caranya Mas Eka sebagai penulis menghadapi orang2 yang fanatik tapi kurang baca buku? Orang2 yang berteriak2 ini-itu dan masing2 membela ideologinya secara fanatik? Bagaimana caranya Mas Eka bertahan dan tidak jantungan saat berhadapan/membaca hal2 sejenis itu?

    • @Icha:
      Pendapat saya belum tentu benar juga, jadi apa salahnya mendengar pendapat mereka? Melawan teriakan dengan teriakan tak banyak menyelesaikan masalah. Dalam banyak kasus, orang-orang yang merasa “tercerahkan” sama keras kepalanya dengan orang-orang yang mereka anggap “fanatik”. Si fanatik menganggap pihak lain sesat. Si tercerahkan menganggap pihak lain bodoh. Jika semua orang ingin didengar tapi tak mau mendengar, percayalah, dunia hanya akan menjadi lebih berisik. Tak lebih.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

© 2016 Eka Kurniawan

Theme by Anders NorenUp ↑